• PDF

RIYANTO

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:52
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 1210 kali

Konon, kalau mau mengetahui sifat atau karakter asli seseorang, lihat saja reaksi spontannya ketika menghadapi suatu kejadian mendadak dan mengejutkan. Misalnya, kendaraan di depan dia tiba-tiba menyalib atau mengerem mendadak; segera sumpah serapah berhamburan dari mulutnya, atau dia cuma melotot dan mengelus dada tetapi tetap berdiam diri. Atau di tengah keramaian orang lalu lalang, tiba-tiba dia melihat seekor ular berbahaya; segera ngacir menyelamatkan diri, atau dia mencari cara untuk mengamankan itu ular. 

Maka, silahkan Anda menilai sendiri berita ini: saya membacanya di internet, tiga hari setelah malam Natal berdarah itu. Saya tidak tahu, apakah koran, majalah, dan TV memberitakannya. Mungkin tidak, sebab bisa jadi kisahnya bukan kisah yang laku dijual. Di tengah persaingan bisnis mass media yang begitu ketat, hati nurani adalah nomor dua, dan keuntungan; entah finansial maupun popularitas dan kekuasaan, adalah nomor satu. Maka jangan heran kalau tidak sedikit mass media yang cenderung memilih berita-berita sensasional; berita-berita yang kerap malah memperkeruh keadaan, bukan menjernihkan apalagi menyejukkan.

Namanya Riyanto. Umur 25 tahun. Pekerjaan karyawan sebuah koperasi kecil di Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya seorang tukang becak. Riyanto anggota Banser NU, jadi tentunya bukan Kristen. Tetapi malam itu, 24 Desember 2000, dia mendapat tugas dari komandannya untuk menjaga Gereja Eben Haezar yang tengah melangsungkan kebaktian malam Natal. Isyu-isyu tidak sedap seputar Natal memang tengah berhembus kencang di masyarakat; bahwa akan ada Natal berdarah. Ada yang lantas menjadi was-was, ada juga yang biasa saja; mungkin sudah kebal, soalnya belakangan-belakangan ini isyu-isyu serupa banyak berseliweran. 

Entah dari mana, seseorang tidak kenal mengantar sebuah parcel yang ternyata isinya bom. Maka kepanikan terjadi; sebagian besar umat, termasuk petugas yang tengah berjaga-jaga, berhamburan menyelamatkan diri. Riyanto tidak. Dia mengambil bom itu, membawanya menjauh dari gereja. Dia sempat meletakkan bom itu di sebuah selokan, sebelum "Bummmm….!" bom itu meledak. Melumat tubuhnya. Hancur.

Apa yang terjadi pada Riyanto terasa menjadi lebih khusus, karena terjadi dalam suasana di mana upaya-upaya mengadu domba umat beragama tengah gencar-gencarnya. Untuk menghadapi upaya-upaya serupa tidak ada cara lain memang; selain membuktikan bahwa umat berbagai agama bisa bersatu, menghadapi musuh bersama: kekerasan dan manipulasi agama.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."