Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 


Dibaca: 1227 kali






Stand Alone
Oleh: Grace Suryani


Guys, saya baru sadar betapa pentingnya pengaruh pergaulan. Kata Alkitab, "Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik." Sepintas keliatannya klise, tapi sebenernya itu bener banget. Saya inget ada seorang guru saya yang pernah mengutip kata-kata seorang bijak dari Inggris, "Show me your friends, and I'll show you your future." Kedengerannya terlalu berlebihan, but that's true!!

Dan saya lagi mengalami masalah ini. :p Masalah pergaulan. Sepintas keliatannya kecil, tapi efeknya besar, karena itu mempengaruhi bagaimana saya mengatur waktu dan akhirnya mempengaruhi waktu saya dengan Tuhan. Saya ini org yang suka rame-rame, suka ngobrol, suka becanda, aduh guys kalo udeh becanda kadang susah berhenti *lack of self control!* Saya enjoy menghabiskan waktu dengan teman-teman saya.

Tapi semester ini, well benernya mulai dari akhir semester kemaren, ada suatu perasaan aneh di hati saya. Suatu perasaan aneh yang berusaha saya singkirkan tapi tidak bisa saya singkirkan, karena entah kenapa saya tau perasaan itu benar.

"Nik, stop maen-maen! Berikan waktu lebih banyak untuk Tuhanmu. Kamu harus mempersiapkan dirimu baik-baik. Ada pekerjaan besar yang harus kamu lakukan."

Saya tau mungkin keliatannya aneh, gue itu sapa. Tapi perasaan itu ngga bisa hilang. Bersamaan dengan munculnya perasaan itu, muncul pula perasaan, kerinduan untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan Tuhan. Kerinduan untuk lebih banyak berdoa, membaca alkitab.

Tapi sayang beribu sayang, begitu saya kembali ke China , waktu saya dengan Tuhan banyak sekali terpotong. :(( Saya tidak bisa berkata "TIDAK" terhadap ajakan teman-teman saya. Dan biasanya sekali udeh ketemu, suruh saya pulang tuh susah banget.

Akhirnya saya terjebak dalam lingkaran rasa bersalah terhadap Tuhan, dan kekecewaan kepada diri saya sendiri. Kenapa saya tidak bisa berkata. "TIDAK"??? Saya kecewa melihat banyak waktu saya yang terbuang sia-sia, hanya untuk bergossip.

Tapi guys, di sisi laen, kadang saya merasa "sayang" untuk meninggalkan temen-temen saya. Saya kan masih muda, apa salahnya saya seneng-seneng!? Kenapa gue harus peduli dengan masa depan gue?! Kenapa gue ngga bisa mengatur waktu gue sesuka gue? Gue mau gimana terserah gue.

Ah guys, andai saya bisa ceritakan apa yang ada di hati saya. Bagaimana kencangnya desakan Roh Kudus untuk saya berhenti main-main dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan Tuhan. Kadang saya merasa saya takut dicap sebagai orang aneh. Freak. Nerd. Sok Kudus.

Saya berpikir, ah Tuhan senangnya kalo saya bisa lakukan dua-duanya. Kalau saya bisa menghabiskan waktu dengan Tuhan dan juga tetep seneng-seneng dengan teman-teman saya. Tapi saya tahu, saya mesti memilih. Tuhan, atau teman-teman saya.

Kemaren sore, Roh Kudus mengingatkan saya akan 1 kalimat, "with great power comes great responsibility."

"Nik, kamu tau apa panggilanmu. Dan kamu tau ada harga yang harus kamu bayar untuk panggilanmu."

Saya bilang, "Ya Tuhan, aku tau. Aku tau harga panggilanku itu seharga nyawaku. Aku tau kalo aku berjalan dalam panggilanku, banyak yang harus aku korbankan, Waktuku, kesenanganku, teman-temanku, bahkan mungkin termasuk nyawaku. Tapi Tuhan, aku ngga tau akan seberat ini, akan sesakit ini."

Jie-jie rohani saya menghibur saya. Dia bilang, "Grace, mestinya kamu bersyukur. Ngga semua orang, ngga semua Anak Tuhan dapat kehormatan untuk tahu panggilan Tuhan dari masa mudanya."

Saya tau guys, tapi entah kenapa hati saya tetap sakit memikirkan saya harus mengorbankan banyak hal untuk menjalani panggilan saya, memenuhi rencana Tuhan dalam hidup saya.

Thx God, Tuhan ngga pernah meninggalkan saya. Pagi ini saya baca sebuah puisi yang bagus sekali. Puisi ini saya ambil dari buku Menikmati Kemustahilan-Maqdalene Kawotjo

 

STAND ALONE - MARK ROTH

The Lord, He is God (1 Raja-raja 18:20-21, 30-39)

*huruf besar dan huruf cetak miring, saya tambahkan*

 

Allah dan kebenaran-kebenaranya harus senantiasa dinyatakan

Sekalipun hanya engkau sendiri yang melakukannya

Tidak peduli bagaimana Ia dihina, tetaplah BERDIRI

Tidak peduli bagaimana Firman-Nya direndahkan, tetaplah BERDIRI

 

Berdirilah sekalipun engkau harus melakukannya sendiri.

Bersiaplah untuk melakukannya sendiri, namun tidak dalam Firman sendiri

Sekalipu yang lain mengatakan kebenaran namun hidup di bawah standart itu,

Berdirilah sendiri dalam Firman dan perbuatan

 

Ketika mereka yang berada di sekelilingmu mencari kepuasan melalui ketidak taatan

Hiduplah dalam Tuhanmu sekalipun engkau harus melakukannya sendiri

Ketika yang lain bertoleransi, bahkan mengizinkan ketidak konsistenan

Berdirilah untuk integritas dan pernyataan hidup

Sekalipun hanya engkau yang melakukannya sendiri

Ketika yang lain menghargai hidup dari materialisme

Berdirilah untuk hal hal rohani dan hal-hal yang kekal

 

Ketika yang lain membengkokkan hokum dan kewajiban (sekalipun dalam hal kecil)

Berdirilah untuk suatu penundukkan dan ketaatan

Ketika yang lain memberi kebebasan tubuhnya melalui kenikmatan dunia

Berdirilah untuk menundukkan daging dalam kematian

Ketika mereka yang berada di sekitarmu secara perlahan menurunkan derajat moral mereka

Berdirilah untuk kekudusan total

 

Jangan pernah mengorbankan kebenaran sebagai sahabt karibmu

Berdirilah sendiri jika engkau harus melakukannya!

Sekalipun engkar harus kehilangan teman dan menimba lawan,

Sekalipun hal itu membawa ketidak nyamanan, BERDIRILAH

Sekalipun engkau dihina dan diolok, BERDIRILAH

Sekalipun menakutkanmu dan melelahkanmu, BERDIRILAH

Sekalipun engkau disebut radikal, BERDIRILAH

Ketika pilihannya berdiri antara kebenaran atau jatuh kepada kesalahan, BERDIRILAH

Ketika pilihannya berdiri antara pernyataan benar atau miring kepada kenikmatan, BERDIRILAH

Sekalipun engkau merasa sendiri, BERDIRILAH

Sendiri jika engkau harus

 

Ingatlah mereka yang berdiri dengan Allah, tidak akan pernah berdiri sendiri

Mereka yang tidak dapat berdiri untuk Allah, suatu hari nanti (dan selamanya dalam kekekalan) akan berdiri sendiri .

 

Papa saya pernah berkata, "Nik, kalau kamu ikut Tuhan, makin lama makin naik. Dan makin ke atas, orangnya makin sedikit. Sampai akhirnya kamu hanya berjalan berdua dengan Tuhan."

Mungkin kedengarannya wuihh serem, tapi saya tau. Kekristenan itu bukan rombongan. Kekristenan itu hubungan pribadi dengan Tuhan. Karena nanti, suatu hari kelak, saya harus berdiri sendiri di hadapan Tuhan, untuk mempertanggung jawabkan hidup saya.

Dan saya memilih berdiri sendiri di dunia, daripada berdiri sendiri sepanjang kekekalan.

 



China

, 4 Oktober 2006