|
Kerilumologi
Natal
Oleh: Ayub Yahya
Tidak salah, seperti
disinyalir oleh Jaya Suprana, manusia serba bisa, pencetus
kelirumologi, bahwa di dunia ini ada banyak sekali kekeliruan.
Tetapi karena sudah terlanjur biasa diucapkan dan didengar, atau
terlanjur sering dipakai sehingga lalu tidak lagi dirasakan sebagai
kekeliruan.
Misalnya, anggapan bahwa Yunus ditelan ikan paus. Keliru.
Selain paus bukan sejenis ikan, tetapi mamalia, dalam cerita Yunus
di Alkitab juga tidak pernah disebutkan ikan paus; hanya disebutkan
ikan besar (Yunus 1:17).
Atau dalam pemakaian kata-kata. Misalnya kata acuh,
kerap orang menyamakan dengan tidak
peduli, cuek. Padahal acuh,
artinya justru peduli, tidak
cuek. Juga kata semena-mena biasa disamakan dengan
sewenang-wenang. Padahal semena-mena artinya adalah: tidak
sewenang-wenang.
Di seputar Natal juga ada kekeliruan. Misalnya, cerita
tentang orang majus dari Timur. Selama ini selalu digambarkan
berjumlah tiga orang. Padahal Alkitab hanya menyebutkan
“orang-orang majus” (Matius 2:1-12); tidak disebutkan jumlahnya
secara pasti berapa. Memang dalam kisah orang majus itu disebutkan
tiga jenis hadiah yang mereka bawa; mas, kemenyan dan mur. Tetapi
tiga jenis hadiah tidak serta merta dibawa oleh tiga orang juga ‘kan?
Atau cerita tentang Yusuf dan Maria yang tengah mencari
penginapan. Dalam drama Natal biasanya digambarkan begini: Yusuf
berjalan menuntun keledai, sementara Maria yang tengah hamil tua
duduk di atasnya. Mereka berjalan dari satu penginapan ke penginapan
lain, dan selalu dijawab, “Maaf, tidak ada kamar kosong”.
Jawaban tersebut keliru sebab yang dikatakan Alkitab bukan tidak ada
kamar kosong, tapi tidak ada tempat bagi mereka (Lukas 2:1-7). Jadi
kamar kosong sih mungkin
ada, cuma buat Yusuf dan Maria tidak ada tempat.
Hal ini bisa dimengerti mengingat situasi dan kondisi waktu
itu. Kota Betlehem tengah dipadati orang-orang dari luar kota yang
mau ikut sensus penduduk. Penginapan tentunya menjadi sangat mahal.
Sedang Yusuf dan Maria hanyalah orang-orang sederhana. Pula, Maria
sedang hamil tua. Kalau sampai melahirkan di penginapan, pasti akan
merepotkan sekali. Belum lagi suara tangis bayi yang bisa mengganggu
tamu-tamu lain. Jadi dari perhitungan bisnis, tentu rugi menerima
mereka menginap. Karena itu bagi mereka, maaf saja, tidak ada
tempat.
Begitu juga anggapan bahwa tanggal 25 Desember adalah hari
kelahiran Tuhan Yesus. Bulan Desember di Palestina adalah musim
dingin, padahal di Alkitab ketika Tuhan Yesus lahir diceritakan
tentang gembala-gembala yang sedang menggembalakan dombanya di
padang (Lukas 2:8-20), jadi pasti bukan musim dingin.
Sebetulnya memang tidak ada tanggal yang pasti kapan Tuhan
Yesus lahir. Pada zaman itu merayakan hari kelahiran dianggap
sebagai tradisi kafir. Orang-orang Kristen pun tidak terbiasa
melakukannya. Satu-satunya perayaan hari kelahiran yang dicatat
dalam Perjanjian Baru adalah ulang tahun Herodes Antipas (Matius
14:6). Gereja perdana hanya merayakan hari kebangkitan Tuhan Yesus.
Tanggal 25 Desember semula merupakan perayaan non-kristiani;
menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara. Sekitar
akhir abad ke-4 orang-orang Kristen di kota Roma mengambil alih
tanggal itu dan menjadikannya sebagai peringatan kelahiran Tuhan
Yesus. Hari Natal. Sampai sekarang.
Itulah beberapa kekeliruan seputar Natal. Tetapi dari semua
kekeliruan itu, ada satu kekeliruan yang paling fatal. Yaitu, ketika
Natal sudah identik dengan kemeriahan; hura-hura pesta atau
pertunjukkan rupa-rupa acara. Entah di rumah, di gereja, di kantor,
atau di mana saja. Seakan Natal tanpa itu semua bukan lagi Natal.
Sehinggga orang pun lantas lebih sibuk dengan acara, bukan makna;
lebih peduli pada bentuk, bukan isi; lebih memikirkan konsepsi,
bukan substansi.
|