|
Potongan-potongan Renungan Jumat Agung
Oleh: Grace Suryani
Jumat
Agung,
Anak-anak
Tuhan di belahan bumi lain pergi ke gereja, saya pergi ke kelas. Gu
dai han yu, bahasa mandarin kuno. Hari ini emank banyak yang ngga
masuk kelas, bukan karena Paskah, tapi karena hari ini bo shui jie,
Tahun Baru orang
Thailand
, en Selama hari ini bebas menyiram siapapun pake aer *beerrr!!!
Suhu hari ini 12-18 derajat!! But saya udeh persiapan kok, pake
jaket parasit, dan bawa payung, karena kadang yg nyirem, bisa nyiram
dari lantai 3-4*
Ketika
saya duduk sendirian di meja belajar, berdoa, hati saya mengeluh,
"Tuhan aku pengen pulang." Untung Tuhan bener-bener ngga
pernah ninggalin saya. Saya kembali diingetin, Arti Jumat Agung itu
bukan karena apa yang kita lakukan atau perbuat untuk merayakannya
tapi pada apa yang dilakukan Yesus.
Arti
dan makna Jumat Agung tidak terletak di kebaktian-kebaktian, di
khotbah-khotbah, paduan suara-paduan suara, kehangatan keluarga.
Saya bisa kehilangan itu semua tapi tetep merayakan Jumat Agung
bersama dengan Dia. Sebaliknya, saya bisa memiliki itu semua tapi
kehilangan makna Jumat Agung karena saya melupakan Dia.
Teman-teman
saya di negara-negara lain mendapat kasih karunia buat dateng ke
kebaktian Jumat Agung dan Paskah, tapi saya dan teman-teman saya di
China
juga Tuhan berikan kasih karunia khusus.
Kasih
karunia untuk tetap merayakan dan mengenang Jumat Agung sekalipun
tidak ada yang merayakan. Kasih karunia untuk membuktikan iman dan
kesetiaan kita. Apakah selama ini kita merayakan Jumat Agung karena
kita memang mengerti dan menghayati pengorbanan Kristus atau selama
ini kita merayakan hanya karena orang-orang Kristen lain
merayakannya?!?! Kalau TIDAK ADA SATU ORANG PUN yang inget hari
Jumat Agung, apakah saya akan tetap merayakannya? Itu tantangan,
tapi itu juga kasih karunia :D Saya merasa bersyukur Tuhan kasih
saya kesempatan untuk memperoleh kasih karunia ini. Love U, JC.
Sehabis
saya baca Alkitab dan saya berdoa, tiba-tiba saya teringat akan
seorang teman saya. Beberapa hari yang lalu dia ngabarin saya lewat
YM kalau istrinya mengandung. Wah saya ikut seneng, trus saya berdoa
buat dia dan saya bilang sama Tuhan isi hati saya, "Tuhan kalau
sekiranya Engkau berkenan, aku pengen banget suatu hari nanti
melahirkan dan punya anak. Coz aku pengen banget bisa ngerasain
sedikiiiittt dari hati Bapa. Aku pengen bisa ngerti sedikitttt dari
kasih Allah Bapa, selama ini aku sering ngerasain tapi aku ngga
pernah ngerti, en kadang aku pengen bisa mencicipi sedikittt aja
rasanya jadi "Bapa", rasanya jadi "orang tua".
Aku harap dengan begitu aku bisa lebih menghargai dan berterima
kasih atas kasih-Mu. Tapi Tuhan semuanya terserah Engkau :D.
Trus
saya kepikir untuk kirimin dia e-card dengan sedikit pesan
Calon
papa mama yang berbahagia.
Ketika
harinya tiba kelak dan kau melihat bayi mungilmu berbaring di
pelukanmu, dan hatimu melimpah dengan perasaan sayang kepadanya,
ingatlah bahwa kasih Bapamu di surga kepadamu melebihi semua
perasaan terdalam yang ada di hatimu
Ketika
kau melihatnya bergerak dan bernafas, lalu kau ingin memberikan yang
terbaik padanya bukan karena apa yang ia lakukan untukmu, ingatlah
Bapamu juga merasakan hal yang sama ketika Ia melihatmu
Ketika
kau melihat ada bahaya yang mengancam bayimu terkasih lalu kau mau
melakukan apapun untuk melindunginya, ingatlah bahwa demikian juga
perasaan Bapamu ketika melihat kau membuat keputusan-keputusan yang
bisa menghancurkanmu, Ia menutup semua jalanmu untuk melindungimu.
Ketika
kau merasa rela memberikan apapun untuk asal bisa melihatnya
bahagia, ingatlah Bapamu di surga SUDAH memberikan pemberian yang
terbaik, memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagimu, supaya
kamu bisa berbahagia selama-lamanya dengan-Nya di surga kelak.
Menjadi
orang tua itu adalah salah satu panggiln terindah, karena ketika kau
menjalaninya, Ia memberimu kesempatan lebih mengenal dan mengerti
hati Bapa sendiri.
Gembira
bersama dengan Allah ketika melihat anakmu bertumbuh, sama seperti
Bapa juga gembira melihat anak-anak-Nya bertumbuh.
Menangis
bersama dengan Allah ketika anakmu tidak mengerti bahwa kau terpaksa
melarangnya melakukan beberapa hal karena itu bisa membahayakan
hidupnya.
Membagi
pedih dan perih dengan Allah ketika anakmu tidak mengerti atau tidak
percaya bahwa engkau mengasihi-Nya.
Dan
sama seperti Allah, tidak ada hal yang akan membuatmu lebih bahagia
daripada ketika kau mendengar anakmu berkata, "Pah, aku sayang
Papa" dan dia benar-benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
May
the Love of our Heavenly Father always be with you
May
God Himself teach you how to teach and guide ur child as He teach,
love and guide you in His way.
Dan
saya makin terkagum-kagum ketika sadar bahwa Allah yang adalah
Kasih, rela mengorbankan anak-Nya demi saya, demi anda. Tidak ada
orang tua waras yang rela untuk mengorbankan anaknya, banyak orang
tua, banyak ibu-ibu memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri
daripada mengorbankan anaknya, jadi kalau Allah rela mengorbankan
anak-Nya, Ia benar-benar mengasihi kita.
China
, 14 April 2006
Bapa,
aku mungkin sendirian di sini tapi aku tidak pernah benar-benar
sendiri.
|