|
Idealisme, Realita dan Iman
Oleh: Grace Suryani
Wuihhh
rasanya ini judul tulisan ‘terberat’ yang pernah saya tulis.
Heuhehe. Idealisme :O Makanan apa pula itu?!?! :p Kalo dihitung
hitung, sudah 1½ bulan saya jadi guru.
Mau
tau perasaan saya Guys? Hehehe. Mau jawaban jujur atau ngga? :p
Jawaban kurang jujur, guru memang pahlawan tanpa tanda jasa. Jawaban
jujur, … jadi guru … NGGA ENAAAAKKK!!!
Wakakakak.
Saya
lumayan suka ngajarnya, lumayan suka berhadapan dengan anak-anak,
tapi administrasi guru bener-bener bikin saya toeeenksss!! 2 Minggu
lalu, anak-anak baru ulangan, mereka selesai ulangan, gantian saya
yang sibuk. Koreksi lebih dari 700 lembar kertas (total murid saya
kira-kira 380 anak, 1 soal ada 3 lembar. Itung sendiri. Hehehe),
masukkin ke daftar nilai, bikin laporan hasil ulangan, rata-rata,
nilai max min, analisa soal. :O
Ketika
dulu saya bercita-cita, mengidam-idamkan back for good en jadi guru
di almamater (yang keliatannya keren, berjiwa luhur dan muliaaa)
saya ngga pernah bayangin bakal ngadepin masalah kayak gini.
Setumpuk kertas ulangan, anak-anak yang bawel en suka ngga bisa
diem, tuntutan sekolah plus ortu yang setinggi surga, bahan yang
bertumpuk tapi dengan waktu yang minim kepotong libur ini itu,
kebaktian ini itu. Ngga kepikir Guys. Dulu Tuhan ketawa kali ye pas
saya nangis2 minta pulang :p
Masih
shock dengan masalah administrasi, saya cukup kaget juga dengan
realita borok-borok dunia pendidikan. :$ Rasanya badan saya langsung
lemes. Sempet merasa madesu (masa depan suram) wakakak. Ketika
ngeliat guru-guru senior dalam hati bertanya-tanya, akankah saya
jadi seperti mereka?? Saya sungguh teramat sangat salut dengan
guru-guru senior yang tetap jadi guru. Ngga mudah. Sungguh.
Sekarang
saya mengerti, kenapa ada banyak guru yang bersikap skeptis, sedikit
sinis, pesimis … Kata sapa dunia pendidikan itu dunia yang bersih?
:p Saya sendiri sempat merasa down en merasa semua idealisme saya
hancur cur curr. Ngga lagi punya cita-cita ini itu, pengen ini itu.
Bisa survive aja udeh bagus.
Kalau
idealisme itu seumpama sayap, maka realita itu seperti rantai besi
yang membelenggu kaki saya.
Seandainya
saya berhenti pada titik kalimat di atas … saya rasa saya bisa
bayangkan kondisi saya 5 tahun ke depan :p Saya akan jadi guru yang
skeptis, sinis, dan pemain sandiwara yang bae … Seburuk apapun
kondisi yang saya lihat, saya tetap harus mengajar dengan tersenyum.
But
Thx God, kita punya Tuhan yang luar biasa.
Saya
sempat bertanya-tanya, apakah Tuhan yang saya sembah di
China
bisa membawa perubahan di tengah segala kungkungan ini? Apakah Tuhan
sanggup?? Masih bisakah saya melihat mukjizat seperti yang dulu saya
liat di
China
? Masihkah Tuhan menyiapkan kejutan-kejutan manis untuk saya? Apakah
iman saya bisa bertahan …
Guys,
banyak orang berpikir iman itu sama dengan idealisme. Iman =
idealnya begitu … tapi … realitanya blablabla. Beriman boleh
tapi liat realitanya donks!
Sebenarnya
Guys, iman itu mengatasi realita. Karena apa yang kekal itu justru
tidak terlihat. Jangan tertipu dengan mata kita. Banyak orang ketika
benar-benar masuk ke dunia kerja, kecewa melihat realita dan
kehilangan iman. Mungkin mereka tetap jadi Kristen, tetep ke gereja,
tetep pelayanan, tapi mereka tidak lagi percaya bahwa Tuhan Yesus
benar-benar hidup!! Bahwa Yesus lebih besar dari masalah kita, lebih
besar daripada Boss kita.
Tadi
pagi, ketika saya saat teduh di tengah segala kebingungan dan
tekanan akhirnya saya ngomong sama Tuhan, “Tuhan, aku kerja buat
Engkau. U’re my Boss. Boss saya bukan kepala sekolah, bukan orang
tua murid, bukan coordinator, bukan kurikulum, bukan yayasan, tapi
boss saya Tuhan.”
Eh
Tuhan tiba-tiba tanya, “Menurutmu Aku Boss yang seperti apa?”
Saya
diem trus saya menyebutkan karakter-karakter Tuhan yang saya kenal
selama ini, “Engkau Boss yang baik. Kau Boss yang punya belas
kasihan. Tuhan suka tersenyum, suka kasih kejutan. Kalau aku salah
pasti diomelin, tapi tidak pernah didakwa. Kau adil. Kau ngga pernah
gossip. Kau bisa dipercaya. Kau bisa diajak ngomong, bisa diajak
konsultasi, punya segudang solusi. Kau
mengerti semua kesulitanku.”
Guys,
saya mengucapkan kata-kata di atas sambil mengenang masa-masa saya
dengan Tuhan di China. Kenangan-kenangan manis yang Dia berikan.
Tanpa sadar ketika saya menyebutkan itu semua, air mata saya
mengalir. Seperti ada harapan yang timbul.
“Nik,
kalau kerja dengan boss seperti itu kira-kira rasanya seperti
apa?”
Saya
senyum trus bilang, “Pasti menyenangkan.”
En
saya ngerti maksud Tuhan. :)
Sekolah,
kurikulum, orang tua bisa punya segudang tuntutan tapi saya tidak
bekerja untuk mereka. Saya bekerja untuk Tuhan, Allah pencipta
langit dan bumi. Jam kerja saya tidak dibatasi oleh jam kerja
kantor. Dia mengawasi saya 24 jam, ketika saya sendirian di kamar
bikin laporan, ngitung daftar nilai. Dia melihat hal-hal yang tidak
dilihat orang.
Dia
boss yang luar biasa. Luar biasa baik. :) Dia, boss yang mengasihi
saya. Dan menyenangkan sekali bekerja untuk atasan seperti Dia.
Guys,
jangan liat kepada realita yang kita lihat. Lihatlah kepada Tuhan.
Saya belajar bahwa “rancangan-Ku bukanlah rancanganmu.”
Idealisme saya berbeda dengan apa yang Tuhan rencanakan. Saya
belajar untuk meninggalkan idealisme-idealisme yang saya punya dan
menggantinya dengan impian-impian dari Tuhan.
Tuhan,
seneng deh punya boss kayak Engkau. Hehehe, Bantu aku untuk masuk
kerja terus dengan semangat 45, apapun yang saya lihat, ingatkan
saya. U’re my Boss.
Jakarta, 1 September 2007
|