• PDF

Pemimpin Yang Berhati Hamba

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 02 Mei 2009 09:44
  • Ditulis oleh Sunanto
  • Sudah dibaca: 1026 kali
Luk 22:26 “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.”

Setelah mengalami lawatan Tuhan di akhir tahun 1998, Tuhan meminta kepada saya untuk meninggalkan Indonesia dan pergi ke Australia. Ia mengatakan bila saya taat kepadaNya maka Ia akan memakai saya untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Tapi waktu itu saya tidak punya uang yang memadai dan untuk memperoleh visa juga tidak mudah. Akhirnya Tuhan yang menyediakan semua kebutuhan dan visa yang diperlukan untuk keberangkatan. Saya berangkat ke Sydney dengan tiket satu arah (one way) dan bekal hidup untuk sekitar satu bulan saja. Sesampai di sana Tuhan memberikan saya pekerjaan sebagai pelayan (kitchen hand) di salah satu kafe yang dimiliki oleh orang Australia kelahiran Yunani. Walaupun pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan kasar (hina bagi orang timur) namun saya percaya pekerjaan tersebut berasal dari Tuhan.

Salah satu masa yang paling mengesankan dalam hidup saya adalah ketika bekerja sebagai pelayan (kitchend hand) pada salah satu kafe di kota Sydney. Selama setahun lebih, tujuh jam sehari saya bekerja sebagai pelayan dan pembersih dimana saya bertugas untuk membersihkan dapur, piring, gelas, meja dan lantai serta membuang sampah. Jujur saja, saya sempat meneteskan air mata ketika pertama kali bekerja sebab ketika di Jakarta saya bekerja di kantoran sebagai Consultan IT.
Namun hari ini saya bersyukur kepada Tuhan sebab banyak pelajaran dan hikmah yang saya petik selama bekerja sebagai pelayan dan pembersih. Tanpa saya sadari, lewat pekerjaan tersebut Tuhan telah membentuk hati kehambaan yang lebih ingin melayani daripada dilayani.

Ketika menerima visi untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, saya mengira visi itu akan bisa digenapi dengan mudah. Saya sama sekali tidak menduga harus menjalani proses persiapan yang begitu berat apalagi membayangkan bekerja sebagai pelayan. Tidak ada jalan yang mudah untuk dapat menggenapi visi yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Dibutuhkan karakter dan kerendahan hati untuk mendapatkan promosi dari Tuhan. Tuhan membutuhkan pemimpin yang memiliki hati hamba yang lebih ingin melayani daripada dilayani.

Yosua merupakan salah satu tokoh di Alkitab yang sukses sebagai pemimpin umat Tuhan.
Yosua dipersiapkan oleh Tuhan menjadi pemimpin lewat pekerjaannya sebagai pelayan/abdinya Musa. Waktu itu masih belum ada sekolah kepemimpinan seperti saat ini, tapi Yosua belajar memimpin dengan melayani sebagai hamba. Sebab memang syarat utama bagi pemimpin yang berhasil adalah memiliki hati hamba. Training dan sekolah kepemimpinan memang baik dan dibutuhkan untuk melengkapi seorang pemimpin tetapi hal utama yang membuat sukses seorang pemimpin bukanlah pengetahuan/skill melainkan karakter dan kerendahan hati.

Saya banyak sekali mendengar pengajaran tentang otoritas dalam gereja namun hanya sedikit pengajaran tentang kerendahan hati dan kehambaan. Kebanyakan pemimpin dalam gereja lebih suka mengajarkan tentang otoritas agar jemaat bisa tunduk kepada mereka. Padahal kita tidak bisa menuntut orang untuk tunduk pada otoritas bila kita tidak memiliki hati kehambaan. Otoritas bukanlah datang dari peraturan dan intimidasi melainkan datang dari kerendahan hati. Anda mungkin bisa memaksa orang yang anda pimpin dengan intimidasi (ketakutan) untuk tunduk pada otoritas tetapi penundukan yang seperti itu lahir karena paksaan bukan dari hati. Bila kita memiliki hati kehambaan yang lebih ingin melayani daripada dilayani maka dengan sendirinya orang yang kita pimpin akan tunduk tanpa paksaan (dengan kasih) pada otoritas yang kita punya

Seorang pria dipanggil Tuhan untuk berfungsi pemimpin dalam keluarga. Oleh karena itu baik buruknya sebuah keluarga ditentukan oleh pria/suami. Seringkali saya menemukan banyak pria yang mengeluh bahwa isteri dan anaknya tidak mau tunduk kepada mereka. Lalu mereka mengambil ayat-ayat dari Alkitab yang mengatakan istri harus tunduk kepada suami. Dengan ayat-ayat tersebut mereka mengintimidasi agar isteri mereka bisa tunduk. Padahal mereka sendiri tidak melakukan fungsi sebagai pemimpin dengan baik namun mau menuntut agar isteri dan anak tunduk kepada mereka. Seorang suami harus terlebih dahulu mengasihi seperti mengasihi diri sendiri dan menghormati isteri sebagai teman pewaris kerajaan Allah. Jangan menuntut ketaatan dari isteri dan anak kita bila kita belum melakukan bagian kita untuk mengasihi mereka. Dr. Ed Cole berkata jangan membicarakan tentang Tuhan pada anak anda bila anda belum membicarakan tentang anak anda pada Tuhan. Saya percaya sebagian besar isteri yang tidak taat kepada suami sebenarnya bukan karena mereka pemberontak tetapi karena suaminya tidak berfungsi sebagai pemimpin yang baik.

Salah satu pasal dalam Mazmur yang sangat saya sukai adalah Mazmur 128.
Dikatakan bahwa orang yang takut akan TUHAN dan hidup menurut jalanNya maka isterinya akan menjadi seperti pohon anggur yang subur dan anak-anaknyaseperti tunas pohon zaitun.
Perhatikan, kata orang yang dimaksud disini bukanlah wanita/isteri melainkan pria/suami.
Bila pria hidup takut akan Tuhan maka pasti isteri dan anak-anaknya akan berbahagia.
Jadi bila isteri dan anak-anak kita tidak berbahagia maka kesalahan bukan pada mereka tetapi pada pria. Sebenarnya anak-anak yang pemberontak adalah akibat kesalahan dari orang tuanya yang tidak mendidik dengan baik. Kenakalan remaja yang semakin marak sekarang ini merupakan akibat dari para orang tua terutama sang Ayah yang tidak bisa mendidik dengan baik.

Krisis multidimensi yang dialami bangsa ini sebenarnya berakar dari krisis kepemimpinan.
Kepemimpinan di masa lalu yang hanya mementingkan diri dan golongan sendiri saja telah merusak bangsa ini sedemikan parah. Tuhan membutuhkan para pemimpin berhati hamba yang lebih ingin melayani daripada dilayani untuk mentransformasi bangsa ini. Maukah anda menjadi salah satu pemimpin pilihan Tuhan tersebut ? Maukah anda menjadi seperti Yusuf yang menyelamatkan bangsa ini dari segala keterpurukannya ? Hiduplah dalam kerendahan hati dan milikilah hati kehambaan yang lebih ingin melayani daripada dilayani. Orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah (Mzm 37:11).

Sunanto

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."