|
Keping-keping Hati
Oleh: Grace Suryani
untuk seorang ksatria,
ksatria, aku tau bahwa kau hidup. kau nyata. dan kau ada. sekalipun
bayang-bayangmu belum pernah menerpa hidupku. tapi aku percaya bahwa
kau ada. karena Tuan kita yang menjanjikannya. Tuanku, dan Tuanmu.
kita hidup dan kita melayani Tuan yang sama. selama Dia tetap
menjadi Tuanmu, dan Dia tetap adalah Tuanku, aku yakin aku akan
bertemu denganmu, ksatria.
hal pertama yang harus kukatakan kepadamu adalah permohonan maafku.
dahulu Tuan kita menitipkan suatu harta yang sangat mahal. harta
yang tak ternilai. Ia titipkan padaku. Ia berkata bahwa harta itu
milik-Nya dan suatu hari nanti setelah kau menunaikan tugasmu dengan
baik, setelah kau menang dalam peperanganmu, setelah kau membuktikan
bahwa dirimu setia dalam segala perkara kepada Tuan kita, harta itu
akan dianugerahkan menjadi milikmu. Ia titipkan harta itu padaku.
tapi dahulu, aku memandang rendah harta itu. aku tau harta itu milik
Tuan, dan itu akan dianugerahkan kepadamu, tapi aku bersikap
seolah-olah itu milikku.
aku tidak hanya tidak menjaganya dengan baik (harta itu berkarat dan
penuh kotoran) tapi aku betul2 memandang rendah itu sampai aku
menjajakannya di pinggir-pinggir jalan. aku memberikan itu pada
setiap orang yang aku suka. aku bahkan melemparkan harta itu kepada
babi-babi dan anjing yang menginjak-injak, meludahi harta itu. aku
menyia-nyiakan harta Tuan kita.
sampai suatu hari, Tuan kita menegurku. “Dimana harta-Ku yang
kutitipkan kepadamu?”
dan aku memberikan padanya seonggok sampah. harta itu sudah menjadi
tumpukan sampah yang berbau busuk. Tuan kita sampai harus menutup
hidung-nya karena sampah itu begitu bau … Ia menegurku, ‘Tidakkah
kau tau, harta itu bukan milikmu? Harta itu milik-Ku dan suatu hari
nanti akan Kuberikan pada ksatria. Kenapa kau tidak menjaganya
baik-baik? Apa yang kelak akan kaukatakan ketika ksatria datang dan
meminta hartanya?’
aku membela diriku, ‘apakah ia memang ada? sudah begitu lama aku
hidup, dan suara jejak kakinya pun tidak sampai ke telinggaku.
apakah ia memang ada? aku pikir ia tidak akan pernah datang, jadi
kuhabiskan saja harta itu. lagipula jika ia datang belum tentu juga
ia akan menghargai harta itu. lihatlah Tuan, aku sudah membagikannya
kepada banyak babi, kepada anjing-anjing dan tidak satupun dari
mereka yang menghargainya. Babi-babi itu menginjak-injak harta itu.
anjing-anjing meludahinya. Jadi aku pikir ksatria juga akan
melakukan hal yang sama. untung apa aku bersusah payah menjaganya?!’
Waktu itu Tuan kita memandangku dengan tajam, ‘Harta itu milik-Ku
dan Aku akan memberikannya kepada siapa Aku berkenan memberikannya.
Harta itu upah yang Aku sediakan bagi ksatria. Anjing2 tidak
mengerti harganya, babi-babi apalagi … tapi seorang ksatria tahu
menghargai harta Ilahi. Seorang ksatria tidak hanya tau harga dari
harta Ilahi, ia juga tau cara menjaganya. Ketika ia kembali dan
meminta harta Ilahi itu, apa yang akan kau katakan kepadanya?’
ksatria, aku bersalah kepadamu. sungguh. aku berdosa kepada Tuan
kita, dan aku bersalah kepadamu. karena aku tidak menjaga apa yang
kelak akan menjadi milikmu. aku mengira kau tidak akan pernah datang
… aku menganggap kau sama dengan babi-babi dan anjing-anjing itu …
aku tidak menghargaimu sama sekali. bahkan dahulu aku berpendapat
aku akan memberikan sampah itu kepadamu, kau yang harus bersihkan
itu sendiri … bukan aku. Aku tidak mau bertanggung jawab.
Tuan kita bermurah hati kepadaku. ketika aku mengakui kesalahanku
dan aku menyerahkan sampah itu kedalam tangan-Nya, Ia
membersihkannya. kotoran-kotoran itu dibersihkan. bau itu
perlahan-lahan hilang. harta itu dicuci dengan darah-Nya. tapi Ia
berkata kepadaku, ‘Aku bisa membersihkan kotoran-kotoran yang ada,
tapi semua keping yang telah kau berikan kepada orang lain, tidak
bisa dikembalikan.’ Ya, harta itu perlahan-lahan kembali menjadi
bersih, tapi tidak lagi lengkap. Kembali menjadi suci tapi tidak
lagi sempurna … seperti keadaan semula. Harta itu tidak seutuh dulu
ketika Tuan kita menitipkannya kepadaku.
Maafkan aku, ksatria.
Bertahun-tahun aku membagikan hatiku untuk semua pria yang aku
sukai. dan mereka tidak pernah menghargai itu. mereka
menginjak-injaknya. mereka tidak menghargai itu, karena memang
hatiku bukan bagian mereka. Hatiku itu upah yang Tuan kita sediakan
khusus untukmu. Itu upahmu. Itu bagianmu. Karena kesalahanku, aku
tidak menjaga hatiku baik-baik. banyak kepahitan yang ada di
dalamnya, banyak luka, hatiku busuk dan berbau. dulu aku tidak
peduli, bahkan dulu aku bertekad membawa masuk hati yang busuk
kedalam hubungan kita kelak … karena aku begitu memandang rendah
kau, ksatria. Tapi itu dahulu. ketika aku bertobat, Tuan kita
mengubahnya, tapi keeping-keping yang sudah kujajakan dengan
percuma, keping-keping yang hilang di mulut babi-babi, keping-keping
yang hancur dibawah kaki para anjing, tidak bisa kembali.
Keping-keping itu hilang … dan aku sungguh-sungguh menyesal.
sekarang, aku menyerahkan keping-keping yang tersisa kepada Tuan
kita. aku memeteraikan itu dibawah Nama-Nya. aku berjanji tidak akan
memberikan keping-keping itu lagi kepada siapapun. Aku belajar utk
menjaga hatiku, karena aku sadar hatiku bukan milikku, itu milik
Tuan kita. dan suatu saat nanti, itu akan menjadi milikmu.
ksatria, dimanapun kau berada, berperanglah dengan setia. Bawalah
pulang kemenangan-kemenangan yang mulia untuk Tuan kita. Kau tidak
perlu tergesa-gesa atau menujukan matamu kepada upah itu. tujukan
matamu kepada Tuan kita dan tujukan tanganmu kepada peperanganmu.
ingat, Tuan kita tidak akan memberikan upah itu kepadamu, sampai kau
menggenapi bagianmu. Dan jangan kuatir, selama engkau setia Tuan
kita juga tidak akan memberikan upahmu kepada orang lain Aku
berjanji akan menjaga hartamu selama kau berperang. Tidak lagi akan
ada babi dan anjing yang mengotori hartamu. Bertempurlah dengan
setia, dan kelak Tuan kita yang melihat semua kesetiaanmu, semua
jerih lelahmu akan memandang kau layak untuk menerima kehormatan
yang lebih besar. Ia akan memberikan tanggung jawab yang lebih besar
kepadamu, memiliki dan merawat harta milik-Nya, hatiku.
your (future) queen
Jakarta, 29 Juli 2004
“siapa mendapat istri, mendapat sesuatu yang baik dan ia dikenan
Tuhan” amsal 18 : 22
|