Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 


Dibaca: 1121 kali
Rp 40.000,-
Buku ini berkisah tentang pengalaman Grace suryani selama studi di Cina. Ia studi bahasa Mandarin di sana. 

Selama di sana, Grace mengalami banyak hal, suka-duka datang silih berganti. Permasalahan terjadi ketika dia harus mengalami masa-masa penyesuaian dengan teman, sekolah, ataupun gaya hidup di sana. 

Persoalan demi persoalan menyertainya selama studi untuk membuat-Nya semakin mengenal Tuhan dan rencana-Nya. Tuhan banyak membentuk wataknya melalu teman, peristiwa, dan apa pun yang bersentuhan dengannya setiap hari.







Mengampuni Lebih Sungguh
Oleh: Grace Suryani


Guys, selama hampir 1 tahun ini saya belajar jadi guru, banyak pengalaman yang saya dapat. Banyak pelajaran yang saya pelajari. Salah satu pelajaran yang utama adalah belajar mengampuni. :)

Saya dulu memang pernah mendengar, melihat dan juga merasakan, ada banyak guru yang kepahitan, baik kepahitan terhadap guru lain, sekolah, atau bahkan terhadap murid-murid. Dulu saya cenderung ‘menyalahkan’ orang-orang yang kepahitan tersebut. *upsss …* ternyata setelah saya benar-benar masuk ke dalam ‘medan pertempuran’, en saya sempat terjangkit virus kepahitan juga, baru saya mengerti. Hehehe. Dulu ketika saya ketemu dengan guru yang marah sama anak-anak gara-gara mereka tidak menghargai beliau, saya pikir guru ini gila hormat *duh … saya ini terlalu cepat menghakimi!!*, sampai saya sendiri yang berada di posisi beliau.

Bayangkan guys, sudah cape-cape menyiapkan bahan,puter otak semaleman mencari cara yang baik untuk mengajar, mikirin games ini itu,pake pendekatan blabalabla, eh begitu di kelas, anak-anak pada teriak. "Bosen laoshi!! Kok ngga kayak bahasa lain sih." Duh guys … hati ini miris juga! Oi gue baru tidur jam 2 pagi en jam 4 pagi dah bangun lagi tau!!! Atau ketika ada anak-anak yang ‘kabur’ ke UKS dengan alasan, "sakit perut, ngantuk, kurang tidur." Kurang tidur, ini alasan yang paling saya BENCI. Kenapa? Coz saya tau guru-guru senior yang rumahnya jauh dari sekolah banyak banget yang tiap hari cuman tidur beberapa jam!! Guru-guru tuh rata-rata bangun jam 4-5 pagi, belum lagi yang harus nyiapin makanan untuk keluarganya. Mereka lakukan itu untuk murid-murid, but anak-anak yang untuknya guru-guru itu berkorban, mereka justru lari ke UKS karena alasan kurang tidur … rasanya … urrghhh … ngga karu-karuan, Guys.

*Kalau ada murid-murid yang baca ini, saya cuman bilang 1. BERTOBATLAH ENGKAU! Hehehe. Mudah untuk mengkritik guru kalian, mudah untuk mengatakan guru kalian ngga update, ngajarnya boring, ngga ngerti kalian, tapi pernahkah kalian melihat diri kalian sendiri? Ketika guru-guru menghukum kalian, pernahkah kalian berpikir kenapa kalian dihukum? Daripada sibuk mengkritik orang lain, mulailah melihat diri kalian sendiri. Kalau ada guru yang terus menerus marah-marah di kelas kalian, coba pikir. Kenapa? Daripada kalian ngomel en maki-maki guru itu en jelas-jelas tidak menyelesaikan masalah, lebih baik berdoa buat beliau. Siapa tau keluarganya ada yang lagi sakit, siapa tau beliau sedang sakit …*

Guys, menghadapi hal-hal seperti itu, saya jadi tersadar, upsss kalau saya tidak hati-hati, saya juga bisa masukan BSH neh! Barisan Sakit Hati. :p Jauh lebih mudah menyimpan dendam kepada murid-murid itu *Liat loe, Afektif loe gue kasih D, baru nyahok loe!! Ngga naek kelas! Sukurin!*, jauh lebih mudah untuk mengeluh dan ngata-ngatain mereka di ruang guru daripada untuk mengampuni mereka. Tapi saya tau, sebagai anak Tuhan saya dipanggil untuk mengampuni dan mengasihi, bukan membenci dan mendendam.

Mengampuni dan mengasihi adalah sebuah pilihan. Bukan perasaan. Kita harus memilih untuk mengampuni dan mengasihi. Itu memang terkadang menyakitkan, tapi itu yang akan membebaskan kita.

Saya percaya bukan kebetulan kalian membaca tulisan ini. :) Saya percaya Tuhan ingin kalian membaca tulisan ini, karena Tuhan ingin memberikan 1 tugas besar kepada kalian. Tugas, memutuskan rantai kebencian.

Ketika ada murid yang ‘menurut saya’, dia tidak menghargai saya, lalu saya benci sama dia, apa yang akan terjadi? Murid itu mungkin juga akan balik sebel en membenci saya. :p Kalau saya teruskan kebencian saya terhadap guru-guru lain. "Itu anak tuh menyebalkan banget, masak dia blabalbalabla.", kemungkinan akan ada guru yang lain juga jadi sebel sama anak itu. Kalau anak tersebut, cerita-cerita sama temannya, "Gue sebel banget ama si Laoshi. Blabalbala.", trus temannya ikut sebel sama saya … bayangkan berapa orang yang terseret ke dalam rantai kebencian?

Tuhan memberikan kita 1 hak khusus lewat pengampunan, yaitu kemampuan untuk memutuskan rantai kebencian. Bayangkan guys, berapa orang yang bisa terselamatkan dari rantai benci membenci kalau kita memutuskan tidak ikut membenci? Akan ada berapa banyak jiwa yang terselamatkan karena kita memutuskan untuk mengampuni? :)

"Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikkan." Roma 12:21. Tuhan tidak ingin kita pasrah di bawah kejahatan. Tuhan tidak ingin kita bersikap, "Ya sudah, kalau org itu emank benci sama saya, ya sudahlah." TIDAK. Tuhan ingin kita menang terhadap kejahatan. Tuhan juga memberi tahu apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa menang terhadap kejahatan. Mengalahkannya dengan kebaikkan!

Guys, sekarang keputusan itu ada di tangan kita. Apakah kita mau?

Jakarta, 20 Maret 2008