• PDF

Kerendahan Hati ala Lao Tzu, Collins, dan Yesus

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 30 April 2009 16:12
  • Ditulis oleh Sendjaya
  • Sudah dibaca: 1407 kali
Masih adakah pemimpin yang rendah hati? Mungkinkah seorang pemimpin Kristen rendah hati? Bagaimana dengan pemimpin non-Kristen?

Dalam salah satu bukunya, Dr John Stott menulis: “At no point does the Christian mind come into more violent collision with the secular mind than in its insistence on humility, with all the weakness it entails.”   Tabrakan terdashyat antara perspektif biblikal dan sekuler menurut Stott terjadi pada isu kerendahan hati.


Dunia memang samasekali tidak memberikan apresiasi terhadap kerendahan hati. Karena rendah hati dianggap identik dengan kelemahan dan kerugian. Dunia menuntut kuasa, bukan kelemahan. Yang dunia senantiasa inginkan adalah pemimpin ideal ala Nietzsche, yaitu Ubermensch atau superman. Pemimpin yang tangguh, maskulin dan otoritatif, bahkan kalau perlu opresif.

Sedangkan pemimpin ideal ala Yesus adalah anak kecil. Ada kontras yang sangat tajam antara kedua idealisme tersebut. Dan tidak ada kompromi di tengah-tengahnya, itu sebab kita mau tidak mau harus memilih.

Celakanya, kerendahan hati menjadi komoditi kepemimpinan yang semakin langka hari ini. Rendah hati bahkan hampir punah di era hiper-kompetitif yang menuntut setiap pemimpin untuk senantiasa membuktikan diri mereka superior dibanding orang lain di berbagai area.

Yang dibutuhkan hari ini untuk dapat bertahan dan menang dalam persaingan hidup yang keras adalah aktualisasi diri dan pembuktian diri secara konstan. Dalam proses mencapai pengakuan sosial akan dirinya, sang pemimpin yang tadinya rendah hati tanpa sadar bermetamorfosa menjadi pemimpin tinggi hati.

Jadi observasi Stott bahwa kontras antara perspektif biblikal dan sekuler mencapai titik kulminasi dalam soal kerendahan hati memang benar. Namun tidak sepenuhnya benar. Karena ada sesuatu yang penting sedang terjadi di dunia bisnis sekuler…

Kerendahan Hati di Dunia Bisnis
Setelah sukses luar biasa dengan bukunya yang pertama, Built to Last, peneliti manajemen Jim Collins kembali menggemparkan dunia bisnis dengan bukunya yang kedua, Good to Great. Buku pertama berfokus pada pertanyaan: Apa rahasia 11 perusahaan global dari berbagai industri yang dapat bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun dan menjadi nomer satu?

Sedangkan buku kedua yang didasari oleh pertanyaan: Apa rahasia transformasi perusahaan yang cukup baik menjadi perusahaan yang hebat?
Itu sebab buku kedua menurut Collins harus menjadi prequel, bukan sequel, dari buku pertama.  

Ada yang menarik dari hasil penelitian Collins dan 20 orang asistennya dalam riset yang mereka lakukan selama 5 tahun sebelum menulis Good to Great. Dari awal Collins sudah berkali-kali berpesan kepada tim risetnya untuk tidak mempedulikan faktor pemimpin dalam mencari kunci sukses perusahaan. Ia sadar bahwa kepemimpinan memang cenderung di-romantisir, yaitu kalau perusahaan sukses, itu pasti karena pemimpinnya, demikian juga kalau gagal. 

Namun setiap kali mereka menganalisa tumpukan data-data, mau tidak mau mereka menemukan bahwa kepemimpinan adalah faktor yang krusial dalam menentukan sukses perusahaan. Yang lebih menarik adalah temuan berikut. Seluruh perusahaan yang benar-benar mengalami terobosan transformatif dalam kinerja mereka dan mampu mempertahankannya terus-menerus memiliki pemimpin dengan dua karakteristik utama: personal humility dan professional will. Kombinasi kedua ciri ini menjadi paradoks. 

Pemimpin yang disebut oleh Collins sebagai “Level 5” ini adalah para pemimpin yang rendah hati, tidak pernah menyombongkan diri, bahkan cenderung pemalu. Mereka melakukan tugas mereka dengan diam-diam tanpa berupaya mencari perhatian dan pujian publik. Apabila ada keberhasilan, mereka selalu menolak untuk memberi kredit kepada orang lain atau hal lain diluar diri mereka sendiri. Apabila ada kegagalan, mereka bertanggung jawab secara pribadi dan tidak mencari kambing hitam. Ambisi mereka adalah untuk kelanggengan perusahaan, bukan penggemukan dan kepentingan diri.


Meskipun rendah hati, mereka juga dikenal sangat konsisten, tangguh, dan pantang menyerah dalam mencapai tujuan. Mereka membangun prinsip yang idealis dan mentaatinya dengan militan. Pendek kata, pemalu tapi pemberani, rendah hati namun militan.  

Ketika saya membaca buku Jim Collins, mau tidak mau saya tertegun dengan temuan yang didasari riset dengan metodologi yang sangat solid tersebut.
Betapa tidak? Pemimpin bisnis sekuler mengadopsi kerendahan hati yang adalah ide biblikal (meski mereka tidak menyadari ide tersebut berasal dari Alkitab), sementara pemimpin Kristen malah meninggalkannya. Jadi bisnis semakin biblikal, umat Allah semakin sekuler. Inilah megatrend global yang sangat menyedihkan.  

Namun tidak berarti Collins mengerti dengan tuntas apa arti kerendahan hati. Karena yang dimaksud Alkitab adalah kerendahan hati yang sangat erat terkait dengan Allah Tritunggal. Kerendahan hati yang didasari oleh Allah Bapa, dicontohkan oleh Allah Anak, dan dimungkinkan oleh Allah Roh Kudus.


Mengerti Kerendahan Hati
Apa sebenarnya kerendahan hati? Pengkhotbah besar Charles Spurgeon mengatakan bahwa kerendahan hati adalah “to make a right estimate of oneself.” Kerendahan hati tidak identik dengan inferioritas atau rasa minder.

Kerendahan hati adalah mengerti posisi diri kita dengan tepat dihadapan Tuhan. Seorang yang rendah hati bukanlah seorang yang mengatakan bahwa ia tidak memiliki kemampuan apapun dan tidak mampu melakukan segala sesuatu (karena itu berarti menghina Tuhan penciptaNya), namun seorang yang mengatakan bahwa semua kemampuannya berasal dari Tuhan dan ia mampu melakukan sesuatu karena Tuhan yang memampukan. Tanpa Tuhan, ia samasekali bukan apa-apa.

Buku klasik karya Andrew Murray yang juga berjudul “Humility” memberi penjelasan definisi berikut: “Humility is the sense of entire nothingness, which comes when we see how truly God is all, and in which we make way for God to be all.”  Dengan nada yang sama, Martin Luther dengan lugas mengatakan:
“God created the world out of nothing, and as long as we are nothing, He can make something out of us.”  

Kalau boleh di-elaborasi lebih jauh, yang dikatakan Murray dan Luther kira-kira begini: Manusia itu pada dasarnya ‘nothing’, lalu dalam kondisi ‘nothingness’ tersebut diubah dari ‘nothing’ menjadi ‘something’ oleh Tuhan yang adalah ‘everything’. Saat manusia mulai berani mencoba untuk menjadi ‘something’, maka Tuhan tidak lagi dapat bekerja melaluinya. Karena Tuhan tidak mungkin mengubahnya dari ‘something’ menjadi ‘everything’.

Kerendahan hati memang aneh. Kalau kita claim kita memilikinya, maka kita justru tidak memiliki itu samasekali. Saat kita merasa bahwa kita orang yang rendah hati, saat itulah kita kehilangan kerendah-hatian kita. Kerendahan hati adalah satu-satunya virtue yang kita miliki tanpa kita merasa memilikinya. Inilah paradoks kerendahan hati.

Adalah relatif lebih mudah bagi kita untuk rendah hati dihadapan Tuhan, khususnya dalam ibadah. Namun satu-satunya bukti bahwa kerendahan hati kita dihadapan Tuhan itu riil adalah kerendahan hati kita dihadapan sesama manusia dalam keseharian hidup kita.  

Jarum dalam Jerami
Pemimpin yang Kristen (dalam arti yang sesungguhnya) sangat sulit ditemui hari ini. Banyak orang Kristen begitu berambisi menjadi pemimpin sampai-sampai mereka lupa untuk menjadi Kristen. Pemimpin Kristen yang rendah hati jumlahnya jauh lebih sedikit.  

Pemimpin Kristen yang rendah hati senantiasa sadar bahwa dibalik segala kredibilitas dan kompetensi yang memposisikan diri mereka sebagai ‘something’ dihadapan publik, dia tetap adalah ‘nothing’ dihadapan Tuhan. Perasaan ‘bukan apa-apa’ inilah yang membuat dia berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan orang lain tanpa kesulitan.  


G.K. Chesterton suatu kali berkata, “It is always the secure who are humble.”  Pemimpin yang tidak secure akan kesulitan untuk menjadi pemimpin yang rendah hati.
 Namun pemimpin yang secure tidak akan tersinggung dan marah apabila ditegur. Mereka rela membuka diri untuk dikoreksi. Mereka bersedia untuk learn, unlearn, dan relearn tanpa harus merasa malu.

Sungguh tragis apabila pemimpin Kristen kontemporer justru mencampakkan sikap rendah hati yang diajarkan Alkitab. Sungguh celaka apabila Kristus yang menyebut diriNya sebagai “lemah lembut dan rendah hati” tidak lagi menjadi teladan ideal.

Karena dunia bisnis di Barat abad ke-21 lewat Jim Collins mengakui dan menghargainya. Dan berabad-abad sebelumnya dunia Timur lewat filsuf Cina Kuno Lao Tzu telah menjunjung tinggi pentingnya kerendahan hati bagi pemimpin:


“I have three precious things which I hold fast and prize. The first is gentleness; the second frugality; the third is humility, which keeps me from putting myself before others. Be gentle and you can be bold; be frugal and you can be liberal; avoid putting yourself before others and you can become a leader among men.”    

sendjaya 
Melbourne, 14 Agustus 2003

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."