• PDF

Melayani Tuhan dengan Profesional, Apa Mungkin?

Penilaian Pengunjung: / 14
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:26
  • Ditulis oleh Pancha W. Yahya
  • Sudah dibaca: 5079 kali

Pendahuluan

     Ketika mendengar kata profesionalisme, apa yang langsung terlintas di dalam benak Anda?  Hmm..., jika saya menerka-nerka yang beredar di benak Anda saat ini pastilah sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, bisnis atau perusahaan. Tentu, profesionalisme menunjuk kepada hal baik mengenai pekerjaan atau bisnis.  Suatu perusahaan dapat dikatakan profesional bila kinerja mereka terbukti baik dan memuaskan. Kita mungkin pernah mendengar omelan seseorang berkaitan dengan kinerja yang buruk dari suatu perusahaan, “Aku tidak akan pernah lagi berurusan dengan PT. ABC karena cara kerja mereka nggak profesional sama sekali!”  Atau ungkapan serupa dengan itu misalnya, “Jangan pernah membeli barang dari toko XYZ karena mereka benar-benar tidak profesional!”

 

     Semua yang ada di pikiran Anda bahwa profesionalisme berkaitan dengan kualitas kerja yang baik dari suatu badan usaha atau perorangan itu tak salah, karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesionalisme adalah “mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional.”  Sekarang bagaimana reaksi Anda bila kita menggandengkan kata profesionalisme dengan pelayanan?  Kira-kira menurut Anda, apakah kedua kata itu nyambungProfesionalisme berkonotasi pekerjaan, perusahaan dan sekular, sedang pelayanan (di gereja) berhubungan dengan sesuatu yang bersifat sukarela, gereja dan rohani.  Apa kaitan antara kedua kata itu? 

 

Apa sebenarnya telah terjadi?

     Tulisan ini berangkat dari kegelisahan penulis atas kinerja yang ditunjukkan oleh para pelayan Tuhan di gereja.  Penulis merasa ada gap yang amat lebar antara kinerja yang ditampilkan pelayan-pelayan kristen di gereja dengan apa yang mereka lakukan di kantor, toko, atau perusahaan mereka.  Di dunia kerja sebagian besar para pelayan Tuhan bekerja dengan etos profesionalisme yang tinggi.  Mereka begitu disiplin, tepat waktu, all-out, penuh perencanaan, penuh tanggung jawab, dan memegang komitmen kerja mereka.  Namun sebaliknya dalam dunia pelayanan mereka mewujudkan kinerja pelayanan yang buruk.  Mereka melakukan pelayanan dengan seenaknya, jam karet, setengah hati, semua serba mendadak, kurang bertanggung jawab dan tidak berkomiten.

     Apakah yang menyebabkan terjadinya dualisme kinerja pada (sebagian besar) pelayan Tuhan itu?  Menurut saya, paling sedikit ada dua alasan mengapa mereka berlaku demikian.  Pertama, karena para pelayan Tuhan merasa pelayanan adalah sebuah pekerjaan sukarela (Ing. voluntary) sehingga pelayanan dapat dikerjakan dengan sesukanya.  Lain halnya dengan pekerjaan. Seorang akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan profesional karena ia mendapat upah atau keuntungan dari pekerjaannya itu. Kedua, di dalam pelayanan tidak ada ganjaran (punishmet and reward) yang jelas.  Seorang yang melalaikan tugas pelayanannya atau mengerjakan pelayanannya dengan tidak serius tidak mendapat punishment apa-apa.  Paling banter ia mendapat teguran dari rekan pelayanan atau pendetanya.  Sedang seorang pekerja yang melalaikan tugasnya akan mendapat punishment yang jelas seperti: surat peringatan, pemotongan gaji dan paling buruk adalah pemecatan.  Begitu juga halnya dengan reward.  Seorang pelayan Tuhan yang melakukan pelayanan dengan sungguh-sungguh tidak melihat reward yang jelas meski ia tahu bahwa Tuhan menyediakan baginya mahkota kehidupan di surga.  “Paling-paling” ia akan mendapat pujian dari rekan pelayanannya atau jemaat yang dilayaninya.  Sedang seorang karyawan akan mendapat kenaikan gaji atau promosi sebagai reward atas kerja kerasnya.

 

Pelayanan? Ya mesti profesional!

     Tapi benarkah profesionalisme hanya milik pekerjaan dan perusahaan, sedang dalam pelayanan yang ada hanyalah sukarela yang boleh dikerjakan sesuka dan serelanya?  Tentu saja jawabannya adalah tidak!  Justru menurut saya pelayanan mesti dilakukan dengan profesional, yaitu dengan penuh tanggung jawab, kesungguhan, komitmen dan usaha keras untuk meningkatkan kinerja pelayanan.  Bahkan kualitas profesionalisme pelayanan seharusnya berada di atas profesionalisme kerja.  Mengapa demikian?  Setidaknya ada empat alasan:

1.      Kalau Anda seorang karyawan, Anda bekerja untuk atasan Anda.  Seandainya Anda seorang pengusaha, Anda bekerja untuk diri Anda sendiri.  Namun pada saat melayani, Anda bekerja untuk Tuhan, Raja segala raja, Allah segala Allah dan Bos segala bos.  “Atasan” kita dalam pelayanan mempunyai posisi yang jauh lebih tinggi dari atasan mana pun yang ada di dunia ini.  Oleh sebab itu logikanya adalah dalam pelayanan kita mesti melakukannya dengan sungguh-sungguh dan penuh komitmen

2.      Kita ini adalah pre-paid employee (pekerja pra-bayar), karena kita telah dibeli lunas dengan darah Kristus yang mahal harganya (1 Korintus 6:20; 1 Petrus 1:19).  Kalau untuk upah atau keuntungan yang belum kita peroleh, kita bekerja dengan penuh tanggung-jawab dan kesungguhan, tentunya dalam pelayanan kita akan melakukannya dengan lebih sungguh-sungguh lagi.  Mengapa demikian?  Karena kita ini telah menerima “upah” sebelum kita mengerjakan pelayanan kita.  Yesus, melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, telah menebus kita dari segala dosa kita.  Dan itulah upah terbesar yang telah kita terima.

3.      Demi meningkatkan profesionalisme kerja perusahan-perusahan berjuang agar mereka dapat mememuhi standar yang ditetapkan oleh International Organization for Standardization (ISO).  Sebagai bawahan dari Allah Pencipta-Pemilik-Pengatur alam semesta ini kita mesti berjuang untuk mengikuti standar kerja yang dimiliki oleh-Nya.  Seperti apa standar kerja Allah?  Jelas standar kerja Allah adalah standar kerja yang sempurna.  Ia menciptakan alam semesta ini tanpa kesalahan setitik pun.  Dalam mengatur alam semesta pun Ia melakukannya dalam kesempurnaan. Dan jelas tak ada seorang manusia pun yang dapat memenuhi standar kerja Allah yang sempurna.  Namun Allah memanggil kita yang tidak sempurna ini untuk terlibat dalam pekerjaan-Nya.  Kalau Allah mau memakai kita yang tidak sempurna itu tidak berarti kita boleh melayani dengan seenaknya.  Tapi justru kesempurnaan Allah hendaknya membuat kita melayani sebaik mungkin

4.      “Bisnis pelayanan” (kalau pelayanan boleh disebut dengan bisnis) kita kekal dan lebih mulia dari segala bisnis mana pun.  Mengapa demikian?  Karena pelayanan kita berhubungan dengan penyelamatan jiwa-jiwa yang kekal nilainya.  Pelayanan juga berkaitan dengan pertumbuhan rohani orang-orang yang berlangsung selamanya.

     Setelah membaca uraian ini, marilah kita bersama-sama mengintrospeksi diri.  Selama ini seperti apa kita melayani? Apakah kita ini seorang pelayan yang profesional ataukah pelayan yang sembarangan?  Melayani Tuhan dengan profesional?  Mungkin saja! (Pancha W. Yahya)

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
ferdinand   |118.136.140.xxx |25-09-2009 21:05:08
profesionalisme tidak hanya bisa diwujudkan dengan kata-kata melainkan dengan
perbuatan.
Budy  - Agreed   |125.163.35.xxx |20-10-2009 15:27:01
Shalom,
Saya bisa dapat artikel ini karena alasan yg sama.

3 minggu kedepan
saya kebagian tugas pelayanan untuk membawakan firman dalam Doa
Pengerja.

Saya melihat kemunduran baik secara semangat, motivasi, dan tujuan
dari rekan2 pelayanan kami. Saya melihat Gembala kami sudah bekerja keras untuk
membangkitkan semua itu.

Saya terbeban untuk kembali mengingatkan para
pelayan Tuhan untuk kembali kpd waktu pertama kali mereka dipanggil.

terima
kasih untuk Artikelnya, sungguh membantu saya & saya jg meminta ijin dari Bpk.
bahwa materi ini saya akan bawakan dalam sharing firman di gereja
kami.

Terima Kasih.

Tuhan memberkati.
Pancha W. Yahya  - Coretan Kehidupan     |125.164.122.xxx |21-10-2009 17:29:24
Pak Budi ytk.

terima kasih untuk komentarnya.  Saya bersyukur kalau
artikel ini menjadi berkat bagi Bapak. Silakan Bapak sampaikan di gereja Bapak.

Saya pribadi sangat prihatin melihat banyak pelayanan dikerjakan
asal-asalan. Saya percaya kalau semua pelayanan dikerjakan
dengan profesional maka gereja bisa jadi saluran berkat bagi lebih
banyak lagi orang.
Atilla  - Bagus   |110.139.90.xxx |22-01-2010 03:04:06
Ini memang benar-benar bagus dan berbobot cocok bagi kehidupan kita
sehari-hari
Generson   |111.95.54.xxx |23-07-2010 21:14:12
wah,, sblm saya membaca artikel ini,, saya sudah membuat bahan yang akan saya
bawakan saat renungan doa pelayan, dan begitu sama isinya dengan artikel bapa..


Semoga semakin banyak pelayan yang mau bekerja secara profesional
budi cahyono   |180.254.31.xxx |05-08-2012 03:57:56
saya sangat setuju dengan "artikel" ini karena saya sedang merasa
prihatin terhadap para pelayanan Tuhan yang melayani Tuhan dengan seenaknya dan
kurang bersungguh-sungguh.
Lasmaida Turnip  - Be Profesional   |114.79.2.xxx |15-09-2012 00:12:14
Memang sudah seharusnya setiap pelayan Tuhan memberi dan melakukan yang terbaik
di dalam setiap pelayanannya. Sebab kita melayani Raja di atas segala raja dan
Tuhan di atas segala Tuhan.
So GIVE THE BEST UNTO LORD JESUS AND BE PROFESIONAL
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."