|
Pelajaran Menanti
Oleh: Grace Suryani
Subuh
pagi ini, bukan subuh yang baik untuk berangkat kerja. Ujan
rintik-rintik en langitnya gelap sekali, ngga kayak biasanya.
Sesampainya saya di posisi favorite beberapa hari belakangan ini
(tepat di bawah tanda McD yang segede bagong), saya duduk di atas
pagar yang jerujinya udeh kepotong. Nungguin sesama guru mandarin
yang akan pergi ke pelatihan.
Suasana
tadi pagi lebih sendu (ceila bahasanyeee), ujan makin lama makin
deras, metromini 47 seliweran, Patas AC 11, sopir bajaj yang
mondari, sedangkan saya duduk manis berlindung di bawa payung pink.
Yup saya kembali menunggu.
Sekalipun
suasana tadi pagi lebih sendu tapi entah kenapa saya ngga merasa
menunggu di bawah ujan sebagai sesuatu yang menyiksa. Saya mulai
menikmati ‘perasaan menunggu’.
Ketika
saya menunggu, saya melihat banyak hal yang selama ini tidak pernah
saya lihat di balik kaca-kaca hitam mobil saya. saya melihat
‘kehidupan lain’, yang tidak pernah saya sentuh sebelumnya.
Orang-orang yang berjejalan di dalam Bus, mbak-mbak muda pake high
heels yang lari ngejar Patas AC *salut bow!!* tukang-tukang yang
memikul peralatannya. Sopir taxi yang tidur kelelahan di taxinya.
Saya
cuman kepikir, kok bisa-bisanya saya ngga bersyukur. Banyak orang
yang hidupnya jauh lebih sulit daripada hidup saya tapi mereka
bertahan, kenapa saya dikit-dikit ngeluh?
Entah
gimana saya tidak iri pada orang-orang yang duduk nyaman di mobil
sedangkan saya berdiri di tengah ujan. Kenapa? Karena saya liat
banyak orang yang terpaksa berjalan tanpa payung … banyak orang
yang lebih kedinginan dari saya. saya memang tidak dalam posisi yang
nyaman, tapi paling tidak saya dilindungi oleh payung, pake
cardigan, pake sepatu … banyak orang cuman pake baju tipis,
telanjang kaki, keujanan. Sampai saya kepikir utk mengajak salah
satu dari mereka berbagi payung dengan saya, coz cuman itu yang bisa
saya kasih.
Pengalaman
saya selama beberapa pagi ini nonkrong di halte Bus membuat saya
merasakan kejamnya Jakarta
:p Untuk ukuran teman-teman saya, saya bangun udeh paling pagi …
tapi begitu saya keluar, saya bukan satu-satunya yang serajin itu.
Bus-bus sudah terisi (yang membuat saya bertanya-tanya, bangun jam
berapa mereka? Apakah mereka sempat tidur kemaren malem? Di mana
mereka tidur?) mereka bekerja untuk penghasilan yang mungkin tidak
sampai ½ dari penghasilan saya padahal mereka bekerja lebih keras
dari saya.
Menit-menit
yang lewat selama saya menunggu membuat saya banyak berpikir. Betapa
saya begitu diberkati tapi begitu sedikit saya mengucap syukur.
Guys,
ketika kalian merasa hidup kalian berat, sekali-kali bangun
pagi-pagi trus nonkronglah di halte bus terdekat. Perhatikan bus-bus
yang lewat, kenek, sopir mikrolet yang ngetem, tukang ojek,
anak-anak yang mengemis di jalanan. Liat kerut-kerut di wajah
mereka, rambut yang memutih, pakaian yang lusuh … sadarlah, u’re
too blessed to be stressed.
Ah
Tuhan, besok pagi kalau saya nonkrong di halte lagi, saya ngga mau
hanya mengasihani mereka tapi saya mau berdoa untuk mereka.
Jangan-jangan
untuk ini Engkau membuatku menunggu? Untuk membuka mataku akan
hal-hal yang tidak pernah aku lihat selama ini … ampuni saya yang
manja dan bodoh.
Berikan
aku hati yang tau mengucap syukur dan tidak egois untuk berbagi.
Jakarta, 29 Juni 2007
|