Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 


Dibaca: 1597 kali






Terkadang Cinta Itu Sadis
Oleh: Grace Suryani


Guys, apa yang kalian bayangkan ketika mendengar kata ‘cinta’?! Biasanya orang langsung membayangkan cinta itu sebagai sesuatu yang manis, indah, mendebarkan, mengairahkan. Cinta itu sesuatu yang membuat kita bahagia, berseri-seri, tertawa. But apakah itu artinya cinta?

Kalau cinta hanya dihubungkan dengan hal-hal yang indah dan manis, rasanya itu terlalu naïf. Itu tuh hanya sebagian dari cinta. Emank sih guys, cinta itu bikin hidup lebih hidup, bikin kita seneng tapi ada bagian cinta yang laen, yang perlu juga untuk kita ketahui. Bahwa cinta itu terkadang sadis …

Yak sebelon kalian membayangkan psikopat, pembunuhan berdarah, film perang, pembantaian *well itu bayangan yang langsung muncul kalau mendengar kata ‘sadis’ hehehe* saya jelasin dulu apa maksud kalimat saya itu.

Terkadang cinta itu sadis, kalimat itu keluar dari mulut saya sehabis saya baca sms dari dd saya yang paling kecil. Tgl 19 Juli kemaren kita sekeluarga pergi ke Malaysia buat nganterin dd saya sekolah di sana .

Well kalau dd saya anak ‘biasa’, saya pasti ngga setuju dd saya pergi ke Malay dianterin kita sekeluarga plus 2 tante saya. “Anak co kok pake dianter-anterin. Jie-jienya 2 org aje ke Luar negeri berangkat sendiri kok ini pake di anterin-anterin segala” Yah, tapi dd saya ini memang ‘luar biasa’.

Dd saya, Yahya, tuna runggu sejak lahir *saya pernah sebutkan dia di salah satu tulisan saya Deni*. Dia satu-satunya anak laki-laki di keluarga saya, bungsu pula. Saya ngga pernah tau bagaimana perasaan Papa mama saya ketika tahu bahwa Yahya tuna runggu, dan tidak hanya sekedar tuna runggu tapi tingkat ketuliannya cukup berat juga.  

Yah sebagai keluarga Kristen, orang beriman, kita sekeluarga tahu bahwa Tuhan itu baik. Tapi jujur guys, buat kasus adik saya, saya tidak setuju bahwa Tuhan itu baik. Sangat tidak setuju. Karena menurut saya Tuhan itu bukan Tuhan yang baik, tapi Tuhan yang teramat sangat BAIK. Kata BAIK saja tidak cukup untuk mengambarkan Tuhan yang saya liat di dalam idup Yahya. : p

Saya melihat bagaimana Yahya hidup lewat mukjizat demi mukjizat. Dia tetap tuna runggu sampai hari ini, tapi tangan Tuhan mnyertai dia dengan sangat luar biasa. Setelah lulus kelas 6 SD dari SLB, Yahya ditolak masuk ke sekolah-sekolah normal bonafide yang takut ‘peringkatnya’ turun krn ada anak cacat. Tapi Thx God, ngga bisa masuk sekolah normal, Yahya justru malah bisa sekolah di sekolah semi international dengan kurikulum bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sejak SMP, dia belajar Physic, Biology, English Literature *yang ngebahas Pride and Prejudice, karya2 William Shakespeare*, Matematik bhs Inggris, bhs Perancis dan Mandarin. Mata pelajaran yang buat anak normal aje susahnya amit-amit, tapi Yahya memang dijadikan tanda ajaib oleh Tuhan.

Sejak kelas 1 SMP sampai kelas 2 SMU, dia selalu rangking 1, dapet beasiswa melulu. Padahal dia satu2nya yang tuna runggu, temennya semua anak normal. Belum lagi menang perlombaan ini itu. Sampe dia pernah masuk TV diwawancara segala *buset dah, jie2nya 2 org normal, cantik2 aje belon pernah masuk tipi!!*

Dari segi iman, saya salut dengan imannya kepada Tuhan. Kalau malam hujan deres dengan angin kenceng, dia kadang suka bilang sama pembokat saya, “Untung ya saya tuna runggu, ngga bisa denger. Jadinya bisa tidur nyenyak.” Saya suka terkagum-kagum melihat imannya yang tulus kepada Tuhan. Bagaimana dia bersaksi sama teman-temannya yang lain.

Suatu hari pernah ada seorang temannya *anak normal* tanya, “Kalau Tuhan itu baik kenapa Tuhan ciptakan anak cacat seperti kamu?” Dan jawaban adik saya mengagetkan kami sekeluarga. Dia mengutip dari Yohanes 9 : 1-3. Tentang orang Farisi yang ketika ngeliat org buta trus tanya ini dosa siapa. Tuhan Yesus jawab bukan dosa sapa-sapa, tapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia. Adik saya juga bilang, “Kalau anak normal sukses itu biasa, tapi kalau anak cacat sukses itu karena Tuhan.”

Yah saya pikir, ngga apa2lah Yahya ngga bisa denger suara Papa Mamanya, keluarganya yang penting dia bisa denger suara Bapa-Nya yang di surga. Drpd bisa denger suara org laen tapi ngga bisa denger suara Babe?!?! Lebih berabe lagi tuh!

Bisa dibilang Guys, justru Yahyalah kebanggan keluarga saya. Krn papa mama saya ngga pernah malu cerita sama temen-temen or sodara-sodara saya ttg kondisi Yahya, saya juga ngga pernah malu. Malahan saya bangga, sering bgt saya cerita sama temen2 saya, dosen2 saya, ttg Yahya. Kalau ada orang yang menatap dengan tatapan prihatin, saya ketawa dalam hati, “Kesian deh loe, ngga tau dd gue tuh orgnya kayak apa!” : p

But guys, ketika dia masuk SMU, pergumulan besar menanti. Kemana dia harus melanjutkan setelah dia lulus? Saya sama mei2 saya ngga setuju Yahya kuliah di Indonesia . Bukan krn kita ngga cinta tanah air guys, tapi krn masyarakat Indo belum bisa menerima org2 seperti Yahya.

Akhirnya setelah berdoa, Tuhan membuka jalan Yahya sekolah di Malaysia . Di salah satu Universitas umum tapi kebetulan beberapa guru maupun muridnya ada yang tuna runggu.

Ketika terbersit ide untuk Yahya sekolah di Malaysia , mulailah pergumulan laen, yang sedikit banyak memaksa saya berpikir, cinta itu terkadang sadis.

Tidakkah itu namanya sadis, mengirim seorang anak yang tidak bisa mendengar tanpa sanak saudara sekolah di luar negeri seorang diri? Bagaimana kalau dia sakit? Siapa yang mau nolong? Bagaimana kalau dia dihina di sana ? Diejek? Bagaimana kalau dia tidak punya teman, kesepian? Gimana kalau sekolahnya susah? Gimana kalau dia ngga ngerti dosennya ngomong apa??

Saya sekolah di luar negeri guys. Saya yang anak normal yang berangkat ke China dengan 10 org teman, tau bahwa kesepian itu sesuatu yang merobek jiwa saya. Kesulitan, kesendirian, itu membuat saya menangis berhari-hari. Gimana dengan Yahya nanti??

Tidakkah itu namanya kejam, tau bahwa Yahya pasti menderita dan mengalami kesulitan di sana tapi tetap mengirim dia ke sana ?

Bukankah cinta itu sesuatu yang seharusnya membuat kita tersenyum dan bukan menangis?

Guys, saya tau dengan pasti. Alasan papa mama saya melepas Yahya ke Malaysia adalah karena cinta. Cinta yang membuat kita seolah-olah berlaku kejam dan sadis sama Yahya. Seolah-olah membiarkan Yahya ‘kesepian’ dan menderita di sana .

Mungkin beberapa orang berpikir, “Sudahlah, anak tuna runggu. Ngapain di sekolahin tinggi-tinggi. Dikasih modal suruh buka toko aja. Beres. Kan yang penting dia bisa cari duit.” 

Guys, kalau saya tau bahwa Yahya punya kemampuan, punya talenta, dia bisa sekolah sampai s1, bahkan mungkin sampai Master atau Doktor, lalu hanya karena ‘kasihan’ dan ‘tidak ingin membuat dia menangis’ kita semua cuman bukain Yahya toko dan mengurung di Jakarta, itukah namanya cinta? Kalau Tuhan punya impian untuk membawa Yahya ke Negara-negara lain, tapi hanya karena pikiran picik bahwa ‘cinta tidak seharusnya menyebabkan kamu menderita’ lalu kita ngga memberikan Yahya kesempatan, itu kah namanya cinta?

Itu bukan cinta. Itu namanya Bullshit.

      Karena kami mencintai Yahya, kami ingin yang terbaik buat dia, kalaupun untuk mencapai itu kita harus mengalami langkah yang ekstrim, langkah yang dicap orang sadis, kami akan lakukan itu.

Yah guys, karena cinta itu terkadang sadis.

Tuhan juga kadang sadis sama kita. Tuhan kadang berpura-pura tuli ketika kita menjerit karena Dia sedang menarik keluar sayap-sayap potensi kita. Tuhan kadang sadis, karena Dia tau bahwa ada beberapa jalan dalam hidup kita yang akan membawa kita kepada air mata, tapi Dia tetap bawa kita ke sana . Tuhan kadang sadis, tapi Dia bukan psikopat. Tuhan terkadang keliatan sadis karena Dia begitu mencintai kita …

Guys perbedaannya terletak pada motivasi Tuhan mengizinkan kita melewati itu semua. Coz Dia mau kita jadi lebih bae lagi. Tuhan mau mengeluarkan segala yang terbaik di dalam diri kita, dan seringkali cara terbaik untuk mengeluarkannya adalah dengan melakukan apa yang menurut kita ’sadis’.

 

Yahya, jangan dikira Papa, Mama, Jie Anie, Kakak Lisa, Suster dan Mbak Nik ngga nangis ketika kamu menangis. Dan jangan pernah berpikir Tuhan diam ketika kamu mengeluh. Tuhan tidak pernah diam. Dia tidak pernah salah, dan Dia tau apa yang sedang Dia lakukan.

Sudah bertahun-tahun kamu bawa berkat di dalam keluarga kita. Terlalu egois dan terlalu picik kalau kami cuman mau ‘menyimpan’ kamu di rumah. Ngga semestinya salah satu ‘permata’ Tuhan hanya dinikmati oleh segelintir orang. Ngga seharusnya karya Tuhan yang nyata di dalam idupmu, hanya dilihat oleh sekelompok orang.

Tempat terbaik untuk masterpiece Allah bukan di ruang terkunci di dalam rumah seorang kolektor, tapi di tempat terbuka, untuk dinikmati oleh banyak orang.

Kamu tidak diciptakan untuk disimpan di dalam satu kotak. Kamu diciptakan untuk bersinar bagi dunia. Untuk pergi ke bangsa-bangsa.

Terlalu sayang kalau karya Tuhan di dalam hidupmu hanya dilihat oleh sedikit orang … terlalu sayang. Dan keluarga kita adalah keluarga yang sangat egois, kalau kami melarangmu pergi.

Kamu harus pergi ke bangsa-bangsa. Membuka mata mereka bahwa Tuhan itu hidup. Tuhan itu ada dan Tuhan itu baik …

Maafkan kami kalau cinta kami terkadang sadis … kalau Papa Mama, Suster, Jie Anie, Kak Lisa, Mbak Nik, kadang sadis sama kamu. Maafkan kami kalau kami tidak pernah memberikan kamu perkecualian karena kamu tuna runggu, memaksamu belajar bicara, memperlakukanmu seperti anak normal, yah kami akui kadang kami memang sadis.

Tapi itu semata-mata karena kami terlalu sayang sama kamu. Kami ngga mau kamu cuman jadi anak biasa-biasa aja, ngga bisa bicara, ngga bisa sekolah, ngga bisa ngapa-ngapain. Ngga … kami ngga mau kamu jadi seperti itu. Karena itu maafkan kami. Maafkan karena kami begitu sayang sama kamu …

 

Dan Tuhan, sekarang aku mengerti. Sedikit mengerti. Mengapa Tuhan kadang sadis sama aku. Itu semata-mata karena Tuhan Yesus sayang sama aku kan ? Krn Tuhan ngga mau aku cuman jadi anak Tuhan yang biasa-biasa saja, ngga bisa ngapa-ngapain …

Makasih karena Tuhan mau ‘menghajar’ aku. Makasih karena sudah jadi Tuhan yang ‘sadis’. aku percaya yang mengerakkan ke’sadis’an-Mu bukan dendam, bukan amarah, tapi cinta …

 

Jkt, 27 Juli 2006