|
Terkadang Cinta Itu Sadis
Oleh: Grace Suryani
Guys, apa yang
kalian bayangkan ketika mendengar kata ‘cinta’?! Biasanya orang
langsung membayangkan cinta itu sebagai sesuatu yang manis, indah,
mendebarkan, mengairahkan. Cinta itu sesuatu yang membuat kita
bahagia, berseri-seri, tertawa. But apakah itu artinya cinta?
Kalau cinta hanya
dihubungkan dengan hal-hal yang indah dan manis, rasanya itu terlalu
naïf. Itu tuh hanya sebagian dari cinta. Emank sih guys, cinta itu
bikin hidup lebih hidup, bikin kita seneng tapi ada bagian cinta
yang laen, yang perlu juga untuk kita ketahui. Bahwa cinta itu
terkadang sadis …
Yak sebelon kalian
membayangkan psikopat, pembunuhan berdarah, film perang, pembantaian
*well itu bayangan yang langsung muncul kalau mendengar kata
‘sadis’ hehehe* saya jelasin dulu apa maksud kalimat saya itu.
Terkadang cinta itu
sadis, kalimat itu keluar dari mulut saya sehabis saya baca sms dari
dd saya yang paling kecil. Tgl 19 Juli kemaren kita sekeluarga pergi
ke
Malaysia
buat nganterin dd saya sekolah di
sana
.
Well kalau dd saya
anak ‘biasa’, saya pasti ngga setuju dd saya pergi ke Malay
dianterin kita sekeluarga plus 2 tante saya. “Anak co kok pake
dianter-anterin. Jie-jienya 2 org aje ke Luar negeri berangkat
sendiri kok ini pake di anterin-anterin segala” Yah, tapi dd saya
ini memang ‘luar biasa’.
Dd saya, Yahya, tuna
runggu sejak lahir *saya pernah sebutkan dia di salah satu tulisan
saya Deni*. Dia satu-satunya anak laki-laki di keluarga saya, bungsu
pula. Saya ngga pernah tau bagaimana perasaan Papa mama saya ketika
tahu bahwa Yahya tuna runggu, dan tidak hanya sekedar tuna runggu
tapi tingkat ketuliannya cukup berat juga.
Yah sebagai keluarga
Kristen, orang beriman, kita sekeluarga tahu bahwa Tuhan itu baik.
Tapi jujur guys, buat kasus adik saya, saya tidak setuju bahwa Tuhan
itu baik. Sangat tidak setuju. Karena menurut saya Tuhan itu bukan
Tuhan yang baik, tapi Tuhan yang teramat sangat BAIK. Kata BAIK saja
tidak cukup untuk mengambarkan Tuhan yang saya liat di dalam idup
Yahya. : p
Saya melihat
bagaimana Yahya hidup lewat mukjizat demi mukjizat. Dia tetap tuna runggu sampai hari ini, tapi tangan Tuhan mnyertai dia dengan
sangat luar biasa. Setelah lulus kelas 6 SD dari SLB, Yahya
ditolak masuk ke sekolah-sekolah normal bonafide yang takut
‘peringkatnya’ turun krn ada anak cacat. Tapi Thx God, ngga bisa
masuk sekolah normal, Yahya justru malah bisa sekolah di sekolah
semi international dengan kurikulum bahasa Indonesia dan bahasa
Inggris. Sejak SMP, dia belajar Physic, Biology, English Literature
*yang ngebahas Pride and Prejudice, karya2 William Shakespeare*,
Matematik bhs Inggris, bhs Perancis dan Mandarin. Mata pelajaran
yang buat anak normal aje susahnya amit-amit, tapi Yahya memang
dijadikan tanda ajaib oleh Tuhan.
Sejak kelas 1 SMP
sampai kelas 2 SMU, dia selalu rangking 1, dapet beasiswa melulu.
Padahal dia satu2nya yang tuna runggu, temennya semua anak normal.
Belum lagi menang perlombaan ini itu. Sampe dia pernah masuk TV
diwawancara segala *buset dah, jie2nya 2 org normal, cantik2 aje
belon pernah masuk tipi!!*
Dari segi iman, saya
salut dengan imannya kepada Tuhan. Kalau malam hujan deres dengan
angin kenceng, dia kadang suka bilang sama pembokat saya, “Untung
ya saya tuna runggu, ngga bisa denger. Jadinya bisa tidur
nyenyak.” Saya suka terkagum-kagum melihat imannya yang tulus
kepada Tuhan. Bagaimana dia bersaksi sama teman-temannya yang lain.
Suatu hari pernah
ada seorang temannya *anak normal* tanya, “Kalau Tuhan itu baik
kenapa Tuhan ciptakan anak cacat seperti kamu?” Dan jawaban adik
saya mengagetkan kami sekeluarga. Dia mengutip dari Yohanes 9 : 1-3.
Tentang orang Farisi yang ketika ngeliat org buta trus tanya ini
dosa siapa. Tuhan Yesus jawab bukan dosa sapa-sapa, tapi supaya
pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia. Adik saya juga
bilang, “Kalau anak normal sukses itu biasa, tapi kalau anak cacat
sukses itu karena Tuhan.”
Yah saya pikir, ngga
apa2lah Yahya ngga bisa denger suara Papa Mamanya, keluarganya yang
penting dia bisa denger suara Bapa-Nya yang di surga. Drpd bisa
denger suara org laen tapi ngga bisa denger suara Babe?!?! Lebih
berabe lagi tuh!
Bisa dibilang Guys,
justru Yahyalah kebanggan keluarga saya. Krn papa mama saya ngga
pernah malu cerita sama temen-temen or sodara-sodara saya ttg
kondisi Yahya, saya juga ngga pernah malu. Malahan saya bangga,
sering bgt saya cerita sama temen2 saya, dosen2 saya, ttg Yahya.
Kalau ada orang yang menatap dengan tatapan prihatin, saya ketawa
dalam hati, “Kesian deh loe, ngga tau dd gue tuh orgnya kayak
apa!” : p
But guys, ketika dia
masuk SMU, pergumulan besar menanti. Kemana dia harus melanjutkan
setelah dia lulus? Saya sama mei2 saya ngga setuju Yahya kuliah di
Indonesia
. Bukan krn kita ngga cinta tanah air guys, tapi krn masyarakat Indo
belum bisa menerima org2 seperti Yahya.
Akhirnya setelah
berdoa, Tuhan membuka jalan Yahya sekolah di
Malaysia
. Di salah satu Universitas umum tapi kebetulan beberapa guru maupun
muridnya ada yang tuna runggu.
Ketika terbersit ide
untuk Yahya sekolah di
Malaysia
, mulailah pergumulan laen, yang sedikit banyak memaksa saya
berpikir, cinta itu terkadang sadis.
Tidakkah itu namanya
sadis, mengirim seorang anak yang tidak bisa mendengar tanpa sanak
saudara sekolah di luar negeri seorang diri? Bagaimana kalau dia
sakit? Siapa yang mau nolong? Bagaimana kalau dia dihina di
sana
? Diejek? Bagaimana kalau dia tidak punya teman, kesepian? Gimana
kalau sekolahnya susah? Gimana kalau dia ngga ngerti dosennya
ngomong apa??
Saya sekolah di luar
negeri guys. Saya yang anak normal yang berangkat ke
China
dengan 10 org teman, tau bahwa kesepian itu sesuatu yang merobek
jiwa saya. Kesulitan, kesendirian, itu membuat saya menangis
berhari-hari. Gimana dengan Yahya nanti??
Tidakkah itu namanya
kejam, tau bahwa Yahya pasti menderita dan mengalami kesulitan di
sana
tapi tetap mengirim dia ke
sana
?
Bukankah cinta itu
sesuatu yang seharusnya membuat kita tersenyum dan bukan menangis?
Guys, saya tau
dengan pasti. Alasan papa mama saya melepas Yahya ke
Malaysia
adalah karena cinta. Cinta yang membuat kita seolah-olah berlaku
kejam dan sadis sama Yahya. Seolah-olah membiarkan Yahya
‘kesepian’ dan menderita di
sana
.
Mungkin beberapa
orang berpikir, “Sudahlah, anak tuna runggu. Ngapain di sekolahin
tinggi-tinggi. Dikasih modal suruh buka toko aja. Beres.
Kan
yang penting dia bisa cari duit.”
Guys, kalau saya tau
bahwa Yahya punya kemampuan, punya talenta, dia bisa sekolah sampai
s1, bahkan mungkin sampai Master atau Doktor, lalu hanya karena
‘kasihan’ dan ‘tidak ingin membuat dia menangis’ kita semua
cuman bukain Yahya toko dan mengurung di Jakarta, itukah namanya
cinta? Kalau Tuhan punya impian untuk membawa Yahya ke Negara-negara
lain, tapi hanya karena pikiran picik bahwa ‘cinta tidak
seharusnya menyebabkan kamu menderita’ lalu kita ngga memberikan
Yahya kesempatan, itu kah namanya cinta?
Itu bukan cinta. Itu
namanya Bullshit.
Karena kami mencintai Yahya, kami ingin yang terbaik buat dia,
kalaupun untuk mencapai itu kita harus mengalami langkah yang
ekstrim, langkah yang dicap orang sadis, kami akan lakukan itu.
Yah guys, karena
cinta itu terkadang sadis.
Tuhan juga kadang
sadis sama kita. Tuhan kadang berpura-pura tuli ketika kita menjerit
karena Dia sedang menarik keluar sayap-sayap potensi kita. Tuhan
kadang sadis, karena Dia tau bahwa ada beberapa jalan dalam hidup
kita yang akan membawa kita kepada air mata, tapi Dia tetap bawa
kita ke
sana
. Tuhan kadang sadis, tapi Dia bukan psikopat. Tuhan terkadang
keliatan sadis karena Dia begitu mencintai kita …
Guys perbedaannya terletak pada motivasi Tuhan mengizinkan kita melewati itu
semua. Coz Dia mau kita jadi lebih bae lagi. Tuhan mau mengeluarkan
segala yang terbaik di dalam diri kita, dan seringkali cara terbaik
untuk mengeluarkannya adalah dengan melakukan apa yang menurut kita
’sadis’.
Yahya, jangan dikira
Papa, Mama, Jie Anie, Kakak Lisa, Suster dan Mbak Nik ngga nangis
ketika kamu menangis. Dan jangan pernah berpikir Tuhan diam ketika
kamu mengeluh. Tuhan tidak pernah diam. Dia tidak pernah salah, dan
Dia tau apa yang sedang Dia lakukan.
Sudah bertahun-tahun
kamu bawa berkat di dalam keluarga kita. Terlalu egois dan terlalu
picik kalau kami cuman mau ‘menyimpan’ kamu di rumah. Ngga
semestinya salah satu ‘permata’ Tuhan hanya dinikmati oleh
segelintir orang. Ngga seharusnya karya Tuhan yang nyata di dalam
idupmu, hanya dilihat oleh sekelompok orang.
Tempat terbaik untuk
masterpiece Allah bukan di ruang terkunci di dalam rumah seorang
kolektor, tapi di tempat terbuka, untuk dinikmati oleh banyak orang.
Kamu tidak
diciptakan untuk disimpan di dalam satu kotak. Kamu diciptakan untuk
bersinar bagi dunia. Untuk pergi ke bangsa-bangsa.
Terlalu sayang kalau
karya Tuhan di dalam hidupmu hanya dilihat oleh sedikit orang …
terlalu sayang. Dan keluarga kita adalah keluarga yang sangat egois,
kalau kami melarangmu pergi.
Kamu harus pergi ke
bangsa-bangsa. Membuka mata mereka bahwa Tuhan itu hidup. Tuhan itu
ada dan Tuhan itu baik …
Maafkan kami kalau
cinta kami terkadang sadis … kalau Papa Mama, Suster, Jie Anie,
Kak Lisa, Mbak Nik, kadang sadis sama kamu. Maafkan kami kalau kami
tidak pernah memberikan kamu perkecualian karena kamu tuna runggu,
memaksamu belajar bicara, memperlakukanmu seperti anak normal, yah
kami akui kadang kami memang sadis.
Tapi itu semata-mata
karena kami terlalu sayang sama kamu. Kami ngga mau kamu cuman jadi
anak biasa-biasa aja, ngga bisa bicara, ngga bisa sekolah, ngga bisa
ngapa-ngapain. Ngga … kami ngga mau kamu jadi seperti itu. Karena
itu maafkan kami. Maafkan karena kami begitu sayang sama kamu …
Dan Tuhan, sekarang
aku mengerti. Sedikit mengerti. Mengapa Tuhan kadang sadis sama aku.
Itu semata-mata karena Tuhan Yesus sayang sama aku
kan
? Krn Tuhan ngga mau aku cuman jadi anak Tuhan yang biasa-biasa
saja, ngga bisa ngapa-ngapain …
Makasih karena Tuhan
mau ‘menghajar’ aku. Makasih karena sudah jadi Tuhan yang
‘sadis’. aku percaya yang mengerakkan ke’sadis’an-Mu bukan
dendam, bukan amarah, tapi cinta …
Jkt, 27 Juli 2006
|