![]() |
|
|
|
|
|
|
Lintas Berita: Saatnya Menggunakan Paradigma Baru Seminari berasal dari kata latin semen yang berarti persemaian. Seminari berarti tempat persemaian bibit-bibit (calon-calon) imam atau pastor Katolik. Di situ, mereka dibina secara khusus sejak kelas I SMP hingga kelas III SMA. Model pembinaannya pun berbeda dari sekolah-sekolah umum, termasuk tidak ada siswa perempuan. Selain itu, ada kurikulum khas seminari, seperti pelajaran bahasa Latin yang sangat sulit itu, kitab suci, liturgi, katekismus, dan pelajaran humaniora, serta keterampilan lainnya, meskipun tetap mengikuti kurikulum pemerintah. Hidup mereka teratur. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, semuanya sudah diatur. Awalnya adalah keinginan Pater Deken Manggarai, Wilhemus van Bekkum SVD (almarhum), supaya Manggarai memiliki sebuah seminari sendiri, seperti di Flores Timur dan Timor. Sejak gagasan itu muncul persiapan-persiapan awal mulai dilakukan, termasuk mencari lokasi yang cocok untuk sebuah seminari di Manggarai. Tugas maha berat ini diemban oleh Pater Juray Vojenciak SVD, seorang misionaris Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah asal Polandia yang menjadi pastor wilayah Manus (semacam distrik yang meliputi beberapa kecamatan). Berkat perjuangannya yang gigih dan penuh kasih, dia berhasil "menaklukkan" para tu'a tanah (tuan tanah) dan tu'a golo (tuan kampung) untuk menyerahkan sebagian tanahnya kepada misi. Pada tahun 1952 para tu'a golo dan tu'a tanah dari Kampung Rende (Wilayah Manus) dan Kampung Watunggong (Wilayah Ronggakoe) dengan rela hati menyerahkan sebagian tanah mereka kepada misi, disaksikan Raja Manggarai waktu itu, Raja Ngambut, dan Wilhemus van Vekkum SVD yang sudah ditahbiskan sebagai Uskup Vikariat Apostolik Manggarai pada 13 Mei 1951. Luas tanah yang diserahkan itu 40 hektare. Lahan itu kemudian diuji kelayakannya oleh semacam konsultan pertanahan (landbouconsulen) Pater Dr J van Doormaal SVD. Pastor ini kemudian merekomendasikan bahwa tempat tersebut layak. Seakan tak mau membuang banyak waktu, sebagian lahan hutan dan semak belukar itu langsung mulai diolah oleh bruder-bruder SVD. Bersamaan dengan itu, sebagai uskup yang baru ditahbiskan pada tahun 1951, Mgr Wilhemus van Bekkum berkunjung ke Eropa dan bertemu Paus Pius XII di Vatikan. Saat audiensi, betapa kagetnya Mgr van Bekkum ketika Paus Pius XII memintanya untuk memperhatikan pendidikan calon-calon imam pribumi. Kalimat Paus itu semakin menguatkan motivasi Mgr Wilhelmus van Bekkum untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah seminari. Itulah sebabnya Mgr van Bekkum, begitu dia selalu dipanggil, kemudian membaptis seminari yang akan didirikan itu dengan nama "Seminari Pius XII". Sepulang dari Roma, persiapan-persiapan lebih matang dilakukan. Bangunan-bangunan darurat mulai dibangun hingga tahun 1955. Setelah persiapan fisik seadanya, berikut personil, pada tahun 1955, seorang pendidik ulung didatangkan dari Seminari Johanes Berchmans Todabelu/Mataloko. Dialah Pater Leonardus Hendrik Geradus Perik SVD (almarhum) yang oleh siswa seminari itu dipanggl Pater Leo Perik. Dialah rektor pertama Seminari Pius XII yang baru dilahirkan itu. Pada 7 September 1955, rombongan pertama siswa seminari yang berjumlah 30 orang tiba di Kisol. Mereka menempati bangunan darurat yang belum rampung. Belum ada jendela dan lantai semen. Kursi dan meja pun belum memadai, serta belum ada fasilitas air bersih. Meski demikian, keesokan harinya, pada 8 September 1955, seminari itu diresmikan dan kegiatan belajar-mengajar dimulai. Kemudian 8 September ditetapkan sebagai Dies Natalis Seminari Pius XII Kisol. Penentu perkembangan Seminari Pius XII Kisol selanjutnya adalah Pater Leo Perik SVD. Dia bapak pembangunan, pendidik ulung, tabib, imam, dan filatelis. Sebagai pembangun, dia merampungkan bangunan-bangunan darurat awal. Ketika jumlah siswa seminari makin banyak, dia lalu memindahkan kompleks seminari agak sedikit ke pinggir jalan raya (jalan lintas Flores) dan membangun gedung-gedung permanen dan mewah untuk seminari itu hingga bentuknya sekarang. Sebagai pendidik ulung, Leo Perik tidak pernah mengenal lelah mengajar Matematika dan bahasa Jerman dengan menggunakan metode yang gampang dimengerti siswa dengan sejumlah rangsangan. "Siapa yang mendapat nilai sepuluh untuk matematika dalam Ebtanas akan mendapat sebuah arloji, celana panjang dan berlibur di Belanda," kata Pater Perik, suatu ketika di depan kelas III SMP. Sebagai tabib, dia dengan setia merawat siswa yang sakit. Dia pun filatelis. Koleksi prangkonya bisa disaksikan pada dinding Patres (tempat tinggal para pastor) di seminari itu. Pater Leo Perik menghabiskan lebih dari setengah umurnya di seminari itu hingga tahun 2000. Tahun itu, dia kembali ke Belanda dan meninggal dunia tahun 2004. Paradigma Baru Artinya kegiatan belajar-mengajar para seminaris perlu dilaksanakan dengan mengikutsertakan siswa perempuan. Meskipun untuk para calon pastor, tetap tinggal dalam asrama khusus. Hal itu, menurut dia, penting untuk menjaga keseimbangan psikologis pendidikan para calon pastor. Selain itu, kata Pater Otto Madung, para seminaris perlu diberi pendidikan dan praktik seni yang cukup untuk melatih kepekaan terhadap orang lain dan lingkungan. Itu betul. Selama ini (paling tidak tahun 80-an hingga sekarang), praktik seni ini nyaris tidak ada. Pendidikan seni hanya diberikan di kelas. Itu pun sangat terbatas. Praktiknya nihil. Kalaupun ada band, pengelolaannya tidak profesional. Artinya tidak ada tutor yang sungguh-sungguh profesional membimbing para siswa. Kalaupun ada siswa yang bisa ngeband , itu hanya karena bakat alam siswa itu sendiri. Dibandingkan dengan Seminari Wacana Bakti Jakarta atau Mertoyudan di Jawa Tengah yang memiliki orkestra, Seminari Kisol sudah puluhan tahun tidak mempunyai orkestra atau kegiatan seni lain. Padahal, perlengkapan untuk itu ada, tetapi akhirnya rusak karena lama sekali tidak terpakai. Sementara alumnus lain Rikard Rahmat mengatakan, sudah saatnya tolok ukur mutu pendidikan Seminari Pius XII Kisol memakai standar nasional. Meskipun berada di pelosok, sudah saatnya mutu seminari itu dibandingkan dengan sekolah-sekolah di kota besar, seperti Jakarta. Karena selama ini, seminari itu selalu berbangga diri bahwa dialah yang terbaik di Manggarai, bahkan di NTT. Tetapi belum tentu dengan sekolah-sekolah lain di luar NTT. Untuk itu, standar dan metode pengajaran pun harus diubah. Sehingga lulusan dari seminari itu tidak kalah bersaing dengan lulusan sekolah lain. Dia juga menekankan pentingnya pelajaran bahasa asing yang kini mulai memudar. Singkatnya di usia emasnya ini, Seminari Pius XII Kisol harus mencari dan menemukan paradigma baru dalam meningkatkan mutu, baik mutu para calon imam maupun mutu produk yang tidak mau menjadi imam. Karena pada akhirnya seminari itu tidak hanya memproduksi calon imam, tetapi juga menghasilkan kader awam yang tangguh untuk membangun gereja dan tanah air. Sehingga semboyan bersama Opus Iustitae Pax Pra Patria et Ecclesia bisa terwujud. (GCM/suarapembaruancom-alex madji)
|