Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 


Dibaca: 1181 kali







Bos Gue Ngga Becusss!!!
Oleh: Grace Suryani


Berhubung udeh mau lulus, saya mikir Paskah ini terakhir kali saya mau jadi panitia. So ketika ditawarin *ehm .. tepatnya saya yang mengajukan diri wakakakak*, saya mau jadi panitia. Akhirnya jadi Koordinator acara deh.

Cilakanya guys, ketua kita kali ini adalah seorang Flegmatis sejati yang menganut azas musyawarah mufakat dan damai sejahtera. *buat orang-orang flegma, jgn marah yah guys : p* Itu azas sih bagus, but lama-lama bikin saya dan sahabat saya yang jadi sekretaris emosi! Habis ketika ada situasi-situasi yang sangat penting dan membutuhkan keputusan Ketua saat itu juga, Ketuanya ngga bilang apa-apa. Kalau kita minta pendapat, dia bilang, "terserah anak-anak". Bahkan rasanya Ketuanya ngga tau apa-apa, tanya ini ngga tau, tanya itu ngga tau *belakangan saya baru sadar itu juga karena salah saya. Lah gimana Ketua mau tau kalau hampir semua keputusan diputusin ama Koord Acara? Mulai dari diskusi ama Pihak Hotel, nawar harga, jadwal GR.*

Saya sih selalu berkelit, lah abisnya dia diem aja!! Gue tanya dia bilang terserah. Ngga bisa donk!!! Kalau ngga ada yang putusin gimana kita mau maju! Gimana mau BERES?!?!?!  *ini kata seorang koleris dan melankolis sejati : p, gabungan antara jiwa kepimpinan dan perfeksionis.*

Jadilah kerjaan saya di belakang selain ngurusin acara juga ngossipin ketua paskah kita. "Itu ketuanya kok gini gitu, laen kali ngga bisa neh asal milih ketua!" Mulai dari kata-kata yang sopan sampe yang bener-bener "ngegossip¡". En saya ngga sadar bahwa yang saya lakukan itu DOSA.

Sampe 2 hari sebelum hari-H, saya latihan drama berdua sama temen saya. Eh pas udeh mau selesai latihan, sahabat saya yang jadi sekretaris telpon, intinya ada masalah dengan Ketua. Saya bilang, "Ya udah gue langsung ke kamar loe dah." Selesai tutup telpon, temen saya tanya, "Ada apa sama Ketua?" Saya dengan niat baik dan ngga mau bergossip *ehm* cuman bilang, "Yah ada sedikit masalah aja", trus akhirnya kita tutup dalam doa. Temen saya pimpin doa. Setelah doain kesehatan, kesiapan, kesatuan hati, blablabla, tiba-tiba dia berdoa untuk Ketua. Pas dia doa, saya kayak disamber geledek!!

OMG!! Selama ini GUE NGGA PERNAH DOAIN DIA!! Kerjaan saya kalau ngga kritik, putusin keputusan sendiri, ngomel, tapi saya ngga pernah doain!! Oh tidaaaakkk ... en saya ngerasa dorongan yang besar banget untuk berdoa minta ampun. Selesai temen saya "amin", saya langsung sambung doa khusus untuk Ketua. Selesai doa, temen saya bilang, "Iya!! Kita kok ngga pernah doain dia" Gubraaaakkk!!!

Guys, pas saya pulang, saya merenung. Iya saya sombong. Saya memandang rendah Ketua saya. Saya merasa dia ngga becus, dia kurang "rohani", saya lebih punya banyak pengalaman, lebih "rohani" *padahal kenyataannya guys, kalau emank saya "serohani" dan "sekudus" yang saya pikir, saya pasti bisa TUNDUK sama dia. Karena salah satu tanda kedewasaan rohani adalah ketertundukan, rendah hati, mengakui otoritas.*

Saya merasa maluuu banget sama Tuhan. Selama ini saya berpikir, "Kita salah pilih ketua!" padahal sebenernya justru dia itu orang yang TUHAN PILIH!!! Dan Tuhan ngga pernah salah. Tuhan tuh mau ngajarin dia dan juga mau ngajarin saya. Dan selama ini bukannya bekerja sama dengan Tuhan, saya justru menjatuhkan orang yang Tuhan pilih. : ((

Guys, sering kali dalam hidup ini, kita memandang rendah orang-orang yang Tuhan taruh di atas kita. Kita menghakimi mereka, "Loe ngga becus, ngga bertanggung jawab. Ketua kok kayak gitu sih?!?!", kita tidak menghormati dan menghargai mereka, dan kita berkelit, kita berkilah untuk membenarkan dosa kita. "Lah dia begitu!! Kalau dia ngga begitu, gue juga ngga akan begini!! Kalau dia ngomong yah gue diem." Guys, itu tipu muslihat setan. Setan bilang, "kamu jadi begini karena orang lain! Itu salah dia bukan salah kamu!!" Padahal guys, kita bertanggung jawab untuk semua perbuatan yang kita lakukan.

Guys, situasi ini mirip sekali dengan Kejadian pasal 3. Kejatuhan Manusia ke dalam Dosa. Ada 3 sikap yang terus kita pertahankan sampai sekarang.

Yang pertama sikap "Adam" *berdasarkan buku yang pernah saya baca Kejadian 3 itu menjelaskan kenapa banyak co "bersikap tidak bertanggung jawab", menarik diri dst*. Adam itu bertanggung jawab atas Hawa. Ketika ular mendekati dan membujuk Hawa, Adam ada di situ!!! Dan sebenernya Adam berhak dan semestinya melindungi Hawa, itu tanggung jawab dia. Tapi apa yang Adam lakukan? Adam diem ajeee, Adam tidak maju dan mengambil posisinya sebagai Kepala Keluarga yang harus melindungi keluarganya, sebaliknya Adam malah nurut aja sama Hawa. Well itu sebabnya, sampai saat ini banyak dari "anak-anak Adam" punya sikap yang sama. Tidak mau bertanggung jawab, menarik diri dari kewajiban, pasif.

Yang kedua sikap "Hawa", kalau Adam Pasif dan menarik diri, Hawa justru sebaliknya!! Ia mengambil yang bukan HAK-nya. Dia melangkahi otoritas Adam. Ketika ular membujuknya, Hawa ngga berkonsultasi sama Adam, Hawa ngga tanya, "Sayang, ini ular bilang begini, menurut kamu gimana?" Hawa "menganggap Adam ngga ada", dia ambil keputusan sendiri, dia jalan sendiri dan itu awal dari kejatuhan manusia. Saya pikir ini menjelaskan banyak hal, menjelaskan kenapa ada istilah "suami takut istri" *eh itu ngga alkitabiah loh Guys!*, menjelaskan kenapa banyak organisasi yang hancur, keluarga yang hancur. Karena orang-orang yang semestinya dipimpin, mau memimpin. "Anak-anak Hawa" termasuk saya, sering jatuh ke sini.

Dan yang ketiga, sikap Adam dan Hawa. Menyalahkan pihak lain. Ketika Tuhan bertanya kepada Adam, Adam nyalahin Tuhan, "Perempuan yang KAU tempatkan di sisiku, yah ini juga sikap kebanyakan kita "Tuhan, gue jadi begini karena ENGKAU memberikanku situasi yang begini. KAU kasih gue orang tua kayak gini, ini salah-MU!!" Selain nyalahin Tuhan, Adam nyalahin Hawa *baca manusia lain*, "Dialah yang memberi dari buah pohon itu." Kita juga sering begini, "Dia duluan kok yang mulai!! Dia yang bikin gara-gara, dia yang duluan ngeledek gue!" dan reaksi Hawa juga sesuatu yang sangat sangat dan sangat sering kita lakukan, "Ular itu yang memperdaya aku!" Hawa nyalahin setan!! Ehm, berapa sering kita "nyalahin setan?" Kalau saya sih sering, "Tuhan, aku dicobai loh! Aku berbuat dosa gara-gara si setan itu menipu aku!! Aku ditipu! Itu salah setan!! Setan yang kurang ajar"

Inti dari itu semua, INI BUKAN SALAHKU!!

Kenyatannya guys, Tuhan Yesus juga dicobai sama setan, tapi Dia menolak. Setan bisa mencobai kita tapi KEPUTUSAN UNTUK BERBUAT DOSA ITU 100000% Keputusan kita. Kalau kita jatuh ke dalam dosa apapun penyebabnya, itu karena kita memilih untuk berbuat dosa. Kita yang salah.

Mengakui kita salah, itu berat guys. Tapi itu menyembuhkan. Setan NGGA PENGEN kita sadar dan kita mengakui bahwa kita berdosa, karena kalau kita sadar dan kita mengakui, Tuhan akan mengampuni dan nolong kita, en di agenda setan itu hal terakhir yang dia ingin kita lakukan!

So... errhheemm... I'll tell him. I'm sorry. Really sorry.

Tuhan, selama ini aku terlalu sombong dan memandang rendah orang lain. Aku ngga pernah mikir kayak apa rasanya dilangkahi, diacuhkan, diabaikan, dianggap ngga penting, sorry Lord.

 

China , 7 April 2006