Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Agama Belum Berfungsi secara Benar dan Efektif

Kerangka Berusia 7.500 Tahun Ditemukan

Pelajar SMP Tewas Gantung Diri

Operasi Intelijen Amankan Natal dan Tahun Baru

Ketua PGI Akan Temui Menteri Agama Soal SKB






Lintas Berita: Agama Belum Berfungsi secara Benar dan Efektif


Glorianet - Agama belum berfungsi secara benar dan efektif dalam kehidupan kolektif kita secara keseluruhan. Terlalu banyak penyimpangan dan bahkan kejahatan moral yang kita lakukan, tidak jarang atas nama Tuhan. 
Hal itu disampaikan Prof. Dr. Syafii Maarif dalam orasinya yang berjudul ”Indonesia Baru, di tengah Pertarungan Antara Mosaik Budaya yang Elok dan Kaya dengan Ancaman Keserakahan”. 
Pidato itu disampaikan ketika menerima Hamengku Buwono IX Award, Senin (20/12) dalam rangkaian Dies Natalis Ke-55 di Yogyakarta.
”Pemandangan yang tidak elok ini tidak boleh diperagakan terus, sebab pasti akan memuakkan orang yang berpikir jernih dan dalam, apa pun agama dan sukunya,” katanya. 
Selain Syafi’i, yang menerima HB IX Award ini adalah Prof. Dr. Saparinah Sadli. Syafi’i dipandang layak menerima penghargaan karena secara konsisten memberikan pemikiran dan mengajak seluruh komponen bangsa untuk selalu hidup harmonis dan toleran. Sementara itu, Saparinah dipandang sebagai cendekiawan wanita yang selalu gigih memperjuangkan hak-hak wanita. 
Lebih lanjut dikatakan Syafi’i, Indonesia kita adalah sebuah bangsa yang mengaku beragama, tetapi setiap hari dan setiap malam nilai-nilai luhur agama itu diinjak dan diperkosa dengan dipayungi berbagai pembenaran teologis dan kutipan-kutipan sakral. 
Dan penyimpangan itu berlaku di wilayah politik, ekonomi dan sosial dalam tenggang waktu yang sudah agak lama.
”Keserakahan di kalangan segelintir orang memang telah merusak bangunan bangsa ini selama beberapa dasawarsa, dan sekarang harus dihentikan melalui penegakan hukum dan sikap tegas dari pemerintah,” ujar Syafi’i. 

Sikap Preman
Pada kesempatan itu, Syafi’i juga menyoroti kelompok yang tampil radikal dan militan dengan memakai pakaian-pakaian khas, tetapi mental dan sikap dasarnya tidak lebih baik dari mental dan sikap preman. Di otak belakang kelompok radikal ini, adalah kehausan terhadap kekuasaan. 
Agama di tangan mereka, kata Syafi’i, tidak lebih dari pembenaran terhadap sistem kekuasaan yang memonopoli kebenaran itu. ”Oleh sebab itu kelompok ini sangat antidemokrasi, karena demokrasi memberi peluang kepada manusia untuk hidup damai dalam perbedaan, dalam iklim multicultural dan multiagama,” ujarnya. 
Namun, Syafi’i juga mengingatkan, atas nama demokrasi pula, kita tidak boleh menghukum kelompok-kelompok yang berwajah garang ini selama mereka menghormati konstitusi, hukum dan etika pergaulan. ”Tetapi saya akan keberatan terhadap tafsiran agama mereka yang monolitik. Seakan-akan di luar paham mereka tidak ada kebenaran,” kata Syafi’i. 
Menurut Syafi’i, tafsiran monopolistik ini jelas tidak sejalan dengan doktrin egalitarian yang diajarkan agama. Islam, misalnya, sangat tegas dalam membela prinsip kebersamaan ini. 
Kegagalan kaum fundamentalis menghadapi modernitas, lanjut Syafi’i, merupakan salah satu sebab mengapa sikap berani mati mereka sangat menonjol dan ditakuti. (GCM/SH-yuk)