|
|
|
Lintas Berita: ”Saya Kelaparan, Saya Ingin Nasi…”
Glorianet - ”Saya ingin nasi, saya ingin nasi. Tolong Pak, kasih saya nasi,” teriak seorang ibu ketika pesawat Batavia dari Jakarta yang saya tumpangi mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, Kamis (30/12) pukul 05.30 WIB. Ibu tersebut tidak sendirian, sebab ratusan orang lainnya juga berteriak-teriak kelaparan dan kehausan. Mereka menjulurkan tangan dari balik teralis jendela gedung bandara.
Ironisnya, pemandangan ini justru terjadi di bandara internasional, yang bahkan sekarang di salah satu sudutnya dipakai untuk Posko Peduli Aceh. Tumpukan kardus-kardus bantuan berisi makanan, minuman, pakaian, obat-obatan termasuk dari berbagai negara teronggok di sudut bandara itu, sementara ratusan pengungsi di sekelilingnya malah tidak merasakan bantuan tersebut.
Sesaat kemudian terlihat tenda-tenda darurat di sekeliling bandara. Di tenda-tenda itulah para pengungsi berteduh. Rupanya para warga Banda Aceh itu lebih memilih mengungsi ke dekat bandara dengan alasan lebih aman, kemungkinan banjir kecil, dan dekat dengan lokasi bongkar bantuan dari luar Aceh.
Ada pengungsi yang sedang memasak. Seorang ibu mengeluhkan terlambatnya bantuan yang mereka peroleh. Sejauh ini jatah sarapan berupa mie instan dan biskuit baru diterima sekitar pukul 08.00, makan siang pada sore hari menjelang maghrib. Saya sendiri melihat bahwa di lokasi itu sama sekali tidak ada nasi. Bahkan banyak yang makan mie instan mentah-mentah karena tidak ada minyak tanah untuk memasak.
”Saya sih pingin nasi, perut ini sudah keroncongan,” tutur seorang perempuan separuh baya. Lalu mata ibu tersebut menerawang. ”Buat apa bantuan yang ditumpuk-tumpuk itu? Saya tiap hari makan indomie kering, karena minyak tanah harganya Rp 8.000-10.000 per liter,” lanjutnya.
Sesaat kemudian mata saya tertumbuk pada seorang ibu yang berguling-guling di lantai bandara. Rupanya ibu yang bernama Haminah itu baru saja kembali dari rumahnya yang sudah lenyap bersama suami dan anaknya. Ketika gempa dan tsunami hari Minggu (26/12), ia sedang berada di Jakarta untuk tugas kantor. Kini ia bergabung bersama para pengungsi lainnya di sekitar bandara. ”Sudah Bu, saya apalagi, saya lebih tidak punya apa-apa lagi. Jadi ibu harus merelakan semuanya,” beberapa pengungsi menghibur Haminah.
Beberapa menit kemudian setelah keluar dari area bandara, kembali terlihat para pengungsi yang menengadahkan tangan sambil berdiri di pembatas bandara. Mereka berteriak-teriak minta makanan dan minuman dari setiap penumpang pesawat yang baru mendarat. Ada banyak perempuan dan anak-anak. Begitu ada bingkisan yang dilemparkan dari mobil ke arah mereka, mereka pun berlompat-lompatan gembira.
Rombongan saya pun, yang terdiri atas delapan wartawan yang datang ke Banda Aceh atas undangan SBY Fans Club dalam rangka Aceh Peduli, menggerutu. ”Gimana sih ini? Yang dekat posko bandara saja sulit makan, apalagi yang jauh.
”Selanjutnya, rombongan meluncur ke Desa Sirem, Banda Aceh. Di sepanjang jalan hanya terlihat keadaan yang porak poranda dan orang-orang yang menyodorkan kardus untuk meminta bantuan. Saya lebih terkejut lagi ketika tiba di Desa Sirem, lokasi penguburan massal. Di kebun-kebun kosong di pinggir jalan itu terlihat beberapa jenazah tersembul ke permukaan.
Seorang bapak yang berada di desa itu hanya berujar, ”Sebaiknya jenazah-jenazah itu diberi kain kafan dan didoakan dulu”. Ketika ditanya apakah ia tidak terganggu oleh bau menyengat itu, bapak yang berumur sekitar 50 tahun itu menerawang. ”Biar sajalah, mereka itu kan saudara kita,” katanya.
Trauma dan Panik
Dari Lhokseumawe yang sangat jauh dari Banda Aceh, terlihat pula pemandangan yang tak jauh berbeda. Namun ketika saya melintasi jalan di sana pada Rabu (29/12) tengah hari, situasi sontak berubah. Jalanan semula lengang sehingga mobil bisa melaju dengan kecepatan 80 km per jam atau lebih, tetapi begitu memasuki kawasan Cunda, orang-orang tampak berhamburan keluar rumah. ”Lari .. lari .. di sana air sudah naik. Cepat... cepat lari!” teriak orang-orang di pinggiran kota Lhokseumawe yang berbatasan dengan laut Selat Melaka itu.
Tiba-tiba saja jalanan menjadi sesak dengan manusia. Hanya dalam hitungan menit, ribuan warga tumpah ke jalan. Mereka berlari keluar dari gang maupun rumah dengan membawa beberapa tas berisikan pakaian dan makanan seadanya. Mobil Kijang yang mengangkut rombongan wartawan tiba-tiba terpaksa berhenti. Persis 10 meter di depan mobil itu, jalanan tidak bisa lagi dilalui.
Lalu seorang juru kamera turun dari mobil. Begitu pintu terbuka, mobil itu langsung dijejali warga yang panik ingin ikut menyelamatkan diri. Kejadian serupa juga dialami mobil di belakangnya, yang saya tumpangi. Begitu pintu mobil dibuka, mendadak laki-laki dan perempuan menyerbu ke dalam mobil. Seorang jurnalis yang membawa kamera berusaha memotret tak bisa mengambil kamera yang dipasang di pinggangnya karena terhimpit jejalan warga yang masuk ke dalam mobil.
Entah siapa yang memulai. Tapi dari luar mobil kemudian terdengar suara menenangkan masyarakat. ”Itu hanya pasang biasa. Bukan air naik seperti bencana kemarin. Sudah... tenang, tenang saja. Jangan panik,” kata seorang lelaki. Belakangan diketahui ternyata yang berteriak-teriak itu adalah para tentara yang berusaha menenangkan masyarakat.
Meski warga mulai tenang, tetap saja pengungsian dalam jumlah kecil terjadi. Di antara mereka lari ke kawasan Cunda ataupun perbukitan Panggoi. Sebagian lagi menghindari pantai.
”Aku sebenarnya tidak panik. Tapi kakakku masih takut dengan tsunami kemarin itu, Bang. Daripada dia panik, lebih baik aku bawa dulu ke tempat yang aman. Kalau memang aman, ya balik lagi ke rumah,” kata Endang (24), warga Kampung Jawa, Lhokseumawe.
Selang 25 menit kemudian, suasana jalanan sekitar pinggir Lhokseumawe sepi. Toko-toko dan pusat perdagangan di kawasan Jl. Perdagangan, Jl. Perniagaan dan Jl. Sukaramai tutup. Memang, yang ditakutkan warga tentang gempa dan tsunami susulan tidak terbukti, tetapi siapa yang berani memastikan kapan alam marah?
(GCM/SH-edy wahyudi/darma lubis/murizal hamzah)
|