|
Piano Butut
Oleh: Grace Suryani
Guys,
untuk mengurangi stress dan kepala pusink karena ngeliatin hanzi,
dan untuk menyeimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanan *ceilaeee
bahasanyee*, saya mulai mikir-mikir buat nyewa piano di 1 toko alat
musik deket asrama saya. Yah kira-kira 15 menit jalan kaki. 1 jamnya
8 RMB, dapet 1 ruangan. Ehm... lumayan juga.
Jadilah
saya berangkat dengan semangat, bawa buku nyanyian, sambil jalan
sambil mikir, waah... seneng. Udeh lama ngga pw pake piano,
sendirian doank lagi. TOP deh. Dateng, daftar trus akhirnya saya
mulai maen. But oh tidak, semangat saya langsung anjlok. Ini piano
ternyata BUTUT abis.
Aiyaaa...
pedalnya tiap kali diteken keluar bunyi NGEK, beeehh...
menghilangkan selera orang yang mau maen. Trus tutsnya ngga enak. En
setelah maen baru sadar, kalau saya tekan pedal itu pedal cuman
berfungsi sebagian. Jadi di bagian atas doank, bagian bassnya ngga
jalan. Lebih parah lagi, itu piano bunyinya kenceng, en sember.
Kebayang ngga sih penderitaan saya kayak apa?! 1 jam serasa
berabad-abad. Bunyi piano itu menyakiti kuping saya.
Akhirnya
setelah maen lagu demi lagu yang bikin kuping saya terasa tersayat,
saya nemuin cara untuk meringankan sedikit penderitaan kuping saya,
saya ngga bisa tekan tuts dengan kekuatan penuh, harus dengan 1/2
atau 1/3 dari volume biasanya.
Yaahh
1 jam itu akhirnya berlalu, dengan penuh penderitaan. Untung saya
masih keluar hidup-hidup dari ruangan itu. Hahaha. Hiperbola abis.
Dalam
hati saya merindukan piano saya tercinta di Indo. Piano saya yang
dirawat bae-bae. Eh Guys, jangan dikira loh piano itu ngga perlu
dirawat! Harus dirawat bae2. Kalau ngga ntar "sakit",
bunyinya ngga bagus. En tukang rawatnya juga khusus. Biasanya piano
saya tiap 3-4 bulan selalu di-stem sekali *sekalipun sudah 1 1/2 thn
ini di rumah ngga ada yang maen piano, tapi tetep di-stem sama mama
saya, so tiap saya or dd saya pulang, piano saya tetep dalam kondisi
prima.* En guys, tukang stem piano tuh duitnya kenceng loh. Sekali
dateng yah kira-kira minimal 1 juta. :p ada yang berminat? Hahaha.
Saya
curiga itu piano butut ngga pernah di-stem. Abis bunyinya jubilee
bin jalil begitu! Biar kata piano tua guys, tapi kalau ngerawatnya
bagus, tetep enak kok dimainin. Saya mikir, deehh kalau itu piano
gue, gue panggilin tukang stem dah langsung. Harus dibenerin!
Daripada bikin emosi tuannya! Lah kalau piano butut, suaranya
begitu, sapa yang tahan mainin? Orang tadi mau maen piano buat
seneng-seneng, eh malah jadi sebel denger bunyinya yang sember
begitu!
Pas
lagi emosi-emosi gitu, tiba-tiba saya mikir, kondisi saya di depan
Tuhan ngga seperti piano butut ini
kan
?! Jangan sampai yooo... suara kenceng sih kenceng tapi bikin risih
orang yang denger.
Saya
jadi mikir, iya ya... ada pelajaran juga yang bisa ditarik dari si
piano butut itu.
Sama
seperti piano yang perlu dirawat, perlu distem, kita juga perlu
dirawat en perlu distem. Eh bentar baru sadar, gue dari tadi sibuk
stem-stem tapi belon jelasin apakah itu stem. Hehehe. Maap maap.
Seperti alat musik berdawai lainnya *gitar, gu zheng*, piano itu
perlu distem untuk menjaga nadanya tetep pas, ngga fals. So kalau
saya neken tust C yah bunyinya C, bukan D, atau kalau parah, saya
neken tuts C bunyinya F, nah itu cilaka itu. Buang aja dah kalau
piano sodara bunyinya kayak gitu hehehe.
Jadi
biasanya tiap 3 bulan, piano saya "ditelanjangi",
senar-senar dan papan-papannya keliatan semua, trus mulai dari tust
bass yang paling bawah sama tuts ke-88 di pojok kanan, satu persatu
ditest bunyinya. Masih tepat ngga, atau fals. Atau mungkin ada senar
yang kurang kenceng, ada yang putus or delele. Sekalipun keliatannya
sepele yah guys, tapi tukang stem itu harus punya kuping yang pekaaa
bgt soalnya kalau beda tipis aja, bunyinya ntar ngga bagus. *Makanya
bayarannya muahal!* en seberapa sering piano itu di-stem biasanya
disesuaikan dengan "jam terbangnya" piano itu. Kalau jam
terbangnya tinggi yang harus makin sering di-stem.
Nah
bukannya kita juga butuh "distem" sama Tuhan? 3-4 bulan
sekali stem mah kelamaan, mesti tiap hari atuh *
kan
GRATIS, Tuhan
kan
ngga pernah minta uang stem hehehe. Emank Tuhan pernah bilang, 1 jam
saat teduh Rp 25.000,00 Ngga
kan
?* Kita harus mencocokkan "nada" kita sama "nada
Tuhan". Sama ngga? Lah kalau fals, sebelon itu merusak kuping
tetangga harus cepet-cepet dibenerin. Kalau "senar
doa-nya" kurang kenceng yang dikencengin. Kalau "senar
baca alkitab" putus yah disambung.
Tapi
guys, sebelon bisa distem, mesti "ditelanjangin" dulu.
Kita mesti datang dengan hati yang terbuka, apa adanya. Kalau kita
ngga terbuka sama Tuhan, yah Tuhan susah donk mau stem-nya! Bisa aja
sih, tapi daripada Tuhan paksa suruh terbuka
kan
mending terbuka dengan sukarela donk. Ya ngga? Dipaksa ntar kita
tambah sakit, tapi kalau kita sukarela
kan
lebih enak.
1
hal lagi, yang distem guys, itu SEMUA TUTS. Sekalipun ke-87 tuts
lainnya normal, tapi kalau ada 1 tuts, satu ajaaaa yang bermasalah,
ntar kalau pas maen neken tust itu, olala rasanya. Mit amit. Padahal
kan
kalau secara matematik, 1 tuts yang rusak
kan
berarti 1/88, yah kira-kira cuman 1,136% kecil loh. Tapi ngga bisa.
Semua tuts harus bener en memainkan nada yang tepat. Apa? SEMUA
TUTS. Kurang 1 aja ngga bisa.
Demikian
juga dengan kita, kita juga mesti kasih SEMUA BAGIAN HIDUP kita sama
Tuhan. Bahkan kalaupun kita menahan 99,99% aja Tuhan ngga mau. Harus
semua. Mulai dari kerohanian, spritiual, jasmani, soal makan,
pendidikan, pasangan hidup, belajar, belanja, kebersihan, penataan
anggaran belanja, teman-teman, SEMUA itu harus diserahkan sama
Tuhan. Kalau Tuhan liat ada yang ngga beres di bagian manapun, Tuhan
BERHAK menegur dan kita tidak punya hak untuk marah.
Guys,
kalau piano saya bisa ngomong, trus pas di-stem dia ngomel, *duh
sakittt... ngga mau distem!! Pokoknya ngga maauuu...*, berbahagialah
dia kalau ngga saya buang keluar rumah detik itu jug *Hiii... saya
sadis yah. Hauahaha. Bersyukurlah Tuhan ngga kayak gue! : p*
Mungkin
ada yang berpikir, tapi katanya Tuhan sayang sama kita, katanya
Tuhan menerima kita apa adanya.
Guys,
coba kalian pikir, bayangkan kalian baru beli 1 piano, dan kalian
jatuh cinta mati sama itu piano. Pokoknya sayang deh, erhh... ayo
kita berimajinasi, katakan piano itu grand piano putih *wuihhh...
piano impian hahaha*, atau baby grand warna baby blue *ini ketauan
ngayalnya. Emank ada piano warna baby blue hauhahaa*, nah setelah
kalian beli, ketauan ini piano fals. Apa yang kalian lakukan? Kalau
orang yang ngga bisa maen piano, yang ngga ngerti "harga"
sebuah piano, palingan dia mikir "Ya udah, ngga usak dikutak
katik, jadiin pajangan aje, udeh bagus kok." Nah itu orang yang
buta musik tapi kebanyakkan duit, mbok kalau ada yang kayak gitu,
pianonya disumbangkan ke saya gitu. Biar piano itu bisa memenuhi
"tujuan hidupnya", jadi alat musik dan bukan sekedar
pajangan. Hahahaha.
But
kalau itu jatuh ke tangan pianis terkenal, kira-kira apa yang dia
lakukan? Pasti dibenerin itu piano. Di-stem. Dicari rusaknya dimana.
Kenapa? Karena pianis itu beli itu piano untuk dipake!! Dia tau
harga sebuah piano, dan nilai sebuah piano lebih dari sekedar
pajangan. Justru Karena dia "sayang" ama itu piano, dia
benerin. Kalau dia ngga sayang, yah bodo amat.
Tuhan
juga begitu. Tuhan tau NILAI kita, Tuhan ngga cuman tau, Tuhan
pengen pake kita. Tuhan pengen jadikan kita alat kesayangan-Nya,
tempat Dia berbagi hati, tempat Dia mencurahkan perasaan-Nya. Buat
seorang pianis, piano itu lebih dari sekedar instrument, piano itu
seperti sahabat.
Tapi
guys, Tuhan ngga bisa pakai kita kalau kita ngga mau di-stem, kalau
bunyi kita fals! Tuhan pengen pake kita untuk memainkan lagu-lagu
yang indah kepada dunia ini, tapi gimana Tuhan bisa pakai kalau kita
ngga pernah mau menyesuaikan nada kita dengan nada-Nya? Kalau nada
kita ngga beraturan, kalau pedal kita ngek ngok?? Bukannya lagu yang
indah, justru bikin emosi orang yang denger.
Kita
sering banget doa, Tuhan nyatakan kemuliaan-Mu, penuhi kami dengan
kemuliaan-Mu tapi tidak terjadi apapun, apakah kita tau kenapa? Sama
seperti saya tidak berani neken tuts dengan volume max karena
bunyinya fals, begitu juga Tuhan ngga mau menyatakan kemuliaan-Nya,
karena kalau kita fals, kita penuh dosa, kita langsung MATI begitu
liat kekudusan-Nya. Ngga ada manusia berdosa yang tahan di hadapan
kekudusan Tuhan.
Guys,
Tuhan itu begitu baik, begitu sabar. Tapi jangn pernah main-main
sama kesabaran Tuhan. Jangan pernah berpikir, untung Tuhan punya
saya. Oh tidak guys... Tuhan bisa pakai siapapun. Kalau kita terus
mengeraskan hati, terus berkata TIDAK, terus memberontak, terus
bandel, tidak mau taat, jangan heran kalau suatu hari nanti kita
mendapati Tuhan tidak pernah bicara lagi. Tuhan tidak pernah menegur
lagi. Tuhan itu bukan MAHA sabar, Tuhan itu panjang sabar.
Selama
masih ada "hari ini", bertobatlah guys. Relakan diri
kalian dibentuk oleh Tuhan. Sakit? PASTI. Kekristenan tanpa rasa
"sakit" itu aliran sesat. Bener. Kita pasti merasa sakit
ketika Tuhan mencocokkan nada-Nya dengan nada kita. Tapi setelah itu
lewat, kita akan bisa melihat bagaimana Tuhan bekerja di dalam diri
kita dan lewat diri kita.
China
, 16 Maret 2006
Tuhan,
kalau aku seperti piano butut itu, perbaiki aku, Tuhan. Kalau selama
ini mungkin suaraku "kencang" tapi menyakiti orang laen
karena nada-nadaku "fals dan penuh dosa", ampuni aku. Stem
aku.
Aku
tau itu proses yang menyakitkan, sama seperti yang aku hadapi
minggu-minggu ini. tapi aku percaaya Tuhan, kasih karunia Tuhan
CUKUP untukku.
|