|
|
|
Lintas Berita: KWI Menilai Tradisi Keagamaan Rendahkan Perempuan
Glorianet - Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menilai masih banyak kejadian, baik di lingkup rumah tangga, masyarakat, maupun tradisi keagamaan yang merendahkan perempuan. Salah satu tradisi keagamaan yang merendahkan posisi perempuan adalah penyalahgunaan ayat yang menempatkan laki-laki lebih tinggi.
Pernyataan KWI ini tertuang dalam Renungan Akhir Tahun 2004 yang ditandatangani Ketua KWI Kardinal Julius Darmaatmadja SJ dan sekretaris Mgr Ignatius Suharyo Pr. Renungan yang berjudul: ”Kesetaraan Perempuan dan Laki-Lagi Sebagai Citra Allah” yang diterima
Sinar Harapan Minggu (2/1), mengatakan, Gereja meyakini laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup bergereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, penafsiran yang salah terhadap ayat-ayat Kitab Suci untuk merendahkan martabat perempuan dan untuk mengecualikan perempuan dari kehidupan Gereja dan masyarakat, perlu dihindari.
Refleksi ini, kata KWI, membuat umat Katolik sadar bahwa mereka merupakan bagian dari tradisi masyarakat dan gerejawi yang telah ikut melukai kesetaraan martabat yang mendatangkan penderitaan bagi kaum perempuan.
“Kita seringkali dengan tidak sengaja ikut memupuk sikap paternalistis yang memperkuat kaum laki-laki terhadap perempuan dan menguatkan kecenderungan perempuan menerima begitu saja. Dengan kesadaran ini kita mohon rahmat dan pertobatan kepada Allah, supaya baik secara pribadi maupun sama-sama, kita dapat mengubah sikap dan tindakan kita untuk mewujudkan kehendak Allah yakni kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sebagai citra-Nya,” demikian pesan KWI.
Komoditas
KWI juga menyoroti bahwa dalam sistem ekonomi saat ini, perempuan banyak diperlakukan seperti barang dagangan dan menjadi sasaran propaganda pola hidup konsumtif. Keterbatasan pengetahuan membuat mereka sulit memilah dan memilih informasi yang diperoleh dari media massa.
(GCM/SH-aju)
|