Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 


Dibaca: 1216 kali
Rp 40.000,-
Buku ini berkisah tentang pengalaman Grace suryani selama studi di Cina. Ia studi bahasa Mandarin di sana. 

Selama di sana, Grace mengalami banyak hal, suka-duka datang silih berganti. Permasalahan terjadi ketika dia harus mengalami masa-masa penyesuaian dengan teman, sekolah, ataupun gaya hidup di sana. 

Persoalan demi persoalan menyertainya selama studi untuk membuat-Nya semakin mengenal Tuhan dan rencana-Nya. Tuhan banyak membentuk wataknya melalu teman, peristiwa, dan apa pun yang bersentuhan dengannya setiap hari.







PERHATIAN!
Beberapa karakter di kolom Nan Ti menggunakan aksara Chinese, silahkan download font SimSun dan install di komputer masing-masing agar karakter tersebut dapat muncul. Besar file 10 MB, mohon perhatian khusus bagi yang memiliki koneksi internet dial-up.

Fettucini Yang Hancur
Oleh: Grace Suryani


            Belakangan ini, saya mulai ‘kadang-kadang’ masuk dapur. Kadang-kadang itu artinya 3-4 bulan 1x. hehehe. Ada 1 resep yang udeh saya coba berulang kali tapi masih ‘hancur’, yaitu fettucini saus asparagus. Duh udeh coba 5-6 kali yang berhasil cuman 1 kali doank. Pernah kuahnya terlalu sedikit, berikutnya kuahnya malah terlalu banyak, jadi kayak mie rebus. Yieekkk!! Ada yang terlalu manis, ada yang ngga ada rasanya.

             Ketika untuk kesekian kalinya saya coba, en masih tetap gagal, saya mikir, “Oo. Ini gagal karena susunya terlalu banyak. Yah udah laen kali kurangi susunya. Berarti tadi mestinya resepnya gini gini.” Ketika berpikir seperti itu, tiba-tiba saya jadi sadar. Iya ya, hidup ini belajar dan belajar.

Apalagi sebagai anak Tuhan, tujuan hidup kita adalah menjadi serupa dengan Kristus, dan itu artinya proses belajar terus menerus.

Guys, terus terang ini jadi penghiburan yang sangat sangat besar untuk saya. Kemaren ini, saya drop lagi semangat mengajarnya. Hehehe. Gara-gara cara yang sudah saya persiapkan dengan baik, ternyata masih tetap tidak berhasil. Ada beberapa kelas yang tetap bilang ini boring. Duh guys … rasanya tuh udeh nyaris patah semangat. Mulai keluar keluhan lama, “Mungkin gue emank ngga cocok di sini. Mungkin lebih baik gue jadi dosen. Ya ampun, Tuhan, ini anak-anak mesti diapaaiiiinnn coba!!

Pengalaman ini membuat saya mengerti, kenapa ada banyak guru senior yang akhirnya mengajar dengan ‘asal aja’, atau dengan cara yang begitu-begitu saja selama bertahun-tahun. Mungkin bukannya mereka tidak mencoba hal yang baru, tapi ketika mereka sudah berusaha untuk mencoba hal yang baru eh ternyata tanggapan anak-anak tetap begitu2 saja, atau malah jadi berisik or lebih parah lagi anak-anak justru tidak menanggapi … Mungkin itu yang akhirnya membuat mereka merasa, ya udah, anak-anak emank begitu, bandel, susah diajar, en karena menyiapkan hal-hal yang baru itu melelahkan, mereka memilih untuk kembali ke cara pembelajaran yang lama.

Sebenarnya guys, saya berusaha untuk tidak percaya dengan kata-kata, “Anak-anak emank bandel. Mereka yah emank begitu.” Saya tidak ingin memberikan stereotype pada murid-murid, tapi jujur guys, ketika sudah mencoba beberapa cara en semuanya mentok, saya akhirnya mengucapkan kalimat itu juga, “Yah anak-anak emank begitu. Susah. Bandel.”

Tapi pengalaman dengan fettucini itu membuat saya jadi sadar. Kegagalan membuat fettucini kan tidak berarti saya ‘gagal’ sebagai manusia kan?!?! Hahaha. Gagal, yah coba lagi. Kata org China, “有什么大不了的。” It’s not a big deal! Iya ya, kalaupun masih belum nemu cara yang pas, bukan berarti saya gagal. Belum tentu itu berarti saya tidak bisa ngajar, belum tentu ini artinya sekolah ini bukan tempat saya. Mungkin emank belon ketemu racikan yang pas, belum terlalu mengenal anak-anak dan pikiran mereka. Proses ini masih panjang. :)

Guys, sekarang salah satu ayat favorit saya adalah, “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali. Tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” Amsal 24:16. Hehehe. Saya bisa jatuh, bisa gagal, cara yang sudah saya gumulkan dan doakan bisa tidak berhasil tapi selama Tuhan masih menaruh saya di tempat itu, saya akan bangun kembali. Karena kalau Tuhan yang menetapkan langkah saya, sekalipun saya jatuh tidak akan sampai tergeletak sebab Tuhan yang menopang saya. Indah yah, berjalan dengan Tuhan. :)

Guys, kalau mungkin saat ini kalian juga sedang kecewa, merasa gagal, tidak berharga, sudah coba berbagai macam cara tetap mentok, jangan menyerah. Mari kita bawa semua masalah dan kegagalan kita kepada Yesus, Dia sanggup mengubah ratapan kita menjadi tarian. Tanya kepada Tuhan apa yang Tuhan ingin kita pelajari.

Pelan-pelan saya mengerti, kenapa Tuhan taruh saya di tempat ini, plus mengizinkan saya mengalami berbagai macam masalah yang membuat saya stress. Sebenarnya bukan pekerjaan ini yang membawa masalah, tapi saya yang memang BERMASALAH dari dulu. Semua kondisi dan lingkungan yang saya alami adalah cara Tuhan untuk membukakan semua kelemahan saya. Semua kecacatan karakter saya sekarang keliatan dengan jelas. Itu yang membuat saya stress :p

             Ketika saya tau bahwa ternyata saya sebobrok ini, saya ngga bisa terima. Lalu muncul ketakutan, bagaimana kalau Tuhan ngga mau terima saya karena ngeliat saya TERNYATA kayak begini. Tapi lalu saya sadar, Tuhan mah emank udeh tau dari dulu kalau saya begini!! Saya aja yang baru sadar sekarang hehehe.

Saya juga sempet berpikir, Tuhan berubah … Tuhan ngga sayang lagi sama saya. Tapi ternyata itu juga salah. Justru karena Tuhan sayang ama saya, makanya Tuhan membuka borok-borok saya. Coz Tuhan pengen saya berubah. Kalau semua ini tetap disimpen, saya ngga akan bisa benar-benar menikmati DIA, saya ngga akan bisa menjalani hidup yang Dia mau. Tuhan sengajar bongkar karena Tuhan sayang sama saya.

Guys, ketika kita mengerti alasan Tuhan, ketika kita mengerti kita bisa menjalani semuanya dengan hati yang bersyukur. Kita tidak lagi terjatuh ke dalam lembah mengasihani diri, mengutuki orang lain maupun keadaan. Kita keluar sebagai pemenang sekalipun mungkin lingkungan kita tidak berubah, tetapi KITA BERUBAH. Karena itu penting sekali untuk mencari tau, apa yang Tuhan mau untuk setiap kegagalan yang kita alami.

Guys, sebagai penutup saya mau bagikan 2 kalimat. Yang pertama, dari film I Not Stupid Too. Yang menemukan kalimat ini justru bukan saya, tapi murid-murid yang saya ajak nonton. Kalimatnya seperti ini. You are not finish when you lose. You’re finish when you quit. Hidupmu tidak berakhir ketika kamu kalah, hidupmu berakhir ketika kamu menyerah. Yang kedua, “Kita lebih dari orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Roma 8:37.

Jakarta, 20 Maret 2008