• PDF

LONCENG NATAL BERBUNYI

Penilaian Pengunjung: / 5
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 29 April 2009 18:16
  • Ditulis oleh Peter Purwanegara
  • Sudah dibaca: 3784 kali
Betapa sedihnya ketika mendengar lonceng Natal
berbunyi. Karena lonceng itu bukan membunyikan arti
sebenarnya, arti Natal yang sebenarnya. Tetapi lonceng
itu mengingatkan manusia untuk bersiap-siap
berbelanja, bersiap berhura-hura dan melupakan diri,
melupakan masalah manusia sementara.

Awal bulan Desember, maka berbondong-bondonglah hampir
semua perusahaan besar di Amerika Utara (mungkin juga
di seluruh pelosok bumi lainnya) mempromosikan
produknya kedalam semua media masa. Mal-mal
mempercantik diri dengan hiasan Natal yang cantik dan
menarik, seakan mereka ingin berlomba mempelihatkan
kepada pengunjung mal, bahwa hiasan merekalah yang
terbaik.

Para teman sekerja pun mulai membuka-membuka
brosur-brosur belanja yang setiap hari disisipkan
dalam majalah atau surat kabar. Dengan gambar-gambar
yang menarik membuat pembaca tergiur untuk membeli.
Produk-produk yang ditawarkan dengan harga super
murah, membuat siapa yang tidak akan berpikir ingin
memilikinya?

Lonceng Natal berbunyi bukan lagi mendengungkan gema
kabar baik, kabar sukacita, kabar damai, melain kabar
untuk bersiap-siap membelanjakan uang konsumen
sebanyak mungkin. Tidak salah bukan, jika ada
permintaan maka produsen harus dapat menyediakan
dengan baik; demikian alasan para boss perusahaan
besar tersebut.

Jika ditarik kembali pada mulanya, siapa yang menjadi
penyebab, si konsumen yang ingin membeli hadiah Natal
untuk keluarga, teman dan sebagainya; atau si produsen
yang memang mempromosikan produknya supaya terlihat
dan laku terbeli?

Tak dipungkiri keluarga Kristen pun juga terpanggil
dalam gema lonceng Natal tersebut. Bagaimana tidak,
seorang anak tadi malam bertanya kepada papanya,
"Hadiah Natal apa yang akan papa berikan untukku tahun
ini?" Demikian tutur seorang teman. Masa papanya akan
menjawab, "Maaf, tahun ini papa tidak akan membeli
hadiah Natal buatmu." Dapat dibayangkan betapa
kecewanya hati si anak. Apalagi ketika si anak kembali
ke sekolah dan teman-temannya saling bercerita bahwa
mereka mendapat hadiah Natal ini itu dan sebagainya.
Sedangkan si anak hanya diam seribu bahasa. Malu.
Karena dia tidak dapat bercerita dengan bangganya
kalau tahun ini dia tidak mendapat hadiah apa-apa.

Maka itu di negara-negara pengikut perayaan Natal yang
fanatik akan timbul penyakit yang disebut stres Natal
yang menghinggapi seluruh anggota keluarga. Si ayah
stres harus memeriksa rekening bank-nya atau kartu
kreditnya , apakah uangnya cukup untuk membeli atau
menyediakan hadiah Natal. SI ayah kadang juga di
tuntut memberi hadiah yang menyenangkan hati istrinya.
Maka dia harus berjam-jam berhari-hari memikirkan dan
mencari hadiah Natal yang cocok dan menyenangkan hati
istrinya.

Sang istri juga demikian stres berpikir dan mencari
hadiah yang pas buat suami dan anak-anak mereka. Belum
lagi menyiapkan makan malam untuk menyambut hari
Natal. Harus belanja mencari bahan masakan atau bahan
membuat kue. Si anak juga dihinggapi stres Natal
karena khawatir apakah keinginan atau hadiah Natal
yang mereka inginkan akan dipenuhi oleh orang tua
mereka. Apakah tahun ini mereka akan berlibur ke suatu
tempat yang menyenangkan dan sebagainya.

Keinginan para konsumen untuk membeli hadiah Natal dan
merayakannya memang luar biasa. Entah kebiasaan,
kebudayaan, sekedar ikut-ikutan atau gengsi. Seorang
teman pernah bercerita menghabiskan ratusan dollar
untuk belanja Natal. Mengapa? Ternyata perasaan malu
bukan hanya saja menghinggap pada diri si anak seperti
contoh di atas, tetapi juga terjadi pada orang tuanya.
Bayangkan jika rekan sekantor bertanya kepada anda,
kamu membeli hadiah Natal apa tahun ini? Jawabnya.
tidak ada hadiah Natal. Betapa memalukan. Kecuali anda
memang tidak mau tahu alias cuek dengan jawaban anda,
atau biar saja teman-teman sekantor anda menjuluki
anda kikir atau apa kek.

Teringat sebuah film Natal, berjudul "Jingle All the
Way" yang dibintangi oleh bintang film kekar Arnold
Schwarzenegger, dimana dalam suatu adegan Arnold
berebut mendapatkan sebuah boneka untuk hadiah Natal
putranya. Maka dia harus beraksi berjibaku dengan
'musuh-musuh'nya yang ingin mendapatkan boneka
tersebut. Cerita itu bukan berlebihan, tetapi
kenyataan hidup. 

Suatu sore setelah selesai bekerja Andi bertanya,
apakah aku ada luang waktu untuk membantunya. Aku
mempunyai luang waktu sekitar dua jam sebelum pulang
ke rumah. Maka Andi mengajakku ke toko hiasan Natal
untuk membeli lampu Natal yang akan dipasang sebagai
hiasan pada rumahnya. Dalam dua jam kami harus
melanglang sebanyak 4 toko (yang berbeda tempatnya),
karena toko pertama persediaan lampu Natal yang
dinginkan Andi habis, lalu kami dengan sedikit
mengebut ke toko kedua, ketiga dan akhirnya pada toko
keempat kami mendapatkan yang kami cari. Dan Andi
merasa gembira setelah mendapatkan lampu hiasan
tersebut, seperti dia telah menyelesaikan tugas maha
beratnya.

Setelah melihat nota belanjanya yang menghabiskan
beberapa ratus dollar, secara tak sadar, aku merasa
ngeri dengan semangat Natal. Untuk merayakan Natal
kita harus mengeluarkan uang ratusan atau mungkin
ribuan dollar. Bukan untuk mengerti apa arti Natal itu
sebenarnya, tetapi untuk melampiaskan nafsu manusiawi
kita.

Natal bukan lagi kelahiran sang Juruselamat. Natal
adalah memberi dan menerima. Dalam sehari pernah aku
menerima enam surat permintaan sumbangan Natal. Baik
untuk sumbangan kepada panti asuhan, panti jompo,
gelandangan, keluarga yang tidak mampu dan sebagainya.
Salah satu surat tersebut ada yang menarik dengan
'promosi'nya yang mengatakan 'bagaimana mereka
(orang-orang yang perlu bantuan) dapat merayakan Natal
jika mereka tidak dapat makan?' 

Natal bukan lagi awal dari penebusan Kristus di bumi.
Natal adalah waktunya kita bergembira lupakan sejenak
masalah kita. Maka tidak berlebihan jika pada awal
tahun baru nanti (Januari) merupakan waktu stress bagi
banyak keluarga. Karena mereka baru menyadari bahwa
mereka telah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk
Natal. Bukan pengeluaran uang untuk menolong orang
lain tetapi untuk menyenangkan diri sendiri.

Natal bukan lagi datang menyembah kepada bayi mungil
Yesus sang Raja melainkan perbudakan kenikmatan
manusia. Dengan sejarah yang tidak terlalu jelas di
seluruh dunia, bulan Desember biasa disebut sebagai
musim liburan (Holiday Seasons); diperkirakan terdapat
lebih dari 20 hari perayaan yang dilakukan oleh
bangsa-bangsa di seluruh dunia pada bulan Desember,
selain perayaan yang paling terkenal seperti Natal.
Dan tradisi makan, minum (minuman keras),
menghamburkan uang membeli hadiah serta meliburkan
diri seakan merupakan menu yang wajib dilaksanakan.

Inikah dunia yang kita hadapi saat ini? Akankah kita
terseret dalam arus atau berjalan menentangnya?
Demikian dengan gereja, orang-orang yang telah
dipisahkan dari dunia oleh Tuhan, akankah berkompromi?
Dimana terang dan garam dunia ini?

Lonceng Natal bergema memanggil para jiwa yang
terhilang mengikut bintang di Timur yang membawa pada
bayi kecil Yesus di palungan, menyembah dan
memberitakan kabar suka cita kedatanganNya kepada
seluruh dunia. 

Berita Natal seakan telah hilang dalam rutinitas
manusia. Berita Natal seakan telah hilang dalam
kemajuan teknologi. Berita Natal seakan telah hilang
dalam kelimpahan berkat materi. Berita Natal hanya
seperti dongeng menjelang tidur. Tak ada lagi
kebaktian menjelang malam Natal yang kusuk, yang
membaca Firman Tuhan dan merenungkan arti Kelahiran
Kristus. Tak ada lagi nyanyian puji-pujian tradisional
Natal yang syahdu yang menyembah Kedatangan Sang
Juruselamat. Tak ada lagi kehangatan persekutuan
keluarga yang saling membagikan arti Natal
sesungguhnya.

Lonceng Natal tak lagi bergema seperti kedatangan para
malaikat di padang memberitakan kabar kesukaan kepada
para gembala "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku
memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh
bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat,
yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Lukas 2:10-11)

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu
dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang
baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Roma 12:2


Vancouver, Des 2004

Peter

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."