|
Fettucini Yang Hancur
Oleh: Grace Suryani
Belakangan ini, saya mulai ‘kadang-kadang’ masuk dapur.
Kadang-kadang itu artinya 3-4 bulan 1x. hehehe. Ada 1 resep yang udeh saya coba berulang kali tapi masih ‘hancur’,
yaitu fettucini saus asparagus. Duh udeh coba 5-6 kali yang berhasil
cuman 1 kali doank. Pernah kuahnya terlalu sedikit, berikutnya
kuahnya malah terlalu banyak, jadi kayak mie rebus. Yieekkk!! Ada yang terlalu manis, ada yang ngga ada rasanya.
Ketika untuk kesekian kalinya saya coba, en masih tetap
gagal, saya mikir, “Oo. Ini gagal karena susunya terlalu banyak.
Yah udah laen kali kurangi susunya. Berarti tadi mestinya resepnya
gini gini.” Ketika berpikir seperti itu, tiba-tiba saya jadi
sadar. Iya ya, hidup ini belajar dan belajar.
Apalagi
sebagai anak Tuhan, tujuan hidup kita adalah menjadi serupa dengan
Kristus, dan itu artinya proses belajar terus menerus.
Guys,
terus terang ini jadi penghiburan yang sangat sangat besar untuk
saya. Kemaren ini, saya drop lagi semangat mengajarnya. Hehehe.
Gara-gara cara yang sudah saya persiapkan dengan baik, ternyata
masih tetap tidak berhasil. Ada beberapa kelas yang tetap bilang ini boring. Duh guys … rasanya
tuh udeh nyaris patah semangat. Mulai keluar keluhan lama,
“Mungkin gue emank ngga cocok di sini. Mungkin lebih baik gue jadi
dosen. Ya ampun, Tuhan, ini anak-anak mesti diapaaiiiinnn coba!!
Pengalaman
ini membuat saya mengerti, kenapa ada banyak guru senior yang
akhirnya mengajar dengan ‘asal aja’, atau dengan cara yang
begitu-begitu saja selama bertahun-tahun. Mungkin bukannya mereka
tidak mencoba hal yang baru, tapi ketika mereka sudah berusaha untuk
mencoba hal yang baru eh ternyata tanggapan anak-anak tetap begitu2
saja, atau malah jadi berisik or lebih parah lagi anak-anak justru
tidak menanggapi … Mungkin itu yang akhirnya membuat mereka
merasa, ya udah, anak-anak emank begitu, bandel, susah diajar, en
karena menyiapkan hal-hal yang baru itu melelahkan, mereka memilih
untuk kembali ke cara pembelajaran yang lama.
Sebenarnya
guys, saya berusaha untuk tidak percaya dengan kata-kata,
“Anak-anak emank bandel. Mereka yah emank begitu.” Saya tidak
ingin memberikan stereotype pada murid-murid, tapi jujur guys,
ketika sudah mencoba beberapa cara en semuanya mentok, saya akhirnya
mengucapkan kalimat itu juga, “Yah anak-anak emank begitu. Susah. Bandel.”
Tapi
pengalaman dengan fettucini itu membuat saya jadi sadar. Kegagalan
membuat fettucini
kan
tidak berarti saya ‘gagal’ sebagai manusia kan?!?! Hahaha. Gagal, yah coba lagi. Kata org
China, “有什么大不了的。”
It’s not a big deal! Iya ya, kalaupun masih belum nemu cara yang
pas, bukan berarti saya gagal. Belum tentu itu berarti saya tidak
bisa ngajar, belum tentu ini artinya sekolah ini bukan tempat saya.
Mungkin emank belon ketemu racikan yang pas, belum terlalu mengenal
anak-anak dan pikiran mereka. Proses ini masih panjang. :)
Guys,
sekarang salah satu ayat favorit saya adalah, “Sebab tujuh kali
orang benar jatuh, namun ia bangun kembali. Tetapi orang fasik akan
roboh dalam bencana.” Amsal 24:16. Hehehe. Saya bisa jatuh, bisa
gagal, cara yang sudah saya gumulkan dan doakan bisa tidak berhasil
tapi selama Tuhan masih menaruh saya di tempat itu, saya akan bangun
kembali. Karena kalau Tuhan yang menetapkan langkah saya, sekalipun
saya jatuh tidak akan sampai tergeletak sebab Tuhan yang menopang
saya. Indah yah, berjalan dengan Tuhan. :)
Guys,
kalau mungkin saat ini kalian juga sedang kecewa, merasa gagal,
tidak berharga, sudah coba berbagai macam cara tetap mentok, jangan
menyerah. Mari kita bawa semua masalah dan kegagalan kita kepada
Yesus, Dia sanggup mengubah ratapan kita menjadi tarian. Tanya
kepada Tuhan apa yang Tuhan ingin kita pelajari.
Pelan-pelan
saya mengerti, kenapa Tuhan taruh saya di tempat ini, plus
mengizinkan saya mengalami berbagai macam masalah yang membuat saya
stress. Sebenarnya bukan pekerjaan ini yang membawa masalah, tapi
saya yang memang BERMASALAH dari dulu. Semua kondisi dan lingkungan
yang saya alami adalah cara Tuhan untuk membukakan semua kelemahan
saya. Semua kecacatan karakter saya sekarang keliatan dengan jelas.
Itu yang membuat saya stress :p
Ketika saya tau bahwa ternyata saya sebobrok ini, saya ngga
bisa terima. Lalu muncul ketakutan, bagaimana kalau Tuhan ngga mau
terima saya karena ngeliat saya TERNYATA
kayak begini. Tapi lalu saya sadar, Tuhan mah emank udeh tau
dari dulu kalau saya begini!! Saya aja yang baru sadar sekarang
hehehe.
Saya
juga sempet berpikir, Tuhan berubah … Tuhan ngga sayang lagi sama
saya. Tapi ternyata itu juga salah. Justru karena Tuhan sayang ama
saya, makanya Tuhan membuka borok-borok saya. Coz Tuhan pengen saya
berubah. Kalau semua ini tetap disimpen, saya ngga akan bisa
benar-benar menikmati DIA, saya ngga akan bisa menjalani hidup yang
Dia mau. Tuhan sengajar bongkar karena Tuhan sayang sama saya.
Guys,
ketika kita mengerti alasan Tuhan, ketika kita mengerti kita bisa
menjalani semuanya dengan hati yang bersyukur. Kita tidak lagi
terjatuh ke dalam lembah mengasihani diri, mengutuki orang lain
maupun keadaan. Kita keluar sebagai pemenang sekalipun mungkin
lingkungan kita tidak berubah, tetapi KITA BERUBAH. Karena itu
penting sekali untuk mencari tau, apa yang Tuhan mau untuk setiap
kegagalan yang kita alami.
Guys,
sebagai penutup saya mau bagikan 2 kalimat. Yang pertama, dari film
I Not Stupid Too. Yang menemukan kalimat ini justru bukan saya, tapi
murid-murid yang saya ajak nonton. Kalimatnya seperti ini. You are
not finish when you lose. You’re finish when you quit. Hidupmu
tidak berakhir ketika kamu kalah, hidupmu berakhir ketika kamu
menyerah. Yang kedua, “Kita lebih dari orang-orang yang menang
oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Roma 8:37.
Jakarta,
20 Maret 2008
|