|
Ogah Jadi Istri Pendeta!!!
Oleh: Grace Suryani
Guys, beberapa temen saya pernah
bilang sama saya, “Grace, loe kayaknya cocok deh jadi istri hamba
Tuhan.” Perkataan ‘nubuatan’ itu langsung saya tolak dengan
iman! Enak ajeee … hehehe. Saya mah ogah. Bukan karena saya takut
miskin guys, eh hamba Tuhan sekarang banyak yang kaya laghie, bisa
kirim anaknya sekolah ke LN! Bukan juga karena saya takut pelayanan,
yah di sini mah udeh biasa … kadang ampe mikir di
China
pelayanan udeh kayak full timer aje. Lah kapan pun ada yang butuh,
kalau tengah malem ada temen sakit yah bangun, anterin ke rumah
sakit, biar kate besok ujian juga bodo amat! Nyawa nomor 1 kali.
Saya
hidup di lingkungan hamba Tuhan. Tante-tante saya beberapa jadi
pendeta, yang jadi istri pendeta juga ada. So saya tau lah hidupnya
seperti apa. Dulu saya juga pernah tinggal 1 ½ tahun di rumah
Pendeta. Banyak enaknya sih, well, kalau menjelang ultah Oom saya
yang pendeta,
Natal
, Paskah, kulkas itu ngga bisa ditutup. Penuh makanan!
Kadang-kadang hari biasa juga ada yang nganterin macem-macem. Mulai
dari kue tart, ice cream, galantine, sop merah, pudding, wah segala
macem dah. Saya mah ikut kecipratan berkat : D Selaen dari
sodara-sodara, saya juga punya beberapa sahabat yang anak pendeta.
So saya ngerti rasanya.
Yang
paling bikin saya ogah buat memikirkan kemungkinan ‘itu’, gue
pengen anak-anak gue hidup normal. Terlalu banyak anak pendeta yang
tidak bisa hidup dengan ‘normal’. Terutama dalam hal kerohanian.
Well,
anak Pendeta sedari lahir, sudah dikasih label “ANAK PENDETA”
yang diikutin dengan serangkaian konsekuensi. Tidak boleh nakal,
tidak boleh bandel, tidak boleh berbuat dosa, harus sopan, tidak
boleh bolos sekolah minggu, harus menampilkan citra yang baik,
pinter, bertanggung jawab, menyenangkan, ramah, inget nama semua
jemaat. *yang terakhir tidak pernah disebut, tapi kalau seandainya
ketemu, trus si anak pendeta yang
malang
itu lupa siapa nama tante-berkacamata funky-rambut semir coklat-baju
merk Prada yang tengah menatap dia dengan penuh harap supaya si anak
inget namanya, sebel juga dia*
Oi
guys!! WAKE UP DONK, yang Pendeta itu bokapnye kalie!! Bukan
anaknya! Yang terima panggilan Tuhan, sekolah di STT, yang tiap
minggu khotbah itu papanya! Bukan dia … lagian ngga masuk akal
banget. Anak umur 3 tahun kagak boleh panjat pohon karena dia anak
pendeta. Atau anak ce pendeta tidak boleh dandan karena dia anak
pendeta, tidak boleh punya banyak teman co, karena dia anak pendeta.
Dimana logikanya coba??
Well,
tuntutan jemaat terhadap hamba Tuhan dan KELUARGANYA itu
kadang-kadang gila dan tidak realistis.
But
guys, yang paling memprihatinkan, itu justru pertumbuhan rohani
mereka. Sebagian besar anak-anak hamba Tuhan tidak pernah
sungguh-sungguh jadi anak Tuhan karena mereka tidak ‘diizinkan’
untuk melewati fase-fase pencarian.
Sebagai
anak majelis, saya juga nyaris tidak ‘diizinkan’ melewati
masa-masa itu. Tapi bodo amat ama kata orang.
Saya
masih inget moment awal dimana saya melihat ‘bayang-bayang’ dari
Tuhan sebelum Dia menangkap saya. Waktu itu saya masih kelas 6 SD,
dan saya mulai bertanya-tanya, apakah neraka itu? Kalau neraka itu
ada, saya pasti di
sana
… saya tahu saya jahat. Sedari kecil saya baca Alkitab, saya mulai
saat teduh kelas 2 SD, dan sejak kelas 4 SD saya udah saat teduh
setiap hari secara rutin. Tapi saya tetep ngga ngerti, apa itu
kekristenan, apa itu keselamatan. Saya tau Tuhan itu baik, Tuhan
sayang sama saya *dulu pas kecil saya juara langganan quiz alkitab*
saya udeh baca pasal mengenai “perbuatan noda di Gibea” saya
bahkan tau Tuhan Yesus disebut Singa dari Yehuda, tapi saya pikir
peduli amat ama itu singa. Ngga ada hubungan sama gue. 1 yang pasti
kalau neraka ada, saya pasti di
sana
.
Sampai
suatu hari, di kelas sekolah minggu, guru saya tanya, “siapa yang
yakin bakal masuk surga?”. Sebagian besar anak-anak angkat tangan
kecuali saya. Saya ngga tau. Gurunya tanya lagi sampe 3 kali, dan
saya tetap tidak angkat tangan. Cilakanya yang waktu itu jadi GSM,
majelis temennya mama saya!! Sehabis kelas, saya ‘disetrap’ ngga
boleh pulang dulu. Mungkin gurunya mikir, keterlaluan anak majelis
kok ngga yakin masuk surga!! Lah emank gue ngga yakin, mau
gimane?!?! Trus setelah itu dijelaskan panjang lebar tentang sola
gratia, sola fide, sola scriptura. well itu sih saya sudah tau, ada
di pelajaran agama. hafal. Tapi sejak moment itu, Tuhan mulai
bergerak dengan lebih nyata, sampai akhirnya saya ‘ditangkap’
oleh Dia.
Guys,
menurut saya pribadi, itu suatu fase yang wajar, ketika seorang anak
berpikir, apa Yesus benar-benar juruselamat? Apa neraka itu emank
ada? Apa Tuhan itu ada?!?! Apa Alkitab itu bener-bener Firman
Tuhan?? Itu fase yang WAJAR. Justru dari pertanyaan2 itu, kita bisa
menemukan jawaban, menemukan Dia …
Cilakanya,
banyak anak pendeta, banyak anak majelis tidak pernah
‘diizinkan’ melewati fase itu … karena langsung dibungkam
dengan perkataan, “hush … jangan omong yang aneh-aneh. Tuhan
Yesus itu yah Tuhan! Titik.” Yang lebih parah langsung dicap DOSA
karena meragukan ke-Tuhan-an Tuhan Yesus. Atau malah langsung
‘ditengking’ karena dianggap punya roh antichrist.
Oi
sadar donk! Yang dosa itu kalau loe udeh jelas-jelas tau en sadar
Tuhan Yesus itu Tuhan tapi loe nolak Dia!! Kalau kita bertanya, kita
ragu-ragu karena kita masih mencari, itu ngga dosa kali! JUSTRU
TUHAN PENGEN KITA CARI DIA!! Tuhan pengen kita bertanya! Karena
Tuhan mau kita menemukan DIA …
Kadang
saya sedih melihat beberapa anak Pendeta justru ‘hilang’ karena
mereka tidak pernah sampai pada tahap pencarian siapa Tuhan. Semua
disuruh percaya mentah-mentah … di luar kelihatan mungkin okay,
but who knows deep inside their hearts?!?! Tapi saya juga bersyukur
melihat beberapa sahabat saya sukses melewati masa-masa itu dan
tumbuh jadi anak Tuhan yang kuat.
Sebenernya
menulis itu juga salah satu sarana yang Tuhan kasih buat saya untuk
membantu pertumbuhan rohani saya. Lewat nulis saya bisa ungkapkan
semua perasaan, semua pertanyaan, kadang maki-maki juga, tapi lewat
itu semua saya bisa bertumbuh dengan baik. Ketika menulis saya
adalah grace suryani. Titik. Tanpa embel-embel anak siapa.
So
guys, perlakukan
ur
pastor, his wife and his children as a human. : D Jangan nuntut
mereka perfect, terlebih berikan kesempatan untuk anak-anaknya
menjadi anak-anak normal yang boleh bertanya dengan bebas tentang
Kekristenan, boleh mencari, bergumul tentang kebenaran sampai
akhirnya Kebenaran itu memerdekakan mereka.
Dearest
my beloved children,
Salah
satu saat yang paling mami nantikan adalah ketika kamu mulai
mempertanyakan akan imanmu. Akan siapa itu JC, akan keselamatan,
akan surga, karena mami percaya ketika kamu siap untuk ‘terjun’
pada saat itu Tuhan siap menangkapmu.
Kalau
nanti sudah tiba saatnya kalian bertanya mengenai JC, mami dengan
senang hati akan bantu kamu untuk menjawab, tapi mami terlebih
seneng kalau kamu tanya sendiri sama Tuhan dan mendengar langsung
dari Dia jawaban semua pertanyaanmu …
China
,
19 November 2005
|