• PDF

Proses Pengembangan Kepemimpinan (2 Timotius 1:5-7)

Penilaian Pengunjung: / 7
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:05
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 3443 kali
Setiap pemimpin cenderung memimpin sebagaimana ia pernah dipimpin. 

Observasi ini terdengar sederhana, namun memiliki implikasi yang penting. Khususnya terhadap pengembangan kepemimpinan. Jika seorang pemimpin tidak memiliki mentor dengan prinsip, pola, dan perilaku kepemimpinan yang baik, maka kemungkinan besar ia juga tidak akan menjadi pemimpin yang baik. 

Tidak heran kita terus-menerus dikecewakan oleh pemimpin dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tiran menghasilkan tiran. Manipulator menghasilkan manipulator. Namun sebaliknya juga benar, pemimpin-pelayan menghasilkan pemimpin-pelayan. 

Memang pemimpin dapat memimpin berdasarkan sikap natural yang inheren dalam dirinya, atau program pelatihan kepemimpinan yang ia ikuti, atau bahkan buku yang ia baca. Namun probabilitasnya sangat kecil dibanding yang pertama, yaitu kecenderungan memimpin sebagaimana ia pernah dipimpin. 

Timotius adalah seorang yang Allah pakai untuk menjadi pemimpin gerejaNya sebagai generasi penerus Paulus. Ia masih muda menurut standar sosial Yahudi pada waktu itu (komentator memperkirakan usianya sekitar 30-40 tahun). Ia memiliki sifat pemalu dan kurang percaya diri (1 Kor 16:10; 1 Tim 4:12). Dan ia sakit-sakitan, khususnya gangguan perut (1 Tim 5:23). Pendek kata, ia bukan tipe pemimpin menurut standar dunia; ia bukan berkarisma yang menjadi idola banyak orang. 

Namun Allah memakai Timotius dibalik berbagai kelemahan diatas. Bahkan Allah telah mempersiapkan Timotius dari sejak ia masih sangat muda. Neneknya, Lois, dan ibunya, Eunike, memberi pengaruh yang besar dalam imannya kepada Allah. Fondasi iman telah tertanam dalam diri Timotius semenjak kecil. Dan setelah fondasi itu diletakkan, ia lalu menjalani proses pengembangan kepemimpinan. Leadership development process yang Timotius jalani adalah perpaduan yang indah antara faktor manusiawi dan ilahi.

Faktor Manusiawi
Dalam perjalanan misi Paulus kedua, Timotius diajak untuk pergi dari Lystra, kota kediamannya, dan ikut dalam perjalanan misi Paulus ke berbagai tempat mulai dari Macedonia, Akhaya, Efesus, Korintus, Asia Kecil, dan Yerusalem. Bahkan ia bersama Paulus saat Paulus pertama kali mengalami pemenjaraan (Fil 1:1; Kol 1:1; Fil 1:1).

Proses pemberdayaan ini berlanjut dengan Paulus mempercayakan Timotius untuk menangani tiga tugas gereja yang tidak mudah: di Tesalonika, (1 Tes 3:1-10), di Korintus (1 Kor 4:16-17; 16:10-11), dan di Filipi (Fil 2:19-24). Bahkan dia juga berkolaborasi dengan Paulus dalam menulis enam surat kepada jemaat gereja (1 dan 2 Tesalonika, 2 Korintus, Kolose, Filemon, dan Filipi). Dan Timotius taat belajar dibawah Paulus.

Relasi afektif antara Paulus dan Timotius berjalan kurang lebih 20 tahun, dari sejak pertama kali Paulus bertemu dengan Timotius di Lystra (sekitar AD 46-48) sampai dengan pemenjaraan Paulus kedua di Roma menjelang kematiannya (sekitar AD 67-68). Timotius belajar dari Paulus segala sesuatu yang ia perlu ketahui untuk menjadi pemimpin-pelayan yang berkenan bagi Allah dan berpadanan dengan panggilan Injil. Ia telah meneladani ajaran, cara hidup, pendirian, iman, kesabaran, kasih, dan ketekunan Paulus, bahkan bersama-sama merasakan penderitaan aniaya dengan Paulus (2 Tim 2:10-11).

Bagaimana Anda hari ini memimpin orang lain ditentukan sebagian besar oleh bagaimana Anda pernah dipimpin. Siapakah yang Anda teladani sebagai pemimpin? Apakah prinsip, pola, dan perilaku kepemimpinannya selaras dengan firman Tuhan? 

Jika ada orang yang Allah pakai dalam hidup Anda untuk menjadi mentor seperti Paulus terhadap Timotius, bersyukurlah kepadaNya. Doakan orang tersebut. Dan berdoalah agar Anda dapat meneruskan pola tersebut dengan menjadi mentor yang baik bagi calon-calon pemimpin lain. 

Karena fungsi pemimpin bukan menciptakan pengikut, tapi melahirkan pemimpin. Keberadaan pemimpin bukan untuk membuat generasi pengikut yang selalu berada dalam baying-bayangnya. Bukan untuk kloning pengikut. Namun pemimpin eksis untuk melahirkan para pemimpin baru yang bahkan lebih baik dari dirinya. Proses ini sulit dan kompleks, sama seperti proses kelahiran bayi. 

Faktor Ilahi
Timotius bukan saja memiliki mentor yang berkualitas dan ketaatan belajar dari Paulus, namun ia juga memiliki karunia yang Allah berikan (atau lebih tepat lagi, percayakan) kepadanya. Paulus menasihati Timotius untuk 'mengobarkan' karunia tersebut (2 Tim 1:6). 

Analogi yang tepat untuk mengerti kata 'mengobarkan' disini adalah upaya mengipas-ngipas nyala api yang hampir padam agar menyala-nyala kembali. Namun ini tidak berarti bahwa Timotius sedang kehilangan iman. Tetapi bahwa dalam keterbatasannya, Timotius harus terus ingat untuk menggunakan dan menerapkan karunianya, atau karunia tersebut akan mubazir.

Kepemimpinan Kristen pada dasarnya adalah kepemimpinan berdasarkan karunia yang Allah berikan kepada para hambaNya. Kepemimpinan Kristen memang akan lebih efektif apabila memanfaatkan dengan selektif segala pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan kepemimpinan yang ada. Namun kepemimpinan Kristen adalah sebuah karunia. Paulus memasukkan kepemimpinan dalam daftar karunia rohani dalam Roma 12:8. 

Jika kita melalaikan hal ini, kepemimpinan yang dijalankan akan sangat mudah menjadi kepemimpinan sekuler, kepemimpinan yang mengandalkan diri sendiri dan menanggalkan Allah. Jika kita selalu ingat hal ini, kita akan senantiasa bersandar pada Roh Allah dalam menjalankan fungsi kepemimpinan kita. Dan tidak memiliki alasan satu pun untuk menyombongkan diri. 

Itu sebabnya Paulus menasihati Timotius untuk bersandar pada Roh Allah yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban dalam menjalankan tugasnya yang berat di gereja Efesus. Roh yang membangkitkan kekuatan untuk berani berhadapan dengan guru-guru palsu yang muncul dari dalam gereja. Roh yang membangkitkan kasih akan umat Allah untuk memotivasi Timotius menghadapi berbagai resiko disalah mengerti, dihianati, dst. Dan Roh yang membangkitkan ketertiban (lebih tepatnya, 'soundmindedness' atau pikiran yang terang/sistematis) untuk menjaga Timotius dari berbagai ajaran palsu dan tidak sehat yang muncul disekitarnya. 

Dengan bersandar pada Roh Allah, pemimpin Kristen dipersiapkan untuk berhadapan dengan segala macam bentuk tantangan, kesulitan, dan bahaya kepemimpinan. Bahkan kematian sekalipun. 

* * * *

Faktor manusiawi dan ilahi bekerja bersama dalam proses pengembangan kepemimpinan dalam diri calon pemimpin Kristen. Sungguh suatu hal yang indah! Inilah cara yang Allah pilih untuk mempersiapkan Timotius, dan banyak pemimpin Kristen dari jaman ke jaman. 

Jika kita hanya berfokus kepada faktor ilahi, maka kita akan kehilangan relevansi dengan realita dunia dimana kita mencoba memimpin. Karena setiap orang yang Allah berikan secara khusus dalam hidup kita diberikan dengan maksud tertentu. Dan setiap peristiwa dan setiap pengalaman yang Allah ijinkan untuk kita lewati tidak terjadi secara kebetulan. 

Jika kita hanya berfokus kepada faktor duniawi, maka kita akan kehilangan substansi dari kepemimpinan yang kita coba jalankan. Dan perlahan-lahan kita akan kehilangan arti dan arah dari kepemimpinan tersebut. 

Namun kalau kedua faktor tersebut kita pertahankan, maka kita akan meneruskan pola kepemimpinan Kristus, yang diturunkan kepada Paulus, lalu kepada Timotius, lalu kepada orang-orang yang Allah pakai dari generasi ke generasi menjadi pemimpin-pelayan.

Sendjaya
Melbourne, 16 April 2003
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Alter Pernando Siahaan  - informatif   |202.70.51.xxx |28-09-2010 05:46:22
kepemimpinan juga bukan ditentukan karena kuasa tetapi karena
pengaruh. kesuksesan seorang pemimpin sangat besar pengaruhnya ditentukan
oleh karakter yang ada pada dirinya. oleh karena itu, seorang pemimpin
tidak bisa berlandaskan kekerasan tetapi harus berlandaskan kasih Allah.
salam
Alter Pernando Siahaan   |202.70.51.xxx |28-09-2010 05:47:20
terimakasih....

Alter Pernando Siahaan
Anonymous   |202.152.243.xxx |01-11-2011 15:34:46
Kalau bisa kita dibantu pak Tentang :
PENGARUH KEPEMIMPINAN PENDETA TERHADAP
SUMBER DAYA WARGA JEMAAT (DI TINJAU DARI SUDUT PANDANG PELAYANAN DAN KHOTBAH)

Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."