|
|
|
Lintas Berita: Tuhan Akan Mengirim Rezeki Berlimpah
Glorianet - Resah, gundah, bingung, dan sedih. Semua perasaan itu bercampur aduk di dalam hati warga Desa Sirombu, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Mereka korban gempa dan gelombang pasang tsunami yang terjadi pada Minggu (26/12) lalu.
Sampai saat ini, warga di Desa Sirombu tak tahu harus mengerjakan apa. Untuk mencari nafkah sudah tidak mungkin. Perahu-perahu nelayan yang biasa mereka gunakan untuk mencari ikan di laut, sebagai mata pencarian, tersapu ombak entah ke mana. Sebagian lagi telah rusak. Warga yang sehari-hari bertani pun bernasib sama. Peralatan bertani mereka lenyap. Ada yang tersapu ombak, ada pula yang masih tertimbun runtuhan bangunan.
Gelombang pasang tsunami telah mengakibatkan ratusan rumah di Desa Sirombu itu hancur. Hingga Rabu (29/12), tampak ratusan warga masih membersihkan puing-puing sisa bangunan rumah mereka. Mereka, tua dan muda, bekerja sendiri membersihkan puing-puing itu tanpa ada bantuan dari aparat setempat.
Fangatule Marunduri (53), warga Desa Sirombu, menceritakan bencana dahsyat yang menimpa desa mereka. Ketika itu, Minggu (26/12) sekitar pukul 9.00 WIB, gempa kencang terasa di desa mereka. Warga sempat panik. Namun, setelah gempa reda, kepanikan warga turut reda.
"Anehnya, air laut surut hingga beberapa meter. Mungkin puluhan meter. Saya malah sempat ke pantai dan melihat dasar laut berupa batu karang. Tapi, beberapa warga terlihat berlari sambil berteriak kalau ada ombak besar," ujar Fangatule.
Semula ia mengaku tidak percaya ada ombak besar, karena kenyataan yang ia lihat justru air laut surut. Tetapi, sayup-sayup ia mendengar suara debur ombak. Sontak Fangatule memandang laut di kejauhan. Benar saja. Ombak besar bergulung-gulung. Fangatule pun ikut warga desa lainnya, berlari ke tempat aman.
Selang beberapa menit kemudian, ombak besar menyapu desa yang terletak di pinggir pantai barat Pulau Nias itu. Tingginya mencapai lima meter. Seluruh rumah warga desa dihantam. Suasana desa kacau-balau. Namun, hampir seluruh warga desa selamat, dan hingga kini masih ada satu orang yang belum ditemukan.
"Ombak datang lima kali. Untungnya, seluruh warga desa sempat melarikan diri tanpa memedulikan lagi harta benda. Yang paling parah adalah di Kecamatan Mandrehe. Desa-desa di sana terletak antara hutan dan pantai. Ketika ombak datang, sebagian besar warga desa tidak bisa melarikan diri, terhalang rawa dan hutan," katanya.
Kendala Transportasi
Catatan terakhir di Posko Bencana Alam Gereja Protestan ONKP di Kecamatan Madrehe, korban yang tewas di daerah itu 131 orang dan korban yang masih hilang 31 orang. Jumlah pengungsi yang berasal dari delapan desa yang terkena bencana alam tsunami di kecamatan itu sebanyak 31 orang.
Duka yang dalam juga dialami Syahmirdan Daeli (42). Ia kehilangan dua perahu yang biasa dipakai untuk mencari ikan. Hasil ikan tangkapan itu menjadi tumpuan hidup keluarganya sehari-hari. Dari pekerjaannya menjadi nelayan, ia dapat menghidupi istri, tiga anak, dan ibunya yang telah renta.
Syahmirdan hanya bisa melihat puing-puing rumahnya. Tak ada yang bisa dikerjakan kecuali menunggu bantuan. Penyaluran bantuan korban bencana alam di Kabupaten Nias memang sedikit tersendat. Kendala utama yang dihadapi adalah masalah transportasi.
Kecamatan Sirombu dan Kecamatan Mandrehe terletak sekitar 100 kilometer dari Kota Gunung Sitoli, pusat kota Kabupaten Nias. Jalan menuju dua kecamatan itu rusak parah, apalagi jika turun hujan. Untuk mencapai kedua kecamatan itu diperlukan waktu sekitar empat jam. Tetapi, kalau di tengah jalan ada mobil yang mogok, perjalanan akan lebih lama lagi.
Meski bencana alam telah meratakan desa mereka, warga Desa Sirombu hanya bisa pasrah. Bagi mereka, bencana itu merupakan peringatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. "Kami pasrah. Ini kuasa Tuhan. Kami tetap yakin bahwa Tuhan akan memperbaiki keadaan ini. Kami yakin Tuhan akan memberikan rezeki yang lebih berlimpah kepada kami," kata Meridia Maruhawa (46).
(GCM/SP-asni ovier dp)
|