Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 


Dibaca: 1314 kali






Right Here Waiting
Oleh: Grace Suryani


Akhir-akhir ini tiap hari kerjaan tetap saya ‘menunggu’. Mulai dari pagi-pagi subuh dah nonkrong di halte bus menunggu sesama guru yang juga berangkat pelatihan. Tadi siang ‘terpaksa’ menunggu lagi … dan menunggu lagi. Polusi, asap kendaraan *mo begimana, Jakarta polusinya kayak gini …*, disuitin kenek metromini, diklasokin sopir taxi, dipanggil-panggil tukang ojek, udeh jadi ritual sehari-hari …

Benernya bukan polusi yang paling bikin saya males nunggu. Bukan juga orang-orang isenk yang nyuitin, manggilin, ngelaksonin … bukan itu. Tapi kepastian akankah orang yang saya tunggu itu datang??

Hari pertama saya sempat panic, bayangkan janji jam 6.15 sampe 6.30 belon dateng padahal kita mesti pelatihan di daerah Slipi yang macetnya ajubile bin jalil. Sempat ada rasa was-was, jangan-jangan tadi gue dah ditinggal? Tapi sepertinya ngga mungkin coz saya dah stand by dari jam 6.00 teng!! Ataukah gue berdiri di tempat yang salah?? Atau … dan seribu atau yang laen.

Hari kedua, saya menunggu sopir saya lebih dari 1 jam … lagi-lagi seribu pertanyaan yang muncul. Jangan-jangan pak sopir lupa jemput saya en langsung ke airport. Atau jangan-jangan dia tunggu dia tempat laen? Sampe yg terburuk, jangan-jangan ada apa-apa …

Selama menunggu ada kira2 15 taxi bluebird yang lewat en nawarin saya untuk naek taxi. Belon lagi bajaj, taxi2 non blue bird, tukang ojek. Sampe orang isenk … aiya. Sempet tergoda juga sih, “Apa sudah naek taxi aja??” But akhirnya saya tetap menunggu karena suster saya meyakinkan, pasti dateng. Ya sudah. Saya berdiri ditemenin pak satpam …

Guys, pernahkah kalian merasa hidup kalian seperti itu? Menunggu sesuatu yang tidak pasti? Menunggu jawaban yang tidak kunjung tiba … telepon yang ngga kunjung berdering. Email yang tidak kunjung sampai. Dan ketika kita bertanya pada Tuhan, Tuhan seolah diam …

Menyakitkan rasanya.

Ketika harus menunggu di tengah kesunyian, kadang iman itu jadi goyah. Berbagai what if muncul. Gimana kalo Tuhan lupa? Gimana kalo Tuhan ngga peduli? Atau gmana kalo benernya Tuhan sudah ngomong tapi gue ngga denger?? Hiks …

 Ayat saat teduh hari ini berbicara

 

“God proves to be good to the man who passionately waits, to the woman who diligently seeks.

It’s a good thing to quietly hope, quietly hope for help from God.

It’s a good thing when u’re young to stick it out through the hard times.

When life is heavy and hard to take, go off by yourself. Enter the silence. Bow in prayer. Don’t ask questions; wait for hope to appear.

Don’t run from trouble. Take it full face.” Lamentations 3:25-30

 

Saya tersentak dengan kata ‘passionately waits’. Jujur dah guys, saya mah hopelessly wait :p

Ketika saya menunggu dan ‘mobil demi mobil yang lewat bukan mobil yang saya tunggu’ rasanya hati saya pecah satu per satu. Gmana bisa passionately wait?? Tiap kali ada mobil yang berjalan ke arah saya, harapan saya melambung dan ketika mobil itu pergi, harapan saya pupus. Setelah 20 mobil lewat yang berarti 20 kali saya kecewa, saya memutuskan untuk tidak berharap lagi. Hehehe.

But ternyata bukan menunggu seperti itu yang Tuhan mau. Tuhan mau saya menunggu dan berharap bukan pada mobil lewat atau pada orang tapi pada Tuhan.

Kalau kita berharap pada manusia guys … pertama-tama passionately lama-lama passion-nya padam. Karena memang berharap pada manusia itu sia-sia …

Kita akan bisa passionately wait kalo kita berharap pada Tuhan. Karena kasih setia Tuhan kita berkesudahan, selalu baru tiap pagi.

Guys ketika saya mengetik kata-kata di atas, saya masih harus tetap menunggu :) dan telepon yang saya tunggu dari 2 jam yg lalu masih belom juga berdering *heeemm* tapi saya belajar untuk percaya. Bahwa Tuhan tidak pernah terlambat.

Telepon itu akan berdering pada saat yang tepat, karena Dia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya (bukan pada waktuku)

 

Jakarta, 28 Juni 2007

 

Zhu a, wo zhi dao ni liao jie wo de xin