|
Terbang Mengatasi DEADLINE
Oleh: Grace Suryani
Guys,
hehehe... untuk kesekian kalinya, Tuhan ngajak saya maen "jet
coster". Heran... Tuhan kok seneng banget yak ngajakin saya
maen "jet coaster"!! Padahal saya udeh protes berulang
kali, "Tuhan, aduh... bukannya gue ngga suka maen sama Kamu,
tapi Tuhan, jet coaster-Mu itu rasanya membahayakan "kesehatan
jantung" gue!! Gmana kalau sekali-kali, maen ayunan aja yuk.
Atau istana boneka kek, atau komidi puter, masak maen "jet
coaster" mulu!! Tapi protes saya tidak digubris : (( Hem...
Jet
Coaster Tuhan itu istilah saya buat situasi-situasi yang tidak bisa
saya control, situasi yang bikin saya deg-deg-an, naek turun, naek
turun lagi, kadang sampe muter 360 derajat. Kayak situasi saya
sekarang.
Ini
Paskah terakhir saya di
China
. Sejak semester kemaren, saya sama temen saya sudah ber-angan-angan
untuk membuat acara Paskah yang syahdu, sederhana tapi berkesan.
Pokoknya sesuatu yang lain daripada yang lain *ehm... ini kesukaan
saya, bikin sesuatu yang lain daripada yang lain hehehe*. Sahabat
saya itu sekretaris Paskah, trus akhirnya singkat cerita saya jadi
koord acara.
Dan
saya punya 1 kerinduan, bikin acara Paskah yang bener-bener sesuai
dengan apa yang Tuhan mau, bukan apa yang manusia mau. Saya sudah
cape en bosen dengan acara-acara yang kadang cuman ditujukan buat
manusia, acara-acara yang keliatannya "wah" tapi tidak
membawa kepada pertobatan dan pertumbuhan rohani anak-anak.
*Cita-cita yang mulia yah guys :p* Awalnya segala sesuatu berjalan
dengan lancar mulus. Mulai dengan pemilihan anak-anak acara yang
ternyata semuanya bisa sehati. Kita doa bareng dan saling dapet
konfirmasi buat tema Paskah.
Wah
saya penuh sukacita. Dapet konfirmasinya itu ajaib sekali!! Tambah
beriman, But... Tiba-tiba semua jalan tertutup. Kita ngga punya ide
sama sekali buat bikin acara utama. Nah loh. Kita mau bikin drama,
tapi ngga tau ceritanya apa, otak saya yang biasanya cemerlang,
akhir-akhir ini melempem. Ngga ada ide sama sekali.
Rapat
terakhir, udeh kayak orang putus asa semua. Kita ngga tau mau
ngapain. Sampe kita nyaris pikir, udehlah ambil apa saja yang ada.
Kita bikin sesuatu lah, yang penting ada acara, tapi hati kecil kita
itu berontak. Ngga bisa begini, Tuhan dah kasih yang terbaik masak
kita asal comot aja sih!! Akhirnya saya cuman bisa bilang,
"Mari kita berdoa!"
Pulang
dengan hati sedikit kecewa. Saya berdoa dan berpikir, "Duh
Tuhan... saya pikir kalau saya mau bikin sesuatu yang bener-bener
Tuhan, Tuhan pasti seneng dan jalannya dibikin lancar, tapi kenapa
yang saya kebalikannya??!
Waktu
itulah, Tuhan buka hati saya. Saya dan teman-teman saya sedang
diuji. Tuhan dengar doa kami dan karena itu Tuhan mau tau, kamu
serius ngga?! Taunya dari mana? Yah diuji. Tuhan sengaja diam. Tuhan
seperti mengulur-ngulur waktu, sengaja ngga kasih ide, supaya
motivasi dan kesungguhan kami teruji. Apa kami cuman doa di mulut,
atau kami benar-benar merindukan lawatan Tuhan.
Saya
dapet pelajaran dari kisah Saul di 1 Samuel 13. Waktu itu
Israel
berperang melawan rakyat Filistin. Tentara Filistin buanyaaakk bgt
seperti pasir di laut. Semua orang
Israel
ketakutan. Sebelum mereka perang, Samuel dan Saul sudah janjian
untuk mempersembahkan korban untuk memohon berkat Allah. Eh tunggu
punya tunggu, Samuel ngga nonggol-nonggol. Orang
Israel
banyak yang lari meninggalkan Saul. Sampai akhirnya, pada waktu yang
DIJANJIKAN, Samuel tidak datang juga, Saul mempersembahkan korban
sendiri. Begitu Saul selesai, Samuel datang.
Ketika
Samuel tanya, "Apa yang kamu lakukan?!" Saul jawab begini,
"Karena aku melihat rakyat itu terserak-serak meninggalkan aku
dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan padahal
orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, MAKA PIKIRKU: sebentar
lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal." 1 Samuel
13:11
Satu
pertanyaan guys, orang Filistin sudah menyerang belum?! BELOM! Dan
BELON TENTU MEREKA SEBENTAR LAGI MENYERANG! Itu cuman PIKIRAN SAUL.
Jawaban Saul, itu jawaban yang sering kita katakan. Jawaban yang
sering kita keluarkan dan kita jadikan alasan untuk tidak mentaati
Tuhan.
3
alasan yang pertama dikatakan Saul itu fakta. Bangsa
Israel
memang terserak. Dan Samuel "keliatannya" tidak datang.
Orang Filistin memang berkumpul di Mikhmas, tapi yang membuat dia
jatuh ke dalam dosa adalah perkataannya yang berikutnya. Maka
PIKIRKU, dia jatuh karena dia PERCAYA pada pikirannya lebih dari dia
PERCAYA sama Tuhan! Dia percaya pada ketakutannya. Dia percaya pada
fakta lebih dari imannya kepada Tuhan.
Akibatnya,
dia ditolak menjadi raja.
Ironis
guys, hanya karena "maka pikirku". Kejatuhan Saul bukan
dimulai ketika dia mempersembahkan korban itu sendiri, jauh sebelum
itu, dia sudah kalah. Kalah, karena dia membiarkan logika,
perhitungannya menguasainya lebih daripada Tuhan.
Bagaimana
dengan kita? Bagaimana dengan saya?!?! Akankah kita jatuh ke
kesalahan yang sama? Akankah kita lebih takut sama "deadline"
daripada sama Tuhan?!
Guys...
Tuhan yang tau persis apa yang ada di dalam hati saya. Secara
manusia, mestinya saya panic, ini kurang dari 3 minggu. Dan acara,
belum beres. Tapi waktu saya mikir gitu, hati saya mengatakan
sesuatu yang lain, "Kalau manusia yang kerja 3 bulan belon
tentu beres. Kalau Tuhan yang kerja 1 minggu saja cukup!" Tuhan
juga mengingatkan bagaimana semester kemaren Tuhan kasih saya 1
naskah drama dan saya cuman butuh 3 hari buat siap untuk pentas. 3
hari. Dari dapet ide, nulis naskah sampai latihan. Selesai. Itu
Tuhan yang bikin.
Yah
guys... kita, anak-anak Tuhan tidak berjalan dalam deadline manusia.
Kita berjalan dalam waktu Tuhan, dan DIA TIDAK PERNAH JAM KARET.
Ngga pernah molor. Ngga pernah telat. Tinggal gimana respons kita?
Apakah kita sabar? Ataukah tidak.
Apakah
kita mengalami *tidak hanya mengimani* ayat fave yang suka ditulis
di pembatas-pembatas buku "tetapi orang-orang yang
menanti-nantikan Tuhan mendpat kekuatan baru; mereka seumpama
rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari
dan tidak menjdi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."
Kita mungkin hafal, tapi pernah ngga ngalamin?!?! Ngalamin
rasanya jadi rajawali yang terbang.
ketika
orang lain terkungkung di dalam waktu,
aku
terbang bebas di dalam Tuhan
ketika
orang dibatasi oleh DEADLINE *dead = mati, line = garis*
aku
melukis garis kehidupan, menari tanpa batas di dalam hadirat-Nya
ketika
orang tidak bisa tidur memikirkan batas waktu,
aku
terlelap di dalam pelukan Bapa yang mengatur waktu
Bapaku
tidak terikat oleh waktu, tidak terikat oleh kalender
Tidak
terpenjara di dalam jam,
Ya,
Dia BAPAKU. Dan karena itu, aku tidak punya alasan untuk takut.
China
, 21 Maret 2006
|