Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 


Dibaca: 1516 kali






Peer Pressure
Oleh: Grace Suryani


Guys, hehehe judulnya ABG banget yak :p Tadinya ngga saya pikir saya tuh masih bergumul dengan masalah Peer Pressure. Masalah pergaulan, itu kan kayaknye masalah anak2 SMP-SMU sampe yah masa awal kuliah lah. Lah ini saya udeh mau lulus, kok masih bergumulnye dgn masalah temen-temen. Ckckckck.

Yah kenyataannya begitu. Masalah saya bukan masalah berkata TIDAK untuk ajakan-ajakan yang ngga bener, tapi masalah saya adalah saya takut di-cap aneh, freak, sama temen-temen saya. Intinya saya takut ditolak sama lingkungan saya. Sehingga akhirnya saya kompromi dan saya menurunkan standart saya.

Guys, saya tau panggilan hidup saya. Membagikan hidup saya dengan orang lain, cerita apa yang Tuhan lakukan dalam hidup saya. Dan saya tau sama seperti anak-anak Tuhan yang lain, Tuhan punya rencana yang BESAR dalam idup saya. Tapi masalahnya, sebelon Tuhan bisa pakai saya, saya harus diproses dulu, ngalamin banyak hal, menghadapi banyak masalah. Saya tau akan hal ini, dan saya terima. Ya sudah, emank gue pengen kok Tuhan pake gue.

Masalahnya timbul justru setelah saya diproses! Setelah saya diproses, kerohanian saya maju pesat *semestinya saya seneng toh! Tapi ternyata ngga!!* Karena ketika kerohanian saya maju pesat, hubungan saya dengan Tuhan bener-bener deket, tiba-tiba saya menyadari saya seperti kehilangan teman-teman saya. Tiba-tiba mereka tidak lagi bisa mengerti saya, dan saya juga tidak lagi bisa mengerti mereka. Yang buat mereka ini masalah besar, buat saya itu bukan masalah. Sebaliknya apa yang buat saya masalah *dosa-dosa, motivasi-motivasi yang tidak bener*, buat mereka bukan masalah. "Semua orang kan begitu, Grace" "Yah maklum, kita kan manusia"

Dan tiba-tiba saya takut, saya takut untuk terus maju di dalam Tuhan. Setan memakai kesempatan itu dengan bilang, "Iya, kalau loe maju terus, ntar loe tambah kudus. Ntar loe ngga punya temen!! Kagak ada yang mau temenan sama org kudus tau!!" Akhirnya saya menyerah. Daripada saya harus kehilangan temen-temen saya, mendingan saya turunin standart saya.

Guys, jangan salah, yang sebut "temen-temen" itu bukan orang non percaya loh. Semua temen deket saya itu anak Tuhan. Tapi sayangnya, baru sedikit dari antara mereka yang bener-bener mau menyerahkan hidup mereka untuk Tuhan. Padahal Guys, tingkat penyerahan kita sama Tuhan untuk mempengaruhi seberapa dalam cinta kita sama Tuhan, seberapa dalam pengenalan kita akan Tuhan.

Yah saya jadikan fakta bahwa temen-temen saya itu anak Tuhan juga untuk menjadikan excuse untuk ngga terlalu sungguh-sungguh sama Tuhan. "Dia aja ngga begitu kok Tuhan, kenape gue mesti serius-serius amat?!?!" Toh saya masih dalam lingkungan "persekutuan", itu dalih saya. Padahal saya tau, Tuhan mau saya lebih sungguh-sungguh lagi.

Lama-lama idup saya mundur. Saya sengaja cari "masalah" buat bisa ngobrol sama mereka. Saya tau sebenernya apa yang saya "curhatkan" itu sebenernya bukan masalah tapi drpd ngga ada obrolan sama mereka, lebih bae saya bikin masalah. Dan dengan bodohnya saya jatuh.

Saya berputar-putar di dalam masalah yang saya ciptakan sendiri.

Untung Guys, teramat sangat untung. Tuhan ngga mau lepasin saya. Tuhan tau kalau saya lakukan itu, idup saya pasti hancur. Tuhan sengaja lakukan banyak cara untuk membuat saya sadar. Saya salah!! Saya SALAH BESAR krn saya lebih takut kehilangan temen drpd kehilangan Tuhan.

Saya masuk ke lingkungan setan yang membuat saya makin depresi. Temen-temen yang saya pikir bisa mengerti saya, ternyata tidak kunjung bisa mengerti. Orang-orang yang saya harapkan ada, justru mengecewakan saya. Hubungn saya sama Tuhan kacau balau dan saya terjerumus makin dalam ke dalam sikap mengasihani diri sendiri, ber-mellow-mellow setiap hari.

Yang membuka mata saya, justru dd co saya. Dia nulis di blognya dia. Awalnya dia kesepian sekali di Malaysia , ngga punya temen blablabla. But akhirnya dia sadar Tuhan mau suruh dia menyerahkan hak-haknya dia. Termasuk diantaranya hak punya temen, hak untuk dimengerti, hak untuk disayang.

Dan saya diem. Saya salut dd saya berani ambil keputusan ini.

Dd co saya cerita setelah dia menyerahkan haknya tiba-tiba dia ngerasa plong, damai sejahtera banget. Dia ngga lagi pusink tau dia ngga punya temen, coz yang penting dia tau Tuhan sayang sama dia. Wow. Kemerdekaan yang luar biasa. *guys, ini alamat blognya, baca sendiri aja deh http://freak4mu.blogs.friendster.com/yahyas_advanture/2006/07/first_week_in_m.html#comments*

Guys, saya ngerasa Tuhan bener-bener pengen saya menyerahkan semua hak saya. Tapi pada awalnya saya masih ragu-ragu. Bayangin aja Tuhan, ntar gmana nasib gue kalau gue ngga punya temen? Kalau gue kesepian gmana?? Kalau ngga ada yg merhatiin ntar gmana??

Tuhan kasih saya ayat ini

"Jesus said: I'm the Bread of Life. The person who aligns with Me hungers no more and thirsts no more." John 6 : 35 *The Message*

Guys, sekalipun saya betul bener-bener nangkep apa sih maksudnya Tuhan itu roti hidup, tapi yang saya pegang, kalau saya bersekutu dengan Tuhan, Dia ngga akan biarin saya "kelaparan" dan "kehausan". Dia akan memuaskan semua kebutuhan saya.

Tuhan tau kadang 1 ayat itu ngga buat saya *maklum saya ini kadang agak bebal*, dikasih lagi ayat laen

"You're blessed when you feel you've lost what is most dear to you. Only then can you be embraced by the ONE most dear to you" Matthew 5: 4 *The Message*

Wow, dalem bow. Btw guys saya sampe cari di kamus definisi dari embraced. Menurut Longman dictionary, embraced = to take and hold someone as a SIGN OF LOVE.

Akhirnya saya merelakan hak-hak pribadi saya *hak untuk punya temen, hak dimengerti oleh orang lain, hak untuk diperhatikan* dan saya menerima uluran persahabatan yang sejati dari tangan Tuhan Yesus.

Sebagai penutup ada 1 puisi yang bagus banget. Dari Kiro di www.donghaeng.net

Dong Haeng *tong hang*

we are travellers who ought to go a long journey before us

though each one of us started this journey at a different time.

some are walking lightly, some are walking even one step very heavily.

 

nobody knows when this journey ends, but everyone knows there is an ends.

 

because the way we are walking on is lonely and tough,

we all are seeking for a partner to walk together.

 

we think that if there's somebody to love me, and to be with me,

 

the journey won't be a problem.

 

that only with enough expenditure,

this long journey won't be so tough.

 

that provided many people acknowledge me,

I might even enjoy this journey.

 

but we are missing that it is impossible for anyone to walk together with us

till the end.

 

nobody can lead us from the end of this journey into a new one

except him only...

 

There are several people who are carrying a cross

sometimes they feel pressured by the cross

but knowing the value of it they walk with gladness

 

Many are walking without knowing the value of walking with him

Other have gone for someone else forgetting the importance of walking with him.

 

Those who are walking with him to introduce the true companionship to others

 

Those who are far from this fellowship need to remember.

that he is waiting for them to walk together again.

 

And those who have not found the true friend yet on this journey

 

would meet Him now... Now...

 

Jkt, 5 Agustus 2006

 Dear JC, what a great joy to have such a friend who leads my way : ))

Can we walk together again, Lord?

 

Thx to tepen. Thx cape2 ngetikin puisinye. Hehehe. Maklum internet indo, ngga bisa dibandingin ama wirelessnya Flynn Park donk.