Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Depresi dan Trauma Kini Melanda Warga

Rayakan Pergantian Tahun secara Sederhana

Pilih Ibu atau Adik?

Perlu Rp 1,3 Triliun Dana Darurat

Transparansi Anggaran dalam Perspektif Agama






Lintas Berita: Depresi dan Trauma Kini Melanda Warga


Glorianet - Langit pada Rabu (29/12) siang tampak cerah ketika melintasi perbatasan Kota Lhokseumawe-Kabupaten Aceh Utara. Matahari bersinar terik. Kendaraan roda dua maupun roda empat di jalan yang menuju Kota Banda Aceh mulai terlihat ramai dibandingkan tiga hari sebelumnya. Di kawasan Pantai Muara Baru, warga mulai menjalani aktivitas, seakan gelombang tsunami tak pernah terjadi di daerah itu. 

Di sepanjang jalan, mulai terlihat kesibukan. Ada yang berjualan, ada yang mulai bersekolah, ada yang menjemur hasil panen, atau sekadar duduk-duduk di tempat-tempat pengungsian yang tersebar di pinggir jalan. Beberapa warga bahkan sudah mulai membetulkan rumahnya. Paling tidak, mencari barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan dari rumah masing-masing. 

Tetapi, baru saja melintasi daerah Kecamatan Muara Baru, suasana tiba-tiba berubah riuh. Kendaraan yang lalulalang mendadak terhenti. Dari arah yang berlawanan, ribuan orang penduduk dari Desa Tanoh Anoe tiba-tiba berlari-larian, berhamburan ke tengah jalan. 

"Air pasang datang! Air pasang datang! Lari...lari..! Putar, cepat!" Seorang penduduk berteriak-teriak sambil terus berlari. Tangannya terus bergerak-gerak, mengisyaratkan agar setiap pengemudi kendaraan kembali memutar ke arah Lhokseumawe. 

Namun, yang terjadi tidaklah seperti yang mereka harapkan. Bukannya menolong, teriakan itu malah membuat panik warga di permukiman itu. Histeris. Warga tunggang-langgang, berebut berlari, menyetop setiap kendaraan yang lewat. Mobil angkutan, mobil pribadi, hingga truk kosong yang melintas, menjadi sasaran. 

Orang tua dan anak-anak yang kebetulan mempunyai saudara yang sedang tidak berada di rumah, hanya bisa menangis, sambil ikut berlari-lari kecil di jalanan. Ketakutan terpancar dari wajah mereka. Tetapi, tidak tahu harus berbuat apa. 

Sekelompok tentara yang kebetulan berada di sisi jalan, dengan tergesa-gesa langsung menaiki mobil truk kosong yang kebetulan lewat. Para pengendara lain, yang tadinya melongo melihat situasi itu, dengan cepat berbalik arah. Situasi menjadi kacau-balau. 


Trauma 

Benturan, atau serempetan antarkendaraan, sudah tak dipedulikan lagi. Semua berebut, ingin keluar dari jalan yang berubah menjadi sangat macet. Situasi dan isu yang sama juga melanda Kota Lhokseumawe, dalam waktu yang hampir bersamaan. Penduduk setempat mendengar gelombang besar akan menerjang kota, Rabu (29/12) siang. 

Gelombang yang meresahkan para warga itu tak datang. Meski demikian, kebanyakan penduduk di Kota Lhoukseumawe dan di beberapa kecamatan Aceh Utara menolak pulang. 

Mereka bertahan di tempat yang dinilai lebih aman. Mereka kebanyakan bergabung dengan para pengungsi, berkumpul di masjid-masjid atau di tempat yang letaknya lebih tinggi. 

Rizal, seorang Bintara Marinir 2 Kompi Afrika, ditemui di Desa Kede Mane, mengisahkan, pada saat kejadian, ombak di laut sedang naik, akibat terjadinya gelombang pasang. 



Namun, ketinggian ombak saat gelombang pasang itu tak lebih dari setengah meter.

"Memang kejadian itu tidak bisa disalahkan. Hal itu tentunya karena trauma dengan kejadian yang pernah menimpa mereka, sehingga mereka sangat ketakutan," ia menambahkan. 

Demikian pula yang dikatakan dr Rahmat Suryadi MPH, dokter yang bertugas di Dinas Kesehatan Pemerintahan Kota (Pemko) Lhokseumawe.

Hingga kini penduduk serta pengungsi banyak yang mengalami depresi akibat bencana tersebut. 

"Sekarang saja sudah kelihatan. Kebanyakan para pengungsi muter-muter di sini. Memang, karena mengalami shock. Ada perubahan tabiat, misalnya, penduduk semakin lebih sensitif, gelisah, gampang cemas. Hal itu memang dimaklumi mengingat sangat berat beban yang ditanggung para penduduk akibat tsunami ini," katanya, ketika ditemui di Lapangan Hirak, Rabu (29/12) malam.

Dr Rahmat itu memprediksikan, jumlah warga di provinsi itu yang akan mengalami sakit jiwa akan bertambah banyak, sebagai dampak dari bencana tsunami ini. Bahkan jumlahnya diperkirakan akan berlipat ganda dibandingkan tekanan yang selama ini pernah mereka alami, akibat perbuatan manusia. (GCM/SP-henry.s)