|
Right Here Waiting
Oleh: Grace Suryani
Akhir-akhir
ini tiap hari kerjaan tetap saya ‘menunggu’. Mulai dari
pagi-pagi subuh dah nonkrong di halte bus menunggu sesama guru yang
juga berangkat pelatihan. Tadi siang ‘terpaksa’ menunggu lagi
… dan menunggu lagi. Polusi, asap kendaraan *mo begimana, Jakarta
polusinya kayak gini …*, disuitin kenek metromini, diklasokin
sopir taxi, dipanggil-panggil tukang ojek, udeh jadi ritual
sehari-hari …
Benernya
bukan polusi yang paling bikin saya males nunggu. Bukan juga
orang-orang isenk yang nyuitin, manggilin, ngelaksonin … bukan
itu. Tapi kepastian akankah orang yang saya tunggu itu datang??
Hari
pertama saya sempat panic, bayangkan janji jam 6.15 sampe 6.30 belon
dateng padahal kita mesti pelatihan di daerah Slipi yang macetnya
ajubile bin jalil. Sempat ada rasa was-was, jangan-jangan tadi gue
dah ditinggal? Tapi sepertinya ngga mungkin coz saya dah stand by
dari jam 6.00 teng!! Ataukah gue berdiri di tempat yang salah?? Atau
… dan seribu atau yang laen.
Hari
kedua, saya menunggu sopir saya lebih dari 1 jam … lagi-lagi
seribu pertanyaan yang muncul. Jangan-jangan pak sopir lupa jemput
saya en langsung ke airport. Atau jangan-jangan dia tunggu dia
tempat laen? Sampe yg terburuk, jangan-jangan ada apa-apa …
Selama
menunggu ada kira2 15 taxi bluebird yang lewat en nawarin saya untuk
naek taxi. Belon lagi bajaj, taxi2 non blue bird, tukang ojek. Sampe
orang isenk … aiya. Sempet tergoda juga sih, “Apa sudah naek
taxi aja??” But akhirnya saya tetap menunggu karena suster saya
meyakinkan, pasti dateng. Ya
sudah. Saya berdiri ditemenin pak satpam …
Guys,
pernahkah kalian merasa hidup kalian seperti itu? Menunggu sesuatu
yang tidak pasti? Menunggu jawaban yang tidak kunjung tiba …
telepon yang ngga kunjung berdering. Email yang tidak kunjung
sampai. Dan ketika kita bertanya pada Tuhan, Tuhan seolah diam …
Menyakitkan
rasanya.
Ketika
harus menunggu di tengah kesunyian, kadang iman itu jadi goyah.
Berbagai what if muncul. Gimana kalo Tuhan lupa? Gimana kalo Tuhan
ngga peduli? Atau gmana kalo benernya Tuhan sudah ngomong tapi gue
ngga denger?? Hiks …
Ayat
saat teduh hari ini berbicara
“God
proves to be good to the man who passionately waits, to the woman
who diligently seeks.
It’s
a good thing to quietly hope, quietly hope for help from God.
It’s
a good thing when u’re young to stick it out through the hard
times.
When
life is heavy and hard to take, go off by yourself. Enter the
silence. Bow in prayer. Don’t ask questions; wait for hope to
appear.
Don’t
run from trouble. Take it full face.” Lamentations 3:25-30
Saya
tersentak dengan kata ‘passionately waits’. Jujur
dah guys, saya mah hopelessly wait :p
Ketika
saya menunggu dan ‘mobil demi mobil yang lewat bukan mobil yang
saya tunggu’ rasanya hati saya pecah satu per satu. Gmana bisa
passionately wait?? Tiap kali ada mobil yang berjalan ke arah saya,
harapan saya melambung dan ketika mobil itu pergi, harapan saya
pupus. Setelah 20 mobil lewat yang berarti 20 kali saya kecewa, saya
memutuskan untuk tidak berharap lagi. Hehehe.
But
ternyata bukan menunggu seperti itu yang Tuhan mau. Tuhan mau saya
menunggu dan berharap bukan pada mobil lewat atau pada orang tapi
pada Tuhan.
Kalau
kita berharap pada manusia guys … pertama-tama passionately
lama-lama passion-nya padam. Karena memang berharap pada manusia itu
sia-sia …
Kita
akan bisa passionately wait kalo kita berharap pada Tuhan. Karena
kasih setia Tuhan kita berkesudahan, selalu baru tiap pagi.
Guys
ketika saya mengetik kata-kata di atas, saya masih harus tetap
menunggu :) dan telepon yang saya tunggu dari 2 jam yg lalu masih
belom juga berdering *heeemm* tapi saya belajar untuk percaya. Bahwa
Tuhan tidak pernah terlambat.
Telepon
itu akan berdering pada saat yang tepat, karena Dia membuat segala
sesuatu indah pada waktu-Nya (bukan pada waktuku)
Jakarta, 28 Juni 2007
Zhu
a, wo zhi dao ni liao jie wo de xin
|