|
Mengampuni Lebih Sungguh
Oleh: Grace Suryani
Guys,
selama hampir 1 tahun ini saya belajar jadi guru, banyak pengalaman
yang saya dapat. Banyak pelajaran yang saya pelajari. Salah satu
pelajaran yang utama adalah belajar mengampuni. :)
Saya dulu memang pernah mendengar, melihat dan
juga merasakan, ada banyak guru yang kepahitan, baik kepahitan
terhadap guru lain, sekolah, atau bahkan terhadap murid-murid. Dulu
saya cenderung ‘menyalahkan’ orang-orang yang kepahitan
tersebut. *upsss …* ternyata setelah saya benar-benar masuk ke
dalam ‘medan pertempuran’, en saya sempat terjangkit virus
kepahitan juga, baru saya mengerti. Hehehe. Dulu ketika saya ketemu
dengan guru yang marah sama anak-anak gara-gara mereka tidak
menghargai beliau, saya pikir guru ini gila hormat *duh … saya ini
terlalu cepat menghakimi!!*, sampai saya sendiri yang berada di
posisi beliau.
Bayangkan guys, sudah cape-cape menyiapkan
bahan,puter otak semaleman mencari cara yang baik untuk mengajar,
mikirin games ini itu,pake pendekatan blabalabla, eh begitu di
kelas, anak-anak pada teriak. "Bosen laoshi!! Kok ngga kayak
bahasa lain sih." Duh guys … hati ini miris juga! Oi gue baru
tidur jam 2 pagi en jam 4 pagi dah bangun lagi tau!!! Atau ketika
ada anak-anak yang ‘kabur’ ke UKS dengan alasan, "sakit
perut, ngantuk, kurang tidur." Kurang tidur, ini alasan yang
paling saya BENCI. Kenapa? Coz saya tau guru-guru senior yang
rumahnya jauh dari sekolah banyak banget yang tiap hari cuman tidur
beberapa jam!! Guru-guru tuh rata-rata bangun jam 4-5 pagi, belum
lagi yang harus nyiapin makanan untuk keluarganya. Mereka lakukan
itu untuk murid-murid, but anak-anak yang untuknya guru-guru itu
berkorban, mereka justru lari ke UKS karena alasan kurang tidur …
rasanya … urrghhh … ngga karu-karuan, Guys.
*Kalau ada murid-murid yang baca
ini, saya cuman bilang 1. BERTOBATLAH ENGKAU! Hehehe. Mudah untuk
mengkritik guru kalian, mudah untuk mengatakan guru kalian ngga
update, ngajarnya boring, ngga ngerti kalian, tapi pernahkah kalian
melihat diri kalian sendiri? Ketika guru-guru menghukum kalian,
pernahkah kalian berpikir kenapa kalian dihukum? Daripada sibuk
mengkritik orang lain, mulailah melihat diri kalian sendiri. Kalau
ada guru yang terus menerus marah-marah di kelas kalian, coba pikir.
Kenapa? Daripada kalian ngomel en maki-maki guru itu en jelas-jelas
tidak menyelesaikan masalah, lebih baik berdoa buat beliau. Siapa
tau keluarganya ada yang lagi sakit, siapa tau beliau sedang sakit
…*
Guys, menghadapi hal-hal seperti
itu, saya jadi tersadar, upsss kalau saya tidak hati-hati, saya juga
bisa masukan BSH neh! Barisan Sakit Hati. :p Jauh lebih mudah
menyimpan dendam kepada murid-murid itu *Liat loe, Afektif loe gue
kasih D, baru nyahok loe!! Ngga naek kelas! Sukurin!*, jauh lebih
mudah untuk mengeluh dan ngata-ngatain mereka di ruang guru daripada
untuk mengampuni mereka. Tapi saya tau, sebagai anak Tuhan saya
dipanggil untuk mengampuni dan mengasihi, bukan membenci dan
mendendam.
Mengampuni dan mengasihi adalah sebuah pilihan.
Bukan perasaan. Kita harus memilih untuk mengampuni dan mengasihi.
Itu memang terkadang menyakitkan, tapi itu yang akan membebaskan
kita.
Saya percaya bukan kebetulan kalian membaca
tulisan ini. :) Saya percaya Tuhan ingin kalian membaca tulisan ini,
karena Tuhan ingin memberikan 1 tugas besar kepada kalian. Tugas,
memutuskan rantai kebencian.
Ketika ada murid yang ‘menurut saya’, dia
tidak menghargai saya, lalu saya benci sama dia, apa yang akan
terjadi? Murid itu mungkin juga akan balik sebel en membenci saya.
:p Kalau saya teruskan kebencian saya terhadap guru-guru lain.
"Itu anak tuh menyebalkan banget, masak dia
blabalbalabla.", kemungkinan akan ada guru yang lain juga jadi
sebel sama anak itu. Kalau anak tersebut, cerita-cerita sama
temannya, "Gue sebel banget ama si Laoshi. Blabalbala.",
trus temannya ikut sebel sama saya … bayangkan berapa orang yang
terseret ke dalam rantai kebencian?
Tuhan memberikan kita 1 hak khusus lewat
pengampunan, yaitu kemampuan untuk memutuskan rantai kebencian.
Bayangkan guys, berapa orang yang bisa terselamatkan dari rantai
benci membenci kalau kita memutuskan tidak ikut membenci? Akan ada
berapa banyak jiwa yang terselamatkan karena kita memutuskan untuk
mengampuni? :)
"Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan,
tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikkan." Roma 12:21.
Tuhan tidak ingin kita pasrah di bawah kejahatan. Tuhan tidak ingin
kita bersikap, "Ya sudah, kalau org itu emank benci sama saya,
ya sudahlah." TIDAK. Tuhan ingin kita menang terhadap
kejahatan. Tuhan juga memberi tahu apa yang harus kita lakukan
supaya kita bisa menang terhadap kejahatan. Mengalahkannya dengan
kebaikkan!
Guys, sekarang keputusan itu ada di tangan kita.
Apakah kita mau?
Jakarta, 20 Maret 2008
|