• PDF

Buluh Yang Terkulai

Penilaian Pengunjung: / 16
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 Juli 2009 15:34
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 3316 kali

Selama ini saya selalu menulis renungan. Izinkan sekali ini saya menulis cerpen. Terima kasih, pembaca.

****************
Semilir angin laut pantai utara Jawa menghembus mukaku. Sedikit menghibur dan menghalau rasa galau di hati. Aku menghela nafas. Kesal? Menyesal? Entahlah aku sendiri tak tahu apa yang aku risaukan.

Sudah beberapa minggu ini aku tinggal di komplek asrama sekolah pelayaran ini. Selepas wisuda sebagai lulusan terbaik dari Universitas di kota ini juga, aku tidak menduga, kalau aku harus memperpanjang masa tinggalku di kota ini. Kota yang gersang, panas. Lain dengan kampung halamanku yang dingin dan sejuk. Kota yang sudah kudiami selama empat tahun terakhir sampai lulus kuliah, tapi tetap rasanya tidak dapat membuatku betah. Ah, aku mengeluh. Kalau saja, beasiswa master-ku diterima di Eindhoven, Belanda. Mungkin pagi ini aku terbangun dengan bunga-bunga tulip menyapa di jendelaku. Atau kalau lamaran beasiswa Monbusho-ku diterima pemerintah Jepang, aku sudah berjalan-jalan di tengah-tengah padang bunga sakura.

Tapi, ya sudahlah. Dalam kebingungan dan kekecewaanku, satu-satunya tawaran yang ada adalah untuk membantu mengajar “Rangkaian Listrik” dan “Elektronika” di sekolah pelayaran ini. Dan di sinilah aku sekarang.

Hari-hari pertama agak sulit, aku mesti menyesuaikan diri dengan suasana dan ‘budaya’ sekolah itu yang belum pernah aku alami. Aku menyadari tentu cara dosen-dosenku mengajar dulu, tidak bisa diterapkan di sini. Tapi menarik juga, banyak dari mereka datang dari pelosok-pelosok jauh. Datang dengan cita-cita dan tekad. Banyak dari mereka datang dengan latar belakang kehidupan keras dan tidak mudah. Aku berusaha juga untuk mengenal dan dekat dengan mereka, dalam beberapa minggu ini.

****
Malam itu aku terbangun oleh suara huru-hara. Berisik sekali di komplek asrama ini oleh suara riuh rendah dan teriakan orang-orang. Aku keluar dari kamar pengap-ku, cuma mengenakan sarung dan kaos oblong, mencoba mencari tahu apa yang terjadi.

Kilatan sinar senter berkelebatan di mana-mana.

Aku melihat Jati, salah seorang muridku datang tergopoh-gopoh dengan muka pucat.
“Pak, pak...ada yang mati....”

Sekejap saraf-sarafku terjaga dan aku pulih total dari rasa ngantuk-ku.
“Kenapa? Sopo?”

“Jason...dibunuh, Pak....” Mengucapkan kata itu, suara Jati terdengar gemetar. Dan pemuda yang tinggi kekar hitam itu jadi kelihatan seperti anak kucing ketakutan.

Aku tidak menyahut, tapi buru-buru berlari ke pusat kerumunan.

Tuhan. Aduh! Aduh....!

Aku tidak tahu mesti merasa apa. Di situ aku melihat Jason, salah satu muridku sudah tergeletak, bergelimang dengan darah. Aku belum pernah melihat darah tercecer sebanyak itu.

“Ayo – ayo semua minggir! Ambulan sudah dipanggil, semua minggir!” Aku melihat Pak Lasno, salah satu dosen senior, berteriak-teriak berusaha membubarkan kerumunan.

Aku menepi sesaat. Rasanya tidak percaya, beberap hari pertamaku sudah disambut dengan kejadian seperti ini.

Sekelompok murid-muridku mendekatiku. Tidak jelas lagi siapa mereka, tapi satu-satu berusaha menjelaskan apa yang terjadi.

“Dia dibunuh Lontar, Pak...”
“Awalnya Jason menghina dan mempermainkan dia, Pak....”

Setelah beberapa saat, kurang lebih aku tahu duduk ceritanya. Lontar anak dusun dari kepulauan timur, anak miskin yang sederhana. Tidak jelas bagaimana awal mulanya, yang jelas Jason –anak dari Jakarta dan anak pejabat juga- bertengkar dengan Lontar. Lalu mengancam Lontar dengan pisaunya, mungkin memperolok-oloknya. Dan akhirnya...Jason yang terkapar dengan pisaunya sendiri tertancap di perutnya.

Ya, aku ingat Jason, anak yang suka bicara, dan besar mulut, sementara Lontar aku ingat satu anak pendiam, lusuh dan kelihatan bodoh dan kampungan.

“Mas Henry, ayo mas ikut bantu sini...” Sekonyong-konyong Bu Tuti, salah satu dosen senior memanggilku.

Ternyata Lontar naik ke tingkat atas salah satu bangunan, berdiri di jendela, bersiap-siap hendak meloncat dan mengakhiri hidupnya. Kami bergegas lari, terengah-engah mendaki tangga. Ruangan di mana dia berada terkunci rapat. Ramai kami berusaha menggedor pintunya. Aku melihat wajah-wajah bingung para dosen yang lain. Keriput muka Pak Lasno dan Bu Tuti, seolah mengatakan mereka tidak sanggup mendobrak pintu itu. Mereka menatapku, mungkin karena aku yang paling muda, dan diharapkan untuk melakukannya.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Entah mengapa tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan, gambar sebuah laci besar yang kosong. Kosong dan hampa.

“Lontar!” Aku berteriak dan memukul pintu sekuat tenagaku. “Dengarkan..!”

Dan aku pun berkata-kata seperti orang gila....

“Hidupmu seperti kosong dan hampa...tapi belum berakhir....dengarkan baik-baik. Tuhan Yesus sanggup beri kau kekuatan, biarkan Dia masuk di hatimu. Jangan putus asa....Dia kan isi hidupmu lagi...Dia kan penuhi hidupmu......baru lagi....”

Hening.

Aku berusaha tidak memandang wajah para dosen yang lain, yang memandangku dengan kebingungan.

Hening. Menit-menit merangkak seperti berabad-abad.

Tiba-tiba terdengar bunyi gerendel dibuka. Aku melihat wajah Lontar bersimbah air mata. Tubuhnya bersimbah darah. Hanya aku melihat damai di matanya.

Dia berjalan pelan, lalu berlari arahku, berlutut dan memeluk kakiku. Terisak-isak, meleleh air matanya.

******
Jujur saja, malam itu aku sungguh-sungguh berdoa, agar Tuhan memberikan mukjizat untuk membangkitkan Jason. Aku berdoa, berteriak-teriak, sisa malam itu, agar mukjzat itu dikabulkan.

Tapi itu tidak terjadi.

Jason dikebumikan sekitar seminggu setelah itu. Lontar diajukan ke pengadilan. Aku tidak mengikuti lagi, cuma aku mendengar cerita bagaimana dia dipukuli sampai hampir mati oleh oknum-oknum, bagaimana suasana pengadilan cukup mengharukan, bagaimana dia berlutut memohon ampun kepada orang tua Jason.

Hidup membawaku ke belokan lain, ternyata. Aku tiba-tiba mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan studiku di National University of Singapore. Belasan tahun lewat, dan aku sudah melupakan peristiwa itu. Ketika tiba-tiba aku mendengar kabar, seorang penginjil muda yang perkasa di daerah Soe, di kepulauan timur. Namanya Lontar.

Aku merenung. Secara jasmani, saat dia menerima Tuhan Yesus malam itu, tidak ada mukjizat. Kalau saja Jason tidak jadi mati, tentu hukumannya tidak berat, malah mungkin bisa saja tidak ke pengadilan. Tapi, Jason tetap meninggal, dan Lontar menghabiskan bertahun-tahun di pengadilan dengan segala siksaannya. Tapi saat itu, entah bagaimana Yesus sanggup memberikan dia ‘hidup’, walaupun dari luar kelihatannya seperti tidak ada yang berubah. Dia tetap dihukum. Sama seperti Daud yang merasa lega setelah memohon ampun setelah membunuh Uria, walau toh dia tetap dihukum. Anak pertamanya tetap mati, dan kelak Absalom memberontak.

Aku juga tidak mengerti bagaimana serentetan kalimatku yang kacau balau di depan pintu, malam berdarah itu – bisa dimengerti oleh Lontar.

Yesus, sepertinya penuh misteri. Atau lebih baik aku katakan, aku tidak sanggup menyelami Dia. Buluh yang terkulai tidak Dia patahkan.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Lisa  - Buluh Yang Terkulai   |125.160.212.xxx |30-07-2009 15:46:01
Ceritanya sangat..."Menarik" dan..."Mengharukan" ada nilai2
moral yang dapat saya ambil di sini yaitu "jika kita menaruh masa depan kita
di tangan TUHAN maka Dia Allah yang sempurna akan bertanggung jawab atas kita
sehingga dalam masalah apapun dapat terselesaikan bersama dengan "DIA"
dan kita "PASTI" keluar menjadi "PEMENANG"...GBU Pak HENRY.
Darmadi  - Buluh Yang Terkulai   |202.70.61.xxx |01-08-2009 15:10:49
TUHAN SELALU MELAKUKAN YANG TERBAIK, CUMA MANUSIA TIDAK SANGGUP MEMAHAMI
CARANYA DARI AWAL SAMPAI SELESAI. AKHIRNYA KITA BARU MELIHAT BAHWA
BENTUKAN TUHAN ITU DAHSYAT..
Rendy Z  - aRti sEbuah KebangkiTan Hidup   |Registered |05-08-2009 13:41:05
bEner@ mEngharukan n Gw nGerasa mAsuk dAlam CeritanyA... n dApet bErkat..
Memang Rencana Tuhan tIdak TersElami.. kIta hAnya pErlu bErjalan di Dalam
RenCananYA tAnpa pErlu bAnyak bErtanya.. YakinlAh sEkeras aPApun jAlanNYa.. Ada
Hal yAng Indah MenunGgu di Ujung jAlan YAng pEnuh sEsak..
GBU All
Imelda  - Buluh Yang Terkulai     |114.120.16.xxx |06-08-2009 01:15:02
Cerita yang sangat membangun, "Tuhan tidak patahkan buluh yang
terkulai". Dalam kondisi yang berat sekalipun....ketika kita terjatuh, dia
angkat dan tegakkan kita. Aku punya sahabat yang selalu ada, Tuhan Yesus, I Love
You.....
sigit purwanto.  - buluh yang terkulai   |114.124.29.xxx |09-08-2009 06:07:24
sungguh saya sangat percaya akan kuasa TUHAN YESUS karena DIA lah maka saya ada
seperti saya ada saat ini. walaupun saya dipandang tak berguna oleh manusia tapi
DIA memandang saya sebagai anakNya (latar belakang saya orang yang telah
melakukan molimo)saya sendiri merasa jijikdengan diri saya tapi DIA mau menerima
saya apa adanya.terpujilah TUHAN karena segalanya baik buat saya.
Ati  - Buluh yang terkulai   |78.108.141.xxx |11-08-2009 05:06:11
Tuhan Yesus sungguh luar biasa, aku diberkati membaca kisah ini, Tuhan Yesus
sungguh baik kepada semua orang, Halleluya...Puji Tuhan Yesus...
Rony  - Buluh yang terkulai   |114.153.104.xxx |21-08-2009 15:50:42
Terima kasih buat cerpennya. Terus berkarya bagi Tuhan.
Henny  - Buluh yang terkulai   |202.57.10.xxx |21-08-2009 19:48:49
ceritanya luar biasa..
kadang2 kita tidak sadar, bahwa ucapan kita dapat
merubah seseorang. Yang bahkan mungkin kita sudah melupakan kata2 itu
ria  - buluh yang terkulai   |125.160.86.xxx |28-08-2009 05:07:58
"hidupmu seperti kosong n hampa tp belum berakhir,,"
aq mau Yesus masuk
dalam hatiku saat ini,,,memberi kekuatan n ketenangan jiwa u ku,,,
aq tau aq
masih berharga bagi Tuhan,,
Buluh Yang Patah Tak kan di patahkan,,,,
thanx pak u
ceritanya
GBU
Marcel   |222.124.178.xxx |09-09-2009 15:01:04
Teman2 bapak2 ato apapun aku lagi butuh dukungan doa nih, topangan and apalah
namanya.. kerohanianku sekarat dan aku merasa hidupku tak berarti... tolong
didoakan yah.. thx 4 all GB

my yahoo id (yahoo messenger)
seagrates@yahoo.com
prasetyo  - tangan Tuhan AJAIB   |117.103.59.xxx |22-09-2009 02:28:53
Tuhan ijinkan kita untuk hidup di dunia denagn satu tujuan. pahami tujuan
itu.tUHAN TIDAK PERNAH LIHAT LATAR BELAKANG KITA UNTUK HIDUP INI
Pieter  - Ketulusan Hati Tuhan   |202.59.164.xxx |27-09-2009 17:59:36
Cerpen yg dasyat... inspirasi bg setiap hati yg rindu dekat sllu dgn DIA...
Biarlah dlm nafas dan setiap aktifitas kt... jgn lupa kan utk mengikut serta kan
Yesus dlm nya.. GBU all.. Tetap lah berjalan dlm Nama NYA...
Martinus  - Buluh Yang terkulai   |125.167.141.xxx |02-10-2009 13:14:35
Yang aku dapat melalui cerita ini : Sehina, sekotor, segenting, seburuk ataupun
sesadis apapun kesalahan kita...
kasihNya mampu meredam semua itu,
ditengah
keadilanNya tetap ditegakkan...

Tetap berpengharapan.... PadaNya
james ramisan  - buluh yang terkulai     |203.128.250.xxx |05-10-2009 05:02:43
Sunguh cerita ini membawa aku semakin mengerti betapa baiknya Engkau Tuhan.
kadang dalam hidup qta tidak pernah tau bahkanpun mengerti apa yang terjadi
namun satu hal yang selalu dibuat mengerti adalah Allah sangat peduli dengan
keberadaan kita. thx pak Heri atas cerita ini.
Elida   |117.102.113.xxx |05-10-2009 20:55:17
setelah membaca cerita diatas saya merasa sangat diberkati...karena kadang kita
berpikir apa yang tak dapat kita pikirkan yesus Sanggup melakukanya buat kita
semua.GBU
Elida  - bulu yang terkulai   |117.102.113.xxx |05-10-2009 20:58:35
cerpen yang luar biasa,,yang dapat menguatkan iman. Yesus kita emang luar biasa
apa yang tak dapat terpikir oleh kita Allah sanggup melakukannya untuk
Kita..Amin

GBU ALL....
Elida  - Bulu yang terkulai     |117.102.113.xxx |05-10-2009 21:00:09
cerpen yang benar2 membawa berkat..amin
Chandra  - Rencana yang tak terselami     |114.59.14.xxx |11-08-2011 12:59:28
Rencana Tuhan memang tak pernah dapat terselami oleh akal manusia...
Terima
kasih untuk renungan yang menggugah hati ini...
Tuhan Memberkati...
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."