|
INTELEKTUAL
Kisah orang Majus di hari Natal sangat populer. Makna kisah perjalanan mereka sesungguhnya tidak hanya relevan dikumandangkan saat hari Natal, tetapi kisah perjalanan mereka adalah kisah kelompok intelektual yang mendahulukan Tuhan ketimbang kepentingan kelompok.
Menurut sejarah, orang-orang Majus ini adalah orang yang ahli dalam ilmu perbintangan (atau astronomi, bukan astrologi). Menarik sekali bahwa kelompok pertama yang mengetahui dengan persis kelahiran Yesus adalah dari kelompok intelektual. Kelompok intelektual diberi kesempatan oleh Tuhan untuk maju pertama kali menyembah Tuhan Yesus yang baru saja lahir.
Tata urutan pertanyaan yang diajukan oleh orang Majus dan ditulis oleh Matius dalam pasal 2:2, sesungguhnya mencerminkan pertanyaan seorang pintar yang berhikmat lagi bijaksana. Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu ? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur, dan kami datang untuk menyembah Dia"
Pertanyaan pertama yang diajukan oleh orang Majus adalah di mana (where), lengkapnya, "Dimanakah Dia?" (Matius 2:2a). Pertanyaan yang sama seringkali diajukan oleh banyak ilmuwan di dunia. Dimanakah Dia dalam proses penciptaan alam semesta ini? Jawaban pertanyaan ini membagi ilmuwan kedalam dua kelompok yaitu, kelompok pertama ilmuwan yang percaya kreasi Allah (creationist), dan kelompok kedua yaitu ilmuwan pro-evolusi (evolutionist). Penganut teori evolusi percaya bahwa alam semesta ini tercipta sebagai proses acak (random) tanpa adanya rencana (design) dari Sang Kreator. Sebaliknya, ilmuwan yang percaya akan kebenaran Alkitab Kejadian pasal 1, yakin bahwa alam semesta ini adalah kreasi dari Allah Al-Khalik.
Hemat penulis, orang Majus adalah termasuk kelompok pertama, yaitu kelompok yang percaya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Sang Kreator Agung. Pemazmur mengatakan bahwa Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Matius 19:2). Orang Majus menggunakan pengetahuannya bukan untuk menyangkal Allah, sebaliknya justru menggunakan pengetahuan astronominya untuk mencari dan menemukan Allah.
Siapa (who) yang dicari oleh mereka? Apakah apakah orang Majus mencari popularitas dalam kepintarannya, atau apakah orang Majus mendekati raja Herodes, penguasa Yerusalem pada masa itu, Tidak, orang Majus mencari Tuhan Yesus, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu (Matius 2:2b). Mereka melakukan perjalanan jauh dari Timur ke arah Yerusalem, melewati padang pasir dan aneka rintangan, menahan terpaan hujan dan panas matahari, hanya untuk mencari Tuhan Yesus.
Apa (what) yang mendorong mereka berketetapan hati untuk melihat seorang bayi kudus? Alasan mereka lahir dari motif yang tulus, yaitu Kami telah melihat bintang-Nya di Timur (Matius 2:2c). Berdasarkan pengetahuan yang mereka ketahui, mereka bertindak! Beringsut dari tempat mereka yang permanen dan nyaman di negeri Timur, melakukan perjalanan long-march untuk membuktikan keyakinan mereka di Betlehem.
Mengapa (why) orang Majus melakukan itu semua. Sebab mereka datang untuk menyembah Dia (Matius 2:2d). Hanya satu tujuan mereka yaitu rela berkorban waktu, tenaga, bahkan harta benda hanya untuk menyembah bayi kudus Yesus Kristus. Apakah kita bersedia meninggalkan tempat kita yang selama ini kita rasa nyaman, menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, menuju tempat dimana Dia berada dan bertahta? Untuk bisa melakukan itu, diperlukan motivasi yang jujur dan tulus, yaitu berkorban hanya untuk menyembah Dia!
Kemudian bagaimana (how) mereka menyembah dia? Apakah mereka datang dengan tangan hampa, ataukah datang membawa sekedarnya? Tidak, sebagai seorang intelektual, justru mereka memberikan yang terbaik yang mereka miliki bagi Tuhan. Pikiran mereka curahkan untuk melacak keberadaan bintang Timur. Tenaga mereka keluarkan untuk menempuh perjalanan panjang. Dan akhirnya harta mereka pun dipersembahkan untuk bayi kudus.
Ketika orang Majus sampai di tujuan, Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia (Matius 2:11). Orang Majus dengan rendah hati mendekatkan lutut mereka pada bumi, merendahkan diri dihadapan bayi kudus, dan menyembah Dia! Mereka lakukan itu dengan bersukacita (Matius 2:10). Orang Majus adalah intelektual yang rendah hati. Mereka tidak merasa paling pintar, mereka sadar bahwa di hadapan Tuhan, hanya berlutut dan menyembah yang layak mereka lakukan. Lebih dari itu, mereka mempersembahkan pemberian terbaik kepada Tuhan Yesus. Emas, kemenyan dan mur dihamparkan bagi kemuliaan Tuhan. Upah jerih payah mereka kembalikan kepada yang empunya. Dan mereka rela pulang kembali tanpa membawa apa-apa.
Siapa yang mereka pilih (which) dalam pengabdian mereka? Apakah sebagai intelektual mereka lebih mengabdi kepada perintah Raja, walaupun menyimpang dari perintah Tuhan. Ataukah mereka lebih setia kepada perintah Tuhan? Ketika penguasa negeri raja Herodes yang licik itu memerintahkan mereka untuk kembali ke raja dan mengabarkan raja tentang Anak itu (Matius 2:8), orang Majus menolak untuk menuruti perintah Raja. Mereka lebih patuh kepada perintah Tuhan untuk pulang ke negeri mereka melalui jalan lain (Matius 2:12). Seringkali seorang intelektual diperhadapkan dengan dua pilihan sulit seperti itu, menuruti perintah penguasa atau perintah Yang Maha Kuasa. Orang Majus memberi contoh kepada kita untuk lebih menuruti perintah Allah ketimbang perintah manusia. Amsal mengatakan bahwa Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Amsal 1:7).
Banyak orang yang ingin menjadi cerdas dan pintar. Sungguh suatu cita-cita yang luhur. Orang Majus memberi contoh bagi kita bagaimana seorang intelektual konsisten dengan cita-cita luhur mereka yaitu mengabdi kepada ilmu pengetahuan hanya untuk menyembah dan memuliakan Tuhan. Menjadi seorang intelektual memang hanya ada dua pilihan: menjadi intelektual tidak becus seperti raja Herodes atau intelektual serius seperti orang Majus.
--Bandar Lampung, 22 Desember 2001-- |