• PDF

Tertawa Itu Mahal

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 17:44
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 966 kali

Tertawa itu mahal? Memang harga tertawa itu berapa? Apa semua jenis tertawa itu sama harganya? Tertawa yang 'elegan' sama yang ‘cengengesan’ apakah beda?

Saya pernah membaca surat kabar kira-kira bulan Maret tahun 2002 yang lalu, terbetik kabar pelawak Sol Soleh yang dulu pernah bergabung dengan Bagyo Cs bersama Diran dan Darto, meninggal dunia di Jakarta. Lalu belum lama juga setelah itu terdengar kabar, teman Sol Soleh yakni Darto yang satu-satunya dari empat pelawak dari kelompok Bagyo Cs yang masih hidup (tahun 2002), mengalami Stroke dan hidupnya kembang kempis tanpa penghasilan. Nafkah hidupnya hanya berasal dari penjualan barang-barang di rumahnya.


Seorang teman saya mengatakan, rasanya hidup ini tidak adil. Dulu, profesi para pelawak tersebut dapat membuat orang tertawa terpingkal-pingkal. Tapi kini, hidup pelawak tersebut terlunta-lunta. Salah satu contohnya Darto tersebut. Seharusnya ketika mereka masih jaya, mereka melawak dengan meminta tarif harga yang sangat tinggi. Karena kerja mereka membuat yang menonton tertawa atau menghibur penonton. Tetapi sekarang, banyak orang mungkin belum tentu ingat siapa Darto itu.

Bukankah tertawa itu seharusnya mahal? Lihatlah, orang yang sakit gigi akan kesal kalau melihat teman disekitarnya tertawa bebas. Orang yang patah hati betapa susahnya untuk diajak tertawa. Orang yang sedang mengalami masalah dalam hidup akan berat untuk tertawa. Banyak orang yang tertawa tetapi didalam hatinya merana, menanggung beban yang berat. (Amsal 14:13)

Tertawa merupakan salah satu ekspresi dari emosi manusia yang pada umumnya terjadi dengan spontan. Ekspresi emosi tertawa pada sesuatu yang lucu menggelikan, yang menyenangkan diri kita. Tidak jarang pula ada tertawa sinis, mentertawakan kebodohan, tertawa yang tidak percaya (seperti Sarah, istri Abraham dalam Alkitab) bahkan sampai tertawa yang dibuat-buat.

Tertawa itu anugerah Tuhan. Kita dapat tertawa itu merupakan suatu berkat. Bayangkan jika dunia tanpa kegembiraan, tanpa tertawa. Alangkah menyedihkannya. Maka bersyukurlah pada Tuhan jika kita masih dapat tertawa. Bersyukurlah jika kita mempunyai seorang teman yang dapat membuat humor yang baik yang dapat membuat kita tertawa.

Dalam dunia yang semakin berdosa. Berapa banyak manusia yang dapat tertawa dengan spontan? Ada pepatah yang mengatakan, tertawalah pada waktu dimana kita patut tertawa. Berapa sering kita tertawa mendengar cerita jorok dari teman kita?

Menurut penyelidikan ilmiah orang yang banyak tertawa akan menghasilkan umur panjang, menyembuhkan banyak penyakit, membuat anti-body lebih baik. Maka ada humor yang mengatakan, “daripada makan buah-buahan atau sayur-sayuran lebih baik menonton film komedi di tv”. Amsal juga pernah menyebutkan, bahwa ‘hati yang gembira adalah obat yang manjur.’ (Amsal 17:22) Tetapi disisi lain mengatakan, ke(banyak)an tertawa adalah pertanda stress.

Apapun dikatakan orang tentang tertawa, tertawa itu mahal. Anugerah Tuhan itu mahal. Bukan murahan. Seringkali kita hanya menerima berkat Tuhan tanpa berpikir lagi siapa yang memberi berkat tersebut bukan? Kita merasa memang sepantasnya kita menerima berkat tersebut. Kita sudah tidak pernah bersyukur lagi kepada Pemberi Berkat tersebut.

Sejak dulu telah ada pelawak-pelawak yang menghibur orang lain. Tetapi dunia menawarkan ekspresi emosi yang hambar. Kita mendengar lawakan Bagyo Cs, Srimulat, kita tertawa. Setelah acara lawakan selesai kita merenungi kembali masalah kita. Di dalam Tuhan, tertawa merupakan pernyataan syukur kita atas berkat Tuhan. Apakah kita hanya tertawa ketika menerima berkat Tuhan, tetapi kita akan marah, sedih dan merana ketika masalah datang dalam kehidupan kita?

Tertawa itu mahal. Apakah kita masih dapat tertawa bersama dengan teman-teman kita, ketika kita dalam masalah yang besar? Apakah kita hanya merenungi masalah kita saja dan terperosok lebih jauh, dalam masalah hidup ini ? Tuhan tidak pernah meninggalkan anakNya yang benar. Dia mengetahui seberapa besar kekuatan kita menanggung cobaan. Hanya ada satu cara saja ketika kita dalam masalah, kita masih dapat tertawa, yakni ketika kita mengingat kebesaran Tuhan atas hidup kita. Dia yang memegang hidup kita. Bukan masalah yang menentukan hidup kita.

Tertawa bukan melihat atau mendengar sesuatu yang hanya lucu. Kita tertawa lega ketika kita melewati lembah kekelaman dan merasakan kemenangan bersama Tuhan. “Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak sorai. Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.” Maz 126:2, 3. Apakah kita masih akan mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah ekspresi emosi tertawa kita (yang tidak murah) pada hari ini?

Vancouver, 06 Juni 2003

Peter
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."