|
Love Regardless
Oleh: Grace Suryani
Beberapa hari kemaren saya pergi ke Singapore dengan 2 misi. Misi
yang pertama meminta konfirmasi dari Tuhan mengenai kemungkinan saya
untuk LASIK. Misi kedua, yang soal hubungan saya dengan pacar saya.
Kedua misi tersebut berhasil, sekalipun dengan cara yang tidak saya
bayangkan. :p
Yang pertama soal mata. Tadinya saya berharap, dokter di Singapore
akan bilang, “Yak, mata dan kondisi kamu memungkinkan untuk
LASIK”, tapi ternyata ngga. :p en saya jadi sadar, sebenernya saya
berangkat tidak dengan hati yang terbuka untuk menerima apapun
jawaban Tuhan! Saya
pengen Tuhan jawab Iya. :p En ternyata jawabannya tidak. Malahan
saya jadi tau fakta-fakta baru tentang bagaimana sebenarnya kondisi
mata saya, plus konsekuensi² logis yang mungkin muncul kalau saya
melakukan tindakan apapun. :o Saya kecewa dan sedih banget waktu
denger.
Ketika saya pikir misi saya ‘gagal’ (padahal sebenarnya tidak
gagal, en saya jadi tau jawaban Tuhan, TIDAK :p), tanpa saya sadari
jawaban atas misi kedua muncul. Jawaban yang menyentak saya.
Udah hampir 1 taon saya pacaran, kalau ditanya, “Loe sayang kagak
ama co loe?”, yah secara teori sih saya bisa bilang, “Yah sayang
lah. Kalo kagak ngapain gue
jadian!” tapi sebenernya deep inside my heart, kadang saya masih
suka argue dengan Tuhan. Pacar saya itu not my type at all. Saya
suka co-co potongan esmud yang keren-keren, co saya
gaya
berpakaiannya ala apak-apak (oom-oom). Saya tadinya sempat berpikir
mungkin dapet calon Pdt, pacar saya candidate Ph.D :S *Tuhan
sekalipun Pdt dan Ph.D sama-sama ada P dan D nya,tapi kayaknya saya
tuh lebih kebayang jadi istri hamba Tuhan drpd jadi istri
scientist!!* saya lebih suka sama co yang gaul en popular, co saya
sepertinya tidak masuk kedua kategori itu.
Kadang dalam hati kecil, ketika kami berantem
saya bertanya pada Tuhan, “Kau ngga salah kah Tuhan?! Emank ngga
ada co laen di dunia ini?!?! Kenapa kasih yang model kayak
begini!!” sejujurnya sebenernya kalimat itu berbunyi seperti
ini.
“Tuhan, Tuhan kan tau siapa saya. Saya
gini-gini penulis buku loh *Btw guys, buku ketiga saya udeh terbit
loh. Beli
yaaaa*. Masak sih Tuhan kasih yang model seperti ini? I deserve
someone better!!”
Ternyata
saya belum bertobat dari dosa kesombongan. :S
Faktanya
guys, saya bahkan tidak tau siapa saya yang sebenarnya. Saya tidak
tau seperti apa kondisi mata saya yang sebenarnya.
Ketika saya
down denger tentang mata saya, pacar saya bilang bahwa dia sudah
mempertimbangkan semua hal ini bahkan sebelum dia maju untuk nembak
saya. En apapun hasil pemeriksaan dokter, ngga mengubah hubungan dia
dengan saya.
Waktu itu, ini yang saya pikirkan. Saya
percaya Tuhan tau yang terbaik untuk saya, en bahkan mata saya ini
pun ada di dalam rencana Tuhan. kalaupun ini ‘salib’ yang harus
saya pikul, saya siap. Coz ini mata SAYA! Pilihan yang bisa saya
ambil hanya, menerima atau tidak. En saya mau menerima. Jujur
sejujurnya, saya mau menerimanya juga karena saya tau, saya tidak
bisa ‘kabur’ dari mata saya. Hehehe.
Tapi ini kan bukan mata pacar saya. Ini salib
yang semestinya tidak perlu dia tanggung. Kalau kita putus gara-gara
ini, saya rasa saya bisa menerima. Siapa sih yang mau punya pasangan
hidup yang sakit-sakitan, en ada kemungkinan ‘cacat’ for the
rest of her life?
Keputusan yang dia ambil membuat saya ngga
tau harus ngomong apa. Saya merasa malu dengan kesombongan saya,
dengan kecaman-kecaman yang sering saya lontarkan padanya.
Ejekan-ejekan yang saya katakan. Saya mikir, oke, maybe he isn’t
perfect. Dia ngga kayak esmud, ngga gaul, a little bit freak, but
I’m not perfect either. Bahkan saya punya beberapa kelemahan yang
jelas-jelas cukup fatal. Keputusan pertama yang saya ambil adalah
benar-benar bersyukur atas hubungan saya en melepaskan dia dari
semua ekspetasi saya, tidak lagi menuntut dia.
Malemnya sebelum saya tidur, saya merenungkan
ini semua. Saya melihat Tuhan ada di situ.
Ketika kita sadar, siapa kita yang
sebenarnya, seberapa buruknya kita, kita akan berhenti
‘menuntut’ Dia. Saya tau Tuhan tidak berutang kepada saya.
Tuhan tidak berkewajiban membuat mata saya sehat. Bahkan
sebaliknya, Tuhan memberi banyak hal yang luar biasa dalam hidup
saya. Saya memutuskan untuk tidak hanya tidak mengeluh tapi juga
bersyukur untuk kondisi mata saya.
Guys, ketika kita mendapati diri kita
‘tidak puas’ dengan tubuh yang Tuhan beri, keluarga yang Tuhan
anugerahkan, tempat kerja yang Tuhan percayakan, ketika kita mulai
tidak bersyukur, ingat hal ini. kita sebenernya seharusnya sudah
mati sekarang! Dosa kita begitu banyak, begitu besar, begitu
menjijikkan. Tapi Tuhan mau mati bagi kita. Pantaskah kita mengeluh?
Setan akan selalu berusaha untuk membuat kita
bertanya, “Why bad things happen to good people?”. Padahal
ketika kita sadar siapa kita sebenarnya, semestinya kita bertanya,
“Why good things happen to bad people?”
Kita semua
orang berdosa. Kita semua pantas mati. Kita
semua pantas mati dengan cara mengerikan. Kita
semua pantas untuk disiksa. Tapi Tuhan mengaruniakan Anak-Nya, Tuhan
memberi kita hidup, suka cita, damai sejahtera, keluarga, mencukupi
kebutuhan kita. Pantaskah kita mengeluh?
Bagi saya, kalau saya sakit itu hal yang
wajar. Tubuh saya penuh dengan dosa. Tapi dalam 1 tahun, Tuhan hanya
memberikan beberapa hari sakit, dan sisanya saya hidup dengan
anugerah tubuh yang sehat. Kesehatan itu bukan hak, kesehatan itu
kasih karunia. Sepanjang tahun belajar mengajar ini, saya cuman izin
1 hari karena saya sakit yang bener-bener sakit. Sisanya, Tuhan
mengaruniakan kesehatan. Tidakkah itu luar biasa?
Guys, kita sungguh bersyukur punya Allah yang
luar biasa. saya rindu, kalian mengalami sukacita yang saya
alami, bahkan kalo bisa lebih bersuka cita lagi hehehe. As a
Christian, ketika ada hal yang baik, kita bisa bersuka cita, ketika
ada hal yang menurut manusia kurang baik, kita tetap bisa bersuka
cita, karena Allah tau apa yang sedang Ia lakukan, dan Tuhan tidak
pernah salah.
Jakarta, 26 Mei 2008
Tuhan,
aku percaya Kau sanggup menyembuhkan mataku. Aku percaya Kau tau
mana yang lebih bae untukku, mana yang lebih bae untuk kerajaan-Mu
sepasang mata yang sehat, atau mataku yang sekarang. Let
Your will be done.
|