• PDF

Surat Cinta

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 17:04
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 957 kali
Pernah terima surat cinta dari kekasih? Coba ingat-ingat bagaimana rasanya? Suratnya dibawa ke mana-mana. Diselipin di dalam buku pelajaran. Setiap mau belajar di perpustakaan, baru membuka beberapa lembar dari buku pelajaran, suratnya dibuka dan dibaca lagi. 

Atau kalau zaman e-mail sekarang, email dari si dia tidak lupa di-save ke folder khusus. Tiap-tiap hari cek dulu, adakah e-mail dari si dia? Kalau pun tidak ada, email dari yang kemarin-kemarin dibuka lagi, dibaca lagi. Pokoknya sampai hafal deh titik komanya! Kalau hari ini tidak terima email balasan dari si dia, rasanya gelisah.. Kok lain ya dengan disuruh belajar buat ujian atau ulangan? Rasanya membaca halaman per halaman benar-benar perlu dipaksa. Kadang sambil mesti mengingatkan diri sendiri, kalau sampai ngga lulus, wah.. bisa kena tegur sama ortu.

Nah, bagaimana dengan membaca Alkitab? Apakah Alkitab bagi kita adalah surat cinta dari Allah atau buku pelajaran yang terpaksa harus dibaca?

Membaca Alkitab sendiri adalah baru awalnya. Namun Tuhan rindu sekali untuk memberitahukan pada kita kalau Alkitab yang sedang kita baca, lebih dari sekedar ensiklopedia atau buku sejarah, tapi itu adalah surat cinta dari Allah. Orang Yahudi rajin sekali membaca Alkitab (Perjanjian Lama), dan adalah hal yang lumrah di zaman Tuhan Yesus, kebanyakan ahli Taurat dapat menghapal seluruh isi Perjanjian Lama. Juga sampai gereja zaman abad pertengahan, para biawaran mempunyai kebiasaan yang disebut Lectio Divina, di mana Firman Tuhan dibaca dan dihafalkan. Pada saat itu tidak ada mesin cetak, salinan perkamen (gulungan kitab) jumlahnya terbatas, dan sehari beberapa kali para biarawan akan berkumpul mendengar Firman Allah dibacakan dan menghafalnya baik-baik.

Namun sayang sekali kalau kemudian hanya berhenti pada membaca dan menghafal. Bagaimana kalau membaca tak pernah sampai pada mendengarkan? Dengan kata lain, kalau apa yang kita baca tak pernah menyentuh hati? Berapa lama kita bisa bertahan mendisiplinkan diri membaca dan menghafal Alkitab seperti kita belajar kalau mau ulangan? 

Kata teman saya, "Kalau kita mengalami sendiri Firman Tuhan itu dalam hidup, secara otomatis kita akan mencintai Firman Tuhan." Benar. Pewahyuan tidak bermaksud menginformasikan kita tentang Allah, namun untuk melibatkan kita dalam Allah.

Surat cinta dari Tuhan itu bukan surat cinta gombal. Kita lebih suka membaca surat cinta daripada mempelototi buku Rangkaian Listrik atau Mikroekonomi, karena isinya sesuatu yang sedang kita alami. Kita tahu, bahwa surat cinta itu bukan sejarah, tapi sedang terjadi, yaitu di sisi sana ada yang menuliskan surat itu dengan cinta. Terlebih lagi surat cinta dari Tuhan, itu adalah kerinduanNya agar cintaNya dinyatakan saat ini bagi kita!

Seperti pemazmur mengawali kitab Mazmurnya melukiskan kecintaannya akan Firman Tuhan (Mzm 1:2-3):

"tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan" (Membaca Firman Tuhan, dengan pikiran kita)
"dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam" (Renungkan, dengan hati kita)
"...apa saja yang diperbuatnya pasti berhasil" (Alami kenyataan kebenaran Firman Tuhan, dengan hidup kita).

Firman Tuhan bukan sekedar pengetahuan. Bukan sesuatu untuk sekedar dipelajari, tetapi sesuatu yang membuat kita mendengar dari Allah. Karena pada saat kita membaca curahan isi hatiNya, Roh Allah menggemakannya dalam hati kita, dan menjadikannya hidup dalam kenyataan sehari-hari. Seperti ditulis dalam Wahyu 2:7, "Siapa bertelinga hendaklah dia mendengarkan apa yang dikatakan Roh....", menunjukkan pernyataan Roh Kudus yang empati, bahwa kata-kata yang tertulis belum selesai, sampai kita mendengarnya secara pribadi. 

Dia membuat kata-kata tertulis itu menjadi seperti buku partitur musik berisikan irama-irama Illahi, supaya dengan Roh Kudus kita bisa menari bersama, beriringan dalam ruang kehidupan kita. Supaya dengan Dia, kita bisa bersama-sama melantunkan hymne cinta Illahi. 

Sampai kita mendengar secara pribadi.
Sampai kita menari bersamaNya.
Sampai kita sendiri menyanyikan denganNya....

* * * *

Singapura, 26 Nov 2002. 
Trims to Harun & FA Clementi.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."