• PDF

Lika-liku Mencari Pasangan Hidup yang Seiman

Penilaian Pengunjung: / 62
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 30 Januari 2012 11:02
  • Ditulis oleh Krismariana
  • Sudah dibaca: 15172 kali
Ini cerita seorang teman, sebut saja namanya Fifi. Setelah berpacaran bertahun-tahun, lima tahun lebih, akhirnya Fifi memutuskan untuk menikah. Senang? Yaaa, senang. Senang, karena akhirnya dia tiba sampai keputusan untuk menikah. Berarti dia sudah memantapkan langkah. Bertemu orang yang menjadi pasangannya, yang akan menemani hari-harinya ke depan. Iya, kan?
Tapi keputusannya untuk menikah itu juga menyimpan kesedihan. Lo, kok pakai sedih segala? Bukan, ini bukan karena ada cowok yang patah hati karena tidak jadi menikah dengan Fifi. Lalu, siapa dong yang sedih? Yang sedih orang tuanya. Lo ... lo ... orang tua mestinya senang dong anaknya menikah? Masalahnya, Fifi menikah dengan orang yang beda agama. Kakak-kakak Fifi juga sedih. Tapi karena Fifi sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa pacarnya sekarang adalah pasangan hidupnya. Tidak bisa diganggu gugat lagi.
Hmm, setiap kali ada pasangan beda agama yang mau menikah, aku jadi teringat pengalamanku dulu. Gini-gini aku pernah punya pacar beda agama lo. (Hehe, kok ya dibanggakan to?) Wah, pacarku dulu itu ganteng dan baik hati. :D :D Semriwing kalau dekat dia. Kaya makan permen saja. Ya, intinya saya senang punya pacar seperti dia. Aku tahu sih, kami berbeda iman. Tapi aku pikir, ah ... cinta akan mengatasi hal itu. Katanya cinta mengatasi perbedaan kan? Lagi pula, ini kan baru permulaan. Lihat saja nanti bagaimana cinta bekerja. Pokoknya sekali cintah ... tetap cintah! :D
Tapi, tetap saja aku tanya-tanya pada kakakku, bagaimana pendapatnya tentang pacarku yang beda agama ini. Dia cuma bilang begini, yang jelas Bapak pasti tidak setuju. Tetapi bagaimanapun keputusanku kelak, dia akan tetap sayang sama aku sebagai adiknya. (Hiks, terharu aku ...) Lalu, aku akhirnya laporan ke Bapak tentang pacarku nan tampan dan baik hati ini. Seperti yang sudah diduga, Bapak tidak setuju. "Tapi, dia baik, Pak. Baik sekali," jawabku. Bapak sekali tidak setuju, ya tidak setuju. Hmmph ... sedih aku. Dan waktu pacarku tahu ayahku tidak merestui hubungan kami, dia mengatakan bahwa sebaiknya kami tidak melanjutkan hubungan.
Doeeeng ...!
Jadi, begini ya cinta bekerja? Mana itu cinta yang katanya bisa mengatasi perbedaan? Huh, mengecewakan. Namanya orang putus cinta, patah hati, kebayang dong bagaimana rasanya? Sedih ... Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Hihi. Kaya syair lagu saja.
Sekarang, setelah sekian tahun berlalu, aku jadi mensyukuri pengalamanku itu. Aku bersyukur pernah mengenal orang beda agama yang baik, bersyukur atas keluarga yang "menjaga" aku, bersyukur bahwa aku pernah mengalami patah hati. Ya, aku katakan aku bersyukur pacarku yang beda agama itu baik karena dia tidak pernah memaksaku untuk berganti agama dan dia berpikir panjang. Dia memutuskan kami tidak melanjutkan hubungan sebelum hubungan kami berlarut-larut dan berlangsung lama. Aku bersyukur punya keluarga yang menjagaku--punya kakak yang bisa aku ajak bicara dan berdiskusi dan ayah yang teguh melarangku melanjutkan hubungan. Kini setelah menikah, aku jadi sadar bahwa menikah dengan orang yang seiman itu sangat menolong kami dalam menjalani hari-hari. Bukannya tidak menghargai perbedaan ya, tapi aku pikir menikah dengan orang yang seiman itu bisa mempermudah kami dalam diskusi, dalam memutuskan sesuatu hal, dan terlebih bisa mendukung dalam perjalanan spiritual. Selain itu, aku bersyukur mengalami patah hati karena dengan begitu aku jadi lebih berhati-hati dalam berelasi. Memperkaya hidup. Kan jadinya aku bisa cerita tentang pengalamanku ini, bukan?
Kembali ke masalah Fifi, aku jadi tergoda untuk membandingkan pengalamannya dengan pengalamanku. Kenapa akhirnya Fifi tetap memilih pacarnya yang beda agama itu sebagai pasangan hidupnya, aku kurang tahu persis. Tapi perbandingan yang aku dapat kurang lebih aku paparkan seperti berikuti ini.
1. Pasangan seiman, di mana mendapatkannya?
Sama seperti Fifi, aku dulu mendapatkan pacar yang beda agama itu dari suatu kegiatan yang melibatkan orang dari berbagai ragam agama dan suku berkumpul. Salahkah? Mencari pasangan dari kegiatan semacam itu, tidak salah seratus persen kok. Kita tetap bisa mendapatkan pasangan dari kegiatan atau tempat seperti itu. Tapi aku berpikir begini, kalau kita mau cari durian, carinya di kebun durian atau di penjual durian, bukan? Masak mau cari durian, carinya di penjual sayur? Jadi, kalau mau cari orang yang seiman, kita mesti cari di tempat orang-orang yang seiman dengan kita berkumpul. Misalnya, kita bisa ikut acara di gereja, terlibat dalam komunitas-komunitas tempat teman-teman yang seiman berkumpul. Aku rasa penting ya ada komunitas orang muda kristiani. Bukan melulu kita mau cari jodoh, tapi di situ kita bisa menguatkan dan mendukung teman-teman seiman. Seandainya Fifi ikut dalam komunitas semacam ini, kurasa dia tidak akan sampai pada keputusannya sekarang.
2. Pentingnya komunikasi yang terbuka dalam keluarga dan anggota keluarga yang saling menyayangi serta meneguhkan iman kita.
Aku merasa, salah satu hal yang membuatku untuk mencari pasangan yang seiman adalah karena keluargaku. Jelas dong aku tidak mau mengecewakan orang tuaku. Aku tahu pasti bahwa jika aku menikah dengan orang yang berbeda agama, orang tuaku pasti akan kecewa. Rasa sayang mereka begitu besar sehingga aku tidak mau egois, dong.
3. Menyadari adanya masalah sebelum berlarut-larut.
Fifi sudah pacaran selama lima tahun. Kebayang kan pacaran selama itu, pasti sudah melibatkan keterlibatan emosi yang dalam. Kita pacaran hitungan bulan saja, kurasa kalau putus, sakit hatinya juga sama. Kita bisa sama-sama mendaftar sekian ratus poin yang membuat kita hati kita berdarah-darah. Tapi, jika kita menyadari adanya masalah lebih awal dan segera mengatasinya, kita akan berjalan lebih ringan ke depannya. Ibaratnya, penyakit tidak perlu dipelihara bukan? Yang jadi masalah, kerap kali kita takut untuk mengalami sakitnya. Sesuatu untuk menjadi lebih baik kadang-kadang perlu untuk menjadi lebih buruk terlebih dahulu.
4. Jika kita terus menggenggam apa yang kita miliki saat ini, bagaimana mungkin Tuhan akan memberikan gantinya?
Kisah ini sudah berkali-kali kita dengar barangkali. Seorang anak punya sebuah kalung dari manik-manik. Dia suka sekali dengan kalung itu. Lalu, suatu kali ayahnya bertanya, "Nak, bolehkah aku minta kalungmu itu?" Si anak menggeleng. Dia tidak mau menyerahkan kalung itu kepada ayahnya. Beberapa kali ayahnya meminta kalung itu, tetapi ia tetap tidak memberikannya. Lalu suatu malam, ayahnya meminta kalung itu lagi. Karena ayahnya terus-menerus meminta, dia kemudian tidak tahan, dan memberikan kalung itu kepada sang ayah. Setelah kalung itu diberikan, ayahnya berkata, "Nah, karena kamu sudah memberikan kalung itu kepada ayah, sekarang ayah akan memberikan kalung mutiara untukmu." Kurasa hal yang sama berlaku dalam hidup kita. Kalau kita ngeyel dengan apa yang kita pegang sekarang dan tidak berani melepaskan apa yang terus kita genggam, kita tidak akan bisa mendapatkan apa yang lebih baik. Memang dibutuhkan keberanian untuk melepas, tetapi jika kita yakin akan penyelenggaraan Tuhan, kenapa mesti takut?
5. Menjaga integritas itu penting.
Aku salut dengan orang-orang yang memilih untuk mempertahankan imannya meskipun mengalami hal sulit. Bagaimanapun, kita tidak hidup sendiri. Dan bagaimana usaha kita dalam menjaga iman tentu selain dinilai oleh Tuhan sendiri, akan dilihat oleh orang-orang di sekitar kita. Barangkali bagi sebagian orang, pencarian dan pemilihan pasangan hidup adalah salah satu hal sulit. Setiap Paskah, di gereja kami bersama-sama selalu memperbarui janji baptis. Aku kurang ingat apa saja poin-poin janji baptis itu, tetapi yang jelas di situ kita ditanya lagi apakah kita berani mempertahankan iman? Ya, namanya juga di gereja semua pasti menjawab iya bukan? Tetapi kurasa kita beriman tidak hanya di dalam gereja. Justru iman kita ditantang saat kita menjalani hidup sehari-hari--termasuk dalam memilih pasangan hidup. Kurasa implikasinya janji itu adalah kita mengandalkan pertolongan Tuhan untuk setia menjaga iman. Dan jika kita peka dan tetap mengandalkan pertolongan Tuhan, kita pasti bisa.
Mencari pasangan hidup yang seiman mungkin bagi sebagian orang penuh lika-liku, tetapi percayalah pada tangan Yesus yang senantiasa terulur untuk menolong kita. Kamu percaya itu kan?

Ini cerita seorang teman, sebut saja namanya Fifi. Setelah berpacaran bertahun-tahun, lima tahun lebih, akhirnya Fifi memutuskan untuk menikah. Senang? Yaaa, senang. Senang, karena akhirnya dia tiba sampai keputusan untuk menikah. Berarti dia sudah memantapkan langkah. Bertemu orang yang menjadi pasangannya, yang akan menemani hari-harinya ke depan. Iya, kan?

Tapi keputusannya untuk menikah itu juga menyimpan kesedihan. Lo, kok pakai sedih segala? Bukan, ini bukan karena ada cowok yang patah hati karena tidak jadi menikah dengan Fifi. Lalu, siapa dong yang sedih? Yang sedih orang tuanya. Lo ... lo ... orang tua mestinya senang dong anaknya menikah? Masalahnya, Fifi menikah dengan orang yang beda agama. Kakak-kakak Fifi juga sedih. Tapi karena Fifi sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa pacarnya sekarang adalah pasangan hidupnya. Tidak bisa diganggu gugat lagi.

Hmm, setiap kali ada pasangan beda agama yang mau menikah, aku jadi teringat pengalamanku dulu. Gini-gini aku pernah punya pacar beda agama lo. (Hehe, kok ya dibanggakan to?) Wah, pacarku dulu itu ganteng dan baik hati. LaughingLaughing Semriwing kalau dekat dia. Kaya makan permen saja. Ya, intinya saya senang punya pacar seperti dia. Aku tahu sih, kami berbeda iman. Tapi aku pikir, ah ... cinta akan mengatasi hal itu. Katanya cinta mengatasi perbedaan kan? Lagi pula, ini kan baru permulaan. Lihat saja nanti bagaimana cinta bekerja. Pokoknya sekali cintah ... tetap cintah! Laughing

Tapi, tetap saja aku tanya-tanya pada kakakku, bagaimana pendapatnya tentang pacarku yang beda agama ini. Dia cuma bilang begini, yang jelas Bapak pasti tidak setuju. Tetapi bagaimanapun keputusanku kelak, dia akan tetap sayang sama aku sebagai adiknya. (Hiks, terharu aku ...) Lalu, aku akhirnya laporan ke Bapak tentang pacarku nan tampan dan baik hati ini. Seperti yang sudah diduga, Bapak tidak setuju. "Tapi, dia baik, Pak. Baik sekali," jawabku. Bapak sekali tidak setuju, ya tidak setuju. Hmmph ... sedih aku. Dan waktu pacarku tahu ayahku tidak merestui hubungan kami, dia mengatakan bahwa sebaiknya kami tidak melanjutkan hubungan. 

Doeeeng ...!  

Jadi, begini ya cinta bekerja? Mana itu cinta yang katanya bisa mengatasi perbedaan? Huh, mengecewakan. Namanya orang putus cinta, patah hati, kebayang dong bagaimana rasanya? Sedih ... Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Hihi. Kaya syair lagu saja.

Sekarang, setelah sekian tahun berlalu, aku jadi mensyukuri pengalamanku itu. Aku bersyukur pernah mengenal orang beda agama yang baik, bersyukur atas keluarga yang "menjaga" aku, bersyukur bahwa aku pernah mengalami patah hati. Ya, aku katakan aku bersyukur pacarku yang beda agama itu baik karena dia tidak pernah memaksaku untuk berganti agama dan dia berpikir panjang. Dia memutuskan kami tidak melanjutkan hubungan sebelum hubungan kami berlarut-larut dan berlangsung lama. Aku bersyukur punya keluarga yang menjagaku--punya kakak yang bisa aku ajak bicara dan berdiskusi dan ayah yang teguh melarangku melanjutkan hubungan. Kini setelah menikah, aku jadi sadar bahwa menikah dengan orang yang seiman itu sangat menolong kami dalam menjalani hari-hari. Bukannya tidak menghargai perbedaan ya, tapi aku pikir menikah dengan orang yang seiman itu bisa mempermudah kami dalam diskusi, dalam memutuskan sesuatu hal, dan terlebih bisa mendukung dalam perjalanan spiritual. Selain itu, aku bersyukur mengalami patah hati karena dengan begitu aku jadi lebih berhati-hati dalam berelasi. Memperkaya hidup. Kan jadinya aku bisa cerita tentang pengalamanku ini, bukan? 

Kembali ke masalah Fifi, aku jadi tergoda untuk membandingkan pengalamannya dengan pengalamanku. Kenapa akhirnya Fifi tetap memilih pacarnya yang beda agama itu sebagai pasangan hidupnya, aku kurang tahu persis. Tapi perbandingan yang aku dapat kurang lebih aku paparkan seperti berikut ini.

  1. Pasangan seiman, di mana mendapatkannya?
    Sama seperti Fifi, aku dulu mendapatkan pacar yang beda agama itu dari suatu kegiatan yang melibatkan orang dari berbagai ragam agama dan suku berkumpul. Salahkah? Mencari pasangan dari kegiatan semacam itu, tidak salah seratus persen kok. Kita tetap bisa mendapatkan pasangan dari kegiatan atau tempat seperti itu. Tapi aku berpikir begini, kalau kita mau cari durian, carinya di kebun durian atau di penjual durian, bukan? Masak mau cari durian, carinya di penjual sayur? Jadi, kalau mau cari orang yang seiman, kita mesti cari di tempat orang-orang yang seiman dengan kita berkumpul. Misalnya, kita bisa ikut acara di gereja, terlibat dalam komunitas-komunitas tempat teman-teman yang seiman berkumpul. Aku rasa penting ya ada komunitas orang muda kristiani. Bukan melulu kita mau cari jodoh, tapi di situ kita bisa menguatkan dan mendukung teman-teman seiman. Seandainya Fifi ikut dalam komunitas semacam ini, kurasa dia tidak akan sampai pada keputusannya sekarang.
  2. Pentingnya komunikasi yang terbuka dalam keluarga dan anggota keluarga yang saling menyayangi serta meneguhkan iman kita.
    Aku merasa, salah satu hal yang membuatku untuk mencari pasangan yang seiman adalah karena keluargaku. Jelas dong aku tidak mau mengecewakan orangtuaku. Aku tahu pasti bahwa jika aku menikah dengan orang yang berbeda agama, orangtuaku pasti akan kecewa. Rasa sayang mereka begitu besar sehingga aku tidak mau egois, dong.
  3. Menyadari adanya masalah sebelum berlarut-larut.
    Fifi sudah pacaran selama lima tahun. Kebayang kan pacaran selama itu, pasti sudah melibatkan keterlibatan emosi yang dalam. Kita pacaran hitungan bulan saja, kurasa kalau putus, sakit hatinya juga sama. Kita bisa sama-sama mendaftar sekian ratus poin yang membuat hati kita berdarah-darah. Tapi, jika kita menyadari adanya masalah lebih awal dan segera mengatasinya, kita akan berjalan lebih ringan ke depannya. Ibaratnya, penyakit tidak perlu dipelihara bukan? Yang jadi masalah, kerap kali kita takut untuk mengalami sakitnya. Sesuatu untuk menjadi lebih baik kadang-kadang perlu untuk menjadi lebih buruk terlebih dahulu.
  4. Jika kita terus menggenggam apa yang kita miliki saat ini, bagaimana mungkin Tuhan akan memberikan gantinya?
    Kisah ini sudah berkali-kali kita dengar barangkali. Seorang anak punya sebuah kalung dari manik-manik. Dia suka sekali dengan kalung itu. Lalu, suatu kali ayahnya bertanya, "Nak, bolehkah aku minta kalungmu itu?" Si anak menggeleng. Dia tidak mau menyerahkan kalung itu kepada ayahnya. Beberapa kali ayahnya meminta kalung itu, tetapi ia tetap tidak memberikannya. Lalu suatu malam, ayahnya meminta kalung itu lagi. Karena ayahnya terus-menerus meminta, dia kemudian tidak tahan, dan memberikan kalung itu kepada sang ayah. Setelah kalung itu diberikan, ayahnya berkata, "Nah, karena kamu sudah memberikan kalung itu kepada ayah, sekarang ayah akan memberikan kalung mutiara untukmu." Kurasa hal yang sama berlaku dalam hidup kita. Kalau kita ngeyel dengan apa yang kita pegang sekarang dan tidak berani melepaskan apa yang terus kita genggam, kita tidak akan bisa mendapatkan apa yang lebih baik. Memang dibutuhkan keberanian untuk melepas, tetapi jika kita yakin akan penyelenggaraan Tuhan, kenapa mesti takut?
  5. Menjaga integritas itu penting.
    Aku salut dengan orang-orang yang memilih untuk mempertahankan imannya meskipun mengalami hal sulit. Bagaimanapun, kita tidak hidup sendiri. Dan bagaimana usaha kita dalam menjaga iman tentu selain dinilai oleh Tuhan sendiri, akan dilihat oleh orang-orang di sekitar kita. Barangkali bagi sebagian orang, pencarian dan pemilihan pasangan hidup adalah salah satu hal sulit. Setiap Paskah, di gereja kami bersama-sama selalu memperbarui janji baptis. Aku kurang ingat apa saja poin-poin janji baptis itu, tetapi yang jelas di situ kita ditanya lagi apakah kita berani mempertahankan iman? Ya, namanya juga di gereja semua pasti menjawab iya bukan? Tetapi kurasa kita beriman tidak hanya di dalam gereja. Justru iman kita ditantang saat kita menjalani hidup sehari-hari--termasuk dalam memilih pasangan hidup. Kurasa implikasinya janji itu adalah kita mengandalkan pertolongan Tuhan untuk setia menjaga iman. Dan jika kita peka dan tetap mengandalkan pertolongan Tuhan, kita pasti bisa. 
Mencari pasangan hidup yang seiman mungkin bagi sebagian orang penuh lika-liku, tetapi percayalah pada tangan Yesus yang senantiasa terulur untuk menolong kita. Kamu percaya itu kan?
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Panji  - Pasangan Seiman   |114.79.13.xxx |07-02-2012 19:53:01
Pernah sih mengalami hal ini. sedikit cerita:"selama kuliah dulu pernah
punya pacar yang tidak seiman, sering diberi buku-buku kepercayaan dari pacar,
puncaknya pernah diputar debat dari dua agama yang berbeda ini, tapi karena aku
ngak mau ditinggal Tuhan Yesusku dan aku ngak mau meninggalkan Tuhan Yesus,
akhirnya aku dipegang-Nya terus-menerus. Walaupun aku hampir tergoda dengan
kemulusan fisik lahiriah. Pacaran cuma bertahan 2 Bulan, sampai akhirnya tidak
sampai berminggu-minggu aku bertemu Wanita yang sekarang menjadi istriku. Seiman
dan kami bersama-sama bisa berdampingan di Gereja. Sekarang aku punya hampir dua
putra dan aku minta kepada Tuhan supaya Putraku terus setia kepada Tuhan Yesus
dan Tuhan Yesus tidak melepas keluargaku, Amin."
J.F.Marbun  - pasangan seiman   |125.164.207.xxx |08-02-2012 15:33:34
OK, Setujuuuuu banget....
semoga banyak anak muda sekarang yang mengambil
langkah seperti itu.
yoellistya  - Believe     |103.3.223.xxx |15-02-2012 15:35:06
wow,,,, bener bgd kalau misal mendapat pasangan yang seiman pasti hati kita
tenteram, tapi itu yang jadi maslah dalam hidupku, jadi sedikit certa aku
sulit bgd ketemu dengan orng yang seiman ketika menjalin relationship, adanya di
luar Tuhan mulu, tapi bener2 sekarang bergumul buat dapet yang seiman,, dan aku
percaya Tuhan akan mendengar doa setiap anakNya yang mau berharap
padaNya...
Amien.... GBU
Ni Nyoman (female)   |202.148.25.xxx |15-09-2012 00:33:06
setujuh deh
yoellistya   |118.97.95.xxx |30-09-2012 04:55:48
Amin
Priskila Shena  - Pasangan Seiman   |125.161.131.xxx |20-02-2012 17:52:02

Aku juga punya pengalaman yang sama. Mami, teman-teman seiman bahkan teman
sepelayanan meberi saran dan ikut medoakan yang terbaik dan Puji Tuhan
aku ga lagi seperti itu.

Sekarang aku sedang dekat dengan pria Kristen,
takut Tuhan Yesus, mapan, dan dewasa. Kami sekarang sama
sama bergumul, memohon pimpinan Tuhan dan penyertaan Tuhan agar Tuhan
Yesus memberkati kami dan membuat kami bersatu dalam pernikahan kudus di
gereja. Amen, Tuhan Yesus meberkati
anes  - pilihan hidup dengan pasangan.   |203.84.153.xxx |22-02-2012 23:04:09
Aku malah punya pengalaman yang kebalikannya dari diatas. Aku pernah berpacaran
dengan pria Kristen yg seiman. , tapi malah pasangan hidupku sekarang yg
menjadi suamiku Katholik.

Walau ada perbedaan tata cara dalam berdoa, tp
itu tidak menjadi perbedaan dalam mengenal Yesus , bahkan aku semakin dekat
dengan-Nya. Karena dalam setiap pembelajaran, maka keinginan kita semakin
bertambah... amin...
Anonymous   |141.0.10.xxx |27-02-2012 21:57:51
1 Iman
1 Hati
1 Rasa
hendra  - pasangan beda agama   |180.251.33.xxx |09-03-2012 07:30:33
yosephus  - pasangan beda agama   |112.215.36.xxx |16-03-2012 19:46:02
pengalaman saya mungkin berbeda.. Dulu saya tidak pernah membaca alkitab, jarang
kegereja (kegereja pun hanya karena ada waktu luang), dan kurang peduli terhadap
sosok tuhan yesus..

hingga akhirnya saya berpacaran dengan wanita yang beda
agama.. awalnya kami tidak mendapatkan masalah, dan karena saya yakin bahwa
semua agama itu sama.. tetapi ketika sampai pada tahap keputusan untuk
melanjutkan pada jenjang pernikahan.. saya dihantam berbagai masalah (orang tua
dari pacar saya berkehendak saya harus masuk agamanya, jika tidak begitu dia
tidak akan merestui kami, meskipun orang tua saya lebih bersikap menerima)...
Saya sangat kaget dan shock, kenapa hanya karena masalah yang tidak penting
seperti ini menjadi jalan penghambat??..

Maka tidak ada jalan pilihan lain..
saya harus membaca 2 ajaran agama ini langsung dari sumbernya.. setelah membaca
keseluruhan 2 ajaran agama ini(kira2 hampir 2 tahun lamanya saya mempelajari
k...
betahita  - Pasangan Seiman   |180.245.218.xxx |17-03-2012 00:44:45
Lalu si Fifi pindah agama atau berkeluarga dengan mempertahankan kepercayaan
masing2??
Penasaran.
atyrysthaa gwen   |39.211.78.xxx |23-03-2012 22:15:37
iaa pasangan seiman itulah yg diinginkan Tuhan.. agar sesuai dengan rancangannya
Wi'e  - Berbeda keyakinan   |118.96.20.xxx |02-04-2012 23:35:42
Kapan kami akan bertemu pada lembaran yang sama?, pertanyaan ini selalu muncul
di dalam hatiku.....

sampai detik aq menulis ini aq masih menjalani hubungan
beda keyakinan, bingung memang..... tapi aq gak rela buat melepaskannya...sudah
hampir 3 tahun, ini pengalaman yg kedua kali aq begini ...., dulu juga pernah
begini 3 thn lamanya, aq berdoa dan terus berdoa kataku ...,"Tuhan jika
memang dia jodoku dekatkanlah kami dan jika bukan jauhkanlah kami.....karena
sejujurnya jujurnya Tuhan aq tak bisa memutuskannya sendiri..dengan apapun
caranya aq terima " dan akhirnya aq diselingkuhin dan kami putus sakit
memang...tp aq berhaslil...

kali ini terulang lagi dan aku bingung, kenapa jadi
tidak rela untuk putus.
aq pengen mutusin tapi selalu terbesit mungkinkah Tuhan
memberi aq kesempatan untuk dia ikut aq, tapi kalau kesempatan itu gak pernah
ada....

apa yang harus aq perbuat aq gak punya keluarga yg bisa aq ajak untuk
...
indhiet  - Pilihan Terbaik   |118.97.238.xxx |13-06-2012 22:12:28
Saya jg pernah pacaran dg yg tidak seiman, lama bgt (5-6 tahunan lebih).
Sulit
sekali utk putus krn sy sgt menyayangi dia dan keluarganya jg baik bgt.
Kami sdh
bicara byk dan kesepakatannya nanti stlh nikah kami jalan sendiri2 tp proses
nikahx memakai cara di agama dia.
Saya smpt berpikir utk meng-iyakan. tp ortu
saya terutama Ibu menentang keras.

Saya bersyukur krn Tuhan Yesus baik, teramat
baik buat saya. Singkat cerita kami putus krn tyt dia memutuskan menikah dg org
lain.
Skrg2 saya tahu bhw tyt kesepakatan itu hanya kedok supaya saya mau pindah
agama.

Buat tmn2 yg sedang bergumul, jgn prnh berpikir bhw kita pengen
'membawa' pacar yg blm seiman utk mjd seiman dg kita. Krn prinsip2 hidup nikah
yg seturut dg kehendak Tuhan harus dipahami bersama2 dg pasangan.
Masalah nanti
tyt pacar yg beda agama tyt mau ikut kita, hanya Roh Kudus yg bisa mengubah hati
bukan kita.

Tdk ada pribadi manapun yg baik, hanya Tuhan Yesus yg terbaik.
Abraham   |180.245.202.xxx |24-04-2012 23:12:41
Aduh, mau pacaran aja koq ribet amat. Yang saya alami selama hidup saya justru
sangat ironis. Setiap kali saya pacaran dengan orang yang juga kristen, saya
selalu diperlakukan dengan tidak baik (ada yang memberhentikan hubungan tanpa
sebab, ada yang materialistis, dll), tapi kalau saya pacaran dengan orang yang
non kristen malah sifatnya jauh lebih baik & kasihnya hampir seperti Tuhan (suka
memberi, tidak pelit, ada juga yang tetap mengasihi walaupun pernah saya
perlakukan tdk baik, dll) Menurut saya untuk apa ada syarat seiman kalau
kenyataan yang ada malah seperti itu ?
henokh setiawan  - reply   |206.53.152.xxx |23-08-2012 08:34:00
2 korintus 6: 14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan
orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran
dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Itu
standarnya... Semua org pernah kecewa, saya juga.. Punya pasangan seiman dan
kemudian ditinggal dan dia milih yg tidak seiman.. Tapi apa gara" itu kita
menurunkan standar kita?
lina marbun  - bukan sekedar seiman   |39.214.222.xxx |20-05-2012 20:21:56
sebenarnya lika-liku mencari pasangan hidup bukan hanya sekedar yang
seiman,
tapi masih banyak lagi hal-hal pentinng lainnya.
banyak juga koq org2 yg
beragama kristen tp kesaksian hidupnya tidak melambangkan kehidupan org
kristen.
biarlah ketika qt ingin mencari psangan hidup, qt juga mencari pasangan
yg memiliki visi yg sama dg qt,memenuhi kriteria prioritas(agama dan
sifat),setelah itu kriteria sekunder(fisik)..
tp sebelum qt mencari teman hidup
yg terbaik,,ada baiknya dulu qt mempersiapkan diri kita sendiri.apakah qt sudah
menjadi teman hidup yg terbaik juga buat teman hidup qt kelak.
Leontinus L.S.  - beda agama     |80.76.164.xxx |26-05-2012 10:15:40
Klu nikah dgn beda agama berarti tdk punya iman dong! Nikah seiman kan
memuliakan Kristus. Dia korbankan diriNya tuk kita karena kasihNya. Agar kita
mengasihiNya dgn benar. Dan jika kita mengasihiNya, pasti apa aja yg kita minta
diberikan. Amin..........
Low profile   |114.79.29.xxx |04-06-2012 06:00:31
Kebanyakan orang berpaling dari keyakinan itu bisa karena masalah
perasaan,masalah materi(takut tidak bisa menikmati kehidupan duniawi. Tidak
sedikit pula yang merasa bersalah telah meninggalkan keyakinannya hanya untuk
kehidupan yang sesaat ini.

Dari cerita diatas, saya sungguh bersyukur, walaupun
saya sering ditolak ataupun dihindari ketika mencari pasangan, tapi aq tetap
percaya dan yakin Tuhan akan memberi pasangan yg tepat yang senatural mungkin
dengan waktu tepat pula. Karena Tuhan Yesus pasti memberikan segala sesuatu yang
baik adanya.Tetap berpikir positif aja kalaupun kejadian yg saya alami ini
sering terjadi dalam hidup saya, saya pun hanya berkata "Mungkin kamu bukan
jodoh saya"
adi  - masalah kaum muda kristiani     |114.79.13.xxx |14-06-2012 08:55:46
sama hal masalah perbedaan itu didaerah sini,,tapi semua beranjak dari diri
sendiri,,terkadang iman yang kuat bisa juga rapuh karena kurangnya diAsah atau
dipertajam.,iman yang kecil bahkan bisa mengalahkan yang kuat sama sperti air
menghancurkan batu karang..,
jadi apa yang disebutkan saudara krismariana banyak
benar nya.,jikalau kita mau bersyukur atas yang diberikan oleh Allah.. baik
sedih,luka,menangis,kecewa,bahagia,tertawa apapun itu.. Tuhan slalu tau apa yang
perlukan pada saatnya nanti..
novianti   |125.208.154.xxx |25-06-2012 12:13:49
[color=maroon][/color
pasangan seiman tetap nmer satu walaupun kita ngrasa
dialah yg t'baik meski beda agama..tapi bgaimana ke depannya nanti??kalo dari
awal saja sdah timbul masalah kenapa mesti d teruskan??
nancy  - tak seiman   |110.136.221.xxx |21-07-2012 01:31:03
saya baru kali ini punya pacar yang betul2 saya cintai dan sudah jalan 3 tahun,
tapi saya tidak seiman dengannya, semua saudara2 saya di beri kebebasan dari
orang tua untuk untuk memilih pasangan. hasilnya, ada yang menikah tapi beda
agama, ada juga yang malah pindah keyakinan. tapi saya berpikir terlalu mahal
tuhan ku di bandingkan pacar ku mskipun sbnarnya, aku sangat sakit harus
kehilangan orang yang ku sayangi, tapi saat ini aku hanya bersandar pada janji
tuhan dan berserah sepenuhnya pada tuhan Yesus
sandy  - mencari pacar yg seiman   |222.124.55.xxx |24-07-2012 09:46:56
hiii all , saya lg mencar pacar yg seiman dngn saya , yg tinggal nya di jakarta
and umur 16 - 23 th , bisa hubungi saya di 081310208055 ,, thaanks ,.,,, GBU
Elsa  - Pasangan Beda Agama   |120.168.1.xxx |10-08-2012 02:27:23
Aku sebenerya juga punya pengalaman yang sama...
ya, walaupun cuma 9 bulan aku
berpacaran dengan orang yang berbeda agama dg ku...
tp cukup bnyak knangan ku
bersamanya..
Pada awalnya sih aku sayang banget sama dia...
tapi ketika muncul
perdebatan tentang perbedaan ini... aku mulai menyadari.. bahwa mungkin bukan
dia, yang Tuhan kirimkan untuk mendampingiku..
Dan pada akhirnya kita putus...

karna aku yakin bahwa rencana-rencanaNya lebih indah daripada manusia...
enny alorindah  - seiman tetapi belum yakin   |182.6.150.xxx |04-09-2012 18:06:38
Dia seiman dengan Qu..
tpi kelakuanya tidak mencerminkan yang di kehendaki Tuhan
yesus

ingin sekali sekuat hati tuk merubahx tetapi bgitu banyak usaha yg di
lakukan koq gagal trus????
apa penyebabx...

samai akhirx ku putuskan biarlaH
Tuhan yesus yg merubahnya dengan caraNya sendiri
rosalina  - Menjual TUHAN atau tidak ?     |101.255.51.xxx |13-09-2012 21:02:43
setiap pengalaman orang berbeda-beda, tergantung sisi mana ia melihat, tapi satu
hal TUHAN YESUS melihat siapa kita dan motif kita dalam berelasi, pertanyaannya
TUHAN NO berapa dalam hidup setiap kita...
andrew  - di glorianet juga bisa cari pasangan   |103.10.66.xxx |24-09-2012 14:45:07

Sedikit kesaksian. Sebenarnya di glorianet juga bisa cari pasangan
seIman.
Saya mau bersyukur, webb glorianet ini ada. Soalnya sejak
perjumpaan dengan kekasih hati yang sekarang istri tercinta berawal
dari webb glorianet. tepatnya di kolom sahabat. Kami saling bertukar
pengalaman dalam pelayanan sekolah minggu. Puji Tuhan kalau
memang jodoh, gak kemana. walaupun dari suku berbeda, istri dari
thionghoa dan saya dari Manado. Kami dipersatukan karena kasih YESUS.
  Kami di karunia dua orang anak. yang
pertama perempuan 8Th, dan kedua cowok 2Th.  
Bagi yang belum memiliki pasangan. jangan Takut Pasti Tuhan Yesus
sediakan yang sepadan dengan kita. Pesan saya: Jangan "menjual
atau Menyalipkan Yesus lagi" dengan meninggalkan Iman percayamu.
Tommy Han  - mencari pasangan hidup   |103.3.223.xxx |28-09-2012 19:45:08
Saya dulu sering dekat dengan yg seiman tpi itu tdak ada yg jadi . Meskipun
bgitu sya tetap bersabar untuk menunggu wktuNya Tuhan dan menjalani hidup ini
dngan bersyukur. Sya jga ingin menambah teman dan sekaligus mencari pasangan
hidup. Komunitas mna yg bsa saya ikuti ??
Aderly  - Klo pisah beda agama ga perlu nangis...   |202.152.202.xxx |30-09-2012 06:25:28
Buat saya agama adalah yg nomor 1 saya dahulukan saat berpacaran. Konsekuensi
jika main2 dlm hal ini adalah jgn nangis klo ga berhasil.

Nah saya alami sngt
jauh berbeda, pacar saya kmrn saya minta lewat doa. Proses doa cukup lama sampai
akhirnya dia hadir dan 80% masuk dlm kriteria doa.

Yg mengenaskan adalah usia
kami beda 10thn...saya (wanita 36th) dia (pria 27th). Cara berpikir pacar saya
sangat dewasa, tujuan kami cuma satu membentuk keluarga yg beriman takut dan
taat kepada TUHAN dan bersepakat utk melakukan pelayanan.

Tp apa mau dikata,
ortu pacar saya menolak keras, kami diancam, dikutuk dll. Banyak tantangan yg
kami lalui, tp kami merasakan perlindungan TUHAN, sampai akhirnya pada suatu
titik saya tdk mengerti, pola pikir dan tingkah laku pacar saya berubah.

Dia yg
tadinya lembut, jadi pemarah, yg tadinya sabar jadi emosional, segalanya
berbalik 180 derajat.

Saya tdk mengerti mengapa dia berubah setelah 4th kami
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."