• PDF

DEMONSTRASI

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:38
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 551 kali
Tadi siang seorang teman menelepon, "Jangan lewat By Pass, di depan Gedung Bea Cukai lagi ada demonstrasi," katanya.

"Demonstrasi apa?" saya tanya.

"Nggak tahu. Pokoknya jalanan macet total, karena satu arah jalan diblokir para demonstran."

Saya tidak merasa kaget lagi, apalagi heran. Demonstrasi sudah menjadi makanan sehari-hari media massa; dari demonstrasi yang jelas tuntutannya, sampai demonstrasi yang tidak jelas maunya apa. 

Yang ikut demonstrasi pun rupa-rupa motivasinya. Ada yang memang dengan tulus mengikuti suara hatinya; melihat ketidakadilan dan ketimpangan sosial, lalu ingin turut menyuarakannya. Ada yang karena ikut-ikutan; teman berdemo maka ikut sajalah berdemo. Ada yang sekadar pingin nampang; siapa yang tidak bangga masuk koran atau TV sedang berdemo. Ada juga yang karena dibayar; zaman lagi susah begini, tidak sulit mencari orang yang mau dibayar ceban atau noban, untuk mengacung-acungkan kertas kartun bertulisan spidol besar-besar.

Masyarakat sendiri tampaknya sudah jenuh, sudah tidak (mau) terlalu peduli lagi. Bahkan tidak sedikit kalangan yang menjadi kesal. Lain sekali dengan ketika demontrasi mahasiswa bulan Mei 1988 yang lalu, masyarakat dari berbagai kalangan begitu antusias mendukung. 

Saya pribadi mengerti dengan kekesalan itu. Bayangkan sopir kendaraan umum yang harus pulang dengan tangan hampa, tidak bisa mengejar setoran karena jalanan macet. Atau orang-orang yang ketika demo berlangsung kebetulan sedang berada dalam keadaaan mendesak, seperti pernah terjadi; jalan tol di blokir oleh para pendemo, pada saat bersamaan ada seorang ibu yang tengah berburu dengan waktu karena mau melahirkan. Belum lagi kalau bicara tentang para pedagang kecil di pinggir jalan, yang tidak jarang harus merelakan barang dagangannya hilang atau hancur gara-gara ulah sebagian pendemo.

Sebenarnya lucu, kalau tidak mau dibilang ironi. Mereka berdemo menuntut hak, pada saat bersamaan mereka, juga melanggar hak orang lain. Ah, jangan-jangan memang baru di situlah taraf bangsa kita; baru bisa menuntut hak, belum bisa melaksanakan kewajiban menghargai hak orang lain. Setelah 55 tahun merdeka dan kita baru sampai pada taraf ini, barangkali itulah krisis yang sebenarnya terjadi di negeri ini.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."