Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Pilih Ibu atau Adik?

Perlu Rp 1,3 Triliun Dana Darurat

Transparansi Anggaran dalam Perspektif Agama

Pendidikan Informal Akan Diintegrasikan

Agama Belum Berfungsi secara Benar dan Efektif






Lintas Berita: Perlu Rp 1,3 Triliun Dana Darurat


Glorianet - Pemerintah Indonesia membutuhkan Rp 1,350 triliun anggaran darurat untuk penanggulangan gempa bumi dan tsunami yang melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara. Dana darurat itu dibutuhkan untuk pengadaan makanan, pakaian, kesehatan, tempat penampungan, air, dan listrik selama setahun sejak Desember 2004 hingga Desember 2005.

Hal itu ditegaskan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pertemuan dengan para duta besar negara-negara sahabat di Istana Wapres, Rabu (29/12) siang. 

Dalam pertemuan itu, Wapres didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Aburizal Bakrie dan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda.

Wapres menegaskan, untuk penyelesaian masalah bencana di Aceh dan Sumatera Utara, dia membaginya dalam tiga tahap. Tahap pertama, yaitu darurat yang berlangsung dari Desember 2004 sampai Desember 2005. Kedua, tahap rehabilitasi yang berlangsung dari Februari 2005 sampai Februari 2009, dan tahap rekonstruksi 2005 sampai 2009.

Untuk tahap darurat dibutuhkan Rp 100 miliar untuk makanan, Rp 500 miliar untuk pakaian, Rp 150 miliar untuk kesehatan, Rp 150 miliar untuk tempat penampungan, serta Rp 100 miliar untuk air dan listrik. Sehingga total anggaran untuk masa darurat ini Rp 1,350 triliun atau 150 juta dolar AS.

Pada bagian lain Wapres menjelaskan, berdasarkan hasil pantauannya saat berkunjung ke Aceh 27 Desember lalu korban meninggal diperkirakan 30 sampai 40.000 orang. Sedangkan korban keseluruhan baik yang meninggal maupun yang luka-luka diperkirakan 500.000 orang. Sedangkan rumah yang hancur 100 ribu. 

Berkaitan dengan jumlah korban yang meninggal, menurut Wapres, angka 30 sampai 40 ribu orang bisa saja bertambah. Tetapi hingga hari ini diperkirakan antara 30 sampai 40 ribu orang.


Yang sangat dibutuhkan masyarakat Aceh saat ini, menurut Wapres untuk situasi darurat adalah beras, mi instan, biskuit, makanan bayi, air, dan peralatan dapur. Kemudian berbagai jenis pakaian untuk pria dan wanita, serta sarung. Sedangkan untuk kesehatan sangat dibutuhkan obat-obatan, perlengkapan rumah sakit, ambulans, dokter, dan tenaga medis. Keperluan lainnya, bahan material untuk tenda serta sarana untuk kebersihan serta kesehatan.

Wapres sangat mengharapkan bantuan negara-negara sahabat karena Indonesia sendiri tidak mempunyai cukup uang untuk menyelesaikan masalah bencana ini. 

Wapres Jusuf Kalla menambahkan pemerintah daerah NAD saat ini sama sekali tidak bisa aktif. Roda pemerintahan NAD sekarang dikendalikan dari Jakarta. Staf Wakil Presiden bolak balik ke NAD untuk menjalankan roda pemerintahan NAD. Hal itu terjadi karena semua fasilitas di NAD tidak bisa digunakan. 


Warga Nias 

Sampai sat ini sejumlah warga di Kabupaten Nias, Sumatera Utara, yang mengungsi akibat gelombang tsunami, masih trauma. Mereka masih takut akan terjadinya bencana alam susulan. Hal itu dikatakan Bupati Nias Binahati B Baeha kepada wartawan Suara Pembaruan Asni Ovier di kantornya, Rabu (29/12) pagi. 

"Para pengungsi masih merasakan trauma dan takut terjadi gempa susulan. Oleh karena itu mereka sangat membutuhkan upaya untuk memyembuhkan trauma itu,'' kata Binahati. Menurutnya, para pengungsi membutuhkan bantuan berupa bahan kebutuhan pokok dan obat-obatan. Apalagi akibat dari bencana alam tsunami tersebut alat-alat untuk mata pencaharian seperti perahu, rusak. 

Dikatakan, sampai saat ini jumlah korban meninggal akibat bencana tersebut di Kabupaten Nias sebanyak 66 orang. Korban yang hilang 61 orang dan jumlah pengungsi 1.500 jiwa. 

Kondisi serupa terjadi pula di Kecamatan Pantai Cermin, Sumatera Utara. Sekitar 300 kepala keluarga di daerah tersebut saat ini masih dibayangi ketakutan akan terjadinya gempa susulan. Oleh karena itu meraka berharap pihak- pihak terkait dapat memberikan informasi sebelum gempa terjadi, sehingga mereka dapat menghindar.

Menurut Camat Pantai Cermin, Dimas Kurnianto, jumlah korban tewas di daerahnya empat orang. Menurut Camat, sejumlah pengungsi sudah ingin pulang kembali ke tempatnya, tapi karena ada kabar adanya gempa susulan mereka takut untuk pulang.

Sementara itu, aktivitas di Posko Bencana Alam Nasional di Bandar Udara Polonia Medan sangat sibuk. Berbagai jenis bantuan untuk korban bencana alam baik dari dalam negeri maupun dari luar dikirim ke posko tersebut sebelum disalurkan ke tempat-tempat bencana alam.

Pemerintah Australia seperti dikatakan oleh Atase Pertahanan mereka di Indonesia, Tony Jhon, memberikan bantuan empat pesawat jenis Hercules. Pesawat-pesawat itu digunakan untuk menyalurkan bantuan ke lokasi bencana. 


Tak Dapat Tiket

Sementara itu, banyak warga Jakarta asal Aceh yang kecewa karena tidak mendapatkan tiket pesawat ke Aceh. Sebagian besar akhirnya memilih maskapai penerbangan dengan tujuan Medan, walaupun harga tiket melambung hingga 300 persen. Sebagian besar berharap mereka dapat masuk ke wilayah Aceh melalui jalan darat. 

Berdasarkan pantauan di Bandara Soekarno Hatta Selasa dan Rabu pagi cukup banyak calon penumpang yang kecewa dan menangis karena tidak memperoleh tiket pesawat Garuda. Pihak maskapai penerbangan Garuda sudah menambah penerbangan, namun tidak juga cukup menampung calon penumpang. Banyak juga warga lainnya yang berniat ke Aceh untuk membantu korban tidak memperoleh tiket.

Di Terminal I sejak subuh sudah banyak calon penumpang yang menunggu pesawat tujuan Medan. Tempat penjualan tiket pesawat Adam Air dan Ekspress Air yang membuka penerbangan ke Medan dipenuhi calon penumpang. 

Seorang warga asal Aceh yang menetap di Jakarta bernama Ahmad Yani mengaku kesulitan mendapatkan tiket pesawat. 

Hal yang sama diungkapkan Zainal, yang kecewa karena tidak bisa cepat ke Aceh untuk menengok orangtua dan saudara-saudaranya. 

Yani terpaksa membeli tiket pesawat ke Medan. "Saya terpaksa membeli tiket yang menuju Medan dan setelah itu akan melanjutkan perjalanan menuju Aceh lewat jalan darat," ujarnya.

Pria ini mengatakan dua adiknya yang menetap di Banda Aceh dikabarkan tewas. Yani juga mengkhawatirkan saudara lainnya yang menetap di Meulaboh. "Walaupun orangtua dan keluarga saya tinggal di Bireuen, namun banyak juga saudara saya yang tinggal di Meulaboh," katanya lirih.


Seruan GKST

Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) menyerukan kepada seluruh warga GKST untuk bersama-sama mendoakan dan sesegera mungkin mengumpulkan bantuan untuk korban bencana alam ini

"Seruan ditujukan kepada seluruh warga gereja, meskipun kami bergumul dengan upaya penanggulangan korban kerusuhan Poso," kata Ketua Umum Majelis Sinode GKST Pdt Rinaldy Damanik, melalui siaran pers yang diterima Rabu (GCM/SP)