![]() |
|
|
|
|
|
|
Lintas Berita: Berteologi dengan Spirit dan Nalar Dies Natalis Ke-73 Sekolah Tinggi Teologi Jakarta Pokok-pokok pikiran ini disampaikan Pdt Hendrik Ongirwalu, MTh, dalam Orasi Dies Natalis ke-73 Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Kamis (27/9) di kampus STTJ, Jakarta. Pdt Hendrik menegaskan harus diakui bahwa spiritualitas merupakan prasyarat untuk berteologi. Dengan spirit dan nalar, upaya berteologi akan lebih inspiratif, komunikatif, dan kontemplatif. Seyogianya upaya-upaya berteologi dalam pendidikan teologi dewasa ini mampu mengembangkan kemungkinan dan ruang di mana pengalaman spiritual dikristalkan menjadi keyakinan bernalar yang terus menerus mencari kebenaran. Menurutnya, spiritualitas memberikan sumbangan khusus bagi teologi untuk menemukan identitasnya dan merumuskan ulang posisinya dalam pergaulan dengan ilmu-ilmu lainnya dalam ensiklopedi keilmuan. Pada Sidang Senat yang dihadiri oleh civitas akademika, gereja-gereja penilik, dan pendukung STT Jakarta, serta para alumninya, Hendrik Ongirwalu, berorasi dengan tema "Berteologi Dengan Spirit dan Nalar - Satu Tinjauan Problematis terhadap Peran Spiritualitas dalam Upaya Berteologi". Dijelaskan, hal-hal yang menjadi latar belakang tema orasi tersebut adalah permasalahan-permasalahan dalam proses belajar mengajar teologi, pentingnya spiritualitas dalam baik dalam pendidikan teologi maupun dalam pelayanan umat, dan apa yang dilakukan dalam spiritualitas. Dia menyampaikan beberapa hal di antaranya mengenai spiritualitas Kristen pada umumnya. Sejarah kekristenan diawali oleh dasar yang kokoh yaitu peristiwa kebangkitan Yesus yang menjadi titik tolak utama spiritualitas Kristiani. Pengalaman spiritualitas bersama Yesus yang mati dan dibangkitkan itu menjadi begitu kuat dan mendasar sehingga kekristenan dengan cepat bertumbuh dan berkembang. Disampaikan pula peranan kitab suci (Alkitab) yang tidak bisa dilepaskan dari spiritualitas Kristiani. Kitab suci Israel menjadi dasar untuk menginterpretasikan Yesus yang menderita, mati, dan bangkit. Boleh dikatakan tulisan-tulisan itu (kitab suci) adalah hasil pergumulan spiritualitas Kristiani yang menjadi pegangan bagi orang-orang percaya. Lebih lanjut dalam orasinya, Pdt Hendrik menyampaikan bahwa permasalahan mendalam mengenai pendidikan teologi adalah bagaimana kita tidak hanya belajar teologi untuk mengenal teologi, namun juga untuk bertindak dan berbuat. Pendidikan teologi seyogianya juga mengintegrasikan perbaikan dalam tindakan sebagi satu proses dalam kehidupan. Dengan kata lain, kita berteologi tak saja untuk memperluas pengetahuan teologi tetapi juga untuk memperbaiki tindakan. Untuk menanggapi orasi ilmiah tersebut, dihadirkan tiga orang penanggap (panelis), yaitu Romo Deshi Ramadhani dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Pdt Simon Rachmadi, dan Barbara J Hopwood dari STT Jakarta dengan moderator Pdt Wendy Tankersley K, STM. Romo Deshi menggarisbawahi spiritualitas sebagai kodrat kedua (second nature) yang akan menentukan reaksi-reaksi paling spontan orang yang bersangkutan terhadap gerakan roh (spirit). Dan reaksi-reaksi tersebut sangat berbeda pada setiap orang. Romo Deshi juga menyoroti tentang praktik spiritual formation, bahwa dibutuhkan sikap profesionalisme dalam praktik spiritual direction antara spiritual director (pembimbing rohani) dan spiritual directee (peserta pembimbingan rohani). Sedangkan Pdt Simon Rachmadi membahas tentang bagaimana arti dan makna spiritualitas masa kini yang telah bergeser dari arti dan makna yang mula-mula diungkapkan oleh Rasul Paulus sebagai "manusia rohani" menjadi sangat luas arti dan maknanya. Juga dikatakan bahwa pengolahan spiritualitas tidak bisa dikerjakan seperti orang bermain sulap. Pengolahan itu membutuhkan jerih-payah yang radikal, dan perbuatan-perbuatan itu bersifat asketik (rohani, latihan rohani). Selain itu Pdt. Simon juga menanggapi pentingnya pengolahan spiritualitas menjadi bagian yang integral dalam proses berteologi di STT Jakarta. Sementara itu, Barbara J Hopwood menyoroti beberapa hal yakni: kitab suci sebagai dasar Spiritual Formation (pembentukan spiritual); teologi sebagai refleksi iman; sikap praktis yang dibutuhkan di institusi pendidikan teologi. Dalam tanggapannya, dikatakan bahwa ada dua kecenderungan yang kurang akademis dalam dunia akademis (pendidikan teologi), yaitu menganalisa Firman 'secara teologis' tanpa memahami teologi secara kuat, dan 'berteologi' tanpa pemahaman Firman yang kuat. Menurutnya, proses yang benar adalah memahami Firman secara objektif dahulu lalu berteologi, kemudian kembali menganalisa Firman secara teologis. Lebih lanjut dikatakan baik teologi maupun spiritualitas mulai dengan refleksi mengenai Allah sendiri dan pekerjaanNya di dunia ini. Refleksi tentang anugerah Allah membawa kepada teologi yang benar dan spiritualitas yang memuliakan Dia. Mahasiswa Berkurang Banyaknya dosen yang sedang mengambil tugas belajar menyebabkan kurangnya tenaga dosen di STT Jakarta. Selain itu, disampaikan pula berkurangnya mahasiswa baru. Pada tahun akademik 2007/2008 ini STT Jakarta hanya menerima 39 orang mahasiswa baru. Diharapkan pergantian Ketua STT Jakarta tahun ini dapat membawa angin segar perubahan yang positif dalam pendidikan teologi khususnya di kampus. Rangkaian dies natalis diisi dengan acara temu alumni dan malam keakraban dan Final STTJ Idol 2007 serta ibadah syukur yang diadakan di GKPI Rawamangun pada Sabtu (29/9). (GCM/SPcom-R-8)
|