|
|
|
Lintas Berita: Dari Seribu Tukik Dilepas Hanya Seekor Selamat
Glorianet - Untuk bisa mengembalikan kehidupan penyu di habitatnya
sangat sulit dan memerlukan kesabaran, sebab dari seribu tukik (anak
penyu) yang dilepas ke laut hanya bisa selamat seekor.
"Dari hasil penelitian para pemerhati satwa penyu menunjukkan dari
seribu tukik yang dilepas ke habitatnya hanya seekor bisa selamat akibat
ganasnya predator yang ada di laut," kata Ketua Kelompok Penangkaran
Penyu di Jembrana I Wayan Tirta, Kamis (8/12).
Ia memaparkan kesulitan dalam mengembalikan kondisi penyu itu kepada
Gubernur Bali Dewa Beratha saat meninjau tempat penangkaran dalam
rangkaian kunjungan sehari meninjau proyek pembangunan di Kabupaten
Jembrana.
Walaupun agak sulit untuk mengembalikan kondisi penyu di daerah itu,
masyarakat dan nelayan setempat tidak mau menyerah begitu saja, tetap
dengan tekun untuk menangkar dan melepaskan kembali anak penyu yang ada ke
laut lepas.
Masyarakat dan nelayan penangkap ikan di Desa Purancak, 85 barat Denpasar,
sejak 1997 hingga sekarang masih melakukan kegiatan penyelamatan binatang
yang dilindungi undang-undang itu dengan melepaskan tukik hasil
tangkarannya ke laut.
Bahkan wisatawan asing yang kebetulan pencinta satwa dilindungi itu datang
ke lokasi itu siap membeli tukik atau berdonasi sebisanya dengan mengambil
sejumlah anak penyu untuk dilepaskan ke laut lepas bersama masyarakat
setempat.
"Walau tingkat keselamatannya kecil, kelompok nelayan Perancak tetap
melakukan penangkaran dan sekaligus meliarkan kembali tukik ke laut,"
lapor Wayan Tirta sambil menyodorkan rencana kerja kelompok tani nelayan
itu kepada Gubernur Beratha.
Pada awal tahun 1997, kegiatan penangkaran penyu diawali dengan penetasan
398 butir telur penyu yang menghasilkan 260 anak penyu dan seluruhnya
dilepaskan ke laut dan jumlahnya bertambah terus setiap tahun.
"Penetasan tahun 2004 misalnya hanya 3.450 tukik dihasilkan dan 3.730
butir telur sedangkan tahun 2005 tertambah menjadi 15.696 telur mampu
menetas 14.644 ekor semuanya dilepas ke laut termasuk oleh Gubernur
Beratha," kata dia.
Masyarakat pun sangat bergairah melakukan usaha itu dengan mengumpulkan
telur dari sarangnya kemudian dibayar seharga Rp1.000 per butir oleh
pengurus kelompok nelayan untuk ditetaskan, cara itu menyebabkan banyak
telur penyu ditetaskan.
"Banyak pemerhati dan penyayang satwa penyu mancanegara terutama dari
Australia, meninjau penangkaran milik rakyat itu, begitu pula nelayan yang
tadinya menangkap penyu untuk dikonsumsi sudah lama meninggalkan kegiatan
tersebut," demikian Tirta. (GCM/Antara-*)
|