Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 


Dibaca: 1120 kali






Ren Bu Ke Mao Xiang
Oleh: Grace Suryani


Kali ini saya mau nulis sedikit ttg bahasa dewa :p Judul di atas itu kata-kata yang sering saya ucapkan akhir-akhir ini. Ren bu ke mao xiang. *don't judge a book by its cover* Kenapa saya nulis ini?

Ada 1 pertanyaan yang tiba2 pop up di kepala saya. "Darimana saya bisa tau seseorang itu sudah lahir baru atau belum?"

Selama ini guys, saya mengandalkan metode EE *singkatannya lupa. Pokoknya ada Evangelis2nya dah*. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan model, gmana kalau hari ini kamu meninggal bakal masuk mana?! Kalau Tuhan tanya kenapa Tuhan mesti izinin kamu masuk surga, kamu jawab apa?! Etc etc. Yah pokoknya dengan tanya-tanya, en kalau jawabannya "meyakinkan" atau sesuai dengan kunci jawaban *apalagi disertai ayat alkitab waahh nilai plus*, saya langsung mikir, PASS. Lulus. Ji ge. Ini pasti sudah lahir baru.

Ngga cuman soal lahir baru, tapi juga soal "kadar kerohanian", tingkat iman dst dst. Ukuran saya, dengan bertanya, diskusi doktrin, en liat jawabannya. Kalau jawabannya okay, wah saya langsung mikir, ini orang beriman. Ini anak Tuhan.

Sampe suatu ketika, ada 1 kejadian yang membuat saya berpikir ulang. En saya jadi inget kata-kata konfucius *ngga sia-sia gue ngapalin lun yu ampe mo muntah!! Wakakak emank sengsara membawa nikmat*

Konfucius mengatakan: Dahulu aku menilai orang, dari perkataannya lalu percaya perbuatannya. Kini aku menilai orang, mendengar perkataannya lalu memeriksa tindakannya

Bener banget. Alkitab sebenernya sudah bilang, "sebab dari buahnya pohon itu dikenal" Matius 12:33. Buah apa? Buah ROH. Alkitab ngga bilang "dari kata-katanya kamu mengenal dia". Kagak. Guys, kata-kata itu bisa dihafal. Jawaban itu bisa dicontek. Cuman buah roh yang tidak pernah berbohong.

Tau darimana seseorang sudah lahir baru atau belum? Bukan dari apakah dia bisa jawab pertanyaan dengan baik, tapi dari buah-buah Roh. Apakah hidupnya menghasilkan buah?? Apakah ada buah pertobatan dalam hidupnya?!

Saya belajar ini dari seorang sahabat saya. Saya ngga pernah meragukan pertobatannya dia. Kenapa? Karena sejak dia bertobat, berubah! Dia tetep bisa marah, tetep bisa kesel, tetep bisa buat dosa, tapi hatinya peka terhadap dosa. Sahabat saya itu agak mirip saya. Type2 keras. Gampang emosi, gampang kebawa, tapi begitu dia ditegor, dia langsung bertobat.

Dia jarang ngomong pake kata-kata indah, ngga terlalu aktif pelayanan juga *ngga segila saya :p*, tapi saya yakin, jauh di dalam hatinya, dia itu sayang sama Tuhan Yesus. En saya tau ada buah pertobatan dalam dirinya.

Guys, saya sering jatuh di sini. Menilai orang hanya dari kata-katanya. Dari kata-kata indah yang keluar dari mulut manusia. Dari sikap orang sopan dan ramah sama saya. Saya cenderung cepat untuk memihak pada anak-anak yang keliatannya aktif, suka berdiskusi, menonjol, saya langsung mikir, "wah ini anak Tuhan" sebaliknya saya seringggg banget menganggap rendah anak2 yang ngga terlalu suka ngomong, tidak bisa bicara dengan kata-kata yang manis, tidak ramah, "wah ini belom bertobat."

CILAKA!!!

Akhir-akhir ini saya lagi kena batunya. Semua "anak mas" saya, yang saya pikir imannya segunung, ternyata .. jaaauuhhhh. Justru anak-anak yang selama ini saya pandang sebelah mata, ngga saya anggep, justru dia orang-orang yang Tuhan pakai. Saya malu guys. Sungguh.

Kita manusia, suka tertipu dengan apa yang keliatan. Dengan kata-kata yang manis, sikap yang sopan, sedikit bumbu ayat alkitab, sudah membuat kita berpikir "Ini orang kudus!!" Hati-hati guys, emank setan ngga hafal ayat?!?! Die hafal lebih banyak dari kita!!

Manusia melihat apa yang di depan mata, Tuhan melihat hati. Kalau kita tau Allah kita Allah yang melihat hati, mari kita belajar seperti Dia. Melihat hati dan bukan melihat rupa. Menilai hati dan bukan kata-kata

Gimana bisa?!?!

Tuhan yang akan didik guys. Saya juga lagi belajar. Belajar untuk tidak melihat apa yang kelihatan tapi menilai dari hati yang terdalam. Melihat bukan dengan kacamata manusia tapi dengan kacamata Tuhan.

Tuhan, berikan aku hati-Mu.

Maaf, selama ini aku keliru. Melihat orang, menilai orang hanya berdasarkan apa yang kelihatan. Aku ngga melihat hati mereka. Maaf.

Seringkali aku melewatkan banyak mutiara-mutiara yang berharga hanya karena penampilan mereka yang tidak sesuai dengan standartku. Maaf. Banyak mutiara yang aku buang. Maaf.

 

China , 1 Juni 2006

 

Special thx to Hanna en Tepen.