• PDF

Kebiasaan Dilayani Di Gereja

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 13:48
  • Ditulis oleh Saumiman Saud
  • Sudah dibaca: 516 kali
"Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk
memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20 :28)

Kita bersyukur kalau di gereja ada teman-teman kita yang dipanggil Tuhan untuk terlibat di dalam
pelayanan. Mereka yang sungguh-sungguh melayani itu tentu telah mengorbankan cukup banyak tenaga, pikiran, perasaan dan bahkan kadang-kadang uang. Mereka melayani tanpa pamrih, hanya semata-mata karena pernah mengalami Kasih Anugerah Tuhan yang begitu besar, sehingga pada saat sekarang mereka memberi sebagian waktu mereka untuk melayani Tuhan melalui gereja.

Memang tidak semua orang yang sudah mengalami kasih dan Anugerah Tuhan itu secara sukarela melayani Tuhan. Ada yang karena lebih mementingkan pekerjaan, sehingga mengarang berbagai alasan untuk dimaklumi agar tidak terlibat di dalam melayani. Tetapi ada yang lebih gawat yakni cuek saja, bahkan selalu ingin agar orang-orang sekitar melayaninya.

Sebagaimana kebiasaan dibanyak gereja, mereka yang baru pertama kali datang ke gereja di sambut dengan penuh kehangatan. Banyak teman-teman yang boleh berkenalan dengannya, perhatian pada hari itu seakan-akan difokuskan kepadanya saja. Setelah hadir ke gereja hari ini barangkali ia akan hadir lagi ke gereja untuk minggu-minggu berikutnya, namun semakin lama berbakti tentu sudah mulai dianggap seperti anggota keluarga sendiri. Kalau pada waktu pertama ia
dilayani sekarang mestinya ia yang melayani.

Kira-kira bulan Juli 1990 saya diterima di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, waktu itu saya
berangakat dari kampung halaman saya Medan dengan membawa dua buah koper berisi buku dan pakaian yang cukup besar. Begitu pintu gerbang kampus dibuka saya disambut sangat hangat sekali, koper saya semua langsung di bawa kakak tingkat, dan kami menuju ke asrama lantai tiga. Setelah itu saya diperlihatkan beberapa tempat-tempat yang penting di asrama, misalnya perpustakaan, ruang makan, ruang kelas dan juga beberapa tempat-tempat umum terdekat misalnya kantor pos, kantor telkom, dan tempat belanja. 

Liburan tahun pertama saya tidak pulang ke Medan, tetapi salah seorang teman baik saya mengajak ke Makassar, di sana berlibur kurang lebih sepuluh hari, setelah itu saya kembali lagi ke kampus. Pada saat kembalinya, di pintu gerbang saya bertemu lagi dengan kakak tingkat yang tahun lalu membukakan pintu, namun kali ini agak berbeda, koper saya tidak diangkat lagi. Jadi saya harus mengangkat sendiri menuju asrama. Mengapa demikian? Apakah saya bermusuhan dengan kakak
tingkat itu? Apakah beliau iri pada saya? Oh tidak. Jawabannya yang paling tepat adalah, karena saya bukan orang baru lagi di kampus. Saya sudah menjadi salah satu anggota keluarga besar di sana, justru saat ini adalah giliran saya untuk mengangkat koper mahasiswa yang baru.

Demikian juga kita di gereja bukan? Pertama-tama kita dilayani, tetapi setelah melewati beberapa waktu tiba giliran kita untuk melayani. Jadi kalau hari ini ada jemaat yang mengeluh saya tidak diperhatikan, saya dicuekin, saya didiami, nah coba kita minta beliau terlebih dulu koreksi diri. Bagaimana kalau sekarang dibalik, anda yang samperin mereka duluan, katakan hallo apa kabar? Bagimana kalau anda yang melayani mereka? Bukan lagi dilayani? Inilah kehidupan bergereja, yang kita sebut "saling " melayani, nah kalau ada kata "saling" itu berarti dari dua pihak dan timbal balik. Kalau semua warga gereja memiliki kesadaran yang demikian, saya begitu yakin 100% tidak ada lagi di antara kita yang tinggal menunggu dilayani lagi.

Prinsip yang dijajarkan Tuhan Yesus justru melayani orang lain terlebih dahulu, bukan dilayani. Anda lihat sendiri bukan? , bagaimana Tuhan Yesus turun tangan melayani murid-muridNya. Ia membasuh kaki murid-muridNya, suatu pekerjaan yang sangat hina sekali pada waktu itu, yang dilakukan oleh para hamba, tetapi Yesus dengan suka-rela melakukan itu. Inilah yang kita sebut dengan melayani. Sesudah itu Ia menuang air ke dalam sebuah baskom, lalu mulai membasuh kaki pengikut- pengikut-Nya dan mengeringkannya dengan handuk yang terikat di pinggang-Nya. (Yohanes 13 :5)

Memang tidak gampang melayani orang lain, dibutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Melayani orang lain membutuhkan pengorbanan waktu kita, perasaan kita, konsentrasi kita dan banyak lagu. Namun ada banyak kesaksian yang kita dengar dari mereka yang melayani dengan sungguh- sungguh, Tuhan memberkati mereka dengan penuh limpah.

Kita tidak dapat menutup kemungkinan orang-orang tertentu yang berada di gereja hanya ingin dilayani saja. Jadi kalau sedikit saja perhatian tidak ditujukan kepadanya maka kita sudah dicap sombong, pilih kasih, kurang pendekatan dan sebagainya. Mereka yang selalu hendak dilayani mestinya mulai saat ini sadar, bahwa gereja itu ibarat rumah kita dan kita semua adalah penghuninya. Nah sebagi penghuni tentu kita ini bukan orang luar, kita ini orang dalam yang segala urusannya tanggung jawab kita. Kalau ada yang kelihatan kurang beres, misalnya bangkunya belum
disusun rapi, lantainya masih kotor sementara kebaktian segera dimulai, keuangan gereja mulai
defisit dan kebuituhan gereja, ini semua adalah tanggung kita sebagai warga jemaat untuk mencari jalan keluar, bila perlu dengan memakai dompet pribadi menalangi dahulu.

Yang paling penting adalah terjalain kerja sama yang baik, saling mengasihi, saya yakin semua pelayanan yang berat itu dapat berjalan. Jemaat juga perlu memperhatikan tugas-tugas yang pernah didelegasikan padanya. Jangan dengan trugas-tugas lain yang menumpuk, kita lalai mengerjakan tugas kita.

Kiranya kita menyadari bahwa tugas kita sebagai orang percaya adalah melayani, bukan dilayani,
tentunya yang paling utam,a melayani Tuhan Yesus. Sangat indah sekali kalau apabila terlihat di dalam sebuah komunitas jemaaat semua saling melayani. Waktu itu pasti tidak ada iri hari, tidak ada dendam, tidak ada kemarahan, tidak ada saling curiga, tetapi semuanya saling mengasihi satu dan yang lain, dan setiap kata-kata yang dikeluarkan dari mulut kita adalah ucapan syukur bukan bersungut-sungut. Sungguh berlimpah berkat Tuhan, sehingga setiap orang percaya akan disukai banyak orang. Tuhan pasti menolong kita.

Saumiman Saud
Campbell, San Jose
November, 2004
 
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."