|
Nyontek dari Bu Guru
Oleh: Grace Suryani
Guys,
anak-anak didik saya itu anak-anak yang luar biasa kreatif dan
cerdas!! Minggu lalu ulangan kedua, en saya cukup stress karena
hasilnya ngga sebagus yg pertama. Hehehe. Tapi di tengah
ke-stress-an saya, saya menemukan 1 hal kecil yang ngebuat saya
ketawa terbahak-bahak.
Untuk
ulangan anak kelas 10 (alias 1 SMU) saya minta mereka bikin kalimat
dari kata yang saya berikan.
Ada
beberapa anak yang entah isenk entah bohwat mereka melakukan 1 hal
yang bikin saya salut dengan kekreatifan mereka. Mungkin pas bikin,
mereka frustrasi gara-gara ngga tau mesti bikin kalimat apa
(boro-boro bikin kalimat, bisa baca hanzinya aje kagak!), tapi
mereka tidak menyerah guys! Ini yang mereka lakukan.
Di
halaman belakang dari kertas ujian, biasanya saya suka kasih kata
mutiara atau ayat dalam bahasa Mandarin. Nah, ada 1 kata soal yang
ternyata ada di dalam kalimat itu. Jadilah mereka menyalin kalimat
saya ke lembar jawaban mereka! Wow. Pas pertama kali saya baca saya
mikir, “Gile ini anak pinter banget!!! Yang laen bikin kalimat
standart eh dia kalimatnya dalem banget.” Ketika saya baru
mengagumi anak itu, tiba-tiba saya sadar, “LOH Ini kan kalimat gue!!!” Gubrakss!! Wakakakakak.
But
saya salut luar biasa sama mereka-mereka ini, karena saya aja kagak
sadar!!! Saya ngga sadar di dalam kata mutiara itu, ada jawaban
pertanyaan no 3! Heuhehee.
Ada
anak laen yang lebih kreatif lagi. Dia menemukan bahwa jawaban
pertanyaan no 4, ada di dalam perintah bagian 4, huida xiamian de
wenti (Perintah tiap bagian saya tulis dalam bahasa mandarin dan Indonesia), disalinlah perintah itu olehnya. Ketika saya baca, saya
terkagum-kagum ... ini anak kok bisa bikin kalimat seperti ini …
ternyataaaa … Dia nyalin dari perintah saya.
Tapi
guys, saya kasih full mark buat mereka. Nilainya tidak saya potong,
tidak saya kurangi, malah saya puji di depan beberapa kelas.
:O
Kenapa
dipuji?? Mereka ngga bisa jawab kok! Mereka kan cuman ‘nyalin’. Apanya yang hebat?
Guys,
sebenernya full mark buat kalimat mereka adalah milik saya *lah wong
itu kalimat saya*, tapi saya ingin anak-anak saya tau bahwa saya
menghargai kerja keras mereka. Kalau mereka mau, mereka bisa
kosongin jawaban itu. Tapi at least mereka berusaha untuk mencari
jawaban (mungkin juga sih mereka ngga usaha sampai gimana, tapi pas
ngeliat, “Loh ini bisa dipake. Gue salin aja deh hehehe”)
Buat
saya itu sudah usaha. Dan mereka bisa mengenali kata itu di dalam
kalimat lain, itu sudah sesuatu hal yang bagus.
Yang
saya nilai bukan hasilnya, tapi niat dan usaha mereka. Di mata saya,
mereka berhak untuk mendapatkan full mark di bagian tersebut.
Guys,
kita hidup di dunia yang menilai berdasarkan hasil akhir.
Berdasarkan jawaban, prestasi, keberhasilan yang kita capai. Tanpa
kita sadar, prinsip itu terbawa dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Jujur
guys, masa-masa ini saya sebenernya sedang terpuruk. Saya merasa
saya tidak bisa ngajar, tidak kompeten. Boro-boro jadi guru yang
excellent, menyelesaikan tugas harian saya saja, saya kesulitan.
Saya stress karena saya saya takut. Takut tidak diterima, takut
dikritik orang tua murid, takut tidak disukai oleh murid-murid saya,
takut dianggap tidak bertanggung jawab oleh rekan-rekan lain.
Ibaratnya
kalo lagi ujian, saya ngga bisa jawab soal-soal yang ada di hadapan
saya. Boro-boro jawab, ngerti aja kagak!! Ini membuat saya
frustrasi.
Thx
God saya punya Tuhan yang luar biasa. Dia menyakinkan saya bahwa
saya diterima dan dikasihi oleh-Nya. Saya bisa ditolak oleh
guru-guru laen, bisa dianggap goblok ama para orang tua, dianggap
ngga becus ngajar sama guru-guru les murid-murid saya *sigh … saya
dinilai tidak hanya oleh kepsek, coordinator, ortu, tapi juga sama
guru2 les mereka!!!*, tapi Tuhan tetap menerima dan mengasihi saya.
Fiiuhhh … itu membuat saya merasa lega.
Tadi
pagi, Tuhan mengingatkan kenapa saya kasih full mark buat anak-anak
yang nyalin kalimat saya. Saya bilang sama Tuhan karena saya
menghargai kerja keras dan niat mereka. Ketika saya jawab itu, baru
saya sadar. Tuhan juga sama!!
Yang
Tuhan lihat bukan hasil akhir yang WAH, bukan keberhasilan yang wow,
tapi Tuhan melihat hati dan niat kita.
Ketika
kita pengen untuk taat, ketika kita rindu menyenangkan Dia tapi kita
ngga mampu, jangan putus asa, Guys. Tuhan memperhitungkan kerinduan
kita. Dia melihat hati kita, melihat bahwa kita ingin, kita mau …
Lagipula
guys, sebenernya Tuhan juga tau, kita NGGA MAMPU :p Kita ngga bisa
menyenangkan Dia dengan usaha kita sendiri. Kesalehan kita itu
seperti kain kotor! Pelayanan kita ngga hebat-hebat amat di
mata-Nya. Dia bisa melakukan yang lebih wow dari itu.
Tapi
1 yang Dia rindukan, hati kita. Kerinduan kita. Tuhan akan mengambil
9 langkah untuk membawa kita ke hadapan-Nya, tapi Dia TIDAK MAU
mengambil langkah yang terakhir.
Dia
juga rindu, kita merindukan Dia. Dia ingin kita menginginkan Dia.
Kalau
kita rindu, kita ingin, Tuhan yang akan memampukan.
Guys,
kekuatan kita bisa tidak seberapa, kepandaian kita pas-pas-an, semua
yang kita punya terbatas, tapi kalau kita merindukan menyenangkan
Tuhan yang tidak terbatas, kita TIDAK akan dibatasi oleh apapun.
Tidak akan ada apapun atau siapapun yang bisa merintangi kita untuk
melakukan kehendak-Nya.
Hanya
dengan 1 syarat,
Kita
menginginkan-Nya dengan segenap hati.
Jakarta,
30 September 2007
|