|
Peer Pressure
Oleh: Grace Suryani
Guys, hehehe
judulnya ABG banget yak :p Tadinya ngga saya pikir saya tuh masih
bergumul dengan masalah Peer Pressure. Masalah pergaulan, itu
kan
kayaknye masalah anak2 SMP-SMU sampe yah masa awal kuliah lah. Lah
ini saya udeh mau lulus, kok masih bergumulnye dgn masalah
temen-temen. Ckckckck.
Yah kenyataannya
begitu. Masalah saya bukan masalah berkata TIDAK untuk ajakan-ajakan
yang ngga bener, tapi masalah saya adalah saya takut di-cap aneh,
freak, sama temen-temen saya. Intinya saya takut ditolak sama
lingkungan saya. Sehingga akhirnya saya kompromi dan saya menurunkan
standart saya.
Guys, saya tau
panggilan hidup saya. Membagikan hidup saya dengan orang lain,
cerita apa yang Tuhan lakukan dalam hidup saya. Dan saya tau sama
seperti anak-anak Tuhan yang lain, Tuhan punya rencana yang BESAR
dalam idup saya. Tapi masalahnya, sebelon Tuhan bisa pakai saya,
saya harus diproses dulu, ngalamin banyak hal, menghadapi banyak
masalah. Saya tau akan hal ini, dan saya terima. Ya sudah, emank gue
pengen kok Tuhan pake gue.
Masalahnya timbul
justru setelah saya diproses! Setelah saya diproses, kerohanian saya
maju pesat *semestinya saya seneng toh! Tapi ternyata ngga!!* Karena
ketika kerohanian saya maju pesat, hubungan saya dengan Tuhan
bener-bener deket, tiba-tiba saya menyadari saya seperti kehilangan
teman-teman saya. Tiba-tiba mereka tidak lagi bisa mengerti saya,
dan saya juga tidak lagi bisa mengerti mereka. Yang buat mereka ini
masalah besar, buat saya itu bukan masalah. Sebaliknya apa yang buat
saya masalah *dosa-dosa, motivasi-motivasi yang tidak bener*, buat
mereka bukan masalah. "Semua orang
kan
begitu, Grace" "Yah maklum, kita
kan
manusia"
Dan tiba-tiba saya
takut, saya takut untuk terus maju di dalam Tuhan. Setan memakai
kesempatan itu dengan bilang, "Iya, kalau loe maju terus, ntar
loe tambah kudus. Ntar loe ngga punya temen!! Kagak ada yang mau
temenan sama org kudus tau!!" Akhirnya saya menyerah. Daripada
saya harus kehilangan temen-temen saya, mendingan saya turunin
standart saya.
Guys, jangan salah,
yang sebut "temen-temen" itu bukan orang non percaya loh.
Semua temen deket saya itu anak Tuhan. Tapi sayangnya, baru sedikit
dari antara mereka yang bener-bener mau menyerahkan hidup mereka
untuk Tuhan. Padahal Guys, tingkat penyerahan kita sama Tuhan untuk
mempengaruhi seberapa dalam cinta kita sama Tuhan, seberapa dalam
pengenalan kita akan Tuhan.
Yah saya jadikan
fakta bahwa temen-temen saya itu anak Tuhan juga untuk menjadikan
excuse untuk ngga terlalu sungguh-sungguh sama Tuhan. "Dia aja
ngga begitu kok Tuhan, kenape gue mesti serius-serius amat?!?!"
Toh saya masih dalam lingkungan "persekutuan", itu dalih
saya. Padahal saya tau, Tuhan mau saya lebih sungguh-sungguh lagi.
Lama-lama idup saya
mundur. Saya sengaja cari "masalah" buat bisa ngobrol sama
mereka. Saya tau sebenernya apa yang saya "curhatkan" itu
sebenernya bukan masalah tapi drpd ngga ada obrolan sama mereka,
lebih bae saya bikin masalah. Dan dengan bodohnya saya jatuh.
Saya berputar-putar
di dalam masalah yang saya ciptakan sendiri.
Untung Guys, teramat
sangat untung. Tuhan ngga mau lepasin saya. Tuhan tau kalau saya
lakukan itu, idup saya pasti hancur. Tuhan sengaja lakukan banyak
cara untuk membuat saya sadar. Saya salah!! Saya SALAH BESAR krn
saya lebih takut kehilangan temen drpd kehilangan Tuhan.
Saya masuk ke
lingkungan setan yang membuat saya makin depresi. Temen-temen yang
saya pikir bisa mengerti saya, ternyata tidak kunjung bisa mengerti.
Orang-orang yang saya harapkan ada, justru mengecewakan saya.
Hubungn saya sama Tuhan kacau balau dan saya terjerumus makin dalam
ke dalam sikap mengasihani diri sendiri, ber-mellow-mellow setiap
hari.
Yang membuka mata
saya, justru dd co saya. Dia nulis di blognya dia. Awalnya dia
kesepian sekali di
Malaysia
, ngga punya temen blablabla. But akhirnya dia sadar Tuhan mau suruh
dia menyerahkan hak-haknya dia. Termasuk diantaranya hak punya
temen, hak untuk dimengerti, hak untuk disayang.
Dan saya diem. Saya
salut dd saya berani ambil keputusan ini.
Dd co saya cerita
setelah dia menyerahkan haknya tiba-tiba dia ngerasa plong, damai
sejahtera banget. Dia ngga lagi pusink tau dia ngga punya temen, coz
yang penting dia tau Tuhan sayang sama dia. Wow. Kemerdekaan yang
luar biasa. *guys, ini alamat blognya, baca sendiri aja deh
http://freak4mu.blogs.friendster.com/yahyas_advanture/2006/07/first_week_in_m.html#comments*
Guys, saya ngerasa
Tuhan bener-bener pengen saya menyerahkan semua hak saya. Tapi pada
awalnya saya masih ragu-ragu. Bayangin aja Tuhan, ntar gmana nasib
gue kalau gue ngga punya temen? Kalau gue kesepian gmana?? Kalau
ngga ada yg merhatiin ntar gmana??
Tuhan kasih saya
ayat ini
"Jesus
said: I'm the Bread of Life. The person who aligns with Me hungers
no more and thirsts no more." John 6 : 35 *The Message*
Guys, sekalipun saya
betul bener-bener nangkep apa sih maksudnya Tuhan itu roti hidup,
tapi yang saya pegang, kalau saya bersekutu dengan Tuhan, Dia ngga
akan biarin saya "kelaparan" dan "kehausan". Dia
akan memuaskan semua kebutuhan saya.
Tuhan tau kadang 1
ayat itu ngga buat saya *maklum saya ini kadang agak bebal*, dikasih
lagi ayat laen
"You're
blessed when you feel you've lost what is most dear to you. Only
then can you be embraced by the ONE most dear to you" Matthew
5: 4 *The Message*
Wow, dalem bow. Btw
guys saya sampe cari di kamus definisi dari embraced. Menurut
Longman dictionary, embraced = to take and hold someone as a SIGN OF
LOVE.
Akhirnya saya
merelakan hak-hak pribadi saya *hak untuk punya temen, hak
dimengerti oleh orang lain, hak untuk diperhatikan* dan saya
menerima uluran persahabatan yang sejati dari tangan Tuhan Yesus.
Sebagai penutup ada
1 puisi yang bagus banget. Dari Kiro di www.donghaeng.net
Dong
Haeng *tong hang*
we
are travellers who ought to go a long journey before us
though
each one of us started this journey at a different time.
some
are walking lightly, some are walking even one step very heavily.
nobody
knows when this journey ends, but everyone knows there is an ends.
because
the way we are walking on is lonely and tough,
we
all are seeking for a partner to walk together.
we
think that if there's somebody to love me, and to be with me,
the
journey won't be a problem.
that
only with enough expenditure,
this
long journey won't be so tough.
that
provided many people acknowledge me,
I
might even enjoy this journey.
but
we are missing that it is impossible for anyone to walk together
with us
till
the end.
nobody
can lead us from the end of this journey into a new one
except
him only...
There
are several people who are carrying a cross
sometimes
they feel pressured by the cross
but
knowing the value of it they walk with gladness
Many
are walking without knowing the value of walking with him
Other
have gone for someone else forgetting the importance of walking with
him.
Those
who are walking with him to introduce the true companionship to
others
Those
who are far from this fellowship need to remember.
that
he is waiting for them to walk together again.
And
those who have not found the true friend yet on this journey
would
meet Him now... Now...
Jkt, 5 Agustus 2006
Dear JC, what
a great joy to have such a friend who leads my way : ))
Can we walk together
again, Lord?
Thx to tepen. Thx
cape2 ngetikin puisinye. Hehehe. Maklum internet indo, ngga bisa
dibandingin ama wirelessnya
Flynn
Park
donk.
|