Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 


Dibaca: 727 kali






Nyontek dari Bu Guru
Oleh: Grace Suryani


Guys, anak-anak didik saya itu anak-anak yang luar biasa kreatif dan cerdas!! Minggu lalu ulangan kedua, en saya cukup stress karena hasilnya ngga sebagus yg pertama. Hehehe. Tapi di tengah ke-stress-an saya, saya menemukan 1 hal kecil yang ngebuat saya ketawa terbahak-bahak.

Untuk ulangan anak kelas 10 (alias 1 SMU) saya minta mereka bikin kalimat dari kata yang saya berikan. Ada beberapa anak yang entah isenk entah bohwat mereka melakukan 1 hal yang bikin saya salut dengan kekreatifan mereka. Mungkin pas bikin, mereka frustrasi gara-gara ngga tau mesti bikin kalimat apa (boro-boro bikin kalimat, bisa baca hanzinya aje kagak!), tapi mereka tidak menyerah guys! Ini yang mereka lakukan.

Di halaman belakang dari kertas ujian, biasanya saya suka kasih kata mutiara atau ayat dalam bahasa Mandarin. Nah, ada 1 kata soal yang ternyata ada di dalam kalimat itu. Jadilah mereka menyalin kalimat saya ke lembar jawaban mereka! Wow. Pas pertama kali saya baca saya mikir, “Gile ini anak pinter banget!!! Yang laen bikin kalimat standart eh dia kalimatnya dalem banget.” Ketika saya baru mengagumi anak itu, tiba-tiba saya sadar, “LOH Ini kan kalimat gue!!!” Gubrakss!! Wakakakakak.

But saya salut luar biasa sama mereka-mereka ini, karena saya aja kagak sadar!!! Saya ngga sadar di dalam kata mutiara itu, ada jawaban pertanyaan no 3! Heuhehee.

Ada anak laen yang lebih kreatif lagi. Dia menemukan bahwa jawaban pertanyaan no 4, ada di dalam perintah bagian 4, huida xiamian de wenti (Perintah tiap bagian saya tulis dalam bahasa mandarin dan Indonesia), disalinlah perintah itu olehnya. Ketika saya baca, saya terkagum-kagum ... ini anak kok bisa bikin kalimat seperti ini … ternyataaaa … Dia nyalin dari perintah saya.

Tapi guys, saya kasih full mark buat mereka. Nilainya tidak saya potong, tidak saya kurangi, malah saya puji di depan beberapa kelas.

:O

Kenapa dipuji?? Mereka ngga bisa jawab kok! Mereka kan cuman ‘nyalin’. Apanya yang hebat?

Guys, sebenernya full mark buat kalimat mereka adalah milik saya *lah wong itu kalimat saya*, tapi saya ingin anak-anak saya tau bahwa saya menghargai kerja keras mereka. Kalau mereka mau, mereka bisa kosongin jawaban itu. Tapi at least mereka berusaha untuk mencari jawaban (mungkin juga sih mereka ngga usaha sampai gimana, tapi pas ngeliat, “Loh ini bisa dipake. Gue salin aja deh hehehe”)

Buat saya itu sudah usaha. Dan mereka bisa mengenali kata itu di dalam kalimat lain, itu sudah sesuatu hal yang bagus.

Yang saya nilai bukan hasilnya, tapi niat dan usaha mereka. Di mata saya, mereka berhak untuk mendapatkan full mark di bagian tersebut.

Guys, kita hidup di dunia yang menilai berdasarkan hasil akhir. Berdasarkan jawaban, prestasi, keberhasilan yang kita capai. Tanpa kita sadar, prinsip itu terbawa dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Jujur guys, masa-masa ini saya sebenernya sedang terpuruk. Saya merasa saya tidak bisa ngajar, tidak kompeten. Boro-boro jadi guru yang excellent, menyelesaikan tugas harian saya saja, saya kesulitan. Saya stress karena saya saya takut. Takut tidak diterima, takut dikritik orang tua murid, takut tidak disukai oleh murid-murid saya, takut dianggap tidak bertanggung jawab oleh rekan-rekan lain.

Ibaratnya kalo lagi ujian, saya ngga bisa jawab soal-soal yang ada di hadapan saya. Boro-boro jawab, ngerti aja kagak!! Ini membuat saya frustrasi.

Thx God saya punya Tuhan yang luar biasa. Dia menyakinkan saya bahwa saya diterima dan dikasihi oleh-Nya. Saya bisa ditolak oleh guru-guru laen, bisa dianggap goblok ama para orang tua, dianggap ngga becus ngajar sama guru-guru les murid-murid saya *sigh … saya dinilai tidak hanya oleh kepsek, coordinator, ortu, tapi juga sama guru2 les mereka!!!*, tapi Tuhan tetap menerima dan mengasihi saya. Fiiuhhh … itu membuat saya merasa lega.

Tadi pagi, Tuhan mengingatkan kenapa saya kasih full mark buat anak-anak yang nyalin kalimat saya. Saya bilang sama Tuhan karena saya menghargai kerja keras dan niat mereka. Ketika saya jawab itu, baru saya sadar. Tuhan juga sama!!

Yang Tuhan lihat bukan hasil akhir yang WAH, bukan keberhasilan yang wow, tapi Tuhan melihat hati dan niat kita.

Ketika kita pengen untuk taat, ketika kita rindu menyenangkan Dia tapi kita ngga mampu, jangan putus asa, Guys. Tuhan memperhitungkan kerinduan kita. Dia melihat hati kita, melihat bahwa kita ingin, kita mau …

Lagipula guys, sebenernya Tuhan juga tau, kita NGGA MAMPU :p Kita ngga bisa menyenangkan Dia dengan usaha kita sendiri. Kesalehan kita itu seperti kain kotor! Pelayanan kita ngga hebat-hebat amat di mata-Nya. Dia bisa melakukan yang lebih wow dari itu.

Tapi 1 yang Dia rindukan, hati kita. Kerinduan kita. Tuhan akan mengambil 9 langkah untuk membawa kita ke hadapan-Nya, tapi Dia TIDAK MAU mengambil langkah yang terakhir.

Dia juga rindu, kita merindukan Dia. Dia ingin kita menginginkan Dia.

Kalau kita rindu, kita ingin, Tuhan yang akan memampukan.

Guys, kekuatan kita bisa tidak seberapa, kepandaian kita pas-pas-an, semua yang kita punya terbatas, tapi kalau kita merindukan menyenangkan Tuhan yang tidak terbatas, kita TIDAK akan dibatasi oleh apapun. Tidak akan ada apapun atau siapapun yang bisa merintangi kita untuk melakukan kehendak-Nya.

Hanya dengan 1 syarat,

Kita menginginkan-Nya dengan segenap hati.

 

Jakarta, 30 September 2007