|
SMS Part One
Oleh: Ayub Yahya
Pada
mulanya adalah Matti Makkonen. Ia adalah seorang insinyur belia
berusia 30 tahun yang bekerja pada perusahaan telekomunikasi
Finnish, di Finland. Tahun 1982 ia melontarkan ide tentang text
messaging melalui jaringan telepon selular berbasis GSM (Global
System for Mobile Communications). What an idea!
Tetapi
pada saat itu nggak terlintas sedikit pun dalam benaknya, bahwa ia
baru saja melontarkan sebuah ide revolusioner. Ide yang
kemudian mampu mengubah dunia telekomunikasi. Dan merembet ke nyaris
semua aspek kehidupan manusia; ekonomi, politik, sosial, budaya,
agama, pendidikan. Bahkan relasi antar manusia.
Ide
tersebut dimatangkan oleh para pakar telekomunikasi GSM dunia.
Dibahas berulang-ulang. Tanpa satu pun di antara mereka yang menduga,
bahwa Short Messaging Service, atau yang populer dengan SMS,
akan menjadi sebuah mesin uang baru di masa depan. Dan akan sanggup
berkembang dengan pesat.
Setelah
penyempurnaan di sana-sini, pada tanggal 3 Desember 1992 akhirnya
sebuah SMS pertama di dunia dikirimkan. SMS “coba-coba” ini
dikirim oleh Neil Papworth dari Sema Group, perusahaan konsultan IT
di Inggris (sekarang salah satu unit dari Schlumberger Limited)
melalui komputernya. Penerimanya Richard Jarvis dari perusahaan
telekomunikasi Vodafone Inggris di telepon selulernya. Isi pesannya:
Merry Christmas. Pesan visioner yang “pas” untuk menandai
kelahiran sesuatu yang fenomenal.
Perkembangan
selanjutnya nggak langsung boom “melesat lari”. Tapi
mirip bayi yang baru belajar berjalan. Tertatih dan terseok. Ketika
pertama kali diperkenalkan, SMS mencatat angka pesimistik.
Masyakarat nggak ngerespons. Para
petinggi telekomunikasi nyaris putus asa. Sampai tahun 1995
rata-rata satu pelanggan GSM hanya mengirim 0,4 pesan per bulan.
Nggak sampai satu SMS sebulan. Sampai tahun 2000 di Eropa angkanya
masih jauh dari menggembirakan. Hanya 35 SMS per pelanggan per
bulan.
Tetapi itu 5-10 tahun lalu. Lain dulu lain sekarang. Zaman telah
berganti. Orang telah berubah kiblat. Sekarang SMS bagai primadona.
Dan operator GSM di seluruh dunia kini tengah menuai apa yang mereka
tabur. Konon di dunia sekarang ada sekitar 1,4 miliar pengguna
telepon selular. Dapat dipastikan 85% dari jumlah itu menggunakan
fasilitas SMS setiap hari.
Di Indonesia booming SMS terjadi sejak tahun 2002. Ketika itu
setiap hari ada sekitar 10 juta SMS yang terkirim. Setahun berarti
ada 3,65 miliar SMS. Itu hanya di
Indonesia. Sebuah angka yang fantastis. Lain Indonesia, lain
China. Tahun 2002 ada 206 juta pengguna telepon selular di negara tirai
bambu itu. Angka yang wajar kalau dilihat dari jumlah penduduknya.
Dan dalam setahun ada 90 Miliar SMS berseliweran antar handphone
di China
.
Mari berhitung. Di Indonesia anggap saja harga satu SMS Rp. 250 per
sekali kirim, maka ada uang senilai 900 milyar rupiah lebih setahun.
Di China biaya kirim SMS 0,10 yuan. Jadi nilai semua SMS di sana
sembilan milyar yuan setahun atau lebih dari 2,5 trilyun rupiah. Itu
hanya tahun 2002. Dan hanya di dua negara. Gimana kalau di seluruh
dunia kan?
Padahal itu baru tahun awal kebangkitan SMS di seluruh dunia.
Tahun-tahun selanjutnya, angka-angka tadi meningkat sangat
fantastik. Misalnya tahun 2004 di Indonesia
tiap hari pengguna telepon seluler mengirimkan 20 juta SMS. Dan itu
hanya untuk satu operator. Padahal di Indonesia ada lebih dari 5
operator selular. Apalagi kalau hari raya. Kayak Natal, Lebaran, dan tahun baru. Angkanya bisa naik berlipat-lipat. Wuiihh!
Sampai pertengahan 2004, di seluruh dunia ada sekitar 500 milyar SMS
yang berseliweran antar pengguna telepon selular dalam
setahunnya. Angka yang luar biasa. Dihitung-hitung kalau Matti
Makkonen, si pencetus ide SMS, menerima 0,1 persen dari total
pendapatan yang dihasilkan oleh SMS di seluruh dunia, ia akan
menjadi milyuner dengan pendapatan EUR 50 juta per tahun.
Lalu
kenapa namanya nggak tercantum di daftar orang kaya dunia versi
Forbes? Jawabannya sungguh ironi. Karena ternyata Makkonen nggak
menerima satu sen pun dari ide SMS-nya yang brilyan itu. Sebab nggak
ada paten atas ide itu. Ide yang terlontar di sebuah Pizeria di Copenhagen,
Denmark
itu dianggap sebagai “kewajiban” bagi seorang karyawan
untuk memberi ide kepada perusahaan.
Toh
kekecewaannya nggak membuat ia berhenti berkarya di dunia
telekomunikasi. Setelah sempat berkarir di perusahan negara pos dan
telekomunikasi, Posti
Finland, Makkonen hingga kini masih tercatat sebagai CEO di Finnet,
perusahaan Finland
yang juga bergerak di bidang telekomunikasi. Satu-satunya
“royalti” yang diterima Makkonen adalah namanya selalu dikaitkan
orang dengan penemu SMS. Bahkan ia pun menerima “gelar”: The
Father of SMS. Bapak SMS.
*
Kini
SMS seolah sudah menjadi “gaya
hidup”. Kecepatan perkembangannya nggak bisa dilepas dari
“metamorfosa” handphone atau telepon seluler. Dari sebuah
produk teknologi canggih dan mahal ke benda super biasa yang bisa
terjangkau berbagai kalangan masyarakat.
Lihat
saja profil para pengguna handphone sekarang. Mulai dari
pekerja rumah tangga, pedagang jamu gendong, tukang ojek, tukang
sayur, sampai para eksekutif berdasi. Mulai dari pekerja super sibuk
sampai para pengangguran. Mulai dari yang berpendidikan tinggi
sampai yang nggak. Mulai usia tua hingga anak-anak. Semua nggak
asing dengan handphone.
Handphone
murah marak ditawarkan. Lengkap dengan iming-iming hadiah, diskon
atau bahkan kredit tanpa bunga. Kartu perdana fasilitas canggih
diiklankan dimana-mana. Pulsa murah dan gratis free-talk juga
gencar dijadikan alat penarik konsumen.
Pendek
kata orang sekarang diberi “doktrin” baru, bahwa sekarang nggak
ada alasan untuk nggak punya handphone. Meminjam tag line
iklan yang pernah menghias layar kaca televisi di
Indonesia, “Hari geneee, nggak punya handphone?”.
Dari
sanalah SMS seolah mendapat lahan subur untuk berkembang. Mudah,
murah dan cepat. Maka semaraklah SMS. Nggak cuma pesan penting dan
genting, tapi juga pesan basa-basi. Sekadar tanya, “pa kbr,
bro?”. Atau sekadar jawab, “ok”.
Di
kalangan tertentu SMS-an bahkan sudah menjadi hobi. Tiada hari tanpa
SMS. Seolah hari terasa nggak lengkap tanpa SMS. Ada
loh orang yang menghabiskan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk
SMS.
Lalu
apa itu salah? Salah tentu saja nggak. Toh kita memang butuh sarana
komunikasi. Terutama untuk kegiatan yang produktif dan positif.
Bagus-bagus saja. Sebagai hobi just fun-fun gitu, oke-oke juga.
Tapi kalau kemudian menjadi adiktif terhadapnya. Nggak bisa lepas
darinya. Menjadi lupa daratan. Lupa diri karenanya. Ya bahaya.
Segala sesuatu yang ekstrim alias berlebihan nggak baik-lah.
Di
Jerman ditemukan dua kasus penyimpangan perilaku dari hobi SMS-an
yang kebablasan. Kasus pertama, ada seorang remaja pria yang harus
membayar tagihan 8.900 Euro (setara $11.010 atau Rp 101.292.000
dengan kurs 9.200)! Kasus kedua, ada satu pasangan suami istri yang
segitu tergantungnya pada SMS, mereka mengaku hanya dapat
berkomunikasi dengan SMS. Bahkan ketika mereka duduk
samping-sampingan.
Bagaimana
di Indonesia? Belum dengar sih ada orang yang sampai ngehabisin uang
puluhan hingga tembus angka seratus juta-an just for SMS. Juga belum
pernah dengar-lah ada suami istri yang sampai hanya bisa saling
berkomunikasi lewat SMS. Tapi bahwa SMS sudah jadi semacam
“hobi” dan “gaya hidup” baru, rasanya sudah bukan rahasia
lagi deh. Ketika ngumpul bareng keluarga, orang bisa tetap
asyik SMS-an dengan temannya. Bahkan dalam kebaktian di gereja,
walau ada himbauan matikan handphone, tetap saja ada orang yang
sempet-sempetnya SMS-an :). Seolah nggak di mana pun dan kapan pun,
ngga bisa nggak SMS. Ini bukan joke.
Produk
teknologi se-fenomenal dan oke apa pun, hanya akan berguna
kalau bisa kita kendalikan. Bukan mengendalikan kita. Segala sesuatu
yang nggak terkendali biasanya akan menyusahkan kita.
So,
usul neh. Kan
ada tuh ajakan “Sehari tanpa televisi, guna meredam pengaruh buruk
televisi”, atau “Sehari nggak pakai mobil pribadi, guna
mengurangi polusi udara”. Nah, bisa ngga kita juga canangkan
sehari tanpa SMS. Biar kita selalu ingat, bahwa SMS tuh bisa jadi
candu yang buruk. Without SMS, life must go on toh?!
http://ayubyahya.blogspot.com
***
|