Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Pesan Natal Bersama PGI-KWI Tahun 2005

PGI dan KWI Sepakat Tolak Kristenisasi dan Pemurtadan

Banyak Sekolah di Sleman Butuh Guru Agama Katolik

Dari Seribu Tukik Dilepas Hanya Seekor Selamat

Presiden: Fasilitas Penyandang Cacat Masih Kurang






Lintas Berita: PGI dan KWI Sepakat Tolak Kristenisasi dan Pemurtadan


Glorianet -
Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) sepakat menolak segala bentuk permutadan atau Kristenisasi yang dilakukan dengan cara intimidasi atau mempengaruhi orang dengan cara memberikan sesuatu atau iming-iming. Karena cara tersebut sangat bertentangan dengan prinsip dasar iman Kristen yang menjadi agama kasih bagi seluruh makhluk.

"Dalam pertemuan ini kami sepakat menolak segala bentuk pemurtadan atau kristenisasi yang dilakukan dengan cara-cara bertentangan dengan prinsip dasar iman Kristen seperti memberi iming-iming. Perintah amanat agung untuk memberitakan injil sudah saatnya disinkronisasi dengan kondisi berbangsa dan bermasyarakat Indonesia yang pluralis dan majemuk. Memang teks amanat agung itu mengandung multi-tafsir," ujar Romo Alex Soesili Wijoyo SJ, dari Komisi Komunikasi Sosial KWI kepada Pembaruan di sela-sela diskusi mengenai Matius 28:16-20 Memahami Amanat Agung, di Jakarta, Sabtu (11/12).

Sementara itu Ketua Umum PGI, Dr Andreas A Yewangoe, mengatakan, semangat untuk pengabaran Injil berhasil menumbuhkan gereja-geraja di Indonesia. Teologi misi yang popular adalah bagaimana menamamkan gereja-gereja baru. Di beberepa bagian Indonesia, penanaman gereja ini tidak mendapat perlawanan dari masyarakat. Belakangan bertumbuh gereja-gereja suku di hampir sebagian besar wilayah Nusantara. Namun, hal ini justru menimbulkan perlawanan dan pertentangan dari komunitas masyarakat lainnya.

"Akhir-akhir ini, ketika kesadaran akan pluralisme masyarakat kita makin tinggi, dan pemahaman terhadap agama-agama lain makin besar, maka semangat pengabaran Injil yang secara simpel diartikan sebagai penanaman gereja dirasa perlu untuk didiskusikan lagi. Sebagaimana kita ketahui, di kalangan Islam apa yang disebut Kristenisasi menjadi sangat popular akhir-akhir ini," ujar Andreas.

Memajukan Dialog

Seakan-akan, hadirnya sebuah jemaat Kristen di suatu tempat yang mayoritas penduduknya beragama Islam adalah upaya mengkristenkan penduduk yang sudah menganut agama tertentu. Maka dalam kerangka ini memang layak untuk memahami kembali makna Matius 28:16-20.

Dalam konteks masyarakat majemuk Indonesia inilah, menurut Andreas, timbul pertanyaan, apakah maih perlu mengabarkan Injil. "Tidakkah dengan demikian kita mencederai watak masyarakat majemuk itu," ujarnya. Maka ketimbang pekabaran Injil, lanjutnya, orang lebih senang memajukan dialog di antara orang-orang beragama. Tetapi dengan demikian, persoalan yang melekat pada setiap agama sebagai agama misi belum bisa dipecahkan.

"Dalam kaitan dengan pengabaran Injil, barangkali kita mendiskusikan lebih mendalam apa persisnya yang dimaksud dengan 'muridkan mereka', atau 'jadikan sekalian bangsa itu murid-Ku'. Apakah ini berarti sebuah gereja baru akan didirikan? Atau wujud Kerajaan Allah dinyatakan di dalam berbagai perbuatan yang menolong orang-orang yang menderita, dan dengan demikian Bapa kita di surga dipermuliakan," kata Andreas.

Membela Kehidupan

Sedangkan rohaniwan Katolik, Prof Dr BS Mardiatma- dja, SJ mengatakan misi kehadiran umat Kristus di tengah umat Asia - Indonesia, haruslah bersifat membela kehidupan, membangun paguyuban tanpa batas, menyatu dengan seluruh ciptaan, memperbaiki segala yang hancur dan remuk hati.

"Misi para murid Kristus berakar pada realisme bibles bukan idealisme fundamentalistik, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan ia melihat segalanya bagus.

Di situ para murid Kristus tetap rendah hati namun mewartakan Allah yang memeluh segala dan semuanya.

Misi harus diarahkan dan dipusatkan pada Kasih yang nyata dan berpihak kepada seluruh pihak yang menjadi korban, teraniaya dan mendapat perlakukan tidak adil," ujar Romo Mardi. (GCM/SP.com-E-5)