Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 


Dibaca: 882 kali







Ogah Jadi Istri Pendeta!!!
Oleh: Grace Suryani


Guys, beberapa temen saya pernah bilang sama saya, “Grace, loe kayaknya cocok deh jadi istri hamba Tuhan.” Perkataan ‘nubuatan’ itu langsung saya tolak dengan iman! Enak ajeee … hehehe. Saya mah ogah. Bukan karena saya takut miskin guys, eh hamba Tuhan sekarang banyak yang kaya laghie, bisa kirim anaknya sekolah ke LN! Bukan juga karena saya takut pelayanan, yah di sini mah udeh biasa … kadang ampe mikir di China pelayanan udeh kayak full timer aje. Lah kapan pun ada yang butuh, kalau tengah malem ada temen sakit yah bangun, anterin ke rumah sakit, biar kate besok ujian juga bodo amat! Nyawa nomor 1 kali.

Saya hidup di lingkungan hamba Tuhan. Tante-tante saya beberapa jadi pendeta, yang jadi istri pendeta juga ada. So saya tau lah hidupnya seperti apa. Dulu saya juga pernah tinggal 1 ½ tahun di rumah Pendeta. Banyak enaknya sih, well, kalau menjelang ultah Oom saya yang pendeta, Natal , Paskah, kulkas itu ngga bisa ditutup. Penuh makanan!  Kadang-kadang hari biasa juga ada yang nganterin macem-macem. Mulai dari kue tart, ice cream, galantine, sop merah, pudding, wah segala macem dah. Saya mah ikut kecipratan berkat : D Selaen dari sodara-sodara, saya juga punya beberapa sahabat yang anak pendeta. So saya ngerti rasanya.

Yang paling bikin saya ogah buat memikirkan kemungkinan ‘itu’, gue pengen anak-anak gue hidup normal. Terlalu banyak anak pendeta yang tidak bisa hidup dengan ‘normal’. Terutama dalam hal kerohanian.

Well, anak Pendeta sedari lahir, sudah dikasih label “ANAK PENDETA” yang diikutin dengan serangkaian konsekuensi. Tidak boleh nakal, tidak boleh bandel, tidak boleh berbuat dosa, harus sopan, tidak boleh bolos sekolah minggu, harus menampilkan citra yang baik, pinter, bertanggung jawab, menyenangkan, ramah, inget nama semua jemaat. *yang terakhir tidak pernah disebut, tapi kalau seandainya ketemu, trus si anak pendeta yang malang itu lupa siapa nama tante-berkacamata funky-rambut semir coklat-baju merk Prada yang tengah menatap dia dengan penuh harap supaya si anak inget namanya, sebel juga dia*

 Oi guys!! WAKE UP DONK, yang Pendeta itu bokapnye kalie!! Bukan anaknya! Yang terima panggilan Tuhan, sekolah di STT, yang tiap minggu khotbah itu papanya! Bukan dia … lagian ngga masuk akal banget. Anak umur 3 tahun kagak boleh panjat pohon karena dia anak pendeta. Atau anak ce pendeta tidak boleh dandan karena dia anak pendeta, tidak boleh punya banyak teman co, karena dia anak pendeta. Dimana logikanya coba??

Well, tuntutan jemaat terhadap hamba Tuhan dan KELUARGANYA itu kadang-kadang gila dan tidak realistis.

But guys, yang paling memprihatinkan, itu justru pertumbuhan rohani mereka. Sebagian besar anak-anak hamba Tuhan tidak pernah sungguh-sungguh jadi anak Tuhan karena mereka tidak ‘diizinkan’ untuk melewati fase-fase pencarian.

Sebagai anak majelis, saya juga nyaris tidak ‘diizinkan’ melewati masa-masa itu. Tapi bodo amat ama kata orang.

Saya masih inget moment awal dimana saya melihat ‘bayang-bayang’ dari Tuhan sebelum Dia menangkap saya. Waktu itu saya masih kelas 6 SD, dan saya mulai bertanya-tanya, apakah neraka itu? Kalau neraka itu ada, saya pasti di sana … saya tahu saya jahat. Sedari kecil saya baca Alkitab, saya mulai saat teduh kelas 2 SD, dan sejak kelas 4 SD saya udah saat teduh setiap hari secara rutin. Tapi saya tetep ngga ngerti, apa itu kekristenan, apa itu keselamatan. Saya tau Tuhan itu baik, Tuhan sayang sama saya *dulu pas kecil saya juara langganan quiz alkitab* saya udeh baca pasal mengenai “perbuatan noda di Gibea” saya bahkan tau Tuhan Yesus disebut Singa dari Yehuda, tapi saya pikir peduli amat ama itu singa. Ngga ada hubungan sama gue. 1 yang pasti kalau neraka ada, saya pasti di sana .

Sampai suatu hari, di kelas sekolah minggu, guru saya tanya, “siapa yang yakin bakal masuk surga?”. Sebagian besar anak-anak angkat tangan kecuali saya. Saya ngga tau. Gurunya tanya lagi sampe 3 kali, dan saya tetap tidak angkat tangan. Cilakanya yang waktu itu jadi GSM, majelis temennya mama saya!! Sehabis kelas, saya ‘disetrap’ ngga boleh pulang dulu. Mungkin gurunya mikir, keterlaluan anak majelis kok ngga yakin masuk surga!! Lah emank gue ngga yakin, mau gimane?!?! Trus setelah itu dijelaskan panjang lebar tentang sola gratia, sola fide, sola scriptura. well itu sih saya sudah tau, ada di pelajaran agama. hafal. Tapi sejak moment itu, Tuhan mulai bergerak dengan lebih nyata, sampai akhirnya saya ‘ditangkap’ oleh Dia.

Guys, menurut saya pribadi, itu suatu fase yang wajar, ketika seorang anak berpikir, apa Yesus benar-benar juruselamat? Apa neraka itu emank ada? Apa Tuhan itu ada?!?! Apa Alkitab itu bener-bener Firman Tuhan?? Itu fase yang WAJAR. Justru dari pertanyaan2 itu, kita bisa menemukan jawaban, menemukan Dia …

Cilakanya, banyak anak pendeta, banyak anak majelis tidak pernah ‘diizinkan’ melewati fase itu … karena langsung dibungkam dengan perkataan, “hush … jangan omong yang aneh-aneh. Tuhan Yesus itu yah Tuhan! Titik.” Yang lebih parah langsung dicap DOSA karena meragukan ke-Tuhan-an Tuhan Yesus. Atau malah langsung ‘ditengking’ karena dianggap punya roh antichrist.

Oi sadar donk! Yang dosa itu kalau loe udeh jelas-jelas tau en sadar Tuhan Yesus itu Tuhan tapi loe nolak Dia!! Kalau kita bertanya, kita ragu-ragu karena kita masih mencari, itu ngga dosa kali! JUSTRU TUHAN PENGEN KITA CARI DIA!! Tuhan pengen kita bertanya! Karena Tuhan mau kita menemukan DIA …

Kadang saya sedih melihat beberapa anak Pendeta justru ‘hilang’ karena mereka tidak pernah sampai pada tahap pencarian siapa Tuhan. Semua disuruh percaya mentah-mentah … di luar kelihatan mungkin okay, but who knows deep inside their hearts?!?! Tapi saya juga bersyukur melihat beberapa sahabat saya sukses melewati masa-masa itu dan tumbuh jadi anak Tuhan yang kuat.

Sebenernya menulis itu juga salah satu sarana yang Tuhan kasih buat saya untuk membantu pertumbuhan rohani saya. Lewat nulis saya bisa ungkapkan semua perasaan, semua pertanyaan, kadang maki-maki juga, tapi lewat itu semua saya bisa bertumbuh dengan baik. Ketika menulis saya adalah grace suryani. Titik. Tanpa embel-embel anak siapa.

So guys, perlakukan ur pastor, his wife and his children as a human. : D Jangan nuntut mereka perfect, terlebih berikan kesempatan untuk anak-anaknya menjadi anak-anak normal yang boleh bertanya dengan bebas tentang Kekristenan, boleh mencari, bergumul tentang kebenaran sampai akhirnya Kebenaran itu memerdekakan mereka.

 

Dearest my beloved children,

Salah satu saat yang paling mami nantikan adalah ketika kamu mulai mempertanyakan akan imanmu. Akan siapa itu JC, akan keselamatan, akan surga, karena mami percaya ketika kamu siap untuk ‘terjun’ pada saat itu Tuhan siap menangkapmu.

Kalau nanti sudah tiba saatnya kalian bertanya mengenai JC, mami dengan senang hati akan bantu kamu untuk menjawab, tapi mami terlebih seneng kalau kamu tanya sendiri sama Tuhan dan mendengar langsung dari Dia jawaban semua pertanyaanmu …

 

China , 19 November 2005