Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Gereja Batak Pertama di Jakarta

Paus Tunjuk Kepala Baru Kantor Dialog Muslim

Kebaktian Minggu dengan Aksen Maskulin Lebih Cocok untuk Pria

Gereja Dibakar, Umat di Aceh Tetap Teguh

Paus Minta Keteraturan Publik Kembali Pulih di Timor Leste






Lintas Berita: Gereja Batak Pertama di Jakarta


80 Tahun GPKB

Glorianet -
Tanggal 10 Juli 1927 di Jakarta (dulu Batavia) di sebuah tempat di jalan yang sekarang Jalan Budi Utomo, sejumlah keluarga asal Tapanuli mengadakan kebaktian. Mereka inilah orang-orang Batak pertama yang merantau ke Pulau Jawa, khususnya Jakarta.
Kebaktian itu sudah lama diidam-idamkan karena mereka sangat rindu beribadat dalam bahasa Batak seperti yang ada di kampung halaman.
Sebelumnya, karena belum ada gereja Batak di Jakarta, orang-orang Tapanuli terpaksa pergi ke berbagai gereja yang umumnya berbahasa Indonesia atau Belanda.
Setelah kebaktian yang pertama itu, sepakatlah mereka mendirikan gereja yang mandiri dengan nama Punguan Kristen Batak, disingkat PKB. Itulah gereja Batak pertama di Jakarta.
Tidak terlalu lama, gereja itu pun diakui pemerintah kolonial Belanda sebagai gereja yang mandiri, lepas dari gereja Zending yang besar yang sudah lama ada di Tanah Batak, yang kemudian dikenal sebagai HKBP (Huria Kristen Batak Protestan).
Untuk masa yang cukup lama, umumnya orang Tapanuli yang beragama Kristen mengikuti kebaktian Minggu di gereja tersebut, yang awalnya masih menumpang di berbagai tempat, antara lain meminjam ruangan sekolah.
Di antara para pionir gereja itu dapat disebutkan almarhum JK Panggabean, Gr Paul Lumbantobing, I Lumbantobing, St D Hutagalung, Panggabean yang lebih dikenal sebagai Ama Ni Uli, penulis buku pelajaran Tata Buku di awal kemerdekaan. St D Hutagalung sendiri konon merantau ke Jakarta bersama iparnya RJ Shite tahun 1914 untuk bersekolah.

Setelah makin banyak orang Tapanuli merantau ke Jawa, khususnya Jakarta, kebanyakan di antaranya rupanya tergerak untuk mendirikan gereja “pagaran” yang berinduk ke gereja Batak di Tapanuli, HKBP. Berdirilah HKBP pertama di Jakarta terletak di Jalan Kramat IV yang dulu bernama Jalan Kernolong. Sebagian anggota PKB “kembali” ke HKBP, di antaranya JK Panggabean, yang pernah terkenal sebagai importir tunggal mobil Volks Wagen buatan Jerman. Hal itu tidak membuat sebagian besar pendiri menjadi takut. Dengan tabah mereka melanjutkan perjuangan yang telah dirintis bersama melalui suka dan duka, yang bahkan menguatkan iman mereka untuk tetap setia memegang panji-panji PKB.
Di antara suka duka yang pernah mendera PKB antara lain, pernah terganjal keanggotaannya di PGI (dulu DGI – Dewan Gereja-Gereja di Indonesia).
Selain itu, untuk masa yang cukup lama pula, pemuda dan pemudi dari kedua gereja yang pernah beseberangan itu (PKB dan HKBP) sedikit mendapat hambatan jika saling jatuh cinta. Paling tidak mereka akan mengalami kesulitan dalam mengurus surat-surat yang diperlukan untuk pernikahan.
Namun, toh yang bernama gereja, kenapa harus mandek dan harus disingkirkan hanya karena masalah pengakuan dari “saudaranya”. HKBP dan PKB sama-sama milik Tuhan, maka sekitar tahun 1950-an Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia pun membuka pintu bagi PKB menjadi salah satu anggotanya. Kini ada 323 gereja anggota PGI. Sejak diterima menjadi anggota PGI namanya pun disempurnakan menjadi Gereja Punguan Kristen Batak.

Gembala Pertama
Gembala pertama gereja ini adalah Pendeta Hutabarat, mertua penyanyi terkenal, Gordon Tobing. Tetapi, setelah pendeta tersebut meninggal, untuk waktu yang cukup lama pula GPKB digembalakan oleh seorang pendeta GKI Kwitang, yakni Pdt Ishak Siagian, ayah Sabam Siagian yang pernah jadi duta besar Indonesia untuk Australia.
Gereja ini baru memiliki pendeta sendiri lagi sekitar tahun 1958, yakni Pendeta LH Sinaga.
Hingga sekitar tahun 1953, gereja ini masih menumpang di Gereja Inggris yang terletak di Prapatan Kwitang, sekarang lebih dikenal sebagai Tugu Tani. Sekitar tahun itulah gedungnya yang sekarang di Jalan HOS Cokroaminoto 96 (dulu Jalan Jawa) Jakarta Pusat didapatkan, yang dibeli dengan dana yang dikumpulkan melalui pemotongan gaji para anggotanya.

GPKB telah berkembang menjadi belasan gereja yang tersebar, antara lain enam di Jakarta, dua di Palembang, satu di Medan, satu di Siborong-borong, satu di Pahae dan satu di Padangsidempuan, dipimpin oleh Ephorus Simanjuntak.
Sewajarnyalah bila jemaat gereja ini merayakan ulang tahun ke-80 dengan berbagai acara yang diselenggarakan sebagai tanda rasa syukur, baik di masing-masing gereja “sempalan” maupun secara bersama di GPKB Menteng, Jalan HOS Cokroaminoto. Dalam perayaan puncak di GPKB Menteng, Minggu (15/7), utusan dari Bimas Kristen, Pasaribu antara lain berpesan agar jemaat GPKB memelihara keutuhan di tengah-tengah masyarakat dan bangsa Indonesia yang majemuk. Kebesaran sebuah gereja tidak ditentukan oleh kuantitas anggotanya, tetapi oleh kualitas pelayanannya.

Dalam pada itu utusan dari salah satu “saudara kembarnya” yakni HKI (Huria Kristen Indonesia – dulu HCB) mengingatkan kembali akan adanya semacam konvensi di antara keduanya, yakni tidak akan mendirikan gereja di suatu tempat bilamana salah satu di di antaranya sudah ada di kawasan itu. “Kita bersyukur, perjanjian itu masih dapat kita patuhi sampai sekarang,” ujar utusan HKI tersebut, Pendeta Hutagalung. (GCM/SHweb-Victor Sihite)