|
Damai, Cita, dan Sukacita
Oleh: Henry Sujaya Lie
Hari Natal datang lagi. Hari untuk memperingati kelahiran Kristus,
walau tentu saja Kristus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember,
tetapi ini adalah suatu tradisi untuk memilih hari itu memperingati
suatu momen yang sangat bermakna dalam hidup manusia.
Di bawah gemerlapnya lintasan pita-pita hiasan
Natal di sepanjang Orchard, dan gemuruhnya teriakan para pedagang
mengkomersialkan Natal, marilah kita berhenti sejenak dan bertualang
ke masa lalu bersama para saksi-saksi Natal pada jaman itu:
1. Gembala di Padang – bukan di Orchard,
bukan di Bait Allah (Lukas 2:8-20)
Pada saat itu para gembala adalah orang-orang sederhana yang
bergumul dalam keseharian hidup. Israel sedang dijajah Romawi saat
itu, dan kehidupan tentu sukar bagi mereka. Dari status ekonomi,
mereka hidup dari hari ke hari, dari status keagamaan mereka bukan
orang-orang yang “religius” terhormat di mata manusia seperti
orang-orang Farisi.
Allah memilih mereka dan mengutus
malaikat-malaikat untuk menyanyikan paduan suara termegah – yang
jauh lebih megah daripada Christmas at Orchard – yang menyanyikan:
“ Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai
sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.”
Ada apa di balik pesan itu:
- Siapapun kita, walau kita sederhana di mata manusia, Allah
berkenan menyatakan kemuliaanNya dalam hidup kita. Allah tidak
mengutus malaikatNya datang ke Bait Allah kepada orang-orang Farisi
yang merasa “sok rohani”. Allah memilih orang-orang yang rendah
hati.
- Damai sejahtera dijanjikan. Walaupun di tengah
kesesakan akibat penindasan orang Romawi, Allah menjanjikan damai
buat mereka. Saat ini kita hidup di tengah ketidakpastian. US dollar
yang perkasa digoyang-goyang, bom meledak di mana-mana, pemimpin
dunia silih berganti, perusahaan sering memecat orang. Tapi satu hal
abadi, damai sejahtera Allah.
2. Penantian yang Setia dan penuh cita –
Simeon dan Hana (Lukas 2:21-40)
Ketika Yesus berumur 8 hari, Dia dibawa untuk disunatkan ke
Yerusalem. Di sana ada yang bernama Simeon dan Hana yang telah
berharap untuk melihat Mesias dan Tuhah menggenapi pengharapan
mereka sampai-sampai Simeon berseru, “Sekarang, Tuhan biarkanlah
hambamu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan FirmanMu..”
Dapat Saudara bayangkan betapa hebatnya
pengharapan Simeon sampai-sampai menanti sampai akhir
hidupnya..Simeon menanti dengan setia karena tahu cinta Allah bisa
dicita (diharap) dan citaNya (harapNya) bisa dicinta.
Demikian juga dengan cerita orang Majus (yang
sebetulnya tidak tertulis kalau jumlahnya ada tiga). Mereka
menanti-nantikan seorang Raja, dan pengharapan mereka begitu besar
sehingga mereka melangkah dan mengembara ke tanah asing, sampai
pengharapan mereka digenapi, betapa bersuka cita mereka menemukan
sang Raja di palungan.
Ada apa di balik pesan itu:
Lihat kepada Yesus, Dia adalah tetap jawaban dari segala pengharapan
kita.
3. Ketaatan membawa sukacita – Maria
Pada saat Maria didatangi Gabriel, Maria taat dan mengambil
keputusan yang membahayakan jiwanya. Saat itu menurut tradisi
Yahudi, Maria bisa dirajam oleh batu hidup-hidup karena hamil
sebelum menikah (baru bertunangan). Tapi Maria mengambil segala
resiko untuk taat dan cinta kepada AllahNya. Karena dia tahu Allah
juga telah mengambil resiko terbesar dalam cintaNya telah turun dan
menyelamatkan manusia (Lukas 1:54-55) dan dia percaya berkat Allah
baginya sehingga dia akan disebut yang paling berbahagia (Lukas
1:48)
Ada apa di balik pesan itu:
Ketaatan membawa sukacita terbesar.
Penutup
Natal ini membawa damai, pengharapan dan sukacita. Marilah
kita buat Natal ini sesuatu yang baru dalam sejarah hidup kita,
seperti Dia mengulurkan tangan dan berkata, “Look, I am standing
at the beginning with you….”
*****
Singapore, Desember 2004
|