Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kebaktian Minggu dengan Aksen Maskulin Lebih Cocok untuk Pria

Gereja Dibakar, Umat di Aceh Tetap Teguh

Paus Minta Keteraturan Publik Kembali Pulih di Timor Leste

Hak Nelayan Harus Dibela, kata Misionaris

Sri Paus Kecam Kekerasan di Media Massa






Lintas Berita: Kebaktian Minggu dengan Aksen Maskulin Lebih Cocok untuk Pria


Glorianet -
Banyak pemimpin gereja ingin menjangkau lebih banyak pria, namun tidak tahu caranya, kata seorang pengarang Kristen. Namun mengadakan program baru bukanlah jawabannya, tambahnya.

David Murrow, pengarang buku Why Men Hate Going to Church, menyarankan agar kebaktian Minggu menggunakan aksen yang lebih maskulin.

"Go for the Guys Sunday" adalah aksi yang baru-baru ini diluncurkan agar gereja dapat menyelaraskan kebaktian mereka dengan pria, yang sering merasa bosan atau absen di gereja.

Pria adalah kelompok belum terjangkau terbesar di dunia, menurut Church for Men, yang didirikan Murrow. Umumnya hanya 40 persen pria yang menghadiri kebaktian. Murrow berargumen bahwa kebaktian dibangun dengan nilai feminin dengan lagu-lagu yang manis dan sentimental dan kotbah yang menekankan rumah, perkawinan dan keluarga,

Pria butuh pencitraan yang lebih maskulin dan lebih banyak kesempatan untuk menyalurkan bakat mereka, katanya. Mereka punya bahasa, budaya dan kebutuhan unik tersendiri.

Secara tradisional, sebuah gereja yang memiliki pelayanan bagi pria mengadakan acara makan siang bersama, penjangkauan atau program-program lain. Namun saat Marty Granger – yang akan memimpin pertemuan besar Stand in the Gap 2007 bulan Oktober nanti –jika bertanya apakah gereja punya “pelayanan untuk pria” daripada pelayanan pria, pemimpin gereja sering merasa bingung.

"Saya berkata, ‘Apakah anda mengenali kebutuhan pria, apakah anda benar-benar memikirkan acara kebaktian dan apakah program-program anda ramah secara maskulin dan menggunakan bahasa yang maskulin?’” tanya Granger kepada mereka. “Seringkali inilah letak pemisahnya.”

Church for Men menggunakan pendekatan yang berbeda. Daripada memisahkan diri dengan pelayanan, Church for Men menganjurkan adanya integrasi spirit maskulin dengan kehidupan gereja.

Sebuah pertemuan seperti "Go for the Guys Sunday" akan memenuhi kebutuhan dan budaya yang Murrow percaya telah diabaikan terlalu lama.

Saat mengadakan "Go for the Guys Sunday," terutama menjelang Hari Ayah, salah satu saran adalah mendekorasi ruang ibadah dengan suatu tema agar pria merasa nyaman dan tidak jengah dengan hiasan berbunga-bunga yang biasanya ada di gereja.

Dan waktu yang pendek lebih baik jika menjangkau pria. Church for Men menyarankan kebaktian lebih baik disudahi dalam satu jam atau kurang dari itu.

Lagu-lagu pujian juga seharusnya memiliki lirik yang dapat menjangkau pria. Lagu-lagu himne penuh dengan anthem untuk pria, namun lagu pujian saat ini, kata Murrow, terdengar seperti lagu cinta. Pria lebih suka lagu yang enerjik dan tidak diulang-ulang.

Hindari pesan yang terlalu injili, kata organisasi itu. Kebaktian khusus didesain untuk merubah persepsi pria yang merasa gereja membosankan dan tidak relevan.

Dan kebaktian khusus tidak hanya menarik perhatian pria namun juga wanita.

"Ada kebenaran mengagumkan mengenai wanita: mereka merasa nyaman dengan hal-hal yang berkaitan dengan pria," kata Church for Men. Dan dengan perkiraan satu dari wanita yang telah menikah beribadah di hari Minggu tanpa suami mereka, kebanyakan wanita akan senang mencoba sesuatu yang baru untuk menarik suami mereka, anak atau kaum bapa ke gereja.

Yang jelas: berikan pria suatu perhatian. “Pria telah diabaikan selama bertahun-tahun. Mereka seperti tulang kering – tapi berikan mereka sedikit perhatian pribadi dan mereka bertumbuh gila-gilaan,” menurut Church for Men.

Gereja yang jemaatnya lebih banyak laki-laki (60 persen atau lebih) cenderung lebih bertumbuh daripada yang labih banyak perempuannya, hasil sebuah studi Hartford Seminary pada Desember lalu.

"Kami berharap gereja-gereja dapat menangkap kembali spirit keterlibatan maskulin di gereja,” kata Granger. (GCM/Kristianipos-Lillian Kwon)