Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Ilmu Perbandingan Agama Jembatani Pluralisme

Belajar Mengelola Sampah di Sukunan Sleman

SKB Dua Menteri Resmi Di-”Class Action”

Jalan Masuk HKBP di Tambun Ditutup

Pemerintah agar Hentikan Penutupan Gereja






Lintas Berita: Ilmu Perbandingan Agama Jembatani Pluralisme


Glorianet -
Untuk memberikan pemahaman yang lebih perihal pluralisme agama, perlu dikembangkan pelajaran Perbandingan Agama di tingkat SMA dan perguruan tinggi.

 Pelajaran ini mengupas jatidiri agama-agama yang diberikan seorang guru agama atau setiap agama diajarkan oleh seorang yang memeluk agama terkait. Namun dikarenakan agama adalah masalah sensitif maka salah memilih guru bisa menimbulkan kekacauan dalam proses belajar-mengajar.

Demikian diutarakan H Ibnu Djarir, Pengurus MUI Jateng dalam bedah buku Pendidikan Pluralisme di Indonesia karya Syamsul Ma'arif MAg yang diterbitkan Logung Pustaka. Acara tersebut diselenggarakan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama di Hotel Tugu Indah Rabu (14/9).

''Pelajaran Perbandingan Agama memang penting karena dari pelajaran ini bisa tumbuh sikap saling menghargai perbedaan agama yang ada,'' katanya.

Dalam acara tersebut juga menghadirkan pembanding buku Budayawan Prie GS, Direktur Program Pascasarjana IAIN Walisongo Abdurrahman Mas'ud dan dimoderatori Adi Ekopriyono dari Harian Suara Merdeka.

Ia menambahkan untuk mengajarkan agama-agama bagi siswa SLTA tidak begitu mudah dan harus cukup arif. Sebab, kata dia, agama-agama di samping memiliki persamaan-persamaan juga ada perbedaan-perbedaannya yang prinsipil.

''Jika tidak arif bisa menimbulkan kebingungan kepada mereka dan bahkan bisa menggoyahkan imannya,'' katanya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan setiap pemeluk agama yang baik meyakini kebenaran agamanya. Oleh karenanya, ia mengakui adanya klaim kebenaran yang merupakan bagian dari keyakinan agama seseorang yang beriman. Meski demikian, klaim kebenaran ini hendaknya tidak dipermalasahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengemukakan kemerosotan bangsa, termasuk terjadinya konflik-konflik sosial tidak berarti telah terjadi kegagalan pendidikan agama. ''Terjadinya kemerosotan itu disebabkan banyak faktor, seperti lemahnya penegakan hukum dan dampak negatif globalisasi,'' katanya.

Sementara itu, Syamsul Ma'arif, penulis buku menegaskan pluralisme belum tentu menyesatkan seperti yang diperdebatkan belakangan ini. Menurutnya, perlu dilakukan rekonstruksi pendidikan agama yang bercorak neo-konvensional yakni selain memperteguh keimanan juga menghargai perbedaan agama lain.

Tidak hanya pluralisme dalam agama saja, sikap saling menghargai ini juga sudah sepatutnya bisa dikembangkan dalam hubungan intra-agama.

''Dalam satu agama saja terdapat beberapa mazhab yang memiliki perbedaan. Paradigma pluralisme ini juga bisa dikembangkan untuk menjalin hubungan antar mazhab,'' terangnya. (GCM/suaramerdekaCN-moh anhar/Cn07)