|
Bos Gue Ngga Becusss!!!
Oleh: Grace Suryani
Berhubung
udeh mau lulus, saya mikir Paskah ini terakhir kali saya mau jadi
panitia. So ketika ditawarin *ehm .. tepatnya saya yang mengajukan
diri wakakakak*, saya mau jadi panitia. Akhirnya jadi Koordinator
acara deh.
Cilakanya
guys, ketua kita kali ini adalah seorang Flegmatis sejati yang
menganut azas musyawarah mufakat dan damai sejahtera. *buat
orang-orang flegma, jgn marah yah guys : p* Itu azas sih bagus, but
lama-lama bikin saya dan sahabat saya yang jadi sekretaris emosi!
Habis ketika ada situasi-situasi yang sangat penting dan membutuhkan
keputusan Ketua saat itu juga, Ketuanya ngga bilang apa-apa. Kalau
kita minta pendapat, dia bilang, "terserah anak-anak".
Bahkan rasanya Ketuanya ngga tau apa-apa, tanya ini ngga tau, tanya
itu ngga tau *belakangan saya baru sadar itu juga karena salah saya.
Lah gimana Ketua mau tau kalau hampir semua keputusan diputusin ama
Koord Acara? Mulai dari diskusi ama Pihak Hotel, nawar harga, jadwal
GR.*
Saya
sih selalu berkelit, lah abisnya dia diem aja!! Gue tanya dia bilang
terserah. Ngga bisa donk!!! Kalau ngga ada yang putusin gimana kita
mau maju! Gimana mau BERES?!?!?! *ini kata seorang koleris dan
melankolis sejati : p, gabungan antara jiwa kepimpinan dan
perfeksionis.*
Jadilah
kerjaan saya di belakang selain ngurusin acara juga ngossipin ketua
paskah kita. "Itu ketuanya kok gini gitu, laen kali ngga bisa
neh asal milih ketua!" Mulai dari kata-kata yang sopan sampe
yang bener-bener "ngegossip¡". En saya ngga sadar bahwa
yang saya lakukan itu DOSA.
Sampe
2 hari sebelum hari-H, saya latihan drama berdua sama temen saya. Eh
pas udeh mau selesai latihan, sahabat saya yang jadi sekretaris
telpon, intinya ada masalah dengan Ketua. Saya bilang, "Ya udah
gue langsung ke kamar loe dah." Selesai tutup telpon, temen
saya tanya, "Ada
apa sama Ketua?" Saya dengan niat baik dan ngga mau bergossip
*ehm* cuman bilang, "Yah ada sedikit masalah aja", trus
akhirnya kita tutup dalam doa. Temen saya pimpin doa. Setelah doain
kesehatan, kesiapan, kesatuan hati, blablabla, tiba-tiba dia berdoa
untuk Ketua. Pas dia doa, saya kayak disamber geledek!!
OMG!!
Selama ini GUE NGGA PERNAH DOAIN DIA!! Kerjaan saya kalau ngga
kritik, putusin keputusan sendiri, ngomel, tapi saya ngga pernah
doain!! Oh tidaaaakkk ... en saya ngerasa dorongan yang besar banget
untuk berdoa minta ampun. Selesai temen saya "amin", saya
langsung sambung doa khusus untuk Ketua. Selesai doa, temen saya
bilang, "Iya!! Kita kok ngga pernah doain dia"
Gubraaaakkk!!!
Guys,
pas saya pulang, saya merenung. Iya saya sombong. Saya memandang
rendah Ketua saya. Saya merasa dia ngga becus, dia kurang
"rohani", saya lebih punya banyak pengalaman, lebih
"rohani" *padahal kenyataannya guys, kalau emank saya
"serohani" dan "sekudus" yang saya pikir, saya
pasti bisa TUNDUK sama dia. Karena salah satu tanda kedewasaan
rohani adalah ketertundukan, rendah hati, mengakui otoritas.*
Saya
merasa maluuu banget sama Tuhan. Selama ini saya berpikir,
"Kita salah pilih ketua!" padahal sebenernya justru dia
itu orang yang TUHAN PILIH!!! Dan Tuhan ngga pernah salah. Tuhan tuh
mau ngajarin dia dan juga mau ngajarin saya. Dan selama ini bukannya
bekerja sama dengan Tuhan, saya justru menjatuhkan orang yang Tuhan
pilih. : ((
Guys,
sering kali dalam hidup ini, kita memandang rendah orang-orang yang
Tuhan taruh di atas kita. Kita menghakimi mereka, "Loe ngga
becus, ngga bertanggung jawab. Ketua kok kayak gitu sih?!?!",
kita tidak menghormati dan menghargai mereka, dan kita berkelit,
kita berkilah untuk membenarkan dosa kita. "Lah dia begitu!!
Kalau dia ngga begitu, gue juga ngga akan begini!! Kalau dia ngomong
yah gue diem." Guys, itu tipu muslihat setan. Setan bilang,
"kamu jadi begini karena orang lain! Itu salah dia bukan salah
kamu!!" Padahal guys, kita bertanggung jawab untuk semua
perbuatan yang kita lakukan.
Guys,
situasi ini mirip sekali dengan Kejadian pasal 3. Kejatuhan Manusia
ke dalam Dosa.
Ada
3 sikap yang terus kita pertahankan sampai sekarang.
Yang
pertama sikap "Adam" *berdasarkan buku yang pernah saya
baca Kejadian 3 itu menjelaskan kenapa banyak co "bersikap
tidak bertanggung jawab", menarik diri dst*. Adam itu
bertanggung jawab atas Hawa. Ketika ular mendekati dan membujuk
Hawa, Adam ada di situ!!! Dan sebenernya Adam berhak dan
semestinya melindungi Hawa, itu tanggung jawab dia. Tapi apa yang
Adam lakukan? Adam diem ajeee, Adam tidak maju dan mengambil
posisinya sebagai Kepala Keluarga yang harus melindungi keluarganya,
sebaliknya Adam malah nurut aja sama Hawa. Well itu sebabnya, sampai
saat ini banyak dari "anak-anak Adam" punya sikap yang
sama. Tidak mau bertanggung jawab, menarik diri dari kewajiban,
pasif.
Yang
kedua sikap "Hawa", kalau Adam Pasif dan menarik diri,
Hawa justru sebaliknya!! Ia mengambil yang bukan HAK-nya. Dia
melangkahi otoritas Adam. Ketika ular membujuknya, Hawa ngga
berkonsultasi sama Adam, Hawa ngga tanya, "Sayang, ini ular
bilang begini, menurut kamu gimana?" Hawa "menganggap Adam
ngga ada", dia ambil keputusan sendiri, dia jalan sendiri dan
itu awal dari kejatuhan manusia. Saya pikir ini menjelaskan banyak
hal, menjelaskan kenapa ada istilah "suami takut istri"
*eh itu ngga alkitabiah loh Guys!*, menjelaskan kenapa banyak
organisasi yang hancur, keluarga yang hancur. Karena orang-orang
yang semestinya dipimpin, mau memimpin. "Anak-anak Hawa"
termasuk saya, sering jatuh ke sini.
Dan
yang ketiga, sikap Adam dan Hawa. Menyalahkan pihak lain. Ketika
Tuhan bertanya kepada Adam, Adam nyalahin Tuhan, "Perempuan
yang KAU tempatkan di sisiku, yah ini juga sikap kebanyakan kita
"Tuhan, gue jadi begini karena ENGKAU memberikanku situasi yang
begini. KAU kasih gue orang tua kayak gini, ini salah-MU!!"
Selain nyalahin Tuhan, Adam nyalahin Hawa *baca manusia lain*,
"Dialah yang memberi dari buah pohon itu." Kita juga
sering begini, "Dia duluan kok yang mulai!! Dia yang bikin
gara-gara, dia yang duluan ngeledek gue!" dan reaksi Hawa
juga sesuatu yang sangat sangat dan sangat sering kita lakukan,
"Ular itu yang memperdaya aku!" Hawa nyalahin setan!! Ehm,
berapa sering kita "nyalahin setan?" Kalau saya sih
sering, "Tuhan, aku dicobai loh! Aku berbuat dosa gara-gara si
setan itu menipu aku!! Aku ditipu! Itu salah setan!! Setan yang
kurang ajar"
Inti
dari itu semua, INI BUKAN SALAHKU!!
Kenyatannya
guys, Tuhan Yesus juga dicobai sama setan, tapi Dia menolak. Setan
bisa mencobai kita tapi KEPUTUSAN UNTUK BERBUAT DOSA ITU 100000%
Keputusan kita. Kalau kita jatuh ke dalam dosa apapun penyebabnya,
itu karena kita memilih untuk berbuat dosa. Kita yang salah.
Mengakui
kita salah, itu berat guys. Tapi itu menyembuhkan. Setan NGGA PENGEN
kita sadar dan kita mengakui bahwa kita berdosa, karena kalau kita
sadar dan kita mengakui, Tuhan akan mengampuni dan nolong kita, en
di agenda setan itu hal terakhir yang dia ingin kita lakukan!
So...
errhheemm... I'll tell him. I'm sorry. Really sorry.
Tuhan,
selama ini aku terlalu sombong dan memandang rendah orang lain. Aku
ngga pernah mikir kayak apa rasanya dilangkahi, diacuhkan,
diabaikan, dianggap ngga penting, sorry Lord.
China
, 7 April 2006
|