• PDF

Bisnis Seorang Pendeta "Haram atau Halal"

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 14:47
  • Ditulis oleh Saumiman Saud
  • Sudah dibaca: 2677 kali
Seorang pendeta yang telah mengaku terpanggil secara penuh waktu melayani Tuhan sejak dahulu sudah diajarkan "konsep tabu" kalau disamping pelayanan, ia kemudian mendua hati juga terjun ke dalam dunia bisnis. Bisnis yang saya maksud dalam hal ini dagang/usaha yang mengeruk keuntungan.[1] Saya sadar bahwa pendeta juga adalah seorang manusia biasa, yang tentunya mempunyai kebutuhan-kebutuhan keluarga, dapur dan lain-lainnya. Walaupun kita sudah bekerja keras melayani seharian untuk pekerjaan-pekerjaan yang menyenangkan hati Tuhan kita juga memerlukan makanan di atas meja, dan hal itu tidak akan terjadi secara ajaib. Semua itu perlu dibeli, dan hal ini memerlukan uang.

Memang Alkitab sama sekali tidak melarang seorang pendeta melakukan bisnis asalkan dilakukan dengan benar dan tidak berpartner dengan orang-orang yang tidak percaya (2 Korintus 6:14). [2]Supaya orang-orang yang tidak percaya jangan menggunakan perusahaan tersebut untuk hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan demi menghasilkan uang yang banyak. Namun stop dulu sejenak di sini. Beranikah kita prediksi secara pasti bahwa sang pendeta yang berbisnis itu tidak akan melakukan hal yang bertentangan dengan firman Tuhan? Bagaimana kalau terjadi persaingan dalam bisnis? Bagaimana kalau pengusaha lain hendak menjatuhkan perusahaan sang pendeta? Bukankah pada waktu itu juga akan terpikir berbagai strategi selain berusaha bertahan, juga secara manusia cenderung menjatuhkan pihak lawan. Benarkah kalau pendeta yang berbisnis tidak mencari keuntungan yang banyak?

Tidak ada konsep bisnis yang menghendaki rugi, atau mengalah; yang ada di dalam bisnis mengalahkan dan menghancurkan. Adam Smith seorang pakar dan Bapak Ekonomi mengatakan bahwa prinsip ekonomi itu adalah dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Itu sebabnya ada sebuah lagu Mandarin yang berjudul "Ai Pia, Ciak E Ya" artinya kita harus berjuang kalau mau menang. Kalau sudah demikian, maka kejujuran itu sudah sulit dipertahankan. Jadi dengan kata lain omong kosong dengan bisnis yang non profit, tetap saja perlu profit. Sering kali perusahaan yang menamakan diri non profit malah uangnya lebih banyak, karena ternyata banyak orang yang menaruh belas kasihan. Persembahannya datang dari segala pelosok.

Walau sekalipun perusahaan itu dibuka oleh pendeta, dan kemudian didoakan oleh Bishop ditambah dengan rekan-rekan pendeta lainnya dengan memakai toga kebesarannya menumpangkan tangan, apakah itu menjamin bahwa perusahaan tersebut pasti beruntung? Oh tentu tidak bukan? Saya coba membayangkan saja jika suatu hari perusahaannya pendeta lagi bermasalah dan dililit utang, apa yang terjadi? Pendeta lagi bergumul dengan perusahaannya dan pada waktu yang sama ia harus berkotbah? Tema kotbahnya mengenai "Kasih", sementara uangnya lagi di ˜ciak˜ orang? Tema kotbah tentang "jangan kuatir", sementara perusahaannya lagi di ujung tanduk. Ia mendapat tema lagi tentang "Serahkan pada Tuhan maka pasti berhasil", sementara perusahaannya hampir bangkrut. Lama-lama sang pendeta memerlukan waktu untuk konsultasi pribadi pada para konselor.

Coba pikirkan sejenak, jika di dalam gereja terdapat tiga orang hamba Tuhan/pendeta atau lebih, kemudian mereka sama-sama berbisnis. Ini sekadar contoh selain usaha soto ayam, pendeta pertama membuka restoran, pendeta kedua menjual obat pelangsing badan sedangkan pendeta ketiga membuka bisnis travel. Yang buka restoran bakal bertengkar dengan yang jual obat pelangsing badan. Sementara itu yang buka travel pasti dikecam semua orang, ternyata setiap weekend ada jadwal tour, sehingga jemaatnya tidak bisa ke gereja.

Sedikit pengalaman pribadi. Saya ingat sekali ketika buku pertama saya diterbitkan, karena saya cetak sendiri dan sesuai saran beberapa orang rekan ada baiknya buku tersebut jangan dibagi gratis, supaya pembaca menghargai jerih lelah sang penulis. Itu sebabnya maka saya menitip buku tersebut dijual di toko buku. Benar waktu itu, hampir seluruh toko buku di Surabaya menjual buku tersebut. Nah karena hanya satu buku maka saya tidak mungkin minta bantuan orang lain menyalurkan sebab saya tidak sanggup membayar biaya kepadanya. Itu sebabnya saya yang salurkan sendiri. Alhasil apa, saya seperti orang yang berjualan. Kadang mengirim, menagih, belum lagi mendongkol pada salah satu Toko Buku Kristen di sebuah Mall yang tiba-tiba tutup tanpa pemberitahuan, lenyap begitu saja. Makanya hingga hari ini, sudah melewati 8 tahun, saya masih belum sempat hitung-hitungan kembali dengan beberapa toko buku, sedangkan karena perpindahan pelayanan arsip-arsip tanda terimanya sudah tidak tahu tercecer ke mana? Sudahlah, anggaplah itu persembahan untuk toko tersebut. Ini baru menjual satu buku, bagaimana kalau bebar-benar menjadi distributor buku? Bisa kalang kabut tentunya.

Benar Alkitab memberi nasihat agar orang-orang yang percaya supaya bekerja mencari nafkah, dalam kitab 2 Tesalonika 3:10 kita membaca demikian: "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." Dan hal ini adalah sangat penting sekali khususnya pada hari kita sekarang ini, yaitu kita harus membuat kedua hal ini seimbang di dalam kehidupan kita, antara bekerja mencari nafkah untuk memenuhi tanggung jawab kita kepada keluarga dan bekerja untuk Tuhan. Menurut hemat saya, jika seseorang sudah dipanggil menjadi hamba Tuhan dalam hal ini sebagai pendeta sepenuh waktu, maka ia harus memutuskan untuk memilih. Jika mau menjadi pendeta, maka ia tidak boleh berbisnis, atau sebaliknya, karena ia tahu Tuhan tidak pernah meninggalkan dia, Tuhan selalu mencukupi segala kebutuhan hamba-Nya.[3] Kesalahan terbesar sering kali terletak pada gereja dalam hal ini majelis gereja dan jemaat yang entah sengaja atau bagaimana sehingga membuat kebutuhan sehari-harinya pendeta pun tidak tercukupi.[4] Makanya sering kita ketemu persoalan, banyak pendeta yang menerima pelayanan kotbah di gereja lain. Tidak salah menerima kotbah di gereja lain, namun porsinya perlu ditakar. Jika porsinya kebangetan itu namanya bisnis terselubung; apalagi tukar menukar jadwal mimbar pelayanan kotbah.

Bagi saya kalau gereja telah memenuhi segala kebutuhan seorang pendetanya, maka ia tidak perlu berbisnis. Kecuali kalau memang jemaat tidak sanggup mencukupi. Teman saya yang pelayanan di desa, harus menarik ojek guna memenuhi kebutuhannya, saya tidak bisa menyalahkannya, karena gereja tidak sanggup membiayainya. Dalam hal ini jaringan alumni pemerhati seperti ini sangat diperlukan. Teman-teman yang melayani gereja dan di kota besar, yang dananya kuat, dipersilahkan membantu teman-teman di daerah, sehingga sang pendeta tidak perlu bekerja yang lain. Cukuplah seorang pendeta mengerjakan dan mengurus secara fokus masalah pelayanan gereja saja.

Saya baru saja menerima VCD Preaching Conference dari SAAT Malang.[5] Di salah satu sesi, salah seorang pembicara saya lupa dosen siapa yang mengatakan bahwa sebuah kotbah yang baik harus dipersiapkan dalam waktu kurang lebih 19 jam. Bayangkan saja, jika sang pendeta berbisnis, maka saya tidak yakin beliau dapat mempersiapkan kotbahnya walau satu saja dalam seminggu. Belum lagi pelayanan pembesukan, pelayanan katekisasi, doa, sel group, orang sakit, mati, konseling pribadi, keluarga dan berbagai tetek-bengek. Wow, pusing deh pendeta.

Bagi pendeta, bisnis itu ibarat makan buah simalakama, kalau pendeta berbisnis dengan sejujur-jujurnya, maka sangat kasihan sekali; orang yang pertama kena tipu adalah pendeta itu. Kalau pendetanya mengeluarkan jurusnya, dengan berbagai penafsiran dan aplikasi mengerjakan bisnis, sehingga akhirnya ia tergoda merugikan orang lain, maka hancurlah segala-galanya. Masalahnya adalah, kalau jemaat yang melakukan kesalahan, orang-orang dapat memakluminya, namun kalau sang pendeta yang melakukannya, tiada maaf baginya. No Way!

David Yonggi Cho gembala Sidang gereja terbesar di Korea, dalam sebuah Seminar Pertumbuhan Gereja yang saya ikuti,[6] beliau mengatakan bahwa gerejanya seperti sebuah Mall. Di situ ada bank, departement store, supermarket, tempat main anak-anak dan restoran dan lain-lain. Jadi kalau jemaat selesai Kebaktian tidak perlu mengunjungi tempat lain lagi. Dan pada hari minggu itu seluruh pengeluaran jemaat masuk ke dalam kas gereja. Nah, cara demikian tentu berbeda dengan kalau sang pemiliknya adalah sang pendeta sendiri secara pribadi. Jika pemiliknya sang pendeta sendiri, berarti uang masuknya untuk pribadi pendeta itu. Jadi, bagi saya pendeta kalau mau berbisnis okey saja sih, asal uangnya masuk ke kas gereja. Berani tidak ambil tantangan ini?

Dalam 1 Timotius 6:10 Alkitab berkata demikian: "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." Dan kitab Pengkhotbah 5:10 menambahkan demikian: "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia." Sebagaimana kedagingan kita yang tidak merasa puas, tentu bisnis tersebut sangat rentan bagi seorang pendeta terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan jemaat dan Tuhan.

Memang di dalam Alkitab, kita menemukan contoh yang sangat baik sekali dari rasul Paulus yang adalah seorang pekerja. Pada siang hari Paulus bekerja untuk membuat kemah tetapi seluruh kehidupannya ditujukan untuk menyebarkan Injil Yesus Kristus. Rasul Paulus bekerja dengan sangat keras dan hidup sesederhana mungkin supaya tujuan utamanya untuk memberitakan Injil tidak gagal. Dalam kitab Filipi 3:8 rasul Paulus dibawah inspirasi dari Allah Roh Kudus menasihatkan kepada kita demikian:
"Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus" Sekarang kalau pendeta mau berbisnis uangnya untuk siapa? Nah, untuk siapa ininya perlu tegas. Bukan masalah "haram" atau "halal" seorang pendeta menjadi pebisnis. Tetapi jika ia sepenuh waktu berkomitmen melayani, itu berarti ia harus konsentrasi pada gereja tersebut saja. Kalaupun beliau diminta menangani semacam bisnis di gereja, entah Kios Buku, Koperasi, tetap saja keuntungannya bukan untuk pribadi, tetapi untuk gereja. Apabila seluruh hasilnya hendak diambil oleh pendeta itu maka saran saya lebih baik beliau menjadi pengusaha saja dan lepaskan kependetaannya. Biarkan orang lain yang menjadi pendeta. Tuhan dapat, sanggup memakai serta mencari orang lain menggantikan tugasnya.


[1] Andreas Himawan dosen STT Amanat Agung Jakarta, memberikan dua pengertian tentang bisnis:
yang pertama, kalau bisnis artinya urusan yang membuat sibuk (busyness) jelas semua pendeta dan penginjil harus berbisnis. Bisnisnya ya urusin gereja dan dunia ini. Kedua, kalau bisnis itu artinya bekerja di perusahaan atau punya perusahaan sendiri, wah itu tergantung apa yang kita maksud dengan hamba Tuhan. Kalau "hamba Tuhan" artinya semua orang Kristen yang melayani Tuhan, maka semua hamba Tuhan jelas boleh dan harus berbisnis. Tetapi kalau "hamba Tuhan" yang dimaksud adalah full-timer pekerja di gereja atau STT atau Badan misi, jelas tidak boleh karena tidak etis, namanya saja "fulltime" (dan sudah secara resmi terikat fulltime misalnya, di gereja) kok masih ada waktu untuk urusan perusahaan, dll. Kalau alasan gaji kecil, kemudian kerja (walau sudah terikat fulltime) itu sih kayak polisi kita, udah tahu gaji kecil tapi tetap mau jadi polisi (mungkin dgn pikiran bisa sabet kiri kanan.) (kalau parttime di gereja, tapi fulltime bisnis, wah itu ajaib). Pemain sepak bola yang fulltime di Liverpool saja tidak boleh nyambi kerja di perusahaan. Dikutip dari email: Re: [Pesan SAAT] Bisnis pendeta (perubahan pandangan) Wed, 19 Jul 2006 03:56:50 -0700 (PDT)
[2] Hadi Subroto, beliau mengatakan ada alumni Seminari yang juga menjalankan usaha penginapan dari keluarganya. Why not? Banyak juga lho yang mendapat berkat dari penginapannya. Mau mampir? Namun saya yakin beliau itu tidak fulltimer di gereja. Lihat email [Pesan SAAT] Penginapan hamba Tuhan, Wed, 19 Jul 2006 14:11:22 +0800
[3] Herlianto, melalui emailnya RE: [Pesan SAAT] SILAKAN PENDETA/PENGINJIL BERBISNIS! Mon, 17 Jul 2006 08:55:04 +0700Waktu saya pindah rumah di Bandung 20 tahun silam, anak saya yang bungsu saya daftarkan ke sekolah Kristen (Injili) dan harus membayar 200 ribu (ini tarif diskon untuk hamba Tuhan). Karena tidak ada uang saya masukkan ke sekolah SD milik AURI dekat rumah yang tak beda jauh kondisinya dengan sekolah Inpres. Tuhan membuka jalan karena kemudian sesudah lulus ia bisa masuk ke SMPN-2 dan kemudian SMAN-5, dan kemudian bisa masuk ITB dengan uang pangkal minim, dan setelah lulus giat membantu pelayanan. Tuhan bisa membuka jalan tanpa harus memenuhi keinginan kita.
[4] Ishak Suhonggo, dalam sebuah emailnya yang bersubject [Pesan SAAT] Cara pandang, Wed, 19 Jul 2006 10:49:04 +0800 Seorang hamba Tuhan mutlak memiliki life-planning yang juga mencakup
financial planning. Kita harus belajar biblical stewardship atas resources (kesempatan pelayanan, study, etc.) yang Tuhan percayakan. Jadi sekedar buka bisnis bukanlah jawaban.
[5] VCD SAAT Preaching Confrence I, What's Wrong with Preaching Today? Kusumo Agro Wisata Hotel, Batu, Malang 14-17 Maret 2006
[6] Seminar Perumbuhan Gereja I thn 1986 di Jakarta
--------------------------------------
Rom 8:28 "And we know that to them that love God all things work together for good, even to them that are called according to his purpose".

Kunjungi juga situs :
http://www.gii-usa.org atau
http://www.glorianet.org

Bagi anda yang hendak join dengan milis 5MENIT2AYAT silahkan kirim email kosong ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya Please doakan untuk rencana menerbitkan buku-buku via Lentera Kehidupan literatur, ada satu judul Di Balik Topeng Orang Percaya sedang proses.

Oh ya, jika anda kebetulan berkunjung/sekolah/pindah di San Francisco or San Jose; jangan sungkan mampir ke Gereja Injili Indonesia San Jose. Atau supaya lebih jelas email ke: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya . Kebaktian di dalam Bahasa Indonesia hari Minggu jam 10.00 am
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
arthur wiliam tarigan  - bisnis seorang pendeta ,haram atau tidak     |118.136.239.xxx |27-04-2010 22:32:20
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."