Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Mahasiswa Pertanyakan Pernyataan Kapolda Jabar

Merenungkan Alam yang Kian Terancam

SKB Tidak Akan Dicabut, tapi Direvisi

Perlu Pendewasaan Hubungan Antaragama

Saatnya Menggunakan Paradigma Baru






Lintas Berita: Merenungkan Alam yang Kian Terancam


Glorianet -
Para ilmuwan sepakat, masyarakat global kini terancam dampak perbuatan buruk manusia terhadap lingkungan. Perubahan iklim, lenyapnya keanekaragaman hayati, hingga perubahan pemakaian pola lahan, kian mengancam kelestarian lingkungan. Keprihatinan menyeruak di sana-sini, termasuk yang dilontarkan oleh Prof Ibrahim Ozdemir dari Universitas Ankara, Turki, dan Prof Mary Evelyn Tucker dari Universitas Bucknell, AS. Dua pakar ekologi itu hadir dalam diskusi bertopik "Religion and Ecology" yang diselenggarakan The Maarif Institute, sebuah LSM yang berkantor di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan belum lama berselang. Kebetulan sekali Pembaruan diundang Abdul Rohim Ghozali, pemikir muda Islam sekaligus aktivis Maarif Institute, untuk ikut nimbrung di acara yang berlangsung sore menjelang petang itu.

Sejak awal, diskusi yang juga dihadiri sejumlah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berlangsung cukup hangat. Prof Mary Tucker berpendapat, agama dapat mendorong tumbuhnya kesadaran untuk melestarikan lingkungan. Jujur saja, kami saat itu perlu berpikir keras, apa sih sebetulnya korelasi agama dengan lingkungan. Selain, pakar lingkungan hidup, Prof Tucker sendiri selama ini telah mempelajari seluk-beluk ajaran Konfusianisme. Dari apa yang dipelajarinya, secara umum dapat disimpulkan, agama adalah orientasi tentang "kosmos" dan bagaimana manusia dapat berperan di dalamnya. Untuk mencapai hal itu, agama menawarkan sejumlah cara, baik melalui simbol-simbol, ritual, norma etika, hingga tradisi.

Prof Ozdemir juga berpendapat serupa. Dunia dan makhluk seisinya, menurut Ozdemir, adalah manifestasi kebenaran Ilahi dalam jagad raya ini. Sehingga keniscayaan terlibatnya agama dalam dalam upaya membangun dunia yang berkelanjutan (a sustainable world) tidak bisa ditepiskan. Dan, berbagai ajaran agama mana pun, baik Islam, Kristen, Hindu, Budha, Shinto, Konfusianisme, dan lainnya, jelas menampakkan kemampuan menawarkan pandangan dunia atau kosmologi yang bisa menumbuhkan kesadaran ekologis (ecological awareness).

Selama tiga jam, diskusi berlangsung secara intensif. Bahkan, muncul istilah baru yang dirasakan para peserta diskusi perlu ditawarkan kepada publik, yakni Eco-genocide atau pemusnahan ekologi secara besar-besaran tanpa pandang bulu. Sebab, bukan hanya manusia saja yang bisa dimusnahkan lewat praktik genocide, tetapi alam dan lingkungan hidup bisa juga mengalami hal yang sama. Dan, Eco-genocide itu diharapkan bisa ditanggulangi dengan peran serta agama untuk menghadapi masalah-masalah lingkungan baik pada skala global maupun lokal. Sulit dimungkiri, krisis ekologis sudah menapaki tingkatan yang amat mengkhawatirkan keselamatan umat manusia, karena krisis itu sudah mengancam sendi-sendi dasar kehidupan di bumi.

Manusia modern sekalipun, tetap harus kembali kepada Tuhan yang telah memberikan dimensi spiritualitas alam semesta dan manusia itu sendiri. Dalam agama apapun, kepedulian dan tanggung jawab konservasi alam tidak bisa dilepaskan dari proses penyempurnaan diri manusia sebagai ciptaan Allah di muka bumi ini. Niscaya, penyempurnaan diri kepada Allah tidak bisa berlangsung, tanpa kecintaan kepada alam semesta.

Batin kami yang hadir benar-benar merasa diperkaya. Sayang, Prof Tucker dan Prof Ozdemir tidak bisa berpanjang kata sebab mereka sudah dinantikan oleh Menko Kesra Alwi Shihab. Pertemuan harus segera diakhiri. Hari sudah senja. Meskipun begitu, para aktivis yang hadir sore itu tetap melakukan perenungan panjang hingga larut malam. Obrolan terus mengalir begitu saja. Ya, waktu terasa begitu singkat untuk merenungkan perubahan paradigma yang didesakkan alam kepada kita, yang mengaku-ngaku sebagai manusia yang bijak. (GCM/suarapembaruancom-E9)