|
Ren Bu Ke Mao Xiang
Oleh: Grace Suryani
Kali ini saya mau
nulis sedikit ttg bahasa dewa :p Judul di atas itu kata-kata yang
sering saya ucapkan akhir-akhir ini. Ren bu ke mao xiang. *don't
judge a book by its cover* Kenapa saya nulis ini?
Ada
1 pertanyaan yang tiba2 pop up di kepala saya. "Darimana saya
bisa tau seseorang itu sudah lahir baru atau belum?"
Selama ini guys,
saya mengandalkan metode EE *singkatannya lupa. Pokoknya ada
Evangelis2nya dah*. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan model,
gmana kalau hari ini kamu meninggal bakal masuk mana?! Kalau Tuhan
tanya kenapa Tuhan mesti izinin kamu masuk surga, kamu jawab apa?!
Etc etc. Yah pokoknya dengan tanya-tanya, en kalau jawabannya "meyakinkan"
atau sesuai dengan kunci jawaban *apalagi disertai ayat alkitab
waahh nilai plus*, saya langsung mikir, PASS. Lulus. Ji ge. Ini
pasti sudah lahir baru.
Ngga cuman soal
lahir baru, tapi juga soal "kadar kerohanian", tingkat
iman dst dst. Ukuran saya, dengan bertanya, diskusi doktrin, en liat
jawabannya. Kalau jawabannya okay, wah saya langsung mikir, ini
orang beriman. Ini anak Tuhan.
Sampe suatu ketika,
ada 1 kejadian yang membuat saya berpikir ulang. En saya jadi inget
kata-kata konfucius *ngga sia-sia gue ngapalin lun yu ampe mo
muntah!! Wakakak emank sengsara membawa nikmat*
Konfucius
mengatakan: Dahulu aku menilai orang, dari perkataannya lalu percaya
perbuatannya. Kini aku menilai orang, mendengar perkataannya lalu
memeriksa tindakannya
Bener banget.
Alkitab sebenernya sudah bilang, "sebab dari buahnya pohon itu
dikenal" Matius 12:33. Buah apa? Buah ROH. Alkitab ngga bilang
"dari kata-katanya kamu mengenal dia". Kagak. Guys,
kata-kata itu bisa dihafal. Jawaban itu bisa dicontek. Cuman buah
roh yang tidak pernah berbohong.
Tau darimana
seseorang sudah lahir baru atau belum? Bukan dari apakah dia bisa
jawab pertanyaan dengan baik, tapi dari buah-buah Roh. Apakah
hidupnya menghasilkan buah?? Apakah ada buah pertobatan dalam
hidupnya?!
Saya belajar ini
dari seorang sahabat saya. Saya ngga pernah meragukan pertobatannya
dia. Kenapa? Karena sejak dia bertobat, berubah! Dia tetep bisa
marah, tetep bisa kesel, tetep bisa buat dosa, tapi hatinya peka
terhadap dosa. Sahabat saya itu agak mirip saya. Type2 keras.
Gampang emosi, gampang kebawa, tapi begitu dia ditegor, dia langsung
bertobat.
Dia jarang ngomong
pake kata-kata indah, ngga terlalu aktif pelayanan juga *ngga segila
saya :p*, tapi saya yakin, jauh di dalam hatinya, dia itu sayang
sama Tuhan Yesus. En saya tau ada buah pertobatan dalam dirinya.
Guys, saya sering
jatuh di sini. Menilai orang hanya dari kata-katanya. Dari kata-kata
indah yang keluar dari mulut manusia. Dari sikap orang sopan dan
ramah sama saya. Saya cenderung cepat untuk memihak pada anak-anak
yang keliatannya aktif, suka berdiskusi, menonjol, saya langsung
mikir, "wah ini anak Tuhan" sebaliknya saya seringggg
banget menganggap rendah anak2 yang ngga terlalu suka ngomong, tidak
bisa bicara dengan kata-kata yang manis, tidak ramah, "wah ini
belom bertobat."
CILAKA!!!
Akhir-akhir ini saya
lagi kena batunya. Semua "anak mas" saya, yang saya pikir
imannya segunung, ternyata .. jaaauuhhhh. Justru anak-anak yang
selama ini saya pandang sebelah mata, ngga saya anggep, justru dia
orang-orang yang Tuhan pakai. Saya malu guys. Sungguh.
Kita manusia, suka
tertipu dengan apa yang keliatan. Dengan kata-kata yang manis, sikap
yang sopan, sedikit bumbu ayat alkitab, sudah membuat kita berpikir
"Ini orang kudus!!" Hati-hati guys, emank setan ngga hafal
ayat?!?! Die hafal lebih banyak dari kita!!
Manusia melihat apa
yang di depan mata, Tuhan melihat hati. Kalau kita tau Allah kita
Allah yang melihat hati, mari kita belajar seperti Dia. Melihat hati
dan bukan melihat rupa. Menilai hati dan bukan kata-kata
Gimana bisa?!?!
Tuhan yang akan
didik guys. Saya juga lagi belajar. Belajar untuk tidak melihat apa
yang kelihatan tapi menilai dari hati yang terdalam. Melihat bukan
dengan kacamata manusia tapi dengan kacamata Tuhan.
Tuhan, berikan aku
hati-Mu.
Maaf, selama ini aku
keliru. Melihat orang, menilai orang hanya berdasarkan apa yang
kelihatan. Aku ngga melihat hati mereka. Maaf.
Seringkali aku
melewatkan banyak mutiara-mutiara yang berharga hanya karena
penampilan mereka yang tidak sesuai dengan standartku. Maaf. Banyak
mutiara yang aku buang. Maaf.
China
, 1 Juni 2006
Special thx to Hanna
en Tepen.
|