• PDF

Dukacita yang Mendatangkan Sukacita

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 27 April 2009 22:57
  • Ditulis oleh Manati I. Zega
  • Sudah dibaca: 1481 kali
Banyak hal yang menyebabkan dukacita bagi seseorang. Misalnya, kematian dari orang yang dikasihinya ataupun haknya tidak dibela ketika melakukan kebenaran. Atau, mungkin diperlakukan tidak manusiawi tatkala melakukan kebaikan.

Dalam surat Filipi 1: 3-7, kita menyaksikan Paulus mengalami suatu kondisi yang tidak menyenangkan. Ketika surat ini ditulis, Paulus sedang berada dalam penderitaan. Saat itu, dia berada dalam penjara di Roma. Dia berada dalam penjara bukan karena melakukan tindakan kriminal, melainkan karena mewartakan Injil Kristus.

Tetapi, sungguh mengagumkan. Di balik tembok penjara yang menyedihkan itu, Paulus menghasilkan karya agung yang sangat menguatkan. Paulus menulis surat dengan tema utama sukacita.

Sangat tidak masuk akal, bagaimana mungkin seseorang yang berada di belakang tembok penjara dapat bersukacita.

Lalu, apakah data Alkitab kita ini salah? Tentu saja tidak. Karena Alkitab adalah wahyu Allah yang dilhami oleh Roh Kudus. Sehingga setiap tulisan atau data Alkitab ini benar adanya dan tidak perlu diragukan.

Kalau begitu, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Paulus mengubah dukacita menjadi sukacita? Bagaimana caranya Paulus mengubah kesedihan menjadi sukacita yang terus mengalir memenuhi hidupnya? 

Di bawah ini minimal ada tiga hal penting yang perlu kita renungkan.

Pertama, Paulus Selalu Hidup Dengan Ucapan Syukur (Ayat 3 & 5).
Sangat masuk akal apabila Paulus berontak kepada Tuhan ketika berada dalam penjara. Sebab, dia dipenjarakan bukan karena berbuat tindakan amoral. Melainkan, memberitakan Injil. 

Tetapi, Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa tidak ada satu katapun yang diungkapkan Paulus untuk menyalahkan tindakan Allah dalam hidupnya. Yang dilakukannya adalah bersyukur. "... Aku bersyukur kepada Allahku...".

Artinya, Paulus menerima keadaan yang pahit itu sebagai bagian dari rencana Allah dalam hidupnya. Paulus tahu persis, tidak mungkin Allah melakukan kesalahan dan mencelakakan hidupnya.

Bukankah Alkitab mengatakan bahwa Tuhan tahu rencana apa yang akan dikerjakanNya dalam hidup seseorang. Termasuk rencana yang kita tidak senangi sekalipun.

Bersyukur adalah tindakan yang paling bijaksana dalam kehidupan seseorang tatkala sedang menghadapi dukacita atau kesedihan yang tidak dikehendakinya. Laurie Beth Jones, dalam bukunya "Chief Executive Officer", mengatakan rasa syukur adalah salah satu unsur kunci kepemimpinan, karena bersyukur berarti hati yang terbuka, hati yang memasang telinga, atau hati yang dipenuhi kepercayaan.

Jelaslah bagi kita bahwa orang yang bersyukur kepada Tuhan paling gampang untuk menerima situasi sulit sekalipun. Seandainya, pada saat itu Paulus protes atau berontak kepada Tuhan pastilah kesedihan yang mendalam memenuhi hidupnya. Bahkan mungkin dia segera mati karena selalu merenungi nasibnya yang malang.

Banyak orang Kristen yang seperti ini. Ketika sedang berhadapan dengan masalah, maka dia segera mempersalahkan lingkungannya. Bahkan, tidak segan-segan mempersalahkan Allah. Belajarlah dari Paulus baik suka maupun duka tidak menghalanginya untuk bersyukur kepada Tuhan.

Kedua, Paulus Selalu Membina Hubungan Dengan Tuhan Melalui Doa (Ayat 4 & 6)
Ada dua kemungkinan yang akan terjadi di dalam hidup seseorang tatkala sedang menghadapi masalah. Kemungkinan pertama lari dan mendekat kepada Tuhan atau kemungkinan kedua lari menjauh dari Tuhan. Dan, pada umumnya orang memilih menjauh dari Tuhan ketika masalahnya terlalu berat. Atau, mencari jalan pintas yang sekiranya dapat memberi solusi semu kepadanya. 

Misalnya, berulang kali didoakan untuk mendapat kesembuhan, namun tidak sembuh juga. Dalam keadaan seperti ini, banyak orang yang akhirnya memilih dukun sebagai jawaban atas persoalan tersebut.

Namun, saat ini kita beroleh mutiara dari kehidupan iman rasul Paulus. Justru saat seperti ini dia mendekatkan diri kepada Tuhan. Semakin masalah menindih hidupnya, semakin dekatlah dia kepada Tuhan. Sehingga, tidak heran apabila Paulus bersaksi aku berdoa dengan sukacita.

Luar biasa! Darimana sumber sukacitanya? Tentunya, dari Tuhan semata-mata. Tuhan adalah sumber sukacita itu.

Hubungan pribadi dengan Tuhan dalam masa-masa sukar merupakan sumber kekuatan yang tak terhingga nilainya.  Mengapa? Karena ketika seseorang dekat dengan Tuhan, maka Tuhan menopang hidupnya. Pemazmur berkata: "Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripadaNyalah keselamatanku" (Mazmur 62:2).

Hanya dekat Allah aku tenang. Ini berarti, orang yang punya persekutuan dengan Allah, maka dari hari kehari dapat menikmati indahnya hidup di dalam Tuhan.

Ketiga, Paulus Selalu Melayani Tuhan.
Sebagian orang berpendapat bahwa saya akan melayani Tuhan, apabila masalah telah selesai. Masalah selesai?  Kapankah masalahnya selesai?  Menurut Anda kapan? Jawabannya adalah ketika sudah menghadap kepadaNya. Liang kuburlah yang memisahkan kita  dengan masalah. Selama manusia masih hidup, masalah akan datang menghampiri hidupnya tanpa diundang. Kalau menunggu masalah selesai, baru melayani Tuhan  orang tersebut sepanjang hidupnya tidak akan pernah melayani.

Paulus memberi teladan yang amat luar biasa. Selagi Paulus berada di dalam penjara, kobaran semangatnya terus membara untuk melayani Tuhan. Mantan Presiden Republik Indonesia I, Ir. Soekarno pernah berkata: "engkau boleh memenjarakan aku, tetapi semangatku tidak bisa kau pernjarakan". 

Pernyataan ini benar. Orang boleh menghambat usaha atau perjuangan kita. Namun semangat yang terus berjuang itu, tidak mungkin dibelenggu.  

Pdt. DR. KAM Yusuf Rohani, pernah menulis buku yang berjudul: "Pembelaku Yang Agung". Dalam buku itu, Yusuf Roni berkata bahwa Kekristenan Semakin Dihambat, Semakin Merambat". Bagi saya, pernyataan ini juga patut diamini. Semangat orang-orang yang mencintai Tuhan tidak bisa dibelenggu oleh apapun juga. Tubuhnya bisa dibelenggu, tetapi hatinya yang berkobar untuk melayani dan mencintai Kristus tidak dapat dibelenggu oleh apapun juga.

Di belakang tembok penjara yang pengab, Paulus masih melayani Tuhan. Dia berdoa untuk jemaat-jemaat yang dilayaninya. Bahkan, pada bagian ayat di atas, dia berkata: "...sebab kamu semua ada di dalam hatiku...".

Paulus tidak menunggu ke luar dari penjara, baru melayani Tuhan. Tetapi, justru di dalam penjara itu dia masih terus melayani Tuhannya.

Menunggu masalah selesai baru melayani Tuhan, menurut saya kurang tepat. Orang akan melayani Tuhan kalau semua masalah beres, pasti tidak akan melayani, sebab masalah dapat datang sewaktu-waktu. Tetapi, mulai layani Tuhan dalam segala kondisi, baik atau tidak baik waktunya. Kalau dilakukan dengan penuh kecintaan kepadaNya pasti dihargaiNya.

Bagaimana dengan Anda?

Solo, 05 Agustus 2002
Manati I Zega

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
novita natalia  - sukacita   |125.167.126.xxx |01-10-2009 01:37:17

saya hanya mau tanya
bagaimanna kita bersukacita dalam keadaan yang bnyak
persoalan berat, hati yang penuh amarah, kebencia, makian, dll
bagaiman jalan
keluarnya.
jbu.
Eslo L Manik     |125.164.109.xxx |15-06-2011 03:32:37
Dengan bersyukur, kita menyelamatkan diri dari pengaruh sungut-sungut.
Terimaksih artikel ini sangat memberkati.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."