|
Thanksgiving Memorial
Oleh: Henry Sujaya Lie
Sebentar lagi kita akan menutup tahun ini dan membuka lembaran baru di tahun baru. Ya...ya, memang masalah tahun baru atau tidak sebetulnya cuma sentimental umat manusia saja. Tiap hari bisa merupakan tahun baru. Tiap hari adalah lembaran baru. Tiap hari sebetulnya sama saja.
Tapi tak apalah. Manusia, toh makhluk sentimental juga. Kadang-kadang simbol juga berguna untuk menggugah kita. Jadi terlepas dari apakah tahun baru akan datang atau tidak, satu esensi tetap berlaku bahwa hidup ini adalah perjalanan. Kita menengok ke belakang akan hari-hari kemarin dan menatap ke depan akan hari-hari esok.
Paling tidak ada dua cara tipikal orang memandang perjalanan mereka.
Satu cerita tentang orang Israel di Masa dan Meriba. Kisah ini ditulis di Keluaran 17:1-7. Bangsa Israel baru saja keluar dari tanah Mesir dan sedang menuju ke tanah perjanjian. Di hadapan mata mereka sendiri Firaun yang merupakan momok menakutkan lenyap tenggelam ditelan Laut Merah. Mereka berjalan diapit dinding air dan di atas tanah kering ketika menyeberang Laut Merah. Lalu Allah membawa mereka ke Elim dimana ada 12 mata air dan 70 pohon korma. Lalu Allah menyediakan roti dari sorga, manna. Semua itu merupakan perkara supranatural yang sangat sangat ajaib. Yang bahkan tidak terulang lagi dalam sejarah manusia. Betapa dahsyat kejadian itu!
Namun bukan itu yang mereka tengok ke belakang. Kata-kata mereka penuh sesal, gerutu dan kutuk. "Ah...kalau saja kami masih di Mesir....gara-gara kamu, Musa! Mengapa kamu mau membunuh kami? "..dst,dst,dst.....
Dan mereka menatap masa depan mereka dengan suram, "Jadi kamu (Musa) ingin kami mati di padang gurun?...Sanggupkah Allah menolong kita? Tuhan itu ada ngga sih?" Alkitab mencatat dengan pedih kesimpulan perikop Kel 17:1-7 ini," ...oleh karena mereka (bangsa Israel) telah mencobai Tuhan dengan mengatakan: 'Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?' "
Kini cerita tentang satu tipikal orang lagi. Kisahnya dari I Samuel 7:2-14. Baca dulu, ya .. :)
Bangsa Israel sedang ditindas oleh orang Filistin, lalu mereka berseru kepada Tuhan. Samuel memimpin bangsa Israel melawan Filistin, dan Tuhan menjawab doanya dengan memukul kalah orang Filistin. Orang-orang Israel mengejar orang Filistin dan memukul kalah mereka sampai di Bet-Kar. Alkitab mencatat dengan indah, "Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: 'Sampai di sini Tuhan menolong kita.' " Dan Tuhan tidak berhenti menolong mereka sampai di situ, tercatat di situ bahwa tangan Tuhan melawan orang Filistin seumur hidup Samuel!
O, sungguh setia Tuhan. Sungguh setia. Sungguh menyesal saya bahwa torehan tulisan ini tidak dapat menggambarkan kasih setia Tuhan.
Kalau saya menengok ke belakang, ya perjalanan saya banyak tidak mulusnya. Seperti perjalanan orang Israel, kadang-kadang kalau dipikir Allah sungguh tidak efisien, kenapa tidak langsung membawa orang Israel langsung ke tanah perjanjian dalam waktu sedetik? ..Zaaaap!...seperti teleportasi-nya film Star Trek. Kenapa harus melewati konfrontasi dengan Firaun, lewat mata air yang pahit, lewat kekeringan, dst,dst..... Kalau saya menengok ke belakang, ingin saya mengeluh bahwa banyak turun naik dan gejolak dalam perjalanan saya dan masa depan penuh kekuatiran. Tapi Tuhan hanya menjawab dengan lembut, "...but I never failed you, right?" Ya...Tuhan telah menolong saya sampai di sini. Dia menuntun saya satu langkah satu saat. Sampai langkah ini Dia telah menolong saya, dan Dia setia. Dan hari esok akan saya lalui dengan pertolongan Tuhan! Dia setia sampai seumur hidup saya, Dia akan menolong saya.
Mungkin Allah tidak efisien di mata seorang IT programmer yang sok tahu seperti saya. Bagi saya kalau bisa 'coding' satu baris kenapa muter-muter seribu baris? Tapi sungguh, lewat 'ketidak-efisienanNya', saya sadar betapa Allah cinta saya sangat.
Sampai di sini Tuhan menolong kita. Saya berhenti dan bersyukur. Dan membangun tugu peringatan di hati saya. Dan percaya Dia akan tetap setia dan menolong saya.
Sekali lagi.
O, sungguh setia Tuhan. Sungguh setia. Sungguh menyesal saya bahwa torehan tulisan ini tidak dapat menggambarkan kasih setia Tuhan.
* * * *
Singapura, 23 Des 2003
Untuk FA Clementi.
Untuk Niko Prajogo dan Lazarus.
To DIM, this is the sermon you wanted to hear that day.
|